Surat Mawar Merah Café Bandar: HALIM HD MASIH SEORANG PEMIMPI SETIA
5. Berikut adalah lanjutan dari artikel Halim HD tentang kebudayaan Mandar. Mandar dalam Strategi Budaya hingga Terorisme Ekologi (4) AKADEMI MANDAR (a) Oleh: Halim HD. Pekerja Budaya Dalam sarasehan dengan tajuk "Melacak Format Strategi Kebudayaan Mandar" yang diselenggarakan oleh kantor Kebudayaan & Pariwisata kabupaten Polman, dan difasilitatori para aktivis Komunitas Teater Flamboyant dari Tinambung pada tanggal 11 Agustus 2006 di Polewali, salah satu poin yang saya lontarkan dalam panel diskusi sesi kedua (sesi pertama: Budayawan Muis Mandra dan Prof. Darmawan Mas'ud) bersama sutradara teater kelahiran Tinambung, Asmadi Alimuddin, S. Sen. (Direktur Artistik Laboratorium Seni Pertunjukan, Palu, Sulteng) tentang perlunya pembentukan Akademi Mandar sebagai institusi yang memiliki kewenangan dalam melakukan rumusan dan kajian nilai-nilai ke-Mandar-an dalam kaitannya dengan kehidupan kebudayaan, religi, filsafat, tradisi dan gerak kebangsaan dan kenegaraan yang bersifat ke-Indonesia-an untuk masa depan. Gagasan tentang Akademi Mandar (AM) yang saya tuliskan dalam makalah saya ini secara tidak langsung ada juga kaitannya dengan apa yang disampaikan oleh Prof. Darmawan Mas'ud yang melontarkan gagasan tentang perlunya suatu Pusat Kajian Kebudayaan & Nilai-Nilai Mandar (PKKNM). Saya sangat antusias sekali dengan apa yang dilontarkan oleh beliau. Namun, satu hal yang perlu saya garis bawahi dan kritisi, bahwa jika suatu lembaga kajian kebudayaan Mandar dalam bentuk seperti PKKNM yang dilontarkan oleh gurubesar Unhas itu, saya khawatir secara struktural oleh pemda propinsi Sulbar hanya dicantumkan sekedar UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) yang hanya berada dibawah suatu kantor. Jika hanya sekedar berada dibawah suatu kantor tertentu, maka lembaga itu ini hanya sekedar pelaksana perintah atau instruksi dari atasan yang bukan tidak mungkin sudah kehilangan independensinya serta kadar kandungan nilai konseptual dan kerangka strategisnya, yang justru yang terakhir inilah yang sangat penting. Pada tingkat politik praktis bukan tidak mungkin lembaga itu hanya sekedar dijadikan alat legitimasi kekuasaan yang sedang berjalan, dan kehilangan daya kritisnya, dan sangat mungkin hasil kajian hanya sekedar datang dari pesanan penguasa lokal. Sudah tentu, hasil kajianpun hanya pada taraf kulitnya belaka, bukan substansi dari nilai-nilai dan kehidupan kebudayaan yang secara ideal akan kita raih. Pada dasarnya, gagasan sang gurubesar Unhas itu memiliki banyak kesamaan, titik temu dengan apa yang saya lontarkan: geografi kultural Mandar yang berada di wilayah Sulbar harus digali, dilacak dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan jaman, dan jaman yang kini kita tapaki mau tidak mau membutuhkan kesadaran sejarah dan nilai-nilai kultural yang berasal dari lingkungannya, dan dengan kesadaran itu pula kita bisa bukan hanya menghadapi tantangan jaman yang sedang berubah, khususnya dalam proses globalisasi. Tapi lebih dari itu dengan pijakan, kesadaran kepada sejarah dan nilai-nilai itu, sebagaimana karakter masyarakat pesisir yang menjadi cirri khas yang unik dari kebudayaan nusantara yang selalu terbuka kepada perubahan jaman dan masuknya nilai-nilai baru; dan dengan kesadaran itu pula maka proses dialogis dan kritis menjadi acuan bagi kehidupan warga dalam penciptaan, uji coba serta usaha-usaha yang bersifat eksperimental kea rah karya-karya baru dalam ekspresi senibudaya. Pada sisi lainnya yang mendasar dari keinginan membentuk lembaga PKKNM atau AM adalah melihat realitas sosial-politik-ekonomi yang kini ditandai oleh gejala kemerosotan nilai-nilai; terjadi degradasi nilai-nilai kehidupan akibat tingkah laku sosial-politik-ekonomi yang tidak lagi didasarkan kepada spirit dan nilai-nilai tradisi Mala'bi serta rasa keadilan sosial. Dengan kata lain, secara kasat mata kita menyaksikan tingkah laku yang jauh dari konsep, nilai dan semangat kehidupan warga Mandar secara ideal. Berbagai kalangan khususnya elite sosial-politik telah dirasuki gaya dan cara hidup pragmatisme dan bahkan cendrung menghalalkan semua cara untuk mencapai tujuan, menjadi Machiavelli-Machiavelli kecil yang berkeliaran dan melahap apa saja yang membuat warga kehilangan kepercayaan dan apatis, yang pada suatu ketika bukan tidak mungkin akan menciptakan suatu bentuk tindakan kekerasan dalam kehidupan sosial. Kita sangat berharap bahwa dengan kajian dari berbagai perspektif dan pendekatan (antropologi, sosiologi, filologi, politik, ekonomi, dsbnya) kita kembali bisa mengurai dan menangkap esensi nilai yang memiliki dimensi ekologis, religi, tradisi, dan filsafat yang pernah membentuk karakter kebudayaan Mandar, dan bagaimana dari hasil kajian itu secara konseptual dan operasional bisa diterapkan di berbagai segi kehidupan dan khususnya menjadi acuan, landasan etika dan moral bagi kalangan pengelola pemerintahan, legislatif, stake holder, elite sosial-politik local dalam mengambil keputusan konseptual maupun praktis bagi hajat kemasyarakatan yang dilandasi oleh keadilan-sosial dan kesetaraan. Dalam gagasan PKKNM atau AM itu, kita berharap bahwa proses pengembangan kehidupan kemasyarakatan dalam berbagai aspeknya dalam pembangunan digariskan dari hasil pelacakan dan kajian mendalam yang dilakukan oleh PKKNM atau AM yang merumuskan suatu kerangka strategis untuk lima atau sepuluh tahun kedepan, yang pada setiap tahunnya dievaluasi secara terbuka, sebagaimana juga ketika PKKNM atau AM itu merumuskan dan mengumumkannya. Dengan demikian, prinsip-prinsip dan hasil kerja dari suatu pelacakan dan kajian bukan hanya diketahui oleh segelintir elite pengelola saja; warga sebagai pembayar pajak dan pemberi suara memiliki hak dan berkewajiban untuk mengetahui secara rinci seluruh rencana kerja pengembangan dan pembangunan daerahnya, khususnya dalam kaitannya dengan investasi ekonomi yang selama ini hanya menjadi bahan kasak-kusuk dan akhirnya selalu saja menjadi hajatan manipulatif segelintir elite sosial-politik-ekonomi yang seakan-akan bumi dan seluruh isinya menjadi warisan dan milik dirinya. Warga mesti mengetahui seluruh kandungan bumi yang bisa menghasilkan berbagai jenis pertambangan, dan bagaimana dampak lingkungannya, serta bagaimana pula secara ekologi kultural agar pertambangan itu tidak menciptakan keterasingan warga dari prosesnya; dan secara politik-ekonomi agar pertambahan dan pengelolaan wilayah bisa dan mampu mewujudkan keadilan sosial. Pada wilayah lainnya, kita menyadari bahwa Mandar memiliki karakter kebaharian yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun juga. Hal ini membutuhkan benar suatu kajian yang mendalam di dalam pengembangan karakter kulturalnya sampai dengan praktek-praktek sosial-politik-ekonominya. Secara praktis dan strategis Sulbar yang sebagian besarnya dibentangi oleh wilayah laut dan dengan potensi itulah penerapan politik-ekonomi yang didasarkan kepada kepentingan warga melalui berbagai koperasi dan bank nelayan; dan dari kondisi itu pula kita membutuhkan suatu divisi atau pusat kajian yang komprehensif tentang kebaharian dan ekologinya; sama dengan betapa pentingnya suatu pusat kajian ekologi dan wilayah hutan Mandar. Semuanya itu agar kita tidak mengulangi mimpi buruk yang kini dialami oleh misalnya sebagian besar Kalimantan, Papua, Jawa dan Sumatera dan wilayah lainnya Sulawesi yang banyak dijarah oleh kekuatan politik-ekonomi investor (ironisnya didukung dan yang menjadi calo-calo kalangan elite lokal) yang melahap secara rakus dan menghabiskan sumber daya alam dan lalu kabur meninggalkannya. Yang tersisa hanya sejumlah kerusakan parah yang memiliki dampak sampai beberapa generasi kedepan. *** Paris, Oktober 2006. --------------------------- JJ. Kusni [Bersambung......] [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

