Prihatin sekali saya membaca oleh2 dari Bali.  
Kenapa selalu pendatang yang selalu disalahkan ketika rejeki tidak 
mengalir dengan lancar lagi untuk penduduk asli??  
Kenapa tidak berkompetisi dengan sehat, toh dengan berbekal 
keasliannya siapa tau justru lebih laris krn pembelinya juga orang 
Bali sendiri??

Saya teringat kerusuhan Wamena tahun 2000 dimana keluarga kakak dan 
om saya turut menjadi korban, alhamdulilah tidak ada yang cedera 
parah, namun banyak pendatang dari Jawa yang dibantai dengan sangat 
sadis.  

dan yang lebih memprihatinkan adalah ketika elite lokal mulai 
meluncurkan jurus2 busuknya untuk keuntungan sesaat.  Bagaimana 
menghentikan pola-pola "anti pendatang" ini?? kayaknya PR pemerintah 
makin banyak neh:) (ah..tp kan pemerintah tidak pernah mersa punya 
PR)


--- In [email protected], "Ikranagara" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Aku sudah kembali dari Jakarta. Sebelumnya sempat ngeluyur ke 
Jatim 
> (aduh... ada lumpur panasnya Lapindo!!!) dan Bali (ada apa di 
> Bali?). Catatan ini aku tulis di Washington DC.
> 
> Sebenarnya aku ke Bali itu ada acara kesenian di Candi Dasa dan di 
> Ubud. Panjang deh ceritanya, tapi singkatnya adalah aku sempat isi 
> acara diskusi dan baca puisi. Bali bikin betah deh! Tapi Jakarta 
> tidak menyenangkan lagi, terutama akibat semrawutnya lalulintas 
dan 
> kebisingannya dan panasnya dan nyamuknya dan ...
> 
> Bali memang masih sepi dari turis sejak bom yang kedua kalinya 
> diledakkanitu. Turis masih takut. Agen perjalanan tidak berani 
> merekomendasikan langganannya untuk ke Bali. Padahal Bali sih 
> menurut aku aman dan membuat aku jadi betah.
> 
> Di Bali sekarang ada gerakan membangkitkan semangat bekerja dan 
> bersaing untuk kalangan orang Bali terutama yang beragama Hindu. 
> Gara-gara hebatnya yang namanya bisnis turisme, maka rame-ramelah 
> orang Bali (yang Hindu dan non-Hindu) menggerayangi bisnis yang 
> menghasilkan dolar ini! Ya, yang masuk kantung mereka itu sih 
tidak 
> banyak dalam arti prosentasenya, tidak sampai 10 persen sih, 
memang, 
> tapi kalau diterjemahkan ke dalam rupoiah ya tergolong tinggilah! 
> Yang lebih banyak mengalirnya ke kantung infvestor dari Jawa dan 
> luar negeri tentu saja! Yang bekerja keras untuk meladeni para 
turis 
> memang orang Bali. 
> 
> Nah, yang "bukan orang Bali" bagaimana? Mereka ini pendatang, 
> umumnya dari Jawa Timur yang penduduknya padat dan banyak yang 
> miskin itulah! Mereka ini siap bekerja keras untuk pekerjaan macem 
> apa saja.
> 
> Gara-gara konsentrasi Orang Bali pada pariwisata, maka banyak 
> lowongan kerja yang terbuka untuk pendatang yang mau melakukan 
> kerja "kotor" dan "rendah" seperti manen padi di sawah, mencangkul 
> lumpur, dll. Juga kerjaan di dapur restoran, angkut sampah, dll. 
> Jualan bakso keliling di bawah terik panas. Juga buka rombong 
jualan 
> kecil-kecilan ini dan itu. Langganan mereka adalah Orang Bali itu 
> tadilah!
> 
> Jadi, yang langsung dapat kerjaan meladeni turis itu umumnya ya 
> Orang Bali, sebab mereka faham seluk beluk alam dan adat Orang 
Bali. 
> Yang pendatang mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Orang 
Bali.
> 
> Maka ketika bom meledak untuk pertamakalinya, keadaan guncang! 
> Bisnis pariwisata terpukul hebat! 
> 
> Itu terjadi di daerah-daerah yang punya bisnis pariwisata seperti 
> sekitar Denpasar, Gianyar, Kelungkung, Karangasem dan belakangan 
> menyusul Singaraja. Tapi daerah seperti Jemberana (ibukotanya 
> Negara) tempat kelahiran saya, keadaan itu tidak berlaku. 
Ekonominya 
> aman. Tidak bergantung kepada turisme. Demikian juga di daerah-
> daerah yang punya bisnis turis tadi, masih ada sektor-sektor 
ekonomi 
> yang tidak terganggu oleh adanya bom pertama itu tadi.
> 
> Namun demikian, bom pertama itu tidaklah menyebabkan keadaan 
> perekonomian turisme sama sekali ambruk. Malah kemudian tampak 
> adanya kepulihan kembali. Harapan pun ada.
> 
> Tapi ketika ada bom kedua meledak kembali di Bali, maka ekonomi 
> turisme itu benar-benar ambruk sama sekali, sampai sekarang! 
> Kemiskinan mulai tampak di Bali, meskipoun tidak sampai muncul 
> pengemis di jalan-jalan seperti di Jawa. Bali tidak pernah kenal 
> pengemis, kecuali satu kali yaitu gara-gara meletusnya Gunung 
Agung 
> dahulu kala itu saja.
> 
> Dalam keadaan ambruk itulah muncul gerakan yang agak berbau "Bali 
> Sentris" yang tujuannya sebenarnya mulya, yaitu membuat agar Orang 
> Bali tidak malu mengerjakan pekerjaan "kotor" dan "kasar". Ini 
> berarti mereka ini akan menggusur posisi para pandatang yang 
> menguasai sektor ini. Mulailah tampak slogan-slogan, bahkan 
tindakan-
> tindakan kasar yang tidak mengenakkan para pendatang. Ekses ini 
> sedang marak bagaikan bara di bawah sekam di seluruh pelosok Bali. 
> Ada yang mencemaskan hal ini, dan mulailah mereka melakukan kritik 
> terhadap ekses-ekses ini lewat media. Polemik yang mengtengahkan 
isu 
> ini akan masuk ke ranah politik lokal Bali, terutama untuk 
> memperebutkan kursi Gubernur. Balon Cagub sudah tampak pasang kuda-
> kuda dengan mengeluarkan dana besar untuk menunjang gerakan 
koperasi 
> dan semacamnya yang bisa menggaet Wong Cilik korban ambruknya 
> ekonomi turisme paska bom kedua itu.
> 
> Apakah akan muncul isu agama nanti? Saya percaya hal ini tidak 
akan 
> ada, karena kami yang beragama islam di Bali tetap diaku 
> sebagai "Nyame Slam" (=saudara yang beragama Islam). Jadi, isunya 
> adalah "anti pendatang" dengan motivasi merebut kembali lahan 
> ekonomi yang ditinggalkan demi turisme itu.
> 
> 
> Ikra.-
> ======
>






***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke