FENOMENA ESTETIK ORPHAN PAMUK Orhan Pamuk memang pantas mendapat Hadiah Nobel. Saya sudah membaca karyanya tahun lalu. Buku itu saya beli di lapangan terbat di London dalam perjalanan kembali ke Washington DC setelah menyelesaikan empat buah pertunjukan drama pentek saya di Inggeris tahun itu. Ke- empat-empatnya adalah tergolong a solo kontemporary mask theatre yang terdiri dari "Bali Trilogi" (tiga drama pendek) dan "The Bogeyman Arrived in DC."
Karya novelnya "My Name Is Red" memang hebat! Memang, ada yang menyatakan unsur "cerita detektif" mencari pembunuh itu pengaruh Umberto Eco "The Name of the Rose" itu. Tapi yang pertama dalam kazanah sastra yang serius (bukan jenis hiburan semacam karya Conan Doyle dan sejenisnya) dalam menggarap genre detektip ini justeru adalah "Oedipus Sang Raja" karya Sophocles, bukan? Beda dengan Eco yang hanya punya satu kisah, yaitu kisah detektip, maka Pamuk menampilkan juga kisah percintaan, ditambah lagi dengan kisah penggalan sejarah Turki di abad silamnya, dan jangan lupa dalam buku itu ada diskusi tentang estetika seni hias buku yang sekali gus mengungkapkan pandangan Islam dalam hal seni. Jadi unsur-unsur berupa kisah-kisah dan ide itu berjaktoposisi, artinya berdampingan dan sekali gus saling jalin menjalin dengan indahnya dan komunikatif. Tapi itu baru yang tergolong ISI. Bagaimana cara dia mengungkapkannya? Dalam hal puitikanya ini Pamuk memang brilian! Dia menggunakan tekhnik polyphony, sehingga banyak tokoh yang berkisah dari sudut pandangnya sendiri-sendiri, bagaikan banyak monolog jadinya -- dan ini mengingatkan saya kepada tekhnik penyampaian yang digunakan oleh Naguib Machfud dalam bukunya tentang Ikhenatan, salah seorang Fir'aun yang menganut faham monotheis itu. Atau mengingatkan kita kepada novel Solzhenitsyn dalam "One Day in the Life of Ivan Denisovitch" Tapi beda dengan Machfud dan Solzhenitsyn, yang penceritanya adalah manusia, maka Pamuk menampilkan penceritanya ada yang bukan manusia, misalnya... sebuah pohon! Keunikan Pamuk itulah unsur innovatif dalam karyanya itu yang menyebabkan dia terpilih sebagai Pemenang Hadiah Nobel. Maka calon- calon lain terbanting kalah. Jadi, akan menjadi tantangan berat bagi calon pemenang Nobel yad kalau ukurannya termasuk adanya unsur inovatif dan keunikan ini. Dan menjadi jelas jika sastrawan hanya menghasilkan karya yang tergolong realisme formal atau tradisional belaka, apalagi sebagai seni tidak lagi murni tapi mengandung unsur menggurui di dalamnya, tentulah tidak akan pernah berhasil meraih hadiah bergengsi internasional ini. Bagi saya Pamuk untuk novel adalah sejajar dengan Beckett untuk drama -- sama-sama unik dan innovatif dan seni murni. Saya sedang menyusun sebuah tulisan panjang berkaitan dengan Pamuk berkaitan dengan Hadiah Nobel yang diraihnya ini. Jadi tulisan saya masih dalam proses, alias masih berupa "work in progress." Namun demikian, izinkanlah saya mempostingkan secuil cuplikan dari bagian pembukaan tulisan panjang saya itu, sbb: "Membaca judul novel Pemenang Nobel 2006, Orhan Pamuk, "Namaku Merah," tak terhindarkan munculnya assosiasi kepada makna simbol warna merah yang sudah dan masih sama kita kenal yakni warna lambang partai komunis di dunia ini, termasuk yang pernah ada di negeriku, Indonesia merupakan warisan berupa ingatan kolektif dari Zaman Perang Dingin yang gelombangnya juga sempat melanda negeriku, Indonesia. Bab pertama novel Pamuk ini bertajuk "Aku seorang mayat," dibukanya dengan alenia ini: "Aku bukan apa-apa, hanya mayat saja sekarang, tinggal jasad di dasar sumur mati. Meskipun sudah lama nafasku berakhir dan jantungku tak berdetak, tapi tak seorang pun, kecuali pembunuh kejam itu, yang tahu apa yang telah menimpa diriku. Tentang si pembunuh keparat itu, dia memeriksa denyut nadiku dan nafasku untuk memastikan aku sudah mati, lalu dia tendang igaku, membawaku ke mulut sumur, mengangkatku dan mencemplungkan mayatku ke lubang sumur ini. Saat diriku meluncur ke bawah, kepalaku, yang dia hantam dengan sebungkah batu, jadi pecah; mukaku, jidatku dan pipiku, terbentur keras; tulang-tulangku terserak dan mulutku penuh dengan darah." aku jadi teringat kepada kisah nyata yang sangat mirip dengan itu, beberapa mayat dicemplungkan ke dalam sebuah sumur tua, di Lobang Buaya, wilayah Halim Perdanakusumah, Jakarta, pada pertengahan tahun 60-an. Bukan hanya itu! Kisah nyata kekejaman terhadap sesame manusia semacam itu terjadi juga di berbagai tempat pada masa itu, antara lain yang terjadi di kota kelahiranku, sebuah kabupaten bernama Jemberana yang beribukota Negara, di wilayah barat-selatan Pulau Bali. Juga, yang terjadi di Pulau Jawa, khususnya di propensi Jawa Timur, terutama di Banyuwangi, kota pelabuhan berseberangan laut Selat Bali dengan pelabuhan Gilimanuk yang diujung barat kabupaten Jemberana, Bali. ..." Itulah sekedar secuil cuplikan dari tulisan yang sedang saya garap di sela-sela menggarap wayang baru untuk pertunjukan tahun 2007 nanti. Ya, saya tidak hanya akan mebicarakan karya hebat Pamuk itu, melainkan juga meluas dan melebar ke beberapa hal lainnya terutama yang berkaitan dengan negeri kita. Ikra.- ====== *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

