KEPADA SELURUH HANDAI TOLAN DI MILIS INI
SAYA MOHON MAAF ATAS KESALAHAN SAYA SELAMA INI.

Beberapa hari lagi kita akan memasuki akhir dari puasa ramadhan 
kita, memasuki hari-hari yang akan kita isi dengan saling meminta 
maaf dan saling memberi maaf atas kesalahan-kesalahan yang telah 
kita kerjakan yang disengaja maupun yang tidak, yang menyakitkan 
hati maupun yang tidak, maka saya kirimkan sebuah tulisan yang 
disiarkan tahun lalu, tapi isinya tentulah masih akan tetap berlaku 
pada tahun ini, tahun yang akan datang, dan seterusnya.

Inilah tulisan Mustofa Bisri:



IDUL FITRI

Oleh A. Mustofa Bisri
08/11/2005

Sebagai orang beragama, kita dituntut untuk bergaul baik dengan dua
pihak: dengan Tuhan kita dan dengan sesama hambaNya. Meminta maaf
atas kesalahan adalah bagian dari akhlak pergaulan. Kita menyadari
bahwa sebagai manusia, kita tidak sepi dari kesalahan; baik terhadap
Allah Tuhan kita, maupun terhadap sesama.

Ada tradisi baik sekali di negeri kita berkenaan dengan Idul Fitri
yang sayang kini sudah agak `luntur' bersamaan dengan `majunya
zaman'. Dulu ketika kehidupan masih sederhana dan sebelum orang
kenal dengan makhluk yang namanya materialisme, di Idul Fitri atau
hari Lebaran ada tradisi saling kunjung-mengunjungi, silaturahmi,
dan saling memaafkan di antara sesama. Bahkan menurut cerita orang-
orang tua, dulu dalam silaturahmi, mereka meminta maaf dengan
memerinci kesalahan-kesalahan mereka yang sudah diperbuat. Berangsur-
angsur tradisi silaturahmi langsung itu digantikan dengan kartu
lebaran dengan ucapan yang nyaris seragam, "Selamat Hari Raya Fitri,
Minal `aidin wal faizin, Maaf lahir batin". Dan kini malah cukup
dengan sms, pesan melalui HP, seperti: `Met Lebaran! Maaf ya!".
Sebagai orang beragama, kita dituntut untuk bergaul baik dengan dua
pihak: dengan Tuhan kita dan dengan sesama hambaNya. Meminta maaf
atas kesalahan adalah bagian dari akhlak pergaulan. Kita menyadari
bahwa sebagai manusia, kita tidak sepi dari kesalahan; baik terhadap
Allah Tuhan kita, maupun terhadap sesama.

Bergaul dengan Tuhan, sebetulnyalah lebih enak dibanding dengan
sesama manusia. Lembaga pengampunan Tuhan banyak sekali. Kita
mengaku salah dan beristighfar, Allah memaafkan. Kita bersembahyang,
Allah menghapus dosa kita. Kita memegang tangan isteri kita, kita
mendapat pengampunan. Bahkan setiap kita merasa kesakitan, termasuk
sekedar tertusuk duri, dihitung sebagai penebusan dosa. Bulan
Ramadan, sering disebutkan awalnya adalah rahmat; pertengahnya
pengampunan; dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka.

Bagi mereka yang berpuasa, tekun beribadah, atau beribadah di malam
Lailatul Qadar (ada beberapa riwayat Hadis dengan redaksi yang
berbeda-beda) semata-mata karena Allah, dijamin oleh Nabi Muhammad
SAW akan diampuni dosa-dosanya yang sudah-sudah. Itulah sebabnya -
wallahu a'lam- setelah Ramadan, di hari Idul Fitri, tampak sekali
orang-orang mukmin dadanya begitu lapang.

Berbeda dengan Tuhan, bergaul dengan manusia justru lebih sulit.
Manusia punya dendam, punya hati yang rentan dan karenanya sulit
memaafkan. Momentum yang paling diharapkan manusia mudah memaafkan
(dan meminta maaf) ya setelah Ramadan, di Idul Fitri ini. Karena
dada-dada mereka sedang lapang setelah dosa-dosa mereka kepada Allah
telah diampuni. Bila di Idul Fitri saja, orang tidak meminta maaf
atau memaafkan, maka di kesempatan lain pasti lebih sulit. Inilah
sebabnya, antara lain, di awal tulisan saya, saya
menyayangkan `luntur'nya tradisi saling memaafkan yang baik itu.

Soalnya, meskipun dosa kita kepada Allah telah diampuni, apabila
kita mempunyai dosa kepada sesama dan yang bersangkutan belum
memaafkan, akan terus menjadi ganjalan yang bisa mencelakakan diri
kita di hari Kiamat. Ada hadis shahih yang seharusnya membuat kita
khawatir dan berhati-hati, yaitu hadis riwayat Imam Muslim dari
shahabat Abu Hurairah yang menyebutkan pernyataan Rasulullah
SAW: "Orang-orang yang benar-benar bangkrut -di antara umatku-ialah
mereka yang datang di hari Kiamat dengan membawa (seabrek) pahala
salat, puasa, dan zakat; tapi mereka datang setelah (di dunia)
mencaci ini, menuduh itu, memakan harta si ini, melukai si itu, dan
memukul si ini. Maka diberikanlah pahala-pahala kebaikan mereka
kepada si ini dan si itu. Jika habis pahala-pahala kebaikan mereka
sebelum terpenuhi apa yang menjadi tanggungan mereka, maka
diambillah dari dosa-dosa orang-orang yang pernah mereka salahi dan
ditimpakan kepada mereka, kemudian dicampakkanlah mereka ke api
neraka." Na'udzu biLlah!

Melihat itu semua, terutama mengingat kebaikan serta murahnya Tuhan
dan sulitnya manusia, kita pantas heran terhadap mereka yang ketika
bergaul dengan Tuhan begitu pethenthengan, sok ngepas-ngepaskan
kadang sampai was-was. Bahkan ada yang bukan hanya menjaga `hak
Allah' atas dirinya sendiri, tapi juga berlagak menjaga `hak Allah'
atas diri orang lain. Sementara saat bergaul dengan sesama manusia
seenaknya saja. Begitu sembrononya sikap mereka terhadap sesama
hamba Allah hingga menyakiti hati dan merampas hak orang lain mereka
anggap biasa. Ada yang lebih konyol lagi: menyakiti dan merampas hak
hamba Allah sambil membawa-bawa nama --atau atas nama-Allah! Yang
terakhir ini, sungguh keterlaluan. Apakah mereka tidak sadar bahwa
dengan perilaku mereka yang semena-mena terhadap hamba Allah atas
nama Allah itu berarti mereka telah menodai kemaharahmatan Allah, di
samping telah berburuk sangka kepadaNya?

Kita sering mendengar istilah hablun minaLlahi dan hablun minannaas;
saya pikir yang lebih aman adalah menjaga `hak Allah' dan `hak
hambaNya' secara seimbang. Hak Allah adalah disembah. Kita wajib
beribadah kepadaNya. Dan jangan lupa bersikap baik dengan hamba-
hamba Allah adalah bagian dari ibadah kepadaNya. Memuliakan manusia
adalah bagian dari mencari ridhaNya, karena Ia sendiri memuliakannya
(Q. 17. Al-Israa: 70).

Waba'du; perkenankanlah dalam kesempatan ini saya menghaturkan
terutama kepada segenap kaum muslim, "Selamat Idul Fitri 1426. Iidun
Sa'iid; a'aadahuLlahu `alaikum bissa'aadatai walkhair warrafahiyah.
Wakullu `aamin wa antum bikhair!" Ada salah tutur kata dan sikap
laku saya selama ini yang --pasti tidak saya sengaja-melukai hati
siapa pun Anda, dengan kerendahan hati saya memohon maaf lahir dan
batin. Allah menyukai mereka yang pemaaf dan mereka yang berbuat
baik. []





[Non-text portions of this message have been removed]





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke