from:
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=265179&kat_id=3

PENYESALAN PELAKU PERANG AGAMA

Tak kurang 100 pasang mata masyarakat Letuwaru, Kecamatan Kota 
Masohi,
Maluku Tengah, menatap haru pemandangan 'tak biasa', yang sudah 
sekian
tahun menghilang. Begitu terharunya, banyak di antara mereka yang 
ikut
meneteskan air mata. Di hadapan warga mayoritas beragama Kristen ini,
ada 250 orang pelaku konflik Maluku saling berangkulan erat. Sama
seperti warga setempat, mereka pun menangis menyesali perbuatan 
mereka.

''Saudara saya ini sangat baik, kenapa dulu kami harus saling
berperang,'' ungkap Toni Taehutu, warga Kristen asal Desa Hulaliu,
Pulau Haruku. Tangan kanan Toni masih melingkar di pundak Abdul Latif
Saun, seorang Muslim asal Seram Bagian Barat.

Konflik agama di Maluku, masih menyisakan duka dan persoalan bagi
masyarakat setempat. Untuk memecahkannya, Departemen Sosial menggelar
program bernama 'Jembatan Persahabatan'. Kegiatan ini diikuti sekitar
250 peserta. Mereka berasal dari berbagai daerah di Maluku.
Keterlibatan mereka dalam konflik agama juga beragam. Ada yang 
menjadi
pelaku lapangan, provokator, maupun tokoh masyarakat.

Selama kegiatan itu, mereka yang beragama Islam dan Kristen diberi
ruang untuk saling mengenal dan mengerti. Tak hanya melalui kegiatan
out bound yang membutuhkan kerja sama dan kekompakan kelompok, mereka
juga tinggal di keluarga dari kampung Muslim maupun Kristen. Sehari
mereka tinggal di Letuwaru, yang merupakan kampung Kristen. Hari
berikutnya mereka tinggal di Amahai.

''Selama beberapa hari makan, tidur, bermain bersama, saya merasa
sebenarnya di antara kami tidak ada masalah. Entah kenapa waktu itu
kami saling berperang. Padahal, kami bisa saling hidup 
berdampingan,''
papar Abdul Latif Saun.

Menyusuri sejumlah kawasan konflik di Ambon maupun Maluku Tengah,
sebenarnya sudah tidak jauh beda dengan daerah lain. Sepanjang
perjalanan dari Bandara Pattimura hingga Pelabuhan Tulehu, suasana
sudah berangsur pulih. Wilayah Passo, yang dulu menjadi kawasan
'rawan', kondisinya juga sudah seperti daerah aman lainnya.

Begitupun di Amahai maupun Kota Masohi. Wilayah yang pecah konflik
setahun setelah konflik Ambon inipun terlihat sudah adem-ayem. 
Bahkan,
jalan yang berada di kawasan itu, jauh lebih mulus dibanding sejumlah
jalan di Jakarta. Puing-puing bekas rumah, gereja, masjid yang
dibakar, memang masih terlihat di kawasan perbatasan antara Letuwaru
dan Amahai. Tapi, aktivitas ekonomi dan sosial sudah berjalan normal.
Sekelompok bocah sudah terlihat asyik bermain mengejar kambing di
Lapangan Letuwaru. Di antara bocah itu, ada yang mengenakan jilbab
tapi ada pula yang mengenakan kalung salib. Sepertinya tak ada sekat
di antara mereka.

Harol Patiasina, seorang pemeluk Kristen, mengaku sudah tidak lagi
memendam marah. Hubungan antara warga beragama Islam dan Kristen di
kampungnya sudah berangsur membaik. Dulu Harol sempat mengungsi ke
Passo. Sekalipun di kampungnya mayoritas beragama Kristen, tapi 
karena
posisi kampungnya berada di antara kampung Muslim, mereka terpaksa
mengungsi ke daerah lain. ''Sekarang sebagian sudah kembali pulang.
Kami sudah mulai berhubungan dalam banyak hal,'' jelas Harol.

Saat ini, gelombang pengungsi yang kembali ke kampung halamannya 
masih
terus berlangsung. Warga Werenama yang sudah mengungsi sekitar lima
tahun, juga sudah bersiap untuk kembali. Rumah-rumah mereka di
Werenama sudah di bangun oleh pemerintah daerah.

Konflik yang pecah di Maluku sangatlah disesali. Konflik itu tidak
hanya menyebabkan korban nyawa, kehidupan mereka juga sangat sulit.
''Kami selalu dibayangi perasaan was-was, takut, cari makan susah
setengah mati, tidak bisa ke mana-mana,'' papar Abdul Latif. Setiap
belanja kebutuhan pokok, mereka harus dikawal aparat keamanan.

Penyesalan juga diungkap Awaluddin. Pemuda Muslim, yang terlibat
langsung dalam perang itu, mengaku tidak ingin lagi konflik pecah di
Maluku. ''Saya tidak tahu apakah panah dan bom yang saya lemparkan
mengenai musuh atau tidak, tapi saya menyesal kenapa harus terjadi
perang,'' ungkap dia. Awaluddin mengaku masih terbayang sejumlah
temannya yang meninggal dalam konflik. Staf Ahli Mensos, Carolin
Nitimiharja, mengatakan hubungan sosial dan komunikasi antara umat
Islam dan Kristen memang sudah mulai terbangun. Namun, hal yang masih
sulit dibangun di antara mereka adalah sikap saling percaya.
''Sekalipun hubungan dua kelompok sudah semakin membaik, tapi 
perasaan
saling curiga masih ada,'' kata Carolin.

Pernyataan ini diperkuat penjelasan Danrem 151 Binaiya, Kolonel Iro
Suparmo. Menurut dia, sekalipun tanda-tanda permusuhan sudah tidak
tampak, tapi antara kedua kelompok belum bisa saling memercayai. Tak
heran jika di antara kedua kelompok ini masih ada yang menyembunyikan
senjata. Tujuannya bukan untuk menyerang, tapi berjaga-jaga kalau
diserang. Pihak keamanan setempat, ungkap Iro, saat ini terus
melakukan pendekatan kepada warga. Dengan terus memberikan pengertian
diharapkan mereka akan bersedia menyerahkan senjata yang masih
disembunyikan.

Sekalipun terlibat konflik secara langsung, banyak peserta kegiatan
'Jembatan Perdamaian', tidak pernah mengerti tentang hal yang membuat
mereka berperang. ''Waktu itu ada masjid yang dibakar, lalu kita
berperang. Kita tidak pernah tahu siapa yang membakar,'' ungkap 
Awaluddin.

Toni Taehutu tidak percaya kalau konflik di Maluku terjadi karena
agama. ''Sudah sejak dulu agama kita berbeda, tapi dengan adat
Pelagandong, perbedaan itu tidak pernah menjadi masalah. Saya lebih
yakin konflik terjadi karena provokasi-provokasi pihak luar,'' jelas
Toni. n dwo





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke