Saya percaya ada barangkali banyak perempuan yg mengalami
pengalaman kayak Ayaan ini entah di muka bumi mana.  Sebagaimana
juga saya percaya,  tidak semua wanita itu terjerumus pada anti Tuhan
setelah meloloskan diri dari lingkungan dan deritanya.

Ada banyak manusia tertindas karena perlakuan manusia sekitarnya,
tapi juga demikian banyak dr mereka bisa lolos dari kenistaan sosok anti 
Tuhan.
Orang2 seperti itu benar2 lolos dan dapat hidayah setelah tahan banting
dengan penderitaan.

Sosok Ayaan tipikal nasib manusia yg berada in the wrong place and in the
wrong time sewaktu dia seharusnya bisa mendapatkan jalan kebenaran hakiki.

eLfiqa





Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Ayaan

Ayaan, anak gadis yang kelak membuat heboh Eropa
itu, memulai pemberontakannya di sebuah gedung
bioskop. Itu terjadi ketika ia, asal Somalia,
bersama ibu, kakak, dan adiknya tinggal sebagai
keluarga pengungsi di Kenya pada akhir tahun 1980-an.

Pada umur belasan tahun itu ia jatuh cinta kepada
seorang pemuda yang ia beri nama rahasia
"Yussuf". Bagi keluarga Ayaan, hubungan itu
salah. Pemuda itu orang Kenya. Tapi seandainya
pun bukan, pacaran adalah perbuatan cela bagi gadis muslimah seperti dia.

Maka di dalam gelap di depan layar putih itulah
Ayaan menemukan jalan bagaimana bisa duduk
berdampingan dengan "Yussuf". Mereka bersentuhan
tangan. Tapi hatinya berdebar keras oleh gairah
dan juga rasa bersalah. Di depan mereka
adegan-adegan A Secret Admirer--sebuah film
komedi Hollywood buat remaja--diputar, dan mereka
melihat bagaimana anak-anak muda nun di "Barat"
itu berciuman di bibir, tanpa ketakutan, dan akhirnya bahagia.

Ayaan bukannya tak datang dari sebuah keluarga
terpelajar. Ayahnya, Hirsi Magan Isse, seorang
pakar bahasa dan bahkan pernah belajar di AS.
Lelaki ini percaya bahwa demokrasi penting,
begitu juga pendidikan untuk perempuan. Ia jadi
seorang aktivis. Somalia berada di bawah
kediktatoran Mohammad Said Barre, dan Hirsi
melawan. Ia dipenjarakan. Ketika itu Ayaan lahir.
Keluarga itu meninggalkan tanah kelahiran mereka.

Anak gadis itu kemudian bersekolah di Nairobi, di
sebuah sekolah buat muslimah kecil. Ia menutup
tubuhnya brukut dari ubun sampai ke jempol kaki
dan dengan bersemangat ikut demonstrasi mengutuk Salman Rushdie.

Tapi perubahan dalam dirinya terjadi, secara
radikal, yang kemudian membawanya ke Belanda,
menjadikannya seorang yang menuding Islam sebagai
asal penindasan perempuan dan ketidakbebasan
manusia untuk berpikir. Dari sinilah berkobar
konfrontasi yang sengit yang berakhir (mungkin
juga tak berakhir) pada pembunuhan Theo van Gogh
di sebuah jalan Amsterdam pada suatu pagi awal
November 2004. Dalam Murder in Amsterdam
(terbitan The Penguin Press, New York, 2006), Ian
Buruma dengan sensitif, cerah, dan memukau
menampilkan sosok Ayaan serta problem yang
dihadapi hampir siapa pun di Belanda dan Eropa
kini: dilema, ketakutan, rasa curiga dan benci,
juga hipokrisi, ketika di negeri yang pernah
bangga akan Pencerahan itu harus menghadapi
kenyataan, bahwa ide-ide tentang kebhinekaan,
toleransi, dan ke-universal-an terbentur dengan realitas yang baru.

Kita tentu masih ingat peristiwa pembantaian itu.
Pembuat film, penyelenggara acara debat talk-show
yang terkenal dengan ucapannya yang kasar itu,
Theo van Gogh, ditembak, disembelih, dan ditikam
Mohammad Bouyeri di tepi jalan. Di pisau kecil
yang tertancap di dada korbannya itu, sang pemuda
Belanda keturunan Maroko menyematkan selembar
surat. Isinya dialamatkan Ayaan Hirsi--yang telah
meninggalkan agamanya, memilih jadi atheis, dan
kemudian bersama Van Gogh membuat film 12 menit
berjudul Submission yang memang dimaksudkan untuk
menunjukkan buruknya Islam--akan jadi sasaran pembantaian berikutnya.

Apa gerangan yang terjadi pada Ayaan?

Dalam kisah yang dicatat Buruma, perjalanan itu
cukup berliku. Dari Somalia, anak tapol itu
bersama keluarganya hidup sebagai pelarian di
seberang pelbagai perbatasan. Sebelum di Kenya,
mereka tinggal di Arab Saudi, di mana Ayaan
bertemu ayahnya yang menghilang dari negerinya.
Di sana, di lingkungan ajaran Wahabi, ia, seperti
tiap perempuan, praktis tidak bisa berada di luar
rumah. Tapi tak serta-merta Ayaan membangkang.
Malah sesampai di Kenya, setelah Sudan, ia
tertarik ke dalam ide-ide Ikhwanul Muslimin yang
baginya memberi idealisme. Tapi ia juga telah
menyaksikan dari dekat, dari hidupnya sendiri,
betapa perempuan ditampik sebagai sesama yang
berhak. Pada usia 22, Ayaan diperintah jadi istri
seorang sepupu yang hidup di Kanada. Ia dikirim
ke sana. Tapi melarikan diri ke Belanda.

Ia bekerja di pabrik, dan bersua dengan seorang
pacar yang memberinya buku "Manifesto Atheis".
Mulai tumbuh sikap berontak terhadap imannya yang
lama, dan ia jadi aktivis, masuk politik, jadi
anggota parlemen--dan jadi seorang penantang.

"Yang dibutuhkan kebudayaan Islam," begitu
tulisnya, "adalah buku, lakon, puisi dan lagu
yang.mengejek aturan agama." Ia ingin berperan
sebagai Voltaire yang menghajar Gereja Katolik
dan dengan demikian membuka pintu Pencerahan.
Eropa bisa bangkit karena meninggalkan imannya
dan masuk ke pemikiran yang universal, terbuka, dan merangkum.

Ayaan melihat, Islam terus-menerus menampik untuk
menjabat dunia yang diciptakan beraneka, dan ia
tak sendirian menyaksikan itu. Yang tak dilihat
segera ialah Eropa sendiri--dengan prestasi
Pencerahan--belum juga memecahkan soal itu. Para
imigran, seperti Ayaan, mengalami Eropa yang tertutup.

Goenawan Mohamad
(Catatan Pinggir Majalah Tempo, 2 Oktober 2006)









***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke