Berdasarkan ketetapan Sidang Itsbat, menteri agama Maftuh Basyuni menyatakan 
bahwa awal bulan Ramadhan 1427 jatuh pada hari Minggu, bertepatan dengan 
tanggal 24 September 2006. Ketetapan itu tidak berbeda antara Muhammadiyah dan 
Nahdlatul Ulama (NU) seperti yang terjadi beberapa tahun sebelumnya. Begitu 
pula Persatuan Islam (Persis) yang bermetodologikan hampir sama dengan 
Muhammadiyah dalam penggunaan metode Hisab, juga menetapkan di hari yang sama. 
   
  Dengan demikian, kita bisa memprediksi adanya penyatuan langkah dalam 
menetapkan Idul Fitri 1427 antara ketiga ormas terbesar itu. 
   
  Namun nyatanya kini perbedaan itu muncul kembali dan tidak bisa dielakkan. 
Muhammadiyah yang sejak tahun 1969 memilih menggunakan hisab, lebih dulu 
memproklamirkan Idul Fitri pada hari Senin (23 Oktober 2006). Sementara NU yang 
berpegangan pada rukyat lebih condong pada pilihan kedua, yaitu berhari raya 
pada keesokan harinya (Selasa, 24 Oktober 2006). 
   
  Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa seringkali ormas yang satu lebih cepat 
atau lebih lambat dari yang lain dalam menetapkan akhir dan bulan baru?
   
  Sejauh ini perbedaan itu terletak pada perbedaan metode yang mereka gunakan. 
Karena perbedaan inilah mengakibatkan ilmu hisab kerap dijadikan kambing hitam 
munculnya khilafiyah atau kontraversi Idul Fitri itu, sehingga sebagian ulama 
berfatwa bahwa metode rukyat (mengamati visibilitas “hilal” atau bulan sabit 
pertama) lebih baik daripada metode hisab. Ulama tersebut berdalil pada sebuah 
Hadis berlafal “shorih” (letterlijk) yang memerintahkan puasa dan berbuka 
berdasarkan rukyat. Dan di sisi lain tidak ada satu dalil Hadis atau satu ayat 
al-Quran pun yang memerintahkan umat Islam berpuasa berdasarkan hisab. 
   
  Tapi benarkah pendapat bahwa rukyat lebih baik daripada hisab? Lalu apakah 
rukyat masih relevan untuk digunakan di zaman teknologi canggih seperti 
sekarang ini? 
   
  Metode “hisab” atau perhitungan pergantian bulan berdasarkan ilmu falak 
(astronomi) merupakan hasil dari sebuah inovasi dari seorang ilmuwan astronomi 
Arab. Kendatipun demikian, Johannes Kepler (1571-1630) satu-satunya ahli 
astronomi Jerman yang menggagas pertama kali dimasukkannya ilmu falak ke dalam 
hierarki ilmu pengetahuan dalam terminologi modern setelah melalui serangkaian 
eksperimentasi dan penelitian yang dilakukan para pendahulunya. Tiga teori 
dasar yang dicetuskan Kepler mampu menelaah perkiraan tempat benda-benda langit 
atau menyingkap gerakan orbit secara tepat.
   
  Lalu pada tahun 1667, ilmuwan Inggeris Isaac Newton (1642-1727) menerbitkan 
sebuah buku yang sangat populer. Dalam bukunya tersebut Newton bukan hanya 
memberi tafsiran baru seputar tiga hukum Kepler, ia juga membuat suatu sistem 
mekanika alam dengan mengkalkulasi hukum fisika di hampir semua bagian luar 
angkasa: bulan, Mars, Venus atau bahkan di tempat-tempat lain di angkasa luar. 
   
  Seperti halnya Kepler, Newton juga mengemukakan tiga teori besar: pertama, 
teori bahwa suatu benda bergerak karena ada kekuatan dari luar. Kedua, teori 
bahwa setiap gerak akan menimbulkan gerak baru sebanding dengan arah lawannya. 
Dan ketiga, teori Gravitasi Universal. Semua teori mekanika Newton ini kelak 
dimanfaatkan manusia untuk menjawab hampir semua masalah alam.
   
  Yang menarik, mekanika alam ini ternyata menyatakan bahwa semua fenomena 
gerak -–baik yang berhubungan dengan gerak planet di sekitar matahari, gerak 
peluru pada objek sasaran, atau gerak apel yang jatuh ke bumi–- semua bertekuk 
lutut dengan hukum fisika tadi. Itu artinya, siapapun tidak perlu bangun di 
malam hari untuk melakukan eksprerimentasi yang pelik guna membuat prakiraan 
gerakan materi dan meneropong lokasinya. Bahkan semua "yang dirasakan" hanya 
perlu mengetahui tiap-tiap benda tersebut pada faktor gravitasinya. Lalu 
tinggal mempraktekkan teori hukum fisika itu untuk mengeluarkan fakta-fakta 
sekitar yang ingin diketahui, seperti bagaimana mengetahui tempatnya perdetik, 
kecepatannya atau bentuk garis edarnya. 
   
  Salah satu faktor lain mengapa para ilmuwan semakin percaya dengan metode 
ilmu pasti, karena prestasinya sudah melampaui dugaan semua orang, ia mampu 
“menghisab” atau menghitung peredaran planet dan benda-benda langit lain, 
seperti halnya mampu memperkirakan munculnya gerhana matahari dan bulan, baik 
di masa yang akan datang tapi juga di masa lampau. Semua terjelaskan secara 
detail dan akurat. 
   
  Lalu muncul ilmuwan Jerman, Albert Einstein (1916). Dia berhasil mencetuskan 
teori Relativitas Umum yang menambal sulam semua kekurangan yang terjadi pada 
sistem mekanika Newton. Relativitas Umum berbasiskan pada asas kesetaraan yang 
mengatakan bahwa: hukum-hukum alam harus dituliskan dalam bentuknya demikian 
sehingga tak mungkin membedakan antara medan gravitasi serbasama dengan suatu 
kerangka acuan yang dipercepat. Dengan Teori Relativitas Umum, garis edar 
planet Merkurius yang berinteraksi dengan matahari (juga dengan planet-planet 
lain) dapat dijelaskan secara lebih akurat bila dibandingkan dengan menggunakan 
Hukum Gravitasi Universal. Meski demikian, Hukum Gravitasi Universal cukup 
memadai untuk keperluan praktis karena bentuknya lebih sederhana.
   
  Para ahli astronomi saat ini melakukan perhitungan mencapai batas nyaris 
sempurna pasca pengiriman Voyager-2, pesawat penjelajah yang mampu mendekati 
garis edar planet Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus. 
  
   
  Aspek Dunia dan Akherat
  Yang sering dipertanyakan: mengapa saat ini umat Islam enggan memanfaatkan 
dinamika “ilmu falak” tersebut yang pada nantinya mereka dengan mudah bisa 
menentukan permulaan bulan Ramadhan dan Idul Fitri? Bukankah yang mampu 
memberitahu waktu tibanya peristiwa gerhana matahari dan bulan, wabilkhusus 
terjadinya dua fenomena tersebut, tehnik dan posisinya di permukaan bumi 
seperti yang kita saksikan pada tahun ini juga tahu posisi matahari dan bulan? 
Atau mungkinkah memanfaatkan sarana penemuan ilmiah tersebut bertentangan 
dengan akidah Islam? Lalu bagaimana teologi Islam memandang orang yang kontra 
terhadap sains tersebut? 
   
  Kita terlena dengan mengonsumsi teknologi mutakhir dalam urusan duniawi, 
sementara kita enggan memanfaatkan dasar-dasar sains modern untuk meningkatkan 
kualitas keberagamaan kita. Ironis sekali jika kita mengajarkan basic ilmu 
pengetahuan modern seputar evolusi/revolusi bumi atau revolusi bulan pada 
anak-anak kita di sekolah, sementara dalam aktifitas sehari-hari kita pura-pura 
bodoh? Kita bisa menyaksikan bulan di tanah air, Saudi Arabia, Qatar, Emirat, 
Kuwait, Bahrain, Palestina, Libia, Irak, Libanon, Turki, sementara di Suriah, 
Mesir dan Aljazair tidak terlihat sama sekali? Apakah bulan itu tiba-tiba 
langsung loncat ke beberapa negara lain, atau sembunyi di balik bukit? 
   
  Benar memang, bahwa Rasulullah saw menyuruh kita berpuasa dengan terlebih 
dahulu memastikan ‘kemunculan’ hilal dengan sabdanya yang terkenal: 
“Berpuasalah berdasarkan rukyat hilal, dan berbukalah berdasarkan rukyat hilal” 
(HR Bukhori dan Muslim). Namun Rasulullah saw mengeluarkan 'amar' agar 
berpegangan pada metode visibilitas hilal tersebut karena tak lepas dari dua 
faktor: Pertama, rukyat adalah satu-satunya sarana peneropongan yang paling 
acceptable waktu itu, karena pada saat itu belum ada penemuan atau penciptaan 
alat pembesar seperti teropong dan sebagainya hingga abad ke-17. Karena itu tak 
mengherankan jika Rasulullah saw memotivasi umat Islam agar dapat merukyat dan 
memastikan eskistensi hilal dengan segala cara. Dengan demikian tidak perlu 
merukyat kalau memang ada media yang lebih baik dan lebih akurat. Kedua, media 
tercepat untuk mentransper informasi pada saat itu adalah kuda. Jika seorang 
penunggang kuda dari Madinah diberi amanah untuk menginformasikan
 visibilitas bulan pada masyarakat Damaskus di Siria, dia segera 
menyampaikannya pada saat itu juga. Kemudian rakyat Damaskus menyambut berita 
itu dan langsung memperingati Idul Fitri. 
   
  Sekarang situasinya sangat jauh berbeda. Di era teknologi canggih seperti 
sekarang, hampir di setiap rumah ada telpon, televisi dan radio. Di masjid kita 
menggunakan soundsystem sebagai pengeras suara azan, menggunakan lampu listrik 
sebagai alat penerangan, atau menggunakan AC untuk mengatur suhu udara di dalam 
masjid. Begitupula kita menggunakan media hisab terkini untuk 'menghitung' 
posisi bulan atau memakai satelit dan teleskop tahan cuaca super canggih, untuk 
menegaskan keberadaan bulan di langit. Media teknologi yang kita konsumsi itu 
semuanya untuk memfasilitasi umat Islam dalam urusan dunia dan 'akherat'. 
Ditambah lagi dengan faktor lain yaitu sulitnya melihat hilal jika tanpa 
menggunakan instrumen apapun; misalnya pada fase bulan purnama, hilal merupakan 
obyek yang lemah dan tak mudah dikenali mata. Setelah maghrib misalnya, hilal 
bisa tampak dan berlokasi di dekat horizon barat. Untuk bisa berhasil 
melihatnya memerlukan konsentrasi dan waktu yang tepat. Walaupun
 siklus itu dapat terus berulang, namun kesempatan melihat hilal sangat langka 
dan sulit. Kesulitan itu terjadi karena cuaca berawan, kabut tebal, hujan 
deras, asap hitam akibat pembakaran hutan misalnya, atau faktor fisikis dan 
psikologis manusia itu sendiri. 
   
  Hal lain dijelaskan bahwa hilal tidak selalu identik dengan tanduk yang 
membentuk setengah lingkaran. Pada saat-saat tertentu, tanduk luar cahaya itu 
membaur karena turbulensi atau perputaran bumi, sehingga terkesan hilang. Nah, 
semakin muda hilal, semakin sulit pula untuk menyaksikannya secara kasat mata. 
Dalam keadaan seperti ini, tak jarang sebagian yang belum berpengalaman akan 
menyimpulkan bahwa “hilal tidak muncul”. Dan, ini adalah salah satu faktor 
munculnya perbedaan versi permulaan puasa dan awal Syawal (Idul Fitri). Dengan 
kata lain, kesimpulan yang salah akan menyulut keputusan yang kontroversial. 
   
  Adapun beberapa pihak yang memaksakan diri agar berpegangan kepada teks Hadis 
di atas tanpa melihat pada faktor yang melatarbelakanginya , ibarat dua orang 
di sebuah kantor: si A berpesan kepada si B agar lekas menyelesaikan 
pekerjaannya tepat jam 2 siang. Tapi rupanya si B tidak punya arloji, bahkan 
jam dindingpun tak ada. Kemudian si A tadi memberikan ciri lebih spesifik bahwa 
jam 2 akan "tiba" apabila sebuah kendaraan lewat di depan jendela, sedangkan si 
B tidak tahu kalau kendaraan tersebut memang sudah lewat beberapa saat 
kemudian. 
   
  Kalau jam 2 siang tidak ada satu kendaraanpun yang lewat, bagaimana? Tidak 
apa-apa, yang penting tujuannya adalah menunaikan tugas, apa pun caranya, tak 
perlu menunggu kendaraan!
   
  Karena itu, yang pertama kali dilakukan adalah pembentukan sebuah ‘lajnah’ 
atau badan khusus yang menangani kasus sederhana seperti ini. Seperti di Mesir 
misalnya, terdapat Islamic Crescent Observation Project yang memiliki 300 
anggota yang terdiri dari para ilmuwan dan orang-orang yang terlatih sehingga 
tidak pernah terjadi idul fitri dalam beberapa versi dalam tingkat nasional. 
   
  Kedua, bagaimana caranya agar umat Islam tidak dibodohi terus menerus dengan 
tebak-tebakan yang serba misterius. Langkah ini misalnya dilakukan dengan 
menggugah kesadaran pentingnya penggunaan teknologi mutakhir untuk mewujudkan 
tibanya bulan Ramadhan, agar akurasi datanya dapat ditransper ke sebuah channel 
satelit yang disiarkan ke berbagai jutaan pemirsa Muslim di berbagai belahan 
dunia. Dengan demikian kita berharap semoga perbedaan permulaan Ramadhan dan 
"lebaran dalam dua versi" tidak akan pernah terulang lagi.[]
   
  Kairo, 23 Oktober 2006
  # Taufik Munir
  http://religiusta. multiply. com/journal/ item/202

                
---------------------------------
Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls.  Great rates 
starting at 1¢/min.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke