KEJAHATAN BERSELUBUNG PERDAMAIAN ( II )
   
  Inilah karakter pemerintah di republik ini, terlalu munafik tanpa pernah 
berkaca kepada dirinya sendiri. Bahwasannya apa yang telah diperbuat oleh 
mereka (pemerintah) kepada rakyatnya, tak jauh berbeda kualitasnya dengan 
negara-negara yang dilanda konflik internal lainnya. Dalam arti disini, peran 
pemerintah yang tidak pernah beres kepada urusan di dalam negerinya sendiri. 
Bagaimana dengan kinerja BRR Aceh dalam pembangunan di Aceh pasca Tsunami lalu? 
Sampai hari ini sangat berantakan, dan rentan dengan praktik-praktik korupsi 
untuk proyek pembangunan tersebut.
   
  Seperti ambisiusnya pemerintah untuk mengirim pasukannya sebagai pasukan 
penjaga perdamaian PBB di Lebanon, tergabung dengan UNIFIL. “Kesempatan” ini 
dimanfaatkan sebagai momen untuk membeli panzer dari Perancis. Inilah 
karakteristik pemerintah di negara ini, ingin “gagah-gagahan” di luar negeri, 
tetapi di dalam negerinya harus mengeksploitasi dana anggaran negara. Bahkan 
hal itu selalu dijadikan sebagai ajang komoditas isu antar elit, dan terutama 
untuk melobi lembaga-lembaga donor untuk bantuan dana (hutang) baru. Suatu 
praksis ambigu pemerintah selalu mendapatkan perannya dalam hubungan antara 
negara terhadap masyarakatnya.
   
  Jika kita hendak berbicara tentang peran demokrasi yang selalu didengungkan 
oleh pemerintah dalam hampir rata-rata setiap pidatonya, maka suatu pertanyaan 
hendak dilontarkan balik kepada pemerintah: “apakah demokrasi yang dipraksiskan 
saat ini merupakan demokrasi bagi pemenuhan tuntutan masyarakat?”. Tentu tidak. 
Tetapi pemerintah selalu menggelindingkan isu demokrasi sebagai alat untuk 
mencapai suatu prestise di mata negara-negara luar, terutama kaum imperium 
global. Maka ketidakjujuran pemerintah bahwasannya demokrasi saat ini adalah 
demokrasi-nya kaum berduit, sudah sering diungkapkan secara telanjang oleh 
kelompok oposisi pemerintahan. Demokrasi macam apa yang diberikan oleh 
pemerintah untuk suatu kemaslahatan masyarakat di Aceh sana, dan terhadap 
masyarakatnya di seluruh Indonesia?    
   
  Pemerintahan psikopat kali ini berupaya “unjuk gigi” dalam praksis-praksis 
solidaritas global, tetapi dengan cara melupakan realitas kejahatan sistemik di 
dalam negerinya sendiri. Seperti kasus pembunuhan Munir, dengan keputusan vonis 
cuma dua tahun penjara saja untuk Pollycarpus Budihari Priyanto oleh Mahkamah 
Agung. Sedangkan aktor-aktor konspiratif lainnya, semua tidak tersentuh sama 
sekali. Bahkan tidak ada niat baik pemerintah untuk hal ini, selain 
reaksi-reaksi “lip service” belaka. Inilah republik mafia, ketika suatu roda 
politik harus digerakkan oleh elit-elit yang berkarakter mafia struktural.
   
  Jadi kalau sekarang ini presiden, wakil presiden, dan Kapolri langsung 
memberikan over-reaksi dan langsung “berkoar-koar” tentang penegakan hukum 
nyata dalam kasus pembunuhan Munir. Pertanyaannya lagi adalah: “apa yang 
dikerjakan mereka selama ini dalam kasus tersebut?”. Dan seorang Kapolri itu 
seharusnya konsisten untuk bekerja lebih bertanggung jawab sebagai aparat 
penegak hukum. Bukan hanya ber-klise politis di media untuk menghilangkan (mata 
rantai) suatu praktik konspiratif dalam pembunuhan tersebut. Bukankah mereka 
telah membenarkan suatu praksis konspirasi pembunuhan dengan suatu konspirasi 
baru untuk menutupi konspirasi sebelumnya??? 
   
  Jadi, suatu “perbuatan baik” pemerintah yang terlalu ditonjolkan sedemikian 
bombastis, apalagi sampai seorang presidennya sebagai calon peraih Penghargaan 
Nobel, sudah patut dipertimbangkan ketidak-layakannya. Karena, Indonesia belum 
lepas terbebas dari “budaya kemunafikan” yang sedemikian mengakar, sehingga 
setiap tindak kejahatan struktural sering dianggap sebagai suatu kewajiban 
pemerintah untuk menjaga eksistensi negaranya. Dan untuk bapak presiden 
Republik Indonesia, agar kembali berpikir secara lebih konsisten, apakah layak 
dicalonkan sebagai calon peraih Penghargaan Nobel? Jika merasa kurang layak, 
maka lebih baik mengundurkan diri secara lebih bijak dari pencalonan 
tersebut.***
   
  Oktober 2006, Leonowens SP 
   

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Everyone is raving about the  all-new Yahoo! Mail.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke