QS103pun telah mengingatkan: 1. Demi Masa 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran
wassalam, --- In [email protected], "antonhartomo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > terimakasih bingkisannya pak > bahagialah orang yang mengingatkan > tinggalkan keburukan, raih kebaikan > > saya kira Moderator pun inginnya > begitu ya ? > > jadi kita doakan saja > setelah Lebaran ini > tiada posting yang mulai muntah 'sampah'-serapah 'promosi kliru > tempat' > ungkapan isi hati, apalagi karena keciutan-religius subyektifnya > mengumpati keyakinan MANUSIA lain sesama mahluk > betul begitu Moderator ? > > sebaliknya, info dan sharing > untuk memperbaiki keadaan bangsa ini > dari keterpurukan, secara nyata > kian diarah juga oleh Moderator dan pemilis lain > sesuai MOTTO milis itu sendiri, kalau tak mau kian degrading > > obyektif : kemiskinan, kebodohan, korupsi dll merajalela, > pertanian kehutanan industri makin belum tambah baik, > kok tega-teganya ada yang masih bicara kesombongan diri/kelompok > merasa benar sendiri, top, bekoar-jari "sikat yang lain" ? > sedih kan Moderator ? > jangan ada lagi yang mulai 'bicara ke lubang hitam' lagi-lah > > IdulFitri semoga momen perubahan bersama > makin baik dan dewasa milisnya juga > > yah, kita semua simak dan ikuti saja.... > semoga Motto milis dijaga konstruktif > > salam > maaf lahir dan batin > antar semua dan masing-masing > (maaf saya bukan Moderator loh) > > > > > > --- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO" > <rm_danardono@> wrote: > > > > Saya tambahkan sebuah renungan sunyi hening mas: > > > > Masih Terpenjarakah Kita > > oleh UP Dharma Mitra > > > > > > "Di dunia ini, apabila seseorang dikuasai oleh keinginan > > kotor dan beracun, kesedihan niscaya berkembang bagaikan rumput > > birana, yang tumbuh subur karena tersirami air hujan"Tanha Vagga > > XXIV : 335. > > > > Penjara merupakan salah satu sarana (alat), untuk menghukum > > atau menyadarkan segelintir orang-orang, yang tindak tanduknya di > > luar dari jalur kebenaran. Di dalam penjara ini, nantinya para > > pelaku kejahatan, menerima sanksi (hukuman) yang disesuaikan > dengan > > derajat kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat. Yang pasti, di > > kondisi yang kurang menyenangkan ini, segala bentuk aktivitas jadi > > serba terbatas, keinginan-keinginan yang didambakan, juga tidak > bisa > > dipenuhi dan di samping itu, apa yang telah direncanakan, tidaklah > > bisa direalisasikan. Itulah yang disebut dengan penjara duniawi. > > Singkatnya, sukkha (kebahagiaan) yang dirasakan, kadarnya jauh > lebih > > sedikit dari pada dukkha (derita) yang diterima. Dan di luar dari > > penjara duniawi ini, masih terdapat lagi sebuah penjara, yang > > akibatnya jauh lebih dukkha (menderita). Akibatnya, bukan saja > bisa > > dirasakan di kehidupan ini, tetapi juga kehidupan-kehidupan > > mendatang. Penjara tersebut dikenal dengan sebutan penjara bathin, > > yang terciptakan oleh kebodohan (moha) diri kita sendiri. Di dalam > > kitab suci Digha Nikaya III : 230 dan 276, Samyutta Nikaya V : 59 > > dan Vibhanga 374, disebutkan bahwa salah satu pencetus > terbentuknya > > penjara bathin ini adalah upadana (kemelekatan) diri kita akan > > keduniawian. Dan secara garis besarnya, upadana ini dapat dibagi > > atas 4 (empat) bagian besar, yang terdiri dari: > > > > > > Kamupadana : kemelekatan akan nafsu indera. > > Menurut konsep Buddhis, setiap manusia memiliki 6 (enam) indera, > > yang terdiri dari : > > > > mata > > telinga > > hidung > > lidah > > jasmani(kulit) dan > > pikiran. > > > > Yang dimaksudkan dengan kamupadana adalah timbulnya kemelekatan > dan > > keinginan, untuk menguasai (memiliki) atau menghancurkan sesuatu > > dikala : > > > > melihat yang disukai atau tidak > > mendengar yang menyenangkan atau tidak > > mencium aroma yang wangi atau tidak > > mengecap yang enak atau tidak > > merasakan sentuhan yang lembut atau tidak > > berpikir yang indah atau tidak. > > > > Terjadinya kemelekatan setelah adanya kontak antara indera dengan > > objek-objek (sasaran- sasaran) yang tersentuh, itulah penjara. > > Seseorang yang begitu melekat dengan apa yang dia inginkan, > berhasil > > diraih atau tidak, suatu saat pasti akan menimbulkan derita. > > Mengapa ? Jika berhasil diraih, dia diharuskan mencurahkan > > perhatian, untuk merawat dan menjaganya. Dalam hal ini, apakah > semua > > kondisi yang terdiri dari perpaduan unsur-unsur, kekal > > keberadaannya ? Benda apapun yang berada di sekitar kita, cepat > > maupun lambat, apakah dikehendaki atau tidak, pasti akan mengalami > > proses kehancuran. Jika proses kehancuran ini sampai terjadi > > sedangkan diri kita begitu terlekat olehnya, apakah yang bakal > > terjadi ? Tiada lain adalah dukkha (derita). Begitu juga > sebaliknya, > > jika tidak berhasil mendapatkan, apa yang telah diidam-idamkan, > > derita lah yang dirasakan. Mengapa bisa demikian ? Karena > > kemelekatan yang demikian eratnya mencengkram bathinnya, akan > selalu > > menimbulkan kecewaan, kesedihan dan kefrustasian. Oleh karena itu, > > agar nafsu indera tidak berkesempatan membelenggu bathin ini, > > tebaslah setiap wujud (bentuk) dari kemelekatan. Bagaimana > caranya ? > > Caranya yaitu dengan menyadari sebaik-baiknya bahwa benda apapun > > yang terdapat di alam semesta ini, tidaklah kekal keberadaannya. > > Dapatpun belum tentu bahagia dan apalagi tidak dapat, logiskah > kita > > terlekat olehnya ? Di dalam sabda-Nya Sang Buddha > > menyabdakan : "Makhluk-makhluk yang terjerat pada keinginan, > meronta- > > ronta seperti kelinci yang terperangkap oleh pemburu. Mereka yang > > terjerat dalam belenggu dan ikatan bathin, niscaya mengalami > > penderitaan berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama". > > Berdasarkan pada kesunyataan (kebenaran) ini, masih > logiskah > > kita terbelenggu oleh nikmatnya ikatan ikatan duniawi ? > > > > > > > > Ditthupadana : kemelekatan akan pandangan salah. > > Pandangan salah dalam hal ini adalah tidak bisa menerima > atau > > mengerti, akan kebenaran kebenaran yang berlaku di alam semesta > ini. > > Kebenaran kebenaran tersebut, misalnya adalah : > > > > setiap perbuatan, pasti akan menimbulkan akibat > > > > benda apapun yang terdapat di alam semesta ini, tidaklah kekal > > keberadaannya > > > > perbuatan baik akan menimbulkan kebahagiaan dan yang jahat akan > > menghasilkan penderitaan. > > > > > > Tidak sedikit dijumpai, yang hanya dikarenakan kesalahan pandangan > > hidup, seseorang enggan dan menolak, untuk mau berdana (beramal). > > Baginya, berdana itu adalah suatu perbuatan yang sia sia saja > serta > > mubazir. Dan jika sakit, bukannya segera ke dokter, eeeeh malahan > ke > > orang orang yang bisa kesurupan. Dikarenakan pandangan salahnya, > dia > > pun berkeyakinan bahwa orang orang yang bisa kesurupan adalah > orang > > orang yang hebat, pilihan dan suci. Apakah benar demikian ? > Didalam > > konsep Buddhis ditegaskan, bahwa seseorang yang mengalami > kesurupan > > atau tubuhnya bisa disusupi oleh makhluk makhluk dari alam halus, > > tidaklah terlepas karena sati (kesadaran) nya sangat lemah sekali. > > Sati (kesadaran) ini, istilah awamnya dikenal dengan sebutan roh > > atau arwah. Mengapa sati (kesadaran) ini bisa melemah ? Faktornya > > adalah : > > > > kekuatan kebajikan yang dimiliki telah mulai berkurang, yang bisa > > saja dikarenakan tidak pernah berbuat baik atau suka melakukan > > perbuatan perbuatan jahat . > > > > suka memakan atau meminum, sesuatu yang mana bisa menyebabkan > > hilangnya kesadaran/menimbulnya ketagihan (kecanduan), misalnya : > > jenis jenis obat penenang (morphin, ganja, ekstasi atau minuman > > minuman berkadar alkohol tinggi). > > > > > > Berdasarkan pada fakta kebenaran ini maka bagi seseorang yang > > tubuhnya, bisa disusupi oleh makhluk makhluk dari alam halus, > > tidaklah akan bisa meraih proses kesucian di kehidupan ini. > > Singkatnya, orang orang yang tubuhnya bisa disusupi oleh makhluk > > makhluk dari alam halus adalah jenis orang orang yang pantas > > dikasihani. Hingga saat ini, bagi anggota Sangha (persaudaraan > para > > bhikkhu/ni) yang "vinaya : peraturan peraturan yang > dipedomanin "nya > > terawat dengan baik, tidak akan ada peluang sedikitpun bagi > makhluk > > makhluk dari alam halus, untuk bisa (mampu) menyusupi tubuh > > (jasmani) mereka. Selanjutnya, pandangan salah yang cukup dominan > > kita dengar adalah "orang baik, pada umumnya lebih menderita dari > > pada orang jahat ". > > Didalam kitab suci Anguttara Nikaya I : 227, Sang Buddha > > menyabdakan : "Sesuai dengan benih yang telah ditabur, demikianlah > > buah yang akan dipetiknya. Pembuat kebajikan akan mendapat > kebajikan > > (kebahagiaan) dan pembuat kejahatan akan memetik kejahatan > > (penderitaan) pula. Tertaburlah olehmu biji biji dan engkau pula > > yang akan merasakan buah buah dari padanya." Berdasarkan pada > sabda > > Sang Buddha ini, tidaklah mungkin perbuatan baik akan menimbulkan > > penderitaan, sedangkan perbuatan jahat mengakibatkan kebahagiaan. > > Kalau disaat berbuat jahat, seseorang kelihatannya berbahagia, > > semuanya bisa saja terjadi, tidaklah terlepas karena: > > > > dia lagi menikmati hasil dari karma (perbuatan) baik, yg pernah > > diperbuat dimasa sebelumnya. > > > > bisa saja luarnya kelihatan bahagia, tetapi dalamnya siapa tahu .? > > > > > > Sesuai dengan konsep hukum karma, apapun yg diperbuat maka itulah > > yang akan dipetik (diterima) hasilnya. Menanam jambu maka jambulah > > yg akan dipanen, dan tidaklah mungkin menghasilkan kelapa. Dan > > siapapun yg menyemai kejahatan, pasti akan dicengkram oleh > > kekecewaan, ketakutan dan kecemasan. Mungkinkah kondisi kondisi > ini > > menimbulkan kebahagiaan .? Selanjutnya, di dalam agama Buddha > > ditegaskan pula bahwa kebahagiaan itu, bukan hanya bisa dinikmati > di > > alam manusia tetapi juga di alam Dewa, Brahma atau Nibbana > > (Nirvana). Setiap makhluk yang terlahirkan (berada) di salah satu > > dari 31 alam kehidupan adalah disesuaikan dengan kekuatan dari > karma > > (perbuatan) yang dimiliki. Kalau kwantitas (jumlah) karma > > (perbuatan) nya, tidak sesuai lagi di alam manusia, apakah di > > inginkan atau tidak, maka dia diharuskan pindah ke alam lain, yang > > disesuaikan dengan kekuatan dari karma (perbuatan) yg dimiliki. > > Ibarat memiliki uang yang jumlahnya hanya 50 juta maka rumah yang > > didiami, bentuknya adalah sederhana. Tetapi jika suatu saat, > uangnya > > telah mencapai ratusan juta maka dikondisi ini, akan membuat > dirinya > > mencari rumah yang jauh lebih indah dan mewah, dari yang > sebelumnya. > > Jadi bisa disimpulkan, bahwa kematian di usia yang dini dikala > > berbuat baik, akan membuka peluang bagi diri seseorang, untuk > > terlahirkan di alam yang lebih baik, dibandingkan yang sebelumnya. > > Didalam sabdaNya, Sang Buddha menyabdakan bahwa lebih baik hidup > > sehari, yang dipenuhi dengan kebajikan, daripada hidup ratusan > tahun > > lamanya, yang dicengkram oleh kejahatan. Hidup yang senantiasa > > dipenuhi oleh kejahatan, akan menjerumuskan diri seseorang ke > > lautan " samsara : kelahiran dan kematian", yang tiada > > akhirnya. "Selama perbuatan jahat belum menghasilkan buah, orang > > sesat menganggapnya manis seperti madu. Tatkala perbuatan itu > > menghasilkan buah, ia niscaya mengalami penderitaan" Bala Vagga > V : > > 69. Jadi, berdasarkan pada fakta kebenaran ini, perbuatlah > kebajikan > > sedini mungkin dan yakinilah dengan sebaik baiknya, bahwa kematian > > itu bukanlah suatu hal yang menakutkan atau merupakan jalur yang > > akan menuntun kita, untuk terlahirkan di alam derita. > > > > > > > > Silabbatupadana : kemelekatan akan upacara upacara. > > Yang dimaksud dengan silabbatupadana adalah suatu pandangan > > salah, yang meyakini bahwa dengan hanya memberikan (meletakkan) > > persembahan persembahan (sajian sajian), di altar suci Para > Buddha, > > Bodhisattva dan Dewa, akan bisa mendapatkan pahala pahala atau > > berkahan berkahan. Dan yang lebih fatal lagi adalah > mempersembahkan > > daging dagingan (sebagai hasil dari pengorbanan makhluk hidup) di > > altar suci Para Buddha, Bodhisattva dan Dewa. Apakah hal ini > pantas > > atau logis dilakukan ? Di dalam kitab suci ditegaskan bahwa salah > > satu syarat utama, agar kita bisa terlahirkan /mendiami > > alam "suggati : bahagia " adalah dengan mengembangkan "metta : > cinta > > kasih universal ", yang mengharamkan segala bentuk kebrutalan, > > kekejaman, kesadisan dan pembunuhan. Tanpa adanya pengembangan > cinta > > kasih yang sifatnya universal, maka alam "suggati : bahagia ", > > tidaklah mungkin bisa dicapai atau kesucian akan jauh > keberadaannya. > > Cara yang terbijaksana menghaturkan persembahan persembahan di > altar > > suci Para Buddha, Bodhisattva dan Dewa adalah dalam bentuk sayur > > sayuran atau buah buahan. Logikanya, jika persembahan daging > > dagingan rutin dihaturkan maka yang namanya makhluk makhluk suci, > > akan segera kabur dari tempat tersebut dan tidaklah mungkin > sanggup > > bertahan untuk jangka waktu yang lama, ditempat itu lagi. Dan > tidak > > tertutup kemungkinan, tempat tersebut akan dipenuhi (diisi) oleh > > makhluk makhluk, yang kesadarannya jauh lebih rendah daripada > > manusia. Makhluk makhluk yang kesadarannya di bawah alam manusia > > adalah peta (setan), asura (raksasa/jin), niraya (neraka) dan > > tiracchana (hewan). Sedangkan makhluk makhluk yang kesadarannya, > di > > atas alam manusia (makhluk makhluk suci) adalah para Buddha, > Arahat, > > Bodhisattva, Brahma dan Dewa. Jadi, persembahan persembahan > (sajian > > sajian) dalam bentuk apapun (daging dagingan, sayur sayuran atau > > buah buahan), yang diiringi dengan sejumlah pengharapan > pengharapan, > > mis : ingin mendapatkan kekayaan, jodoh, kekuasaaan atau kesucian > > adalah merupakan pandangan yang salah. Semuanya itu adalah wujud > > dari pengharapan yang sia sia saja. Didalam agama Buddha, terdapat > 4 > > (empat) jenis persembahan wajib, yang selalu dihaturkan, di altar > > suci Para Buddha, Bodhisattva dan Dewa. Ke empat persembahan wajib > > tersebut adalah: > > > > air yang melambangkan kerendahan hati atau kesucian > > (menyucikan "kilesa kilesa : kekotoran kekotoran batin " dari > > kegelapan ke jalur yang terang) > > > > lilin yang melambangkan penerangan > > bunga yang melambangkan ketidak-kekalan dan > > dupa yang melambangkan harumnya kebajikan yang diperbuat. > > Dari ke empat persembahan wajib yang tertera di atas, tidak > satupun > > yang bermakna atau mengandung unsur meminta (bagaikan pengemis) > atau > > mendambakan hal hal yang diluar dari kelogikaan. Makna > sesungguhnya > > dari persembahan, yang dihaturkan di altar suci Para Buddha, > > Bodhisattva dan Dewa adalah untuk mengikis kesombongan diri, > dengan > > menyadari bahwa segala sesuatunya, tidaklah kekal keberadaannya. > > Oleh karena itu, tidak ada satu kelebihan pun, yang pantas > > disombongkan ! Disamping itu, jadilah pelita di dalam kehidupan > ini, > > yang mana bisa menuntun atau menerangi siapapun juga, agar > terbebas > > dari aneka bentuk kejahatan, melalui banyaknya kebajikan yang > > diperbuat. Persembahan (sajian) apapun yang dihaturkan, di altar > > suci Para Buddha, Bodhisattva dan Dewa, yang perlu direnungkan > > adalah > > > > janganlah dari hasil pembunuhan > > janganlah sampai terdapat unsur barternya. Misalnya dengan > > mengutarakan " "JIKA PERMINTAANKU TERKABULKAN MAKA AKAN KUPERSEM- > BAH- > > KAN, YANG LEBIH LUAR BIASA LAGI !", ini adalah salah satu contoh > > dari ungkapan (janji) yang sangat salah, yang tidak sesuai dengan > > konsep Buddhis ! > > > > jadikanlah persembahan tersebut, hanya sebagai wujud rasa terima > > kasih (katannukatavedi) dan mengurangi ke EGOIS an serta > > meningkatkan tekad untuk menimbun kebajikan sedini mungkin. > > > > "Orang tersucikan, bukanlah karena kelahiran (keturunan) atau > harta > > benda, melainkan perbuatan, pengetahuan, dharma (kebenaran), > > kesilaan (moral yang baik) dan penghidupan yang luhur ," Samyutta > > Nikaya, Sagathavagga 147. > > > > > > > > > > Attavadupadana : kemelekatan akan ke egois an > > ""Semakin banyak yang diketahui maka akan semakin banyak > > pula, yang tidak diketahui ". Dari pribahasa yang singkat ini, > bisa > > ditarik suatu kesimpulan bahwa, tidak ada seorangpun yang serba > tahu > > atau sempurna, di dalam kehidupan ini. Dan berdasarkan pada > > kebenaran ini, pantaskah kita melekat dengan ke EGOIS an diri ? > > Terlahir kaya, pintar, berkuasa, sehat dan lain sebagainya, > > pantaskah dilekati atau disombongkan ? Tanpa adanya dukungan atau > > timbunan karma (perbuatan) baik, yang telah disemai di kehidupan > > kehidupan sebelumnya, tidaklah mungkin kita bisa menikmati > kelebihan > > kelebihan disaat ini. Mengapa ke EGOIS an bisa timbul .? Ke EGOIS > an > > bisa timbul, umumnya karena adanya kebanggaan yang berlebihan atas > > kelebihan kelebihan yang telah dimiliki, misalnya terlahir kaya, > > pintar, cantik dan berkuasa. Menyombongkan kelebihan kelebihan > yang > > telah dimiliki, cepat maupun lambat, akan menuntun seseorang ke > > liang derita. > > Fakta telah membuktikan bahwa orang yang ke EGOIS an sangat > > menonjol, akan mudah sekali mengalami frustasi, kecewa dan patah > > semangat. Kalau kaya, dia hanya akan memanfaatkan kekayaannya, > untuk > > melampiaskan kepuasan dirinya semata mata. Dan dengan > kepintarannya, > > dia selalu memperdaya pihak lain. Kerupawanan yang dimiliki, hanya > > dimanfaatkannya untuk menghancurkan pihak lain dan jika berkuasa, > > otoriternya luar biasa, siapa yang menentang maka akan langsung > > disingkirkan. Di akhirnya, apakah yang akan terjadi .? Tiada lain > > yang akan dia rasakan, selain dari pada penderitaan. Jadi, > > attavadupadana dalam kondisi dan keadaan yang bagaimanapun juga, > > tidaklah akan memberikan dampak yang positif, disamping > menimbulkan > > penderitaan yang berlarut larut. Oleh karena itu, agar terbebas > dari > > kondisi yang tidak baik ini, sadarilah dengan sebaik baiknya bahwa > > kemelekatan akan apapun juga (termasuk diri sendiri) adalah > > derita. " Kamehilokamhi na hatthi titti : di dunia ini, tidak ada > > kepuasan dalam penikmatan nafsu inderawi ", Majjhima Nikaya, > > Majjhima pannasaka 451. > > > > > > Kesimpulam > > Setelah beragama Buddha sekian tahun lamanya dan belum juga > > merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, mengapakah kondisi ini > bisa > > terjadi .? Kondisi ini bisa terjadi, tidaklah terlepas karena > bathin > > kita masih terpenjara. Terpenjara dalam hal ini, maknanya adalah > > terbelenggu atau buta sama sekali, akan fakta fakta kebenaran. > Yang > > benar bisa saja dikatakan salah dan yang salah dikatakan benar. > > Bagaikan si buta yang jalannya meraba raba dan pasti cenderung > > melakukan kesalahan kesalahan, itulah gambaran yang sesungguhnya, > > bagi seseorang yang bathinnya terpenjara. Penjara bathin yang > > membuat diri kita menderita, pada umumnya adalah : > > > > > > Kamupadana : kemelekatan akan nafsu indera. > > Adanya keinginan untuk mau memiliki (menguasai) atau menghancurkan > > dikala melihat, mendengar, membaui, mengecap, merasa dan berpikir, > > itulah kemelekatan akan nafsu indera, yang pasti berdampak negatif > > (penderitaan). Tetapi jika kita bisa mengontrol diri agar indera > > kita, tidak sampai terlekat oleh objek objek (sasaran sasaran) > yang > > tersentuh, maka yang namanya "dukkha : derita", tidak akan > > berkesempatan lagi mendera bathin kita. > > > > Ditthupadana : kemelekatan akan pandangan salah. > > Agar ditthupadana ini bisa dihindari, milikilah sedini mungkin > makna > > dari kebenaran, dengan mau mempelajari, menyelami dan mengamalkan > > dharma (kebenaran) di setiap derap langkah yang akan dilalui. Umat > > Buddha yang telah mengenal Buddha Dharma, tidak akan mencari hal > hal > > yang aneh jika sakit. Dia tidak akan mencari dukun atau orang yang > > bisa kesurupan, untuk menangani sakitnya. Pilihan utamanya, hanya > > kepada seorang dokter dan memakan obat yang telah diresepkan. Dan > > jika ingin berlindung maka perlindungannya, hanyalah kepada Sang > Tri > > Ratna (Sang Buddha, Dharma dan Sangha) serta para Bodhisattva > > Mahasattva lainnya. Dia tidak akan mencari perlindungan, yang > diluar > > dari kelogikaan, misalnya pada benda benda keramat, dukun dukun > atau > > orang orang yang katanya sakti, yang mana bisa kesurupan ini dan > itu. > > > > Silabbatupadana : kemelakatan akan upacara-upacara. > > Agar terbebas dari kondisi yang salah ini, yakinilah terlebih > dahulu > > dengan sebaik-baiknya, bahwa persembahan persembahan (sajian- > sajian) > > yang dihaturkan di hadapan altar suci Para Buddha, Bodhisatva dan > > Dewa, bukanlah untuk mendapatkan ini dan itu, di kemudian hari. Di > > samping itu, persembahan-persembahan yang diberikan, janganlah > > sampai terdapat unsur pembunuhan (mis. : daging-dagingan). > > Persembahan-persembahan yang sepantasnya dihaturkan dialtar suci > > Para Buddha, Bodhisattva dan Dewa adalah dupa (melambangkan > harumnya > > kebajikan), lilin (melambangkan penerangan ke jalur yang benar), > > bunga (melambangkan ketidak-kekalan), air (melambangkan kerendahan > > hati/kesucian), buah-buahan (melambangkan buah-buah karma > > (perbuatan) yang baik) dan lain sebagainya. Pada prinsipnya, > > persembahan-persembahan yang dihaturkan di altar suci Para Buddha, > > Bodhisattva dan Dewa adalah untuk memotivasi dan menyadarkan diri > > kita, agar senantiasa mau berbuat dan berlaku, yang baik-baik. > > > > Attavadupadana : kemelekatan akan ke egois an. > > Agar terbebas dari kondisi ini, sadarilah dengan sebaik-baiknya > > bahwa tiada suatu makhluk pun, yang belum mencapai kesucian, yang > > lahir sempurna di alam semesta ini dan juga tiada satupun > kelebihan > > kelebihan yang telah dimiliki, pantas dan logis disombongkan. > > Mengapa ? Semuanya tidaklah kekal keberadaannya dan suatu hari > > kelak, apakah diinginkan atau tidak, pasti (harus) ditinggalkan. > > Semoga dengan terbebasnya diri kita dari penjara bathin ini, hidup > > yang terjalani penuh dengan hal-hal yang baik, bermanfaat bagi > diri > > sendiri dan makhluk lain. Sabbe satta sabba dukkha pamuccantu - > > sabbe satta bhavantu sukhitata : Semoga semua makhluk terbebaskan > > dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia .sadhu, > .sadhu, > > .sadhu, > > > > Salam > > > > danardono > > > > > > > > > > --- In [email protected], "antonhartomo" <antonhartomo@> > > wrote: > > > > > > dear all > > > ada beberapa tanya, saya jawab : > > > > > > saudara masyarakat HinduBali sebagaimana HinduJawa memang > > > rayakan galungan kuningan nyepi dll, tetapi saudara yang > > > Singaraja (juga sebagian Tangerang) merayakan DIPAVALI. > > > > > > jangan hendaknya kita terjungkir tiupan sembilu eksklusif > > > mikirnya minoritas-mayoritas belaka, karena semua adalah > > > saudara kita sebangsa. > > > viwa bhinneka tunggal ika, jangan biarkan provokasi eksklusif > > > diskriminatif makin membabibuta > > > > > > salam > > > > > > > > > --------------------------- > > > > > > yang muslim (idulfitri) yang hindu (divali) > > > pada mudik, juga yang budhis dan kristiani > > > rukun damai > > > hahaha, salam bakdan riyayan lebaran > > > oleh-oleh penganan tempo doeloe jang lupa borong > > > > > > --- > > > > > > *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

