Mungkin juga  cocok dengan peribahasa kuno:
"Guru kencing berdiri, murid kencin berlari".

  ----- Original Message ----- 
  From: RedTOLERANSI 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; Eksekutif Nasional LMND ; 
Gatra Com ; Gatra Surat ; HKSIS ; Jakarta Post ; Jariangan Islam Liberal ; Jawa 
Pos ; Jawa Pos 2 ; Kompas ; Koran PRD ; Mediacare ; Nasional-List ; 
Pepicek-Post ; POst PPIIndia ; Wahana-News 
  Cc: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; Batara R. Hutagalung ; Budiman Sudjatmiko ; Dr. Avinanta Tarigan ; 
Dr. Heru Nugroho ; Dr. I Made Wiryana ; Dr. Ignas Kleden ; Dr. Moh. Rouf ; Dr. 
Pheni Chalid ; Dr. Susetiawan Moh. ; Dr.med. Marsillam Simanjuntak SH ; Elba 
Tagor Harahap SH ; Goenawan Mohamad ; Gus Dur ; Gustaf Dupe ; Iranaulita ; 
Salahuddin Wahid ; Siswa Rizali ; Soewarto ; Tiffatul Sembiring ; Yenni Zannuba 
  Sent: Friday, October 20, 2006 9:28 PM
  Subject: Fwd: [HKSIS] Fw: Emha Ainun Najib - ERA WAYANG, ORDE KETHOPRAK DAN 
DUNIA TOGOG


  RRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR
  Refleksi:
  =======
  Ada peribahasa Orang Jerman:
  "Jedes Volk kriegt die Regierung die es verdient . . ." 

  Dengan perkataan lain:
  "Sebagaimana rakyatnya, begitulah penguasa-penguasa
  negerinya . . ."

  Barangkali ada juga benarnya ?

  RedTOLERANSI*RRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR

  ---------- Forwarded message ----------
  From: BDG Kusumo <[EMAIL PROTECTED]>
  Date: Oct 20, 2006 6:53 PM
  Subject: [HKSIS] Fw: Emha Ainun Najib - ERA WAYANG, ORDE KETHOPRAK DAN DUNIA 
TOGOG 
  To: [EMAIL PROTECTED], HKSIS-Group <[EMAIL PROTECTED]>
  Cc: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], Media Care 
<[email protected]> 



  ----- Original Message ----- 
  From: B.DORPI P. 
  To: !B.DORPI P. 
  Sent: Friday, October 20, 2006 10:17 AM
  Subject: Re.: Emha Ainun Najib - ERA WAYANG, ORDE KETHOPRAK DAN DUNIA TOGOG


  ERA WAYANG, ORDE KETHOPRAK DAN DUNIA TOGOG 
  Oleh: Emha Ainun Najib. 1995



  Marilah mengaku saja bahwa pusat perhatian kita adalah Raja-Raja.  Marilah 
tak usah menutup-nutupi bahwa kecendrungan utama historis kita adalah memajang 
Raja-Raja di layar psikologi kebudayaan kita; baik terpatri di benak kita 
masing-masing maupun yang terungkap di panggung-panggung sosial kita.

   Masyarakat menikmati kenduri dan tumpengan nasional dengan menu isu tentang 
Raja-Raja dan Pangeran-Pangeran atau calo-calonya; media massa menjadi 
pemrakarsa dan panitia kenduri nasional ini.  Kepanitiaan yang berjargot "man 
makes news" ini menerjemahkan "man" menjadi terutama Raja-Raja dan 
Pangeran-Pangeran, bukan manusia-manusia.  

  Koran-koran selalu sangat sibuk mengajak masyarakat bergunjing tentang 
calon-calon tokoh utama di setiap level, seolah-olah ketua berganti makna, 
segala sesuatunya juga akan berubah secara mendasar.  Seakan-akan ada 
kemungkinan yang sedemikian pentingnya yang ditawarkan kepada masyarakat oleh 
penggantian "raja".

   Bagi khalayak ramai, pengunjingan tentang calon-calon "raja", merupakan 
peristiwa psikologis, dan itu hampir tidak ada kaitannya dengan apa yang 
sesungguhnya dimaknakan oleh kata "politik" dan "ekonomi" pada aslinya.

   Pada sisi yang paling kelam, ini sesungguhnya adalah kanibalisme psikologis; 
kita berkeliling di "meja makan" kebudayaan yang padanya tersuguhkan segala 
bahan pergunjingan tentang apapun saja yang menyangkut Raja-Raja dan 
Pangeran-Pangeran.

  Kita terkadang muak tetapi tetap mengenyamnya bersama-sama, beramai-ramai.  
Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, penderitaan orang lain sering kali 
merupakan snack yang enak sebagai nyamikan di beranda rumah, di gardu atau 
pojok pasar dan warung-warung kopi.

   Bagi industri informasi, segala kemungkinan "isi meja makan kebudayaan" itu 
senantiasa dieksplor sedemikian rupa sebagai komoditi yang dibilang utama.

   Sesungguhnya, terhadap hampir seluruh peristiwa elite di panggung negeri 
ini, kita tidaklah terutama sedang mempergulatkan kreativitas kebangsaan dan 
sejarah secara mendasar, melainkan sedang menikmati tontonan KETHOPRAK dan 
WAYANG. 

   Yang saya maksud dengan dunia wayang dalam konteks ini bukan terutama pada 
fungsi dalang atas wayang, yang dalam bahasa politik sehari-hari kita sebut 
"rekayasa", mekanisme "top-down" dan lain sebagainya.  Melainkan bahwa dalam 
kosmos seni budaya wayang, tokohnya bukanlah manusia, sementara rakyat selalu 
anonim dan dianggap tidak memiliki kehendak atau (apalagi) kedaulatan.

   Wayang adalah kisah mengasyikan mengenai Raja-Raja, Kesatria-Kesatria, dan 
Dewa-Dewi.  Pelaku terbanyak dalam wayang adalah prajurit.  Namun mereka bukan 
saya bukan tokoh; mereka bahkan bukan manusia, mereka adalah prajurit.  Ada 
skala dan konsentrasi nilai yang amat berbeda antara manusia dan prajurit.

   Jika Anda adalah pelaku kisah wayang, sesekali mungkin Anda dan saya 
memiliki sebutan: umpamanya TOGOG.  Kakak sulung Kiai Semar dan Bathara Guru 
ini memiliki peran sejarah yang unik dan mengesalkan, persis seperti Anda.  
Yakni khususnya mengikuti perjalanan Tuan-tuan yang memiliki kecendrungan untuk 
JAHAT dan CURANG.  Pekerjaan utama Togog adalah mengingatkan Tuannya tentang 
mana yang benar dan mana yang salah.

   Togog selalu melontarkan kritik, namun hanya ditampung tanpa pernah 
dipercaya dan dituruti.  Atau, Togog adalah pemeran yang selalu tidak pernah 
dianggap penting dan tidak pernah dipatuhi anjuran-anjurannya, namun ia 
terus-menerus mengungkapkan kritik-keritik.

   Togog adalah satu-satunya nama Anda, meskipun jumlah Anda 240 juta.  
Kapanpun saja Anda bernama Togog, di zaman apapun Anda bernama Togog, pada Orde 
paling kuno hingga Orde post-mo Anda bernama Togog.

   Raja Anda berganti-ganti, dari Prabu Rama dalam Ramayana hingga Puntadewa 
dalam Mahabharata sampai Parikesit di kurun pasca Bharatayuda, dan Anda tetap 
bernama Togog.

   Bapak-Ibu Anda bernama Togog, keponakan dan anak turun Anda bernama Togog.  
Pekerjaan utama Anda adalah menerima apapun saja kehendak dan keputusan setiap 
Raja yang menguasai Anda, sambil melontarkan kritik tanpa pernah 
sungguh-sungguh diperhatikan.  Dan hobi permanen Anda dari zaman ke zaman 
adalah menikmati perjalanan Raja-Raja, sampai hari ini, saat Anda 
membolak-balik tulisan ini.

   Kalau dalam dunia kethoprak, nama kita adalah Bolo Dhupakan, pemeran-pemeran 
figuran yang jumlahnya lebih banyak dari pemeran utama, namun tugas utamanya 
adalah didhupak-dhupak alias ditendang-tendang.  Yang ditendang-tendang 
terkadang dahi dan punggung kita, di saat lain hak-hak asasi kita, atau yang 
rutin adalah gagasan-gagasan kita mengenai bagaimana lakon kethoprak itu 
mestinya berlangsung.

   Pada saat yang sama sesungguhnya kita juga sindhen-sindhen pelaku keindahan 
yang mendendangkan legenda dan segala jenis nyanyian tentang Raja-Raja dan 
Pangeran-Pangeran: peran berdendang barangkali bukanlah tergolong nasib yang 
terlalu buruk.

   Tetapi yang harus dengan seksama kita catat adalah betapa tradisi pemusatan 
perhatian terhadap Raja-Raja dan Pangeran-Pangeran memiliki akibat sejarah yang 
tidak sederhana.  Kalau dalam kesempatan bincang-bincang serius Anda tiba-tiba 
pada tema – umpamanya – ketidaksiapan masyarakat untuk mengerjakan demokrasi 
dan membangun komunitas egalitarian, proses kualifikasi kepemimpinan yang 
selalu kembali terjebak pada patrimonialisme dan khususnya budaya monarki, 
mekanisme regenerasi yang terantuk-antuk oleh bebatuan feodalisme, dan lain 
sebagainya – percayalah itu karena kita memang masih bersemayam di ERA WAYANG, 
ORDE KETHOPRAK dan nama Anda adalah TOGOG.

   Kita membutuhkan kesempatan khusus untuk menguraikan itu.  Namun, yang 
jelas, ke-TOGOG-an adalah posisi dan situasi floating-mass yang 
mengaktualisasikan dirinya melalui bentuk-bentuk sub-ordinasi kultural yang 
cengeng dan tak berdaya; meskipun itu bisa juga berarti ketabahan, ketahanan 
dan kesabaran.

   Berabad-abad Togog bertepuk tangan menyanyikan lagu puja-puji bagi Raja-Raja 
dan Pangeran-Pangeran, yang berkuasa sehingga kaya, yang kaya sehingga 
berkuasa. 


  _,_.___

  -- 
  ****************************************************
  "Ada dua hal yang tidak terbatas, yaitu: Alam Semesta ini dan Kebodohan 
Manusia;
  namun mengenai Alam Semesta tersebut masih saya ragukan . . ." (Albert 
Einstein) 
  ****************************************************  


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition.
  Version: 7.1.408 / Virus Database: 268.13.7/488 - Release Date: 10/19/2006


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke