Selamat Siang Mang Ucup (Indonesia time) ...

Saat usia saya SMP (aku gak ingat lagi).
Saya pernah terkena demam tinggi, dan saat itu saya tinggal dirumah Pak
De Saya. 
Suatu saat demam saya tinggi sekali, dan roh saya merasa terlepas dari
raga saya. Saat itu ada tangan-tangan yang ingin menggapai saya untuk
lebih tinggi lagi. Saat itu saya serasa melihat tubuh saya berbaring,
padahal saya merasakan mata saya masih terpejam. Saya teringat ibu saya
dirumah dan adik-adik saya. Dan saya pun menangis.... sesaat saya
menangis itulah saya bisa membuka mata saya dan saya tersadar masih
ditempat tidur dan tidak berada diatas awang2 lagi.

It's Streght ... (what that's mean into my life).

Apakah itu tangan Malaikat Maut yang menggapai diriku???

DJOko  
http://okberto.multiply.com
if u look for i, u will find i am,
if u ask i am with heart and soul jer29:13
 
 

-----Original Message-----
From: Of MANG UCUP
Sent: Monday, October 09, 2006 12:02 PM

Tidak lama lagi saya akan mendapatkan kunjungan dari Malaikat Maut,
kunjungan yang tidak diinginkan, tetapi kebalikannya juga tidak dapat
ditolak. Mau atau tidak; ia akan tetap datang. Hanya waktunya saja tidak
ketahui kapan? 

Masalahnya beberapa hari yang lampau Dr telah memberikan vonis terakhir,
bahwa usia saya tidak lama lagi, tetapi entah ini sebulan lagi, entah
seminggu lagi, entah sehari lagi, ia tidak bisa memastikannya 100%,
tetapi
yang sudah pasti ajal saya sudah dekat. Apakah Anda tahu bahwa
penderitaan
yang paling berat bagi orang yang dihukum mati ialah menunggu hari X
atau
hari kematiannya. Tanpa dinyana hal yang serupa harus terjadi di dalam
kehidupan saya sendiri.

Ketika saya mendengar vonis tsb rasanya ingin saya menjerit dan bertanya
kepada Tuhan: "Why me, Tuhan?"

Bagaimana dengan istri maupun anak-anak saya, apalagi anak-anak saya
masih
kecil? Mereka masih membutuhkan kasih sayang maupun bimbingan dari
seorang
ayah. Satu beban yang tidak ringan bagi mereka yang akan ditinggal.
Apakah
kalau saya memohon kepada-Nya, Tuhan masih akan berkenan untuk
memperpanjang
resident permit saya di dunia ini?

Detik-detik terakhir ini rasanya sangat berat dan sangat menyedihkan
sekali,
apakah esok hari saya masih bisa melihat matahari terbit, ataupun
mendengar
burung berkicau? Berapa banyak waktu lagi saya miliki? Sekarang baru
saya
sadar bahwa kehidupan itu benar-benar satu karunia yang paling indah
yang
telah diberikan oleh Allah kepada kita umat manusia.

Pada saat-saat terakhir ini ingin rasanya saya menatap wajah istri
maupun
anak-anak saya selama mungkin. Saya ingin mendengarkan suaranya sebanyak
mungkin, bahkan saya ingin membelai maupun memeluk mereka selama
mungkin,
saya benar-benar merasa takut kehilangan mereka. Masalahnya hari esok
mungkin sudah terlambat??

Sayapun merasa bingung apakah perlu saya menceritakan sedini mungkin
kepada
istri maupun anak-anak saya, bahwa suami/ayahnya tidak lama lagi akan
meninggal dunia? Saya khawatir, karena apabila mereka mengetahui bahwa
ajal
saya sudah berada di ambang pintu, pasti mereka akan bersedih hati,
mereka
tidak akan bisa hidup ceria lagi, sedangkan saya tidak ingin membuat
mereka
berduka hati di hari-hari terakhir ini. Saya sangat mengasihi istri
maupun
anak-anak saya.

Di hari-hari terakhir ini rasanya jam dinding berputar jauh lebih cepat.
Di
malam hari pada saat mereka sudah tertidur, saya menatap wajah mereka
satu
per satu berjam-jam lamanya. Kesempatan untuk dapat menatap wajah istri
maupun anak-anak saya ini tidak lama lagi. Berlinang air mata saya
keluar,
karena saya menyadari bahwa waktunya sudah dekat.

Selain dari itu entah kenapa rasa takutpun mulai timbul, apakah saya
akan
masuk neraka? Mengingat kehidupan saya ini penuh dengan dosa. Memang
saya
telah berdoa untuk memohon pengampunan daripada-Nya, tetapi apakah
melalui
doa tsb, dosa saya sudah benar-benar di ampuni? Apakah saya seorang
pengecut
atau seorang yang cengeng apabila saya mengakui bahwa saya sebenarnya
merasa
takut untuk dipanggil pulang?

Dalam keadaan ketakutan inilah saya berdoa dan tanpa bisa dibendung lagi
terlinang air mata saya keluar! Rasa sedih dan kecewa berkecamuk di
dalam
hati dan pikiran saya, kenapa Tuhan sudah mau memanggil saya dalam usia
yang
masih relativ muda ini? Kenapa Tuhan tidak memberikan kesempatan sejenak
lagi, agar saya bisa menyelesaikan tugas maupun tanggung jawab saya
sambil
menunggu anak-anak menjadi besar dan mandiri?

Tiap hari kita mendengar bahkan mungkin melihat orang mati, tetapi kalau
kita jujur, kita tidak akan pernah bisa menghayatinya, paling banyak
hanya
keluar perkataan kesian maupun rasa sedih hati. Jangankan menghayatinya
terpikirpun tidak pernah, masalahnya kita merasa diri kita ini masih
kuat,
masih sehat apalagi usia kita masih muda, buat apa memikirkan tentang
kematian?

Banyak orang memberikan komentar bahwa kita datang kedunia ini seorang
diri,
tetapi kenyataannya pada saat kita mau mati, rasanya berat sekali untuk
pulang sendirian, apalagi harus meninggalkan orang-orang yang sangat
kita
kasihi?

Tiap Romo dengan mudah akan mengucapkan kita harus mau dan harus bisa
mengikhlaskan meninggalkan semuanya ini? Mereka gampang mengucapkan
perkataan demikian, karena mereka tidak memiliki apapun juga entah
harta,
maupun anak/istri yang mereka kasihi? Jadi istilahnya untuk mereka
pulang
kampuang, bawa kantong plastik aza udah cukup, berbeda dengan kita,
semakin
berat dan semakin banyak yang kita miliki, rasanya semakin berat pulalah
untuk bisa ditinggalkan begitu saja.

Melepaskan nyawa tidaklah susah, tetapi melepaskan apa yang kita miliki
dan
meninggalkan orang yang sangat kita kasihi, inilah yang susah!

Saya benar-benar merasa sangat bingung sekali apa yang bisa dan harus
saya
lakukan untuk menghadapi detik-detik terakhir ini, mengingat waktunya
sudah
tidak lama lagi. Apakah ada rekan-rekan, Romo/Pdt atau para pembimbinga
agama lainnya yang bisa memberikan semacam checklist persiapan apa saja
yang
harus dan bisa dilakukan sebelum kita berangkat ke alam baka?
- tugas apa saja yang masih bisa dan harus diselesaikan oleh seorang
suami
maupun ayah
- hal apa saja yang bisa saya persiapkan sebelumnya menghadap kepada
Sang
Pencipta
- apakah masih belum terlambat bagi saya untuk bertobat?
- cara kehidupan yang bagaimana yang harus saya lakukan di hari-hari
terakhir ini, sambil menunggu ajal tiba

Renungkanlah!
"Siapapun diri Anda dan dimanapun Anda berada, pada suatu saat Andapun
akan
menghadapi situasi yang sama seperti yang dihadapi oleh saya pada saat
sekarang ini, terkecuali kalau Anda mati secara mendadak."

Life is a "one-way" street and we are not coming back.

Mang Ucup
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.org






***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke