yang logical dan yang instinctual, ternyata pasti klop
Umar Alhabsyi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: To: <[EMAIL PROTECTED]>,
<[EMAIL PROTECTED]>
From: "Umar Alhabsyi" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tue, 10 Oct 2006 12:52:31 +0700
Subject: [islamalternatif] Fw:Bahan Bacaan dan Cernaan otak Kiri dan Kanan
Assalamu alaikum Wr.Wb.
Di bawah ada sebuah cerita menarik mengenai pengalaman spritual seseorang
dalam proses melakukan ibadah Umroh. Semoga bermanfaat.
Wassalam,
<<Umar.A>>
Bahan bacaan dan cernaan otak kiri dan kanan.
-------Original Message-------
From: Dian Yudiana
1.Latar Belakang
Prinsip utama saya sejak beranjak dewasa sampai sebelum perjalanan umroh ini
adalah : "Tak ada keajaiban".
Segala sesuatu harus masuk logika, masuk akal, dan jauh dari hal-hal yg tak
masuk akal. Segala sesuatu mesti ada penjelasan ilmiahnya.
Oleh karena itu pandangan saya selalu mengacu kepada konsep hukum-hukum
fisika, sosial, dan hukum psikologi. Tak ada kejadian yg pernah bisa melanggar
hukum alam. Setiap pohon pisang akan berbuah pisang, setiap mahluk hidup
mempunyai siklus biologi sesuai spesisnya, setiap apapun didunia ini tidak ada
yg bisa lepas dari hukum absolut alam semesta.
Takkan pernah ada cimpedak berbuah nangka kecuali dalam sajak. Takkan pernah
ada orang kebal peluru. Takkan pernah ada keajaiban, keanehan, atau anomali
hukum alam.
Sebelumnya saya hanya tertawa mendengar cerita-cerita keajaiban ataupun
kejadian luar biasa yg kerap terjadi pada orang yg melakukan ibadah haji atau
umroh di tanah suci. Mungkin itu hanya kebetulan, atau mungkin itu hanya bohong
belaka.
Sehingga kajian saya mengenai telaah agama islam, selalu mengacu kepada
analisa, sentesa, konseptual, dan hipotesa.
Pendeknya, tak ada alat yg saya miliki untuk telaah tsb selain metode ilmiah,
sampai saya dipaksa harus menyadari instrumen lain yg sesungguhnya ada dan tak
pernah saya gunakan.
2. Perjalanan I : Jkt-Jeddah
Saya berangkat dengan apa adanya menuju Jeddah. Instruksi saya kepada
secretaries yg membooking perjalanan untuk mengambil paket yg paling murah,
paling singkat, dan paling efisien.
Boleh dikata niat saya bukan untuk ibadah, tapi untuk sebuah hipotesa.
Diperjalanan, saya bertemu dengan seorang Haji yg telah beberapa kali berhaji
dan berumroh, Bp H Tabrani (63), mantan walikota Jakarta Timur,
kelahiran Aceh.
Kamipun terlibat diskusi dipesawat. Saya katakan bahwa saya datang ke Mekkah
bukan untuk cari umur panjang, rejeki, kemakmuran, kekayaan, dsb.
Saya katakana saya hanya ingin mencari petunjuk, hidayah bahwa Al-Qur'an
adalah memang benar datangnya dari Allah dan bukan konsepnya Muhammad .
Saya ingin tahu hipotesa saya benar atau salah.
H.Tabrani berkata, " Insya Allah you akan dapat semua itu. Namun semua akan
tergantung dari cara you memandangnya, apakah fenomena itu adalah sebuah
petunjuk, atau hanya sebuah kebetulan ".
2.1 Kejadian 1
Beberapa saat setelah beliau bicara, tiba-tiba mesin pesawat mati satu.
Penumpang pun diharap kembali ketempat duduk masing-masing dan memasang sabuk
pengaman.
Penerbangan baru berlangsung 45 menit. 5 menit kemudian kedua mesin Boeing 747
disayap kiri mati.
Pilot pun memberitahukan bahwa pesawat harus kembali ke Airport Soekarno
Hatta.
Kemudian pesawat mengalami turbulens yg menyeramkan disertai jeritan
penumpang, sementara saya melihat kejendela pembuangan bahan bakar mulai
dilakukan.
Ini merupakan pemandangan yg sama sekali tidak menyenangkan.
Saat itu saya mulai takut dan berfikir tentang kematian. Berkali-kali saya
terbang, baru kali ini mengalami kejadian yg demikian.
Apakah tempat yg saya tuju memang luar biasa ? Ataukah ini hanya kebetulan
saja ?
Dengan sisa mesin dan kekuatan yg ada, pesawat terbang miring dan mendongak,
sementara yg saya lihat dibawah hanya lautan lepas.
Namun akhirnya pesawat dapat mendarat di Soekarno Hatta dengan selamat,
diiringi beberapa mobil pemadam yg siap siaga.
Kami semua di inapkan di Horison Hotel-Ancol.
Di Hotel diskusi saya dengan Bp H Tabrani berlanjut.
Saya tanya ; Aca :" Pak Haji, kok susah bener ya mau ke Mekkah aja ?"
" Baru kali ini saya saya naik pesawat kayak begini"
H Tabrani : " You kurang niat kali... ini khan bukan perjalanan biasa".
Aca : Apanya yg luar biasa. Secara teknis tetap sama"
H Tabrani : " Wah...you boleh pilih, melihat ini sebagai sebuah Kebetulan,
atau sebuah kebesaran Allah ! "
Aca : " Tapi Pak, kenapa kalau Allah mau kasih pelajaran Semua satu pesawat
terkena getahnya, padahal khan Ada penumpang lain seperti Bapak yg sudah
berniat bulat umroh tetapi juga batal ".
H Tabrani : " Andry...you khan tahu tidak semua penduduk Indonesia bobrok
mentalnya, tetapi, jika Allah mau kasih pelajaran khusus - hampir
seluruh rakyat Indonesia terkena dampaknya". " Bisa jadi karena you dengan
niat hipotesa atheis itu - kita semua satu pesawat terkena
akibatnya". "Coba dech.. you pikirin ! "
Akhirnya saya mulai tafakur, mencoba untuk merendahkan hati, sholat isya' -
dan membaca niat untuk umroh.
Saya mulai membuka-buka buku-buku petunjuk menjalankan umroh. Walau saya
jarang (hampir tidak pernah) berdo'a, saya baca-baca do'a nya.
2.2 Kejadian 2
Esoknya kami berangkat dengan pesawat lain. Dan ketika itu saya melonjak
kegirangan, karena saya di up-grade ke first class.
Waduh, enak juga, 10 jam terbang tanpa harus berdesakan dengan fasilitas
lainnya yg tidak sama dengan economi.
Tiba-tiba H Tabrani datang, " Wah you koq disini ?
" Aca : " Alhamdulillah saya di up-grade Pak "
H Tabrani : " Waduh...enak benerrrr, you udah niat umroh ? "
Aca : " Udah Pak, semalam saya tafakur, berdo'a dan membaca niat "
H Tabrani : "Bagus kalau begitu. You sekarang melihat kan Allah bisa
memberikan imbalan kenikmatan secara Langsung "
Aca : "Loh tapi Pak Haji, ini khan petugas maskapai yg Ngatur!?"
H Tabrani : " Bukan ! ini Allah yg ngatur, melalui tangan petugas"
Aca : " Wah ini mungkin hanya kebetulan saja Pak !" " Nggak masuk akal kalo
Cuma karena niat, saya langsung diberi kenikmatan oleh Allah ".
H Tabrani : " OK... khan saya sudah bilang dari kemarin, semua Terserah you
saja, apakah you mau melihat dengan kacamata Kebetulan, atau kacamata iman !"
H Tabrani pun mulai sewot dengan saya. Entah karena nggak di up-grade atau
karena sikap saya yg dianggapnya wangkeng.
2.3 Kejadian 3
Dipesawat, saya dikenalkan oleh pramugari kepada 2 orang penumpang yg menekuni
manajemen pikiran.
Dian, pramugari yg sebelumnya terlibat diskusi agama dengan saya dan H
Tabrani, menyarankan agar masalah saya diungkapkan kepada mereka. Kamipun
berkenalan, seorang bernama Nur Cahyo, seorang lagi bernama Kartiko (mungkin
muridnya).
Saya jelaskan permasalahan utama saya. Akhirnya ia menjelaskan, " Sdr Andry,
selama ini saya tahu anda telah banyak berupaya, namun upaya itu belum
optimum. Apa sebab - karena sdr hanya menggunakan sebahagian yakni bagian kiri
saja dari otak sdr ".
"Karena otak, mempunyai 2 belahan, belahan kiri yg fungsinya untuk
menganalisa, kalkulasi, logika, konsentrasi, hipotesa, dsb, dan belahan
kanan yg berfungsi mencerna keindahan, emosi, seni (spt musik), euphoria,
keimanan, dsb. Kedua belahan otak tsb harus sdr gunakan.
Wajar kalau saudara hanya mengandalkan analisa dan mendewakan sirkuit logika".
"Ada daerah kekuasaan Tuhan yg tidak dapat dianalisa dan didiskusikan.
Daerah tsb hanya dapat dicerna oleh perasaan yg kita sebut iman".
"Loh...itu khan basic prinsip Quantum Learning, saya tahu benar itu ", kilah
saya.
"Betul...bagus kalau anda tahu - tapi pernahkah anda terapkan dalam pencarian
ini ?".
Saya mulai bingung dengan pertanyaan Kartiko.
Saya tahu benar ilmu itu, karena saya sering jadi pembicara tentang metode
belajar dan bekerja menggunakan keseimbangan otak kiri - kanan.
Kepala saya seperti dipentung oleh senjata saya sendiri.
Kartiko melanjutkan, "Jika yg sdr cari adalah petunjuk, ia dapat berupa ilham,
mimpi, atau fenomena dan kejadian-kejadian yg tak masuk akal.
Sdr tak akan bisa menelaah semua itu nanti di perjalanan dengan otak kiri
(analisa) saja.
Hasilnya akan sdr pisah-pisah dan terlihat tidak berkaitan satu sama lain.
Namun apabila sdr gunakan juga otak kanan (intuisi/rasa/ iman), hasilnya akan
sangat menakjubkan" .
H Tabrani pun ikut terlibat diskusi, dan ia banyak membenarkan perkataan
Kartiko.
Sebelum Kartiko kembali ke kursi duduknya, saya bertanya kepadanya, "Anda
kuliah dimana ?".
Kartikopun menjawab "Politeknik Mekanik Swiss".
"Astaga, angkatan berapa ?".
"Angkatan 88", jawabnya.
Akhirnya, kami pun bertambah mesra.
Saya mulai menarik hipotesa dengan kedua belahan otak saya ;
1. Apakah instrumen ini berguna (telaah menggunakan kedua belahan otak)untuk
pencarian saya ?
2. Kenapa saya tak pernah menggunakannya, padahal saya tahu dan gandrung
dengan ilmu itu ?
3. Apakah ia hanya seorang kenalan di pesawat, atau kah sebuah petunjuk agar
saya menggunakan instrumen itu dalam perjalanan sekarang dan nanti ?
4. Apakah pertemuan kami ini hanya sebuah kebetulan ?
5. Apakah Kartiko juga seorang yg kebetulan berlatar belakang pendidikan sama
dengan saya sehingga jalan berfikir kami sepertinya klop !?
Saya kembali membahas ini dengan H Tabrani.
Beliau seperti biasa sambil sewot, " Terserah...you mau lihat dari kacamata
kebetulan atau kacamata kebesaran Allah !".
Sayapun mulai tak percaya dengan diri saya.
Saya mulai goyah dengan pandangan saya selama ini.
2.4 Kejadian 4
Akhirnya kami pun tiba di Jeddah, yg kemudian perjalanan disambung ke Madinah.
Malam hari kita berangkat sholat Isya' ke Masjid Nabawi. Disini Rasululloh
dimakamkan, jelas H Tabrani.
"Kok kuburan di Masjid Pak Haji, nggak bener itu !"
"Wah you ini mau sholat apa nggak !". "You khan bisa sholat karena orang yg
dimakamkan disini !".
Tanpa banyak bantah saya ikuti ajakannya sholat diluar (halaman) Masjid
(karena larut, pintu masuk sudah ditutup).
Saya sholat tepat disamping pintu makam Rasululloh, sedang H Tabrani sholat 5
meter didepan saya.
Tiba-tiba, baru saja saya takbiratul ihrom, pintu disamping saya berdebum.
Sayup-sayup berdebum. Seperti suara orang kerja. Tapi lebih mirip suara orang
marah-marah membanting meja atau kursi.
Tiba-tiba perasaan takut saya datang.
Akhirnya saya batalkan sholat saya, pindah menjauhi makam Rasululloh.
Makam orang yg saya pikir pembuat Al-Qur'an. Dan saya mulai dihantui pemikiran
tersebut. Sholat saya sudah nggak bisa khusuk lagi.
"Andry...kamu kenapa pindah sholatnya ?", tanya H Tabrani.
"Nggak tahu tuh Pak, ada suara berisik dipintu, sepertinya pintu itu mau
dibuka orang ", jawab saya.
"Suara berisik apa ".
"Loh Pak Haji nggak denger barusan "
"Enggak ah..., Iqbal...kamu dengar suara ?" "Enggak Pak..."
Perasaan saya mulai nggak karuan. Rasa takut dicampur rasa bersalah.
Saya coba analisa pakai belahan kiri, bahwa mungkin posisi saya yg tegak lurus
dengan pintu menyebabkan saya bisa dengar, namun mereka karena tidak tegak
lurus, mereka tak bisa mendengar.
Tapi harusnya juga dengar. Mustahil tidak, karena suara itu keras koq.
Akhirnya saya ceritakan ke H Tabrani tentang perasaan kacau saya.
Saya ceritakan bahwa saya pernah menulis e-mail yg berpendapat apakah semua
ini bisa-bisa nya Muhammad.
Kala itu saya tetap menyangsikan kronologi turunnya wahyu. Hingga saya
mensejajarkan posisi Muhammad dengan Napoleon, Karl Marx, Einstein,
Aristoteles, Plato, dan pemikir besar dunia lainnya.
"Wah...kalau you udah sadar itu salah, you mesti minta maaf besok didalam
Masjid, tepat disamping makamnya kalau bisa ", kilah H Tabrani.
Esok hari, pagi-pagi sekali kami bangun, berangkat menuju Masjid Nabawi.
Masjid besar dengan halaman yang juga besar.
Dengan terhuyung sambil ngantuk (karena nggak biasa bangun dan sholat shubuh)
saya berjalan menyusuri halaman Masjid seperti menyusuri 2 kali panjang
lapangan bola.
Seluruh lantainya ditutupi Pualam putih.
Setelah melewati pintu utama, saya berjalan memasuki ruang dalam Masjid area
perluasan King Fadh.
Saking besarnya, pandangan lepas kita tak dapat melihat ujung Masjid lainnya.
Lantai, dinding dan Tiang ditutupi marmer yg dipolish licin.
Setiap tiang terdapat lubang AC yg dapat mengatur suhu ruangan otomatis.
Kami terus berjalan menuju Raudah (batas bangunan asli Masjid yg dibangun
Muhammad) melewati area perluasan King Azis.
Antara perluasan King Fadh dan King Azis terdapat Kubah yg dapat terbuka dan
tertutup otomatis.
Sempat terfikir oleh saya, betapa besar biaya yg diperlukan untuk ini semua.
Namun saya coba tahan pemikiran negatif itu dan menggantikannya
dengan fikiran betapa besar pengaruh Muhammad sampai sekarang hingga dapat
terwujud Masjid sebesar dan seagung ini.
Kamipun hampir mencapai Raudhah, namun tak bisa masuk karena penuhnya.
Setelah sholat Shubuh, saya dianjurkan H Tabrani untuk berdo'a di area
Rhaudah.
"Kenapa .?", tanya saya.
"Berdoa disana Insya Allah lebih amat makbul (dijawab oleh Allah terhadap
permintaan doa kita).
Sempat terbesit pertanyaan saya, apakah doa orang yg berdoa di Masjid Dago
Atas tidak makbul ?
Namun saya mulai menahan diri terhadap pemikiran dan pertanyaan model itu.
Setelah berdoa, kamipun berdesakan keluar melalui Pintu Jibril, pintu yg
melewati tepat muka makam Rasululloh.
Saya ambil barisan paling kiri, barisan yg paling dekat dengan sisi makam.
Kami berjalan berdesakan, perlahan, penuh sesak namun sangat tertib.
Dari kejauhan saya melihat pagar makam yg didalamnya gelap tak ada cahaya.
Dalam antrian perlahan saya mendekati makam.
Didalam pagar terlihat tiga makam yg ditutupi kain.
Saya tak tahu yg mana Makam Rasululloh, yg mana makam Abu Bakar, dan yg mana
makam Khadijah, isteri Nabi.
2.5 Kejadian 5
Disepanjang makam berdiri 4 orang tua dengan badan tinggi bersorban yg selalu
menepis tangan orang yg mencoba memegang pagar dengan meratap.
"Musyrik !!!", hardiknya.
Mereka senantiasa menjaga perilaku setiap orang yg mencoba ziarah dengan
kelakuan aneh.
Disini saya mulai mengerti arti Islam sebagai agama Tauhid.
Agama yg berillah hanya dan hanya kepada Allah. Tiada kepada yg lain, tiada
pula kepada para Nabinya.
Nabi hanya sebagai pembawa RisalahNYA, MandatarisNYA, dan bukan tempat untuk
meminta atau berdo 'a.
Nabi juga bukanlah anakNYA, karena beranak pinak adalah perilaku ciptaaNYA dan
bukan salah satu sifatNYA/perilakuNY A.
Musyrik atau Syirik, mensyarikatkan Allah dengan sesuatu lainnya adalah
satu-satunya perbuatan dosa yg tidak pernah diampuni Allah.
Bukan maksud saya menyindir, tapi sering kali orang melakukan "HUMANISASI" .
Imajinasi bentuk alien (mahluk luar angkasa) tak pernah jauh lari dari bentuk
manusia, berbadan, berkepala, bertangan dan berkaki.
Film-film kartun Hollywood, selalu menampilkan bentuk perilaku binatang yg
bertingkah polah bagai manusia, dan berbentuk fisik yg sudah dirobah menjadi
mirip manusia.
Dongeng-dongeng binatang buku cerita untuk anak kecil juga demikian.
Robot-robot sekarang dan masa datang,mengambil analogi kerja tubuh dan bentuk
badan manusia.
Sampai-sampai Tuhan atau Dewa-dewa yg digambarkannya pun mirip bentuk manusia.
Adapula yg menganalogikan perilaku Tuhannya seperti manusia dengan perilaku
beranak pinak.
Disini saya merasa mendapat petunjuk, bahwa Muhammad NabiNYA, bukan anakNYA,
bukan tempat meminta.
Ketika saya tiba persis dimuka makam, seseorang dengan suara yg berat
dibelakang saya berkata perlahan. Tidak keras namun tidak berbisik.
Kedua tangannya memegang pundak saya dari belakang.
Ia berkata dalam bahasa Arab, " Ya Rasululloh.. .ini aku, aku datang kepadamu,
bukan untuk meminta sesuatu yg lain.
Aku hanya ingin meminta maaf kepadamu ya Habiballoh.
Aku hanya mengagumimu namun aku tak pernah memujimu.
Aku fikir aku telah menempatkanmu pada posisi yg tinggi, namun ternyata engkau
lebih mulia dari itu.
Aku tidak mencela engkau namun aku sadar aku telah melecehkan engkau. Aku
minta maaf ya Rasululloh".
Pembaca, saya dapat mengerti hampir seluruh ucapannya dalam bahasa Arab itu,
namun saya belum pernah belajar Nahu sorob atau bahasa Arab !
Saya jadi bingung sendiri. Saya lihat dipundak saya salah satu tangannya yg
memegang pundak saya dari belakang, besar sekali dan hitam legam. Waktu saya
menolah kebelakang, orang tersebut seperti dari Afrika, tinggi luar biasa,
hitam legam.
Ia mengucapkannya sambil merintih menahan tangis.
Rasa haru, menyesal luar biasa, dan sedikit ketakutan pun menyelimuti saya.
Saya tak ucapkan kata apapun. Semua yg akan saya ucapkan telah diucapkan orang
dibelakang saya dalam bahasa Arab yg saya tiba-tiba mengertinya.
Keluar pintu Jibril, saya menunduk menahan tangis dan haru, agar tak terlihat
H Tabrani dan Iqbal puteranya.
H Tabrani tahu itu. Merekapun mempercepat langkah agar tetap didepan saya.
Saya coba cari orang tinggi besar hitam tadi.
Mungkin karena ramai kerumunan, saya tak dapat menemukannya.
Sesampai di Hotel, kamipun mendiskusikannya. Terutama tentang dapat
mengertinya saya terhadap ucapan dalam bahasa Arab.
Saya bilang : "Mungkin begini Pak, karena saya dihantui rasa bersalah,dan
memang saya akan berkata minta maaf, maka persepsi saya terhadap apa yg
diucapkan orang tadi adalah persepsi fikiran saya".
H Tabrani : "Itu mungkin. Mungkin saja. Tapi mungkin juga petunjuk, bahwa
beliau (Rasululloh) tahu benar isi hati anda, dan beliau dengan
ahlaknya yg mulia sudah memaafkan you tentunya".
Aca : " Ah...masak sich Pak. Sedemikian mudah dan cepatnya saya mendapat
petunjuk "
H Tabrani : " Temen you dan saya khan sudah berkali-kali mengatakan, semua itu
terserah you saja.
Apakah you mau anggap itu semua kebetulan atau sebuah petunjuk. Berkali-kali
saya mengatakan - terserah you saja !"
Saya mulai tak banyak membantah.
Saya benar-benar mulai berfikir, bahwa tak ada yg namanya kebetulan.
Semua sudah ada aturannya, semua sudah ada sebab akibatnya.
Ada sebuah "hukum sebab-akibat" yg berlaku absolut dialam semesta ini.
Hukum Sebab-Akibat itu diatas hukum-hukum lainnya.
Juga diatas hukum fisika, sosial, maupun psykologi yg saya anut selama ini.
Saya mulai meyakini ini sebagai Hukum Sunatulloh, dan bukan hukum psikologi.
Bukan efek kebetulan karena rasa bersalah. Bukan efek kebetulan kondisional
akibat suasana yg khusuk, sakral atau magic/angker.
Melainkan hukum Sunatulloh kepada orang yg mencari ridhoNYA, orang yg mencari
jalan yg diridhoNYA.
Namun saya tak berani berfikir bahwa saya sudah berada pada jalan yg benar,
dalam "The right track".
Namun yg jelas, saya mulai lebih berhati-hati dan tidak gegabah.
3. Perjalanan di Madinnah
Setelah melewati waktu Zuhur, kami melakukan City Tour, ketempat-tempat
bersejarah antara lain, Masjid Kuba - Masjid pertama di Madinnah yg
dibuat Rasululloh, Masjid Kiblat - Masjid dimana ditengah sholat Rasululloh
mendapatkan wahyu untuk sholat menghadap Ka'bah/Mekkah, yg
sebelumnya menghadap Masjidil Aqso', sehingga sholat tersebut beliau lakukan 2
roka'at menghadap Masjidil Aqso' dan 2 roka'at sisanya
menghadap Ka'bah. Karena kasus ini orang Kafir Quraisy berkomentar Muhammad
pemimpin yg plin-plan.
Dibimbing oleh Tour Guide, kami berkunjung ke Jabal Uhud, tempat dimana
terjadi Perang Uhud.
Terlintas dibenak saya cuplikan film "The Massage" dimana Hamzah, Panglima
perang kaum Mukmin yg dibunuh dengan tombak oleh salah seorang budak suruhan
Hindun, isteri Abu Sofyan, pemimpin kaum kafir Quraisy yg sangat memusuhi
Nabi.
Pada peperangan tsb kaum Muslimin kalah yg disebabkan tindakan indisipliner
pasukan panah.
Kami juga mengunjungi makam Fatimah, dimana dekat makam dahulunya terdapat
parit besar yg dikenal sebagai Perang Khandak.
Perang dimana pada saat itu kaum kafir dari berbagai bangsa dan negara
memboikot dan meng-embargo kaum muslim selama kurang lebih 2 tahun, dimana
sekeliling Madinnah pada saat itu dibuat Parit besar yg memisahkan/melindun
ginya.
Disini saya melihat bahwa perjuangan Rasulloh adalah bertahan dan bukan
menyerang.
Konsep yg diajukan Rasululloh adalh sebuah konsep dimana penguasa kafir tidak
menyukainya.
Konsep tsb hanya mendapat tanggapan dari kaum Anshor yg bertempat tinggal di
Madinnah hingga Nabi harus hijrah/pindah kesana.
Saya akhirnya bertanya kepada Tour Guide, bagaimana dengan tindakan Nabi yg
saya anggap ekspansi nekat yakni tindakan Nabi mengirim surat dari Madinnah
kepada Mekkah, Mesir, Roma, Persia, Abesinia, dan Negos(Ethiopia) .
Madinnah tidak sebesar dan sekuat Mekkah, namun tindakan Nabi mengirim surat
kepada Negara-negara tsb adalah nekat (kalau tidak mau dibilang gila).
Analoginya mungkin seperti Vietnam, negara kecil yg baru berdiri, tanpa
angkatan bersenjata yg jelas, mengirim pesan kepada Indonesia, Australia,
Amerika, Rusia, dan European Community untuk takluk dan tunduk dibawah
kekuasaanya.
"Oh tidak, ini tidak seperti demikian ", jawab Tour Guide. "Urusan Raululloh
bukan urusan kekuasaan. Konsep Rasululloh bukan konsep negara,
sehingga surat yg dibuat bukan surat kekuasaan . Surat itu berisikan ajakan
beragama Islam. Konsep Rasululloh adalah konsep agama, bukan
konsep pemerintahan" .
"Lho, kalau bukan urusan kekuasaan, bagaimana dengan Daulat Bani Umayah,
kepemimpinan Islam setelah Ali, yg ekspansi kekuasaanya dengan cepat dan pesat
sampai ke Cordova, Spanyol, daratan China, dan berbagai belahan dunia lain,
sehingga Islam tidak hanya bicara didalam Masjid, namun juga dipemerintahan,
dimasyarakat, hingga berlaku hukum yg hanya kita dengar sekarang secara
sayup-sayup 'hukum Islam' ?
Bagaimana kita memberlakukan sebuah peraturan tanpa adanya kedaulatan ?
Bagaimana kita bicara rajam bagi yg berzinah, sementara lokalisasi pelacuran
mendapat izin dari pemerintahan Pemda setempat ?
Bagaimana memberlakukan hukum Islam tanpa pemerintahan Islam ? ", demikian
saya bertanya.
Tour Guide tersebut tak dapat melanjutkan penjelasannya.
Sayapun menjelaskan, "Mas Syaiful...saya mohon maaf loh, saya dalam pencarian,
saya bukan sok tahu, tapi saya memang benar-benar tidak tahu, dan saya
benar-benar ingin tahu, kayak apa sich konsep Rasululloh yg disampaikan pada
saat itu ?".
Tour Guide : "Baiklah, anda silahkan tanya kepada orang yg lebih tahu, saya
terus terang belum tahu benar untuk hal ini ".
Aca : "Terimakasih Mas...saya akan simpan pertanyaan ini".
Beberapa orang mungkin beranggapan ini tidak penting, namun saya berfikir
bahwa ini sangat penting.
Dalam pencarian / perjalanan ini saya tak menemukan jawaban, namun saya yakin
insya Alloh, suatu saat, dalam pencarian saya yg berikutnya, saya dapat
menemukan jawabannya.. .Amien.
3.1 Kejadian 6
Setelah sholat Ashar, akhirnya kamipun bersiap-siap untuk ber-umroh.
Pak H Tabrani mengajarkan saya untuk memakai pakaian Ihrom.
Ia menjelaskan untuk memakai pakaian Ihrom, 2 lembar kain yg dililit
dipinggang, satunya lagi di bahu.
"Latihan pakai kain kafan ", demikian penjelasannya. Meskipun ia bukan Tourist
Guide, namun ia begitu telaten mengajarkannya pada saya. Meskipun
kadang-kadang menghardik saya, seperti waktu saya tanya kenapa koq nggak boleh
pakai celana dalam.
Ia hanya menjawab "Jangan didebat !!! ini daerah otak kanan ! ".
Untung saya sudah rada kalem sekarang karena beberapa kali mengalami
peristiwa2 yg lalu, kalau tidak, mungkin sewotnya H Tabrani berkelanjutan.
Setelah mengambil niat di Miqod, diperjalanan kami mulai membaca Talbiah :
Labbaik Allohumma labbaik
Labbaik Lasyarika laka labbaik
Innal hamda, Wal nikmata, Laka wal mulk
La syarikalak
Ya Allah, aku datang memenuhi panggilanmu
Tiada syarikat bagimu
Sesungguhnya segala puji, segala nikmat, dan segala kuasa Hanyalah dari
engkau. Tiada syarikat bagimu.
Pembacaan Talbiah baik di pesawat maupun diperjalanan/ bus, sangat
diliputi rasa haru yg luar biasa.
Kamipun tiba di Mekkah, kota Haram. Hotel kami cukup dekat dengan
Masjidil Haram. Sementara barang-barang diurus oleh petugas travel, kami
berwudhu di Hotel, kami langsung memasuki Masjidil Haram, sebuah Masjid yg
paling terkenal yg mungkin paling tua didunia. Saat itu saya belum merasakan
pesonanya.
Namun setelah melepas sandal dan memasuki Masjid, saya terdiam melihat
benda hitam pekat persegi empat yg berada ditengah-tengah Masjid. Ka'bah
ternyata berukuran lebih besar dari perkiraan saya.
Saya menahan tangis didepan rombongan tapi tak kuasa.
Dengkul saya lemas luar biasa. Sulit sekali menggambarkan pesonanya.
Saya kurang tahu persis pada saat itu tapi saya percaya Iqbal, anak Pak H
Tabrani yg pertama kali Umroh juga terdiam tak bersuara tak bergerak. Ia juga
mengalami hal yg sama.
Saya lemas dan duduk. Saya berusaha perlahan-lahan bergerak mendekat,
namun semakin dekat, semakin tak kuasa menahan tangis. Akhirnya saya mulai
meraung seperti anak kecil.
Saya menangis sambil duduk tidak mengerti kenapa. Dan saya tahu persis saat
itu saya tidak sedih.
Benda itu berada ditengah-tengah Masjid, besar, besar sekali. Hitam pekat
sekali.
Benar-benar saya tak mengira bahwa Ka'bah berukuran sebesar itu.
Saya tidak pernah berfikiran bahwa di dalamnya ada Allah sedang bersemayam.
Sepintas hanya sebuah batu yg disusun dan dilapis kain hitam.
Namun saya melihat sedemikian banyaknya manusia mengitarinya melakukan yg
disebut tawaf. Bukankah ini bukti dari hasil kerja
Muhammad.
Analisa saya bermain, apakah sekian banyaknya manusia datang kesini hanya
ditipu satu orang yg bernama Muhammad.
Namun intuisi saya juga bermain, bahwa kegiatan ini pasti bukan baru dimulai
kemarin. Kegiatan ini dilakukan pasti sejak ajaran Muhammad. Pendapat ini
adalah pendapat awal saya yg kemudian di konfirmasikan beberapa hari kemudian
oleh H Tabrani bahwa kegiatan ini sudah ada bahkan sejak milata Ibrahim, bapak
besar berbagai bangsa yg melahirkan agama Yahudi, Nasrani (bukan Kristen) , yg
kemudian juga Islam.
Saya mulai tawaf putaran pertama. Sambil air mata bercucuran (tanpa malu-malu
lagi sebab kanan kiri sayapun demikian) saya dibimbing H
Tabrani membaca do'a-do'a putaran pertama. Posisi kami sangat dekat dengan
Ka'bah dan senantiasa saya semakin merapat kedalam.
Kami merasa seperti memasuki sebuah gravitasi luar biasa yg menarik ketengah.
Seolah kami bergerak perlahan bersama tanpa menginjak bumi (seperti melayang),
semakin rapat dan semakin pekat ketengah. Kita tak kuasa menentukan arah
(kecuali sedikit), kita hanya dapat berserah diri mengikuti arus putaran itu.
Sambil memegang buku do'a kecil, saya coba baca juga artinya.
Disitu terdapat do'a permintaan umur panjang dan keturunan yg banyak serta
soleh.
Saya tanya ke H Tabrani, " Loh Pak...kok ada permintaan seperti ini ya...?. H
Tabrani menjawab, "Ya memang ada, khan saya sudah katakan boleh minta apa
saja".
Pada tawaf putaran kedua, saya kembali membaca do'a khusus untuk putaran kedua
- sambil juga melihat artinya. Agak sulit memang karena banyak jama'ah Iran
berbadan besar berdo'a lantang sekali. Kadang saya tak mendengar suara H
Tabrani sehingga sulit mengikuti apa yg didiktenya.
Kembali saya lihat artinya, " Loh...Pak, koq disini ada permintaan terhadap
rezeki yg banyak".
H Tabrani pun kembali menjawab, " Ya memang boleh. Anda saja yg cuma minta
petunjuk dan nggak mau minta yg lain.
Minta harta boleh...habis - kalau tidak - anda mau minta ke siapa lagi kalau
bukan sama Dia ".
Pada tawaf putaran ketiga, saya kembali membaca do'a sambil membaca artinya.
Terdapat dengan jelas disitu "Tijarotan Lantabur " yg artinya
"perdagangan yg jauh dari rugi". Saya kembali bertanya dengan lebih antusias
karena masalahnya erat dengan kehidupan saya yg memang bergerak di bidang ini.
"Loh-loh...ini lebih aneh lagi Pak...kok boleh minta dagang agar jauh dari
rugi, ini khan urusan dunia.
Bagaimana kita bisa rugi - ya karena manajemen yg buruk, sedangkan bagaimana
kita bisa untung ? ya dengan manajemen yg baik ? ".
Akhirnya H Tabrani mulai sewot lagi, " You khan bilang waktu dipesawat, bahwa
you hanya minta petunjuk, betul ndak...?"
"Betul Pak ", jawab saya. " OK kalau begitu nggak usah do'a saja ..." , tegas
H Tabrani.
Analisa dan intuisi saya jalan lagi, dan tiba-tiba saya teringat surat
Al-Fatihah, ayat 4, "Iyya ka na' budu wa iyya ka' nastaiyn".
Kepadamulah kami menyembah dan hanya kepadamulah kami minta pertolongan.
Saya fikir ini harus berlaku pada semua hal - segala hal - segala sesuatu -
termasuk hal-hal duniawi seperti bisnis.
Sehingga musyrik hukumnya jika kita meminta pertolongan dalam bidang bisnis
kepada Kadin, Pemda, Katabelece Pejabat untuk menggoalkan proyek kita. Haram
hukumnya meminta pertolongan kepada Bagian Purchasing untuk melakukan bisnis
dengan kita.
Permintaan tolong hanyalah kepada Allah semata. Adapun, Kadin, Pemda, Pejabat,
dan bag Purchasing, hanyalah perantara.
Hal ini jangan dianggap sepele, karena ini yg akan menentukan strategi
manajemen perusahaan kita, apakah kita akan melakukan KKN atau
melakukannya dengan pendekatan lain.
Akhirnya dengan pemahaman yg seperti ini, saya kembali berdo'a dengan segala
kerendahan hati.
Meminta kepada yg mempunyai, memohon kepada pemilik yg sesungguhnya, meminta
kepada Penguasa yg sesungguhnya, penguasa segala sesuatu, penguasa absolut.
Statemen awal saya dipesawat, sekarang terbantai semua. Saya ternyata tak
hanya meminta pertunjuk,tetapi saya - dengan kesadaran baru ini - juga meminta
duniawi.
Demikian saya melihat Rahman rohim Allah. Jika kita meminta dunia saja, Allah
mungkin saja berikan, dan mungkin juga tidak.
Namun jika kita meminta keridhoan akhirat - insya Allah kita juga akan
mendapat dunia.
Persis lagu Bimbo yg dinyanyikan Sam. Persis juga sama dengan do'a - do'a di
akhir tawaf yakni fiddunia hasanah - wa fil akhiroti khasanah.
Saya pun kembali berdo'a dengan lebih khusuk, dengan kesadaran baru - tanpa
banyak pertanyaan lagi.
3.2 Kejadian 7
Usai tawaf, kami menuju sumur zam-zam yg terletak didalam areal masjidil Haram
bagian bawah. Disini saya kembali tercengang.
Sebuah mata air yg hampir tak mungkin ada di daerah ini. Mekkah dapat anda
lihat sebagai pegunungan batu.
Masjidil Haram berada di tengah-tengah seperti lembah,sekelilingny a dapat
anda temukan hanyalah bukit batu yg sangat sulit dihancurkan.
Ini pula yg menyebabkan pembangunan konstruksi di kota Mekkah sangat lamban.
Jangankan tumbuhan subur, kurma pun malas tumbuh disini. Ironisnya, terdapat
air sumur zam-zam yg debitnya luar biasa besar yg dipompa
dengan pipa-pipa sampai ke Madinah, Jeddah, Yaman, dan daerah lainnya selain
untuk keperluan orang ber Hajji.
Berjuta-juta orang datang setiap harinya, namun sumur ini tak pernah ada
keringnya.
Analisa dan rasa saya mulai jalan. Andaikan memang ada sungai bawah tanah yg
mengalir dibawah Mekkah, akankah bertahan sedemikian lamanya ?
Perhitungannya bukan 1400 tahun yg lalu, melainkan perhitungan dari Ibrahim.
Entah berapa ribu tahun.
Karena sungai bawah tanah dapat berubah alirannya hanya dalam kurun waktu
puluhan tahun saja.
Namun sumur zam-zam ini tak pernah kering dan senantiasa menyediakan air yg
dibutuhkan Jamaah yg datang ke sini.
Seolah olah ia ada memang untuk kebutuhan ibadah ini. Saat itu tak ada lagi
dibenak saya teori kebetulan yg dahulu.
Pada saat Sya'i, rukun Umroh berikutnya, saya melihat manusia banyak yg
berjalan, sebahagian berlari, antara dua bukit batu, Syofa' dan Marwah.
Dipisahkan oleh pembatas tengah, kami mulai melintasi area Sya'i.
Sesekali saya melihat wajah cantik wanita Turki dengan hidung mancung kulit
putih bulu mata boros (Saat tawaf maupun Sya'i dilarang menutup
cadar muka - namun ada sebahagian mazhab melakukannya) .
Kecantikannya mungkin biasa bagi orang sana, namun saya mengira pasti luar
biasa untuk ukuran orang Melayu.
Agak lama baru saya sadar bahwa saya mulai kurang khusyuk karena melakukan
"olah raga leher".
Akhirnya saya bertanya kepada H Tabrani, " Pak...koq pakai lari-lari segala
sich ? ".
"Begini "- jawabnya perlahan, "Dulu sewaktu Siti Khajar, isteri Nabi Ibrohim,
ia berjalan sambil berlari-lari kecil mencari air antara bukit Syofa' dan
bukit Marwah, sementara anaknya Ismail ditinggal sejarak tertentu dari Ka'bah.
Air yg dilihatnya ternyata hanyalah fatamorgana. Sedangkan air yg sesungguhnya
justru keluar didekat kaki Ismail.
Dari sini saya pun semakin yakin dan menarik kesimpulan, bahwa Ka'bah bukan
dibangun oleh Muhammad, melainkan Nabi Ibrohim, pendahulu untuk Musa, Isya,
dan Muhammad, yg melahirkan 3 agama besar, Yahudi, Nasrani, dan Islam.
Seusai Sya'i kami pun menggunting rambut, pertanda selesainya ibadah Umroh
kita. Semoga Makbul.
Sesampai di Hotel, kelelahan kami luar biasa. Kaki saya kering pecah-pecah.
Saya belum pernah merasakan pegal-pegal seperti sekarang
ini. Saya fikir, bagaimana dengan kaum wanita atau Ibu-ibu. Pasti lebih capek.
Tapi kelihatannya sama aja tuch. Salah seorang jamaah haji wanita bercerita
tentang anak temannya yg sekarang tinggal di Hotel Hilton Mekkah yg tak dapat
menyelesaikan tawafnya karena mencret (penyakit yg lebih cepat dari pada jet).
Kotoran alias tokai nya sedemikian banyaknya sehingga ia pun kewalahan.
Wueeek...sangat menjijikkan kata jamaah yg lain menambahkan. Kepala
rombongannyapun membawanya pulang kembali ke Hotel.
Kami tak tahu bagaiman ia mengatasi problem mencretnya yg merembes sampai
pakaian Ihrom, namun akhirnya semua tahu, bahwa ia mengenakan celana dalam
pada pakaian ihromnya. Sesuatu yg dilarang dalam Umroh.
Saya jadi teringat sewaktu H Tabrani membentak saya dalam masalah tsb.
Pantas - dalam hati saya.
3.3 Kejadian 8
Tak ada yg khusus bagi saya dalam kejadian ini.
Kejadian ini terjadi pada saat saya hendak mencium batu Ka'bah. Disitu terjadi
antrean yg luar biasa.
Didepan saya terdapat seorang wanita muda dan cantik berpakaian Turki yg
hendak mencium batu Ka'bah (sisi kiri Ka'bah, bukan Hajarul Aswad). Mungkin
karena pemikiran jijiknya terhadap batu yg sudah dicium oleh jutaan manusia
pada hari itu, maka ia mengeluarkan tisu, mengelap, dan menggosok bagian yg
hendak diciumnya. Melihat kejadian itu, Bapak mertua saya pernah menceritakan
perihal yg seperti ini berkaitan dengan gelas stainless air zam-zam untuk
diminum yg menempel pada setiap keran zam-zam.
Seorang Dokter, kawan Bapak mertua saya pergi Haji, merasa jijik dan
mengatakannya kepada Bapak mertua saya perihal gelas stainless yg sudah diminum
berjuta-juta mulut orang. Ini tidak steril katanya.
Dokter itu meminum juga air zam-zam dengan perasaan jijik/geli. Keesokannya,
apa yg terjadi. Mulutnya bengkak sariawan sampai ke leher. Bapak mertua saya
mengingatkan akan ucapannya kemarin perihal gelas tersebut. Bapak mertua
mengingatkan sang Dokter untuk meminumnya sekali lagi dengan gelas tersebut
tetapi dengan perasaan yg berbeda, yakni perasaan iklas.
Keesokannyapun sang Dokter sembuh dari sariawan seperti sedia kala.
Wanita tersebut tetap asyik membersihkan batu Ka'bah dengan tisunya, sementara
antrean sudah mulai panjang dan berdesakan.
Ingin sekali saya melarangnya, namun karena nggak bisa bahasa Turki, lagian
nggak lucu khan kenalan didepan Ka'bah.
Ketika ia hendak mencium batu Ka' ah - mungkin setelah ia merasa bersih -
desakan dari kerumunan orang dibelakang tak tertahankan hingga mendorong
wanita itu pada saat ia menciumnya sehingga benturan hidung mancung dan batu
tak dapat terelakkan.
Ia pun selesai mencium batu Ka'bah dengan hidung mimisan (berdarah).
Kuwalat atau apa ini namanya ya ?
Hati yg kurang bersih ?
Saya jadi teringat cerita Ka'bah di surat Al-Fiil dimana tentara Abrahah yg
mengendarai Gajah pada masa itu dibuat tak berdaya oleh burung-burung Ababil.
Saya semakin mengerti mekanisme ghoib. Mekanisme yg tidak kasat mata.
Bahkan mekanisme ini pun abstrak tak simetris. Terjadi di kasus ini namun
kadang tidak di kasus itu.
Semuanya parsial-kondisional , namun saya fikir standarnya sama jika kita ukur
dari perasaan hati yg dalam.
Mekanisme tsb tak kan pernah dapat diukur karena sifatnya yg relatif tak
pernah sama pada setiap individu.
Meskipun ia bukan ada di alam fisika, namun saya yakin ia ada dan bekerja
secara setimbang.
Saya cenderung menyebutnya Metafisika daripada Supranatural yg lebih berbau
klenik / sihir, trick sulap yg diyakini sebagai salah satu keajaiban oleh
orang musyrik.
Mekanisme ghoib pada alam Metafisika inipun bekerja pada kawan saya Iqbal
dimana setiap harinya, sepulang kami dari sholat, ia kehilangan
sandal. Bahkan sehari dapat lebih dari sekali ia kehilangan sandal.
Ia mencoba berdo 'a dan bertaubat dosa apa kiranya yg telah ia buat. Namun
tetap saja ia kehilangan sandal setiap harinya, hingga ia harus membawa 5 real
setiap sholat guna menjaga apabila sandalnya hilang.
Tahukah anda, kejadian kecil disini - dapat menimbulkan akibat besar disana.
Saya ambil contoh misalnya, hilangnya sandal Iqbal, mengakibatkan ia harus
membeli sandal di toko dimuka Masjid.
Penjual di toko tersebut seharusnya melayani seorang calon pembeli wanita
misalnya, namun karena Iqbal membeli, maka ia tidak jadi melayani wanita itu.
Wanita itu pergi lebih cepat. Dalam perjalanannya pulang, ia mengalami
kecelakaan mobil (miss ditabrak mobil).
Seandainya Iqbal tidak kehilangan sandal, wanita tersebut mungkin akan 10
menit lebih lama untuk jalan pulang, yg tentu saja tak mengakibatkan ia
mengalami kecelakaan.
Bukan disitu saja, sang suami wanita tadi (yg katakan seorang jenderal), yg
seharusnya berangkat melakukan perjalanan luar negeri guna menandatangani
sebuah kesepakatan perang, membatalkan rencananya, sehingga kesepakatan
serangan atau perang tadi ditangguhkan.
Hilangnya sandal seorang Iqbal, dapat mengakibatkan tercegahnya sebuah rencana
perang atau penyerbuan.
Ini contoh ekstreem yg memang hanya teori main-main, tetapi saya yakin bahwa
semua ini ada mekanismenya dan jangan coba-coba untuk mengurainya, karena ia
terlalu abstrak dan hanya tunduk patuh pada sang Maha Penguasa. Penguasa alam
fisika dan non fisika.
3.3 Kejadian 9
Malam besok adalah malam terakhir saya di Mekkah, oleh karenanya saya minta
kepada Tour guide untuk mengantar saya ke Goa Hira' pagi-pagi
sekali. Tak ada anggota rombongan yg mau ikut. Tidak juga H Tabrani maupun
Iqbal anaknya.
" OK, nggak apa-apa, saya tetap mau berangkat sendiri", tegas saya kepada Tour
guide.
Jadi biaya travel maupun biaya Tour guide saya tanggung sendirian. Kamipun
merencanakannya.
Paginya seusai sholat Shubuh, saya berkemas bersiap berangkat, dengan tas
ransel dan sepatu sport.
Dengan menggunakan taksi, kami tiba dikaki bukit Gua Hira'. Perjalanan sampai
kepuncak memakan waktu kurang lebih satu jam.
Terbayang oleh saya ketika Nabi pulang pergi setiap harinya sampai ke puncak.
Gua Hira' ternyata sangat kecil.
Lebih mirip dua batu yg saling bersandar daripada sebuah Gua. Ditemani Tour
guide, saya sujud ditempat Nabi Muhammad duduk menyendiri 1422 tahun yg lalu.
Dalam sujud saya bicara dalam hati, "Ya Malaikat Jibril, kenapa koq Nabi
Muhammad diberi wahyu, kenapa saya tidak ?".
