Lydia kawanku yang hilang..... (2) Proses perkenalanku dengan Lydia sudah semakin akrab. Dia orang yang sahaja dan ceria, juga selalu berusaha menghiburku untuk supaya aku bisa menjadi orang yang riang-gembira. Sosok badannya yang padat dan lebih besar dari ku tapi memiliki daya tarik tersendiri. Rambutnya ikal berwarna pirang-kemerahan dibiarkan terurai sampai kebahu. Alis matanya tebal juga mempunyai pancaran mata yang tajam dan memberi sinar bola matanyanya berwarna kebiruan. Lydia kukenal sebagai perempuan remaja yang lugas, berani dan tegar. Dalam pergaulannya dia disegani oleh kaum lawan jenisnya tapi disukai oleh kaum sejenisnya. Dari sekian banyak teman-teman perempuanku hanyalah dia yang ingin sekali mengenalku lebih mendalam. Perhatiannya pun sangat besar terhadapku. Sering sekali aku diajak mampir kerumahnya untuk bermain di sekitar perumahan kompleks Bank Indonesia, yang letaknya di menteng dalam belakang tugu Pancoran. Orang tuanya pun sangat ramah dan terbuka menjambut kehadiranku. Terasa kehangatan dalam lingkungan kekeluargaannya telah menyentuh pada diriku. Orang tuanya yang banyak menaruh perhatian ke aku, juga kurasakan sikapnya yang menyayangiku. Dalam lingkungan keluarganya sepertinya aku dianggap sebagai anak kembarnya Lydia. Padahal temanku ini masih punya adik perempuan berusia 5 tahun. Setiapkali Lydia menawarkan dirinya untuk bisa berkunjung kerumahku tapi aku tidak pernah mengijinkannya dengan seribusatu macam alasan. Aku lebih menyukai bermain dan berkunjung kerumahnya. Dengan rasa penasarannya dia ingin mengetahui kehidupan keluargaku sehingga dia mendesakku untuk tetap bisa berkunjung ke tempat tinggal kami. Dan aku tidak bisa mengelaknya, suatu kali aku merencanakan untuk menawarkan Lydia berkunjung kerumah lamaku di daerah Rawasari. Seperti biasanya kami janjian bertemu di Gereja lalu kami bersama-sama lari bergegas cepat menuju pintu gerbang, yang akan ditutup oleh penjaga pintu gerbang karena pelajaran sekolah segera dimulai. Hari ini kita acaranya mau kemana? Rencananya aku mau mengajakmu naik bis ke Manggarai terus kita ambil bis kejurusan senen. Lantas kita turun di apotik Tunggaal dekat Rumah sakit Carolus. Nah dari situ kita bisa ambil oplet kearah penjara Salemba. Bukannya rumahmu di daerah Tebet? Yah...tapi aku pengen kasih tahu tempat rumahku yang lama. Aku tinggal dirumah itu sampai tahun 1968 Oooh...jadi kau mau memperkenalkan kehidupan masa kecilmu? Ya...masa bahagiaku bersama orang tuaku. Ketika itu bapakku ketua RT dikampungku. Para tetanggaku ramah-ramah semua engga seperti lingkungan tetanggaku yang sekarang di Tebet. Memang Bapakmu kerja dimana? Wah...engga tahu tuh aku. Aku kan ketika itu masih kecil jadi engga pernah tahu pekerjaan Orang Tuaku. Nanti kita cari rumahnya mbokku. Katanya dia masih tinggal didaerah kampung Rawasari itu. Mbokmu? Ya...beliaulah yang selalu mengasuhku ketika aku masih kecil. Nanti kita tanya aja ke dia tentang orang tuaku. Kita juga bisa tanyakan ke tetangga rumah lamaku tentang orang tuaku. Kau ini aneh yah...masa tentang orang tuamu engga tahu...! Memang orang tuamu sekarang dimana? Waah...kau ini banyak tanyain yang aku engga pernah tahu sih... Eehm.. Oke...sekarang aku akan jujur cerita tentang orang tuaku. Tapi dengan kejujuranku ini bisa menjadikan kau engga mau lagi berteman denganku. Koq pake ngancem sih? Wah..bukan mengancam tapi ini kenyataan yang resikonya musti kita hadapi! Resiko apa??? Resikonya kau tidak akan mau lagi berteman denganku... Tak terasa kami telah sampai ditempat yang kami ingin tuju. Namun aku sudah tidak bisa mengenali daerah rumah lamaku. Aku bingung...tapi kami tetap berjalan menyusuri tempat-tempat yang masih bisa kukenali. Hampir disetiap rumah kutanyakan alamat rumah mbokku. Pada akhirnya kami sampai disuatu tempat tinggal yang dihuni oleh seorang lelaki tua kira-kira berusia diatas 60 tahun. Rumahnya dari bangunan setengah tembok dengan pekarangan dan veranda yang cukup besar tapi berlantai tanah, dan disitulah bapak tua sedang duduk diatas amben. Nak...cari siapa? sapa Pak tua dengan penuh keramahan Assalamualaikum...Pak numpang tanya, apa Bapak tahu rumahnya mbok Rah? Lalu lelaki tua itu menatapku lama dengan pancaran mata sendu kemudian kulihat matanya mulai mengalir air matanya. Tanpa mengeluarkan kata-kata bapak tua itu bergegas turun dari ambennya dan berjalan tertatih-tatih menghampiriku serta memelukku sangat erat. Rasanya aku engga bisa nafas karena dihimpit oleh tekanan pelukannya. Kau...nak...kau...kau ini mirip sekali dengan Bapakmu. Kau pasti tidak mengenaliku karena waktu itu kau masih sangat kecil. Jadi Bapak kenal sama Ayahnya? Tanya Lydia dengan penuh perhatian Dulu Ayahnya hampir setiap hari pulang dari kerja selalu mampir kerumah ini untuk minta di pijet. Semua orang dikampung sini kenal Bapaknya. Beliau adalah seorang pekerja keras dan banyak menolong orang kecil. Tak lama kemudian sosok lelaki berusia 8 tahun, yang kukira itu adalah cucunya berjalan menghampiri kami dari arah pelataran rumah Nak...tolong antar ini kerumah mbah Irah. ya..mbah. Lalu anak lelaki itu pergi bersama kami menuju rumah Mbok Rah, yang ternyata jaraknya tak jauh dari rumah Bapak tua itu. Di halaman rumahnya kulihat seorang laki-laki setengah tua sedang sibuk mengukir bangku kayu. Memang terakhir kudengar kabarnya Mbok Rah bersuamikan orang berasal dari Jepara. Selamat siang Pak..apa Mbok Rah tinggal dirumah ini? Ya...betul. Anak ini dari mana? Kami ingin bertemu Mbok Rah, apa sedang ada dirumah? Tanya temanku yang kelihatan sudah tak sabar lagi untuk bertemu dengan Mbok bekas pengasuhku. Tak lama kemudian sosok tubuh seorang Ibu berpakaian kain kebaya jawa terlihat berjalan gegas dari arah rumahnya mengahampiri kami yang sedang berdiri di pintu pagar masuk pelataran rumahnya. Aku langsung berlari menghampirinya dan langsung memeluknya. Waduuuh byung...piye tho koq nganti mrene...Hayoo...mlebu kene. sambil memelukku hangat. Lantas aku menoleh ke Lydia yang sedang berjalan menghampiri kami. Mbok...kenalin ini temanku Lydia. Dia orangnya baik lho... yo..yo aku ngerti uwes mangan tho? lalu dengan sigapnya Mbok Rah menggandeng kami dan membawa masuk kami ke dalam rumahnya. Lantas Mbok Rah bergegas masuk ke dapur dan sibuk menyiapkan makanan buat kami. Dari ruang dapur Mbok Rah mempersilahkan kami duduk diruang tamunya tapi aku dan Lydia masih tetap berdiri di mulut pintu masuk ruang dapur yang terheran-heran memperhatikan Mbok Rah tak henti-hentinya sibuk mengusap-ngusap mukanya sambil menangis sesenggukan. Mbok....jangan nangis mbok...kami datang mengunjungi Mbok karena ingin tahu bagaimana keadaan kesehatan Mbok. Apa mbok takut dikunjungi oleh kami? Nyangopo aku takut ndok...takut karo sopo? Piye kabare Mbahmu? Mbah terakhir ini sering di jemput sama anak tertuanya untuk tinggal di Cipete. Dia engga boleh lagi tinggal bersama kami. Di rumah Bude Cipete Mbah diperlakukan seperti Ratu. lho...Saiki adikmu karo sopo? Ya...sekarang dia kesekolah dah kelas 3 SD. Sopo sing kéi mangane? Kenopo ra digowo sisan? Dirumah ada Ijem tapi dalam waktu dekat dia akan menikah sama supir kedutaan. Bersambung... MiRa, Amsterdam, 13 Oktober 2006
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/ http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ --------------------------------- Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