"Kenapa Nabi Muhammad dapat berjumpa denganmu, kenapa saya tidak ?"
Tanpa sholat dan do'a, tanpa meratap ke gua apalagi membuang sesaji (hanya
sujud dan berkata dalam hati seperti diatas saja), kami pulang
menuruni bukit. Saya pun membahas pertanyaan saya di dalam hati tadi kepada
Tour guide.
Saya juga sering menyendiri di Villa, menyendiri di kaki bukit G.gede, tetapi
kenapa tak pernah datang yg namanya Jibril.
Saya jadi ingat cerita-cerita para sufi yg mempelajari hakekat sehingga pergi
kegunung-gunung menyendiri, lepas dari hubungan sosial, serta tak
mempedulikan situasi dan kondisi diri.
Apakah tindakan Nabi Muhammad pada kala itu seperti para sufi tsb ? Pertanyaan
inipun saya simpan kembali tanpa tahu jawabannya.
Esok hari terakhir, hari dimana saya mesti melakukan tawaf wada', tawaf
terakhir/ tawaf perpisahan dengan Ka'bah.
Saya tidur cepat setelah sholat Isya".
Subuh dini hari saya bangun, ketika saya hendak menggosok gigi, saya tiba-tiba
tersadar, "Subhanalloh, tadi malam saya bermimpi bertemu
Jibril" . Buru-buru saya ketok kamar H Tabrani. Saya bangunkan ia, dan saya
ceritakan mimpi saya.
"Bagaimana ceritera mimpinya ?", H Tabrani bertanya.
"Begini Pak, sesuatu berbentuk manusia dengan peci hitam datang kepada saya.
Saya bertanya siapa anda ?
Ia menjawab saya Jibril, kemudian ia mengajak saya untuk ikut. Saya berjalan
mengikutinya, dan tiba-tiba kami tiba di sebuah Masjid.
Didalam mimpi saya Jibril berkata, " ini Masjidil Aqsa". "Disini terdapat
salah satu keajaiban yg anda cari".
H Tabrani pernah melawat ke Masjidil Aqsa'. H Tabrani berfikir sejenak,
kemudian ia menjawab, mungkin yg dimaksud adalah "The Dome of the Rock. Sebuah
batu yg berada tepat ditengah Masjid ". "Aneh memang batu itu. Ia menggantung,
dan berada tepat ditengah-tengah Masjid, kami semua juga nggak ngerti kenapa
begitu". Terus bagaimana tanya H Tabrani.
Terus Jibril bilang begini Pak, "Tolong Masjid ini dipelihara". H Tabrani
menepak kepala "Waduh...repot ini". "Kenapa Pak?", tanya saya.
"Masjid itu dikuasai Yahudi. You Nggak bisa keluar masuk seenaknya".
"You sholat dibatasi disana, Cuma 5 menit ".
"Wah saya nggak bisa jelasin artinya ".
"Tapi yg jelas, saya yakin you adalah orang yg disayang Allah".
"Subhanalloh" . Saya sudah berumur 63 thn, tapi saya belum pernah mimpi
bertemu Jibril, tapi you...you... luar biasa".
saya juga tidak mengerti sampai sekarang arti mimpi saya, dimana saya tidur
diMekkah, bermimpi dibawa seseorang yg berkata sebagai Malaikat
Jibril, yg kemudian membawa saya ke Masjidil Aqsa' di Palestin.
Saya jadi merinding.
Saya takut sendiri dengan kejadian-kejadian yg saya alami.
Saya takut untuk berbuat macam-macam.
Saya mengalami semua ini dalam perjalanan ke Mekkah.
Kesadaran saya seperti sekarang ini amat saya syukuri, namun yg paling saya
takuti, adalah deviasinya, perubahannya apabila saya tidak
menjaganya.
Apa yg akan terjadi nanti ditanah air.
Saya harus menghadapi dunia nyata yg penuh dengan godaan.
Tidak seperti waktu di Mekkah, dimana fikiran, jiwa dan raga kita bisa khusuk
serta kita jaga kebersihannya.
Dari perjalanan ini, tidak semua kejadian saya ceritakan, hanya yg saya anggap
penting saja, namun sebenarnya, kejadian kecil lainnya yg merujuk kepada
hidayah yg tidak saya ceritakan karena terlalu panjang banyak saya alami,
namun saya mempunyai beberapa kesimpulan :
1. Allah itu benar adanya yg menciptakan segala sesuatu.
2. Wahyu Allah turun pada setiap kurun waktu tertentu.
3. Wahyu Allah juga turun kepada Muhammad yg diutus sebagai Rasulnya.
4. Allah tidak punya banat/sarikat/ kompetitor.
5. Allah menurunkan Wahyunya kepada Muhammad yg kemudian dibakukan dalam
bentuk kitab yg bernama Al-Qur'an.
6. Al-Qur'an adalah statemen dari Allah yg didalamnya berisikan petunjuk bagi
manusia yg ingin berserah diri kepadanya.
7. Al-Qur'an bukan buatan Muhammad atau ideologi Muhammad.
8. Haji dan Umroh penting adanya dan bukan bisa-bisanya Muhammad.
Biaya yg demikian mahal, sebanding bahkan melebihi hasil yg kita dapat dari
perjalanannya.
9. Daging Babi, darah, Alkohol, Judi, Zinah, dan perbuatan maksiat lainnya
adalah haram hukumnya.
Tak perlu dianalisa secara metode ilmiah, karena justifikasinya akan selalu
ditemukan manusia guna menghalalkannya, namun demikian, coba fikirkan dengan
instrument rasa/intuisi dari hati yg dalam, bermanfaatkah jika dilakukan.
10. Kita manusia adalah manusia yg paling istimewa, karena kita mempunyai 2
pilihan, berserah diri kpd kemauan Pencipta, atau berserah diri kepada kemauan
kita sendiri.
11. Ada mekanisme Ghoib yg tidak kelihatan, yg memberikan balasan positif
apabila kita berbuat positif, dan berbalas negatif apabila kita berbuat
negatif pula.
12. Mekanisme Ghoib, berlaku pada orang-orang yg dicintai Allah, namun bagi yg
sudah kelewatan, ia akan dibiarkan, karena Allah menegur dengan sapaan
hirarki. Peringatan pertama mungkin dengan mencolek, jika ia tak mau, Allah
peringati ia dengan menepak, jika ia tak juga sadar Allah peringati ia dengan
menempeleng keras, namun jika ditempeleng keras ia tetap dableg dengan
perbuatan negatifnya, Allah akan membiarkannya, karena hanya hari akhir
setelah matinya yg akan membalasnya kekal abadi di Neraka Jahanam.
13. Mekkah dan Madinah bukan tanah suci (seperti yg saya duga sebelumnya pada
tulisan Muhammad punya bisa ), melainkan tanah Haram, daerah dimana diharamkan
bagi siapa saja berbuat kerusakan, dan itupun hanya pada batas-batas tertentu
yg sudah diberi patok/tanda.
Wass
---------------------------------
Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/