QS103pun telah mengingatkan:
1. Demi Masa
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan 
nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati 
supaya menetapi kesabaran

wassalam,

--- In [email protected], "antonhartomo" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> terimakasih bingkisannya pak
> bahagialah orang yang mengingatkan
> tinggalkan keburukan, raih kebaikan
> 
> saya kira Moderator pun inginnya
> begitu ya ?
> 
> jadi kita doakan saja
> setelah Lebaran ini
> tiada posting yang mulai muntah 'sampah'-serapah 'promosi kliru 
> tempat'
> ungkapan isi hati, apalagi karena keciutan-religius subyektifnya
> mengumpati keyakinan MANUSIA lain sesama mahluk
> betul begitu Moderator ?
> 
> sebaliknya, info dan sharing
> untuk memperbaiki keadaan bangsa ini
> dari keterpurukan, secara nyata
> kian diarah juga oleh Moderator dan pemilis lain
> sesuai MOTTO milis itu sendiri, kalau tak mau kian degrading
> 
> obyektif : kemiskinan, kebodohan, korupsi dll merajalela,
> pertanian kehutanan industri makin belum tambah baik,
> kok tega-teganya ada yang masih bicara kesombongan diri/kelompok
> merasa benar sendiri, top, bekoar-jari "sikat yang lain" ?
> sedih kan Moderator ?
> jangan ada lagi yang mulai 'bicara ke lubang hitam' lagi-lah
> 
> IdulFitri semoga momen perubahan bersama 
> makin baik dan dewasa milisnya juga
> 
> yah, kita semua simak dan ikuti saja....
> semoga Motto milis dijaga konstruktif
> 
> salam
> maaf lahir dan batin
> antar semua dan masing-masing
> (maaf saya bukan Moderator loh)
> 
> 
> 
> 
> 
> --- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO" 
> <rm_danardono@> wrote:
> >
> > Saya tambahkan sebuah renungan sunyi hening mas:
> > 
> > Masih Terpenjarakah Kita 
> > oleh UP Dharma Mitra 
> > 
> > 
> >         "Di dunia ini, apabila seseorang dikuasai oleh keinginan 
> > kotor dan beracun, kesedihan niscaya berkembang bagaikan rumput 
> > birana, yang tumbuh subur karena tersirami air hujan"Tanha Vagga 
> > XXIV : 335.
> > 
> >        Penjara merupakan salah satu sarana (alat), untuk 
menghukum 
> > atau menyadarkan segelintir orang-orang, yang tindak tanduknya 
di 
> > luar dari jalur kebenaran. Di dalam penjara ini, nantinya para 
> > pelaku kejahatan, menerima sanksi (hukuman) yang disesuaikan 
> dengan 
> > derajat kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat. Yang pasti, di 
> > kondisi yang kurang menyenangkan ini, segala bentuk aktivitas 
jadi 
> > serba terbatas, keinginan-keinginan yang didambakan, juga tidak 
> bisa 
> > dipenuhi dan di samping itu, apa yang telah direncanakan, 
tidaklah 
> > bisa direalisasikan. Itulah yang disebut dengan penjara duniawi. 
> > Singkatnya, sukkha (kebahagiaan) yang dirasakan, kadarnya jauh 
> lebih 
> > sedikit dari pada dukkha (derita) yang diterima. Dan di luar 
dari 
> > penjara duniawi ini, masih terdapat lagi sebuah penjara, yang 
> > akibatnya jauh lebih dukkha (menderita). Akibatnya, bukan saja 
> bisa 
> > dirasakan di kehidupan ini, tetapi juga kehidupan-kehidupan 
> > mendatang. Penjara tersebut dikenal dengan sebutan penjara 
bathin, 
> > yang terciptakan oleh kebodohan (moha) diri kita sendiri. Di 
dalam 
> > kitab suci Digha Nikaya III : 230 dan 276, Samyutta Nikaya V : 
59 
> > dan Vibhanga 374, disebutkan bahwa salah satu pencetus 
> terbentuknya 
> > penjara bathin ini adalah upadana (kemelekatan) diri kita akan 
> > keduniawian. Dan secara garis besarnya, upadana ini dapat dibagi 
> > atas 4 (empat) bagian besar, yang terdiri dari: 
> > 
> > 
> > Kamupadana : kemelekatan akan nafsu indera.
> > Menurut konsep Buddhis, setiap manusia memiliki 6 (enam) indera, 
> > yang terdiri dari : 
> > 
> > mata 
> > telinga 
> > hidung 
> > lidah 
> > jasmani(kulit) dan 
> > pikiran. 
> > 
> > Yang dimaksudkan dengan kamupadana adalah timbulnya kemelekatan 
> dan 
> > keinginan, untuk menguasai (memiliki) atau menghancurkan sesuatu 
> > dikala : 
> > 
> > melihat yang disukai atau tidak 
> > mendengar yang menyenangkan atau tidak 
> > mencium aroma yang wangi atau tidak 
> > mengecap yang enak atau tidak 
> > merasakan sentuhan yang lembut atau tidak 
> > berpikir yang indah atau tidak. 
> > 
> > Terjadinya kemelekatan setelah adanya kontak antara indera 
dengan 
> > objek-objek (sasaran- sasaran) yang tersentuh, itulah penjara. 
> > Seseorang yang begitu melekat dengan apa yang dia inginkan, 
> berhasil 
> > diraih atau tidak, suatu saat pasti akan menimbulkan derita. 
> > Mengapa…? Jika berhasil diraih, dia diharuskan mencurahkan 
> > perhatian, untuk merawat dan menjaganya. Dalam hal ini, apakah 
> semua 
> > kondisi yang terdiri dari perpaduan unsur-unsur, kekal 
> > keberadaannya…? Benda apapun yang berada di sekitar kita, cepat 
> > maupun lambat, apakah dikehendaki atau tidak, pasti akan 
mengalami 
> > proses kehancuran. Jika proses kehancuran ini sampai terjadi 
> > sedangkan diri kita begitu terlekat olehnya, apakah yang bakal 
> > terjadi…? Tiada lain adalah dukkha (derita). Begitu juga 
> sebaliknya, 
> > jika tidak berhasil mendapatkan, apa yang telah diidam-idamkan, 
> > derita lah yang dirasakan. Mengapa bisa demikian…? Karena 
> > kemelekatan yang demikian eratnya mencengkram bathinnya, akan 
> selalu 
> > menimbulkan kecewaan, kesedihan dan kefrustasian. Oleh karena 
itu, 
> > agar nafsu indera tidak berkesempatan membelenggu bathin ini, 
> > tebaslah setiap wujud (bentuk) dari kemelekatan. Bagaimana 
> caranya…? 
> > Caranya yaitu dengan menyadari sebaik-baiknya bahwa benda apapun 
> > yang terdapat di alam semesta ini, tidaklah kekal keberadaannya. 
> > Dapatpun belum tentu bahagia dan apalagi tidak dapat, logiskah 
> kita 
> > terlekat olehnya…? Di dalam sabda-Nya Sang Buddha 
> > menyabdakan : "Makhluk-makhluk yang terjerat pada keinginan, 
> meronta-
> > ronta seperti kelinci yang terperangkap oleh pemburu. Mereka 
yang 
> > terjerat dalam belenggu dan ikatan bathin, niscaya mengalami 
> > penderitaan berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama".
> >        Berdasarkan pada kesunyataan (kebenaran) ini, masih 
> logiskah 
> > kita terbelenggu oleh nikmatnya ikatan ikatan duniawi…?
> > 
> > 
> > 
> > Ditthupadana : kemelekatan akan pandangan salah.
> >        Pandangan salah dalam hal ini adalah tidak bisa menerima 
> atau 
> > mengerti, akan kebenaran kebenaran yang berlaku di alam semesta 
> ini.
> > Kebenaran kebenaran tersebut, misalnya adalah : 
> > 
> > setiap perbuatan, pasti akan menimbulkan akibat 
> > 
> > benda apapun yang terdapat di alam semesta ini, tidaklah kekal 
> > keberadaannya 
> > 
> > perbuatan baik akan menimbulkan kebahagiaan dan yang jahat akan 
> > menghasilkan penderitaan. 
> > 
> > 
> > Tidak sedikit dijumpai, yang hanya dikarenakan kesalahan 
pandangan 
> > hidup, seseorang enggan dan menolak, untuk mau berdana 
(beramal). 
> > Baginya, berdana itu adalah suatu perbuatan yang sia sia saja 
> serta 
> > mubazir. Dan jika sakit, bukannya segera ke dokter, eeeeh 
malahan 
> ke 
> > orang orang yang bisa kesurupan. Dikarenakan pandangan salahnya, 
> dia 
> > pun berkeyakinan bahwa orang orang yang bisa kesurupan adalah 
> orang 
> > orang yang hebat, pilihan dan suci. Apakah benar demikian…? 
> Didalam 
> > konsep Buddhis ditegaskan, bahwa seseorang yang mengalami 
> kesurupan 
> > atau tubuhnya bisa disusupi oleh makhluk makhluk dari alam 
halus, 
> > tidaklah terlepas karena sati (kesadaran) nya sangat lemah 
sekali. 
> > Sati (kesadaran) ini, istilah awamnya dikenal dengan sebutan roh 
> > atau arwah. Mengapa sati (kesadaran) ini bisa melemah…? 
Faktornya 
> > adalah :
> > 
> > kekuatan kebajikan yang dimiliki telah mulai berkurang, yang 
bisa 
> > saja dikarenakan tidak pernah berbuat baik atau suka melakukan 
> > perbuatan perbuatan jahat .
> > 
> > suka memakan atau meminum, sesuatu yang mana bisa menyebabkan 
> > hilangnya kesadaran/menimbulnya ketagihan (kecanduan), 
misalnya : 
> > jenis jenis obat penenang (morphin, ganja, ekstasi atau minuman 
> > minuman berkadar alkohol tinggi). 
> > 
> > 
> > Berdasarkan pada fakta kebenaran ini maka bagi seseorang yang 
> > tubuhnya, bisa disusupi oleh makhluk makhluk dari alam halus, 
> > tidaklah akan bisa meraih proses kesucian di kehidupan ini. 
> > Singkatnya, orang orang yang tubuhnya bisa disusupi oleh makhluk 
> > makhluk dari alam halus adalah jenis orang orang yang pantas 
> > dikasihani. Hingga saat ini, bagi anggota Sangha (persaudaraan 
> para 
> > bhikkhu/ni) yang "vinaya : peraturan peraturan yang 
> dipedomanin "nya 
> > terawat dengan baik, tidak akan ada peluang sedikitpun bagi 
> makhluk 
> > makhluk dari alam halus, untuk bisa (mampu) menyusupi tubuh 
> > (jasmani) mereka. Selanjutnya, pandangan salah yang cukup 
dominan 
> > kita dengar adalah "orang baik, pada umumnya lebih menderita 
dari 
> > pada orang jahat ".
> > Didalam kitab suci Anguttara Nikaya I : 227, Sang Buddha 
> > menyabdakan : "Sesuai dengan benih yang telah ditabur, 
demikianlah 
> > buah yang akan dipetiknya. Pembuat kebajikan akan mendapat 
> kebajikan 
> > (kebahagiaan) dan pembuat kejahatan akan memetik kejahatan 
> > (penderitaan) pula. Tertaburlah olehmu biji biji dan engkau pula 
> > yang akan merasakan buah buah dari padanya." Berdasarkan pada 
> sabda 
> > Sang Buddha ini, tidaklah mungkin perbuatan baik akan 
menimbulkan 
> > penderitaan, sedangkan perbuatan jahat mengakibatkan 
kebahagiaan. 
> > Kalau disaat berbuat jahat, seseorang kelihatannya berbahagia, 
> > semuanya bisa saja terjadi, tidaklah terlepas karena:
> > 
> > dia lagi menikmati hasil dari karma (perbuatan) baik, yg pernah 
> > diperbuat dimasa sebelumnya.
> > 
> > bisa saja luarnya kelihatan bahagia, tetapi dalamnya siapa 
tahu….? 
> > 
> > 
> > Sesuai dengan konsep hukum karma, apapun yg diperbuat maka 
itulah 
> > yang akan dipetik (diterima) hasilnya. Menanam jambu maka 
jambulah 
> > yg akan dipanen, dan tidaklah mungkin menghasilkan kelapa. Dan 
> > siapapun yg menyemai kejahatan, pasti akan dicengkram oleh 
> > kekecewaan, ketakutan dan kecemasan. Mungkinkah kondisi kondisi 
> ini 
> > menimbulkan kebahagiaan…….? Selanjutnya, di dalam agama Buddha 
> > ditegaskan pula bahwa kebahagiaan itu, bukan hanya bisa 
dinikmati 
> di 
> > alam manusia tetapi juga di alam Dewa, Brahma atau Nibbana 
> > (Nirvana). Setiap makhluk yang terlahirkan (berada) di salah 
satu 
> > dari 31 alam kehidupan adalah disesuaikan dengan kekuatan dari 
> karma 
> > (perbuatan) yang dimiliki. Kalau kwantitas (jumlah) karma 
> > (perbuatan) nya, tidak sesuai lagi di alam manusia, apakah di 
> > inginkan atau tidak, maka dia diharuskan pindah ke alam lain, 
yang 
> > disesuaikan dengan kekuatan dari karma (perbuatan) yg dimiliki. 
> > Ibarat memiliki uang yang jumlahnya hanya 50 juta maka rumah 
yang 
> > didiami, bentuknya adalah sederhana. Tetapi jika suatu saat, 
> uangnya 
> > telah mencapai ratusan juta maka dikondisi ini, akan membuat 
> dirinya 
> > mencari rumah yang jauh lebih indah dan mewah, dari yang 
> sebelumnya. 
> > Jadi bisa disimpulkan, bahwa kematian di usia yang dini dikala 
> > berbuat baik, akan membuka peluang bagi diri seseorang, untuk 
> > terlahirkan di alam yang lebih baik, dibandingkan yang 
sebelumnya. 
> > Didalam sabdaNya, Sang Buddha menyabdakan bahwa lebih baik hidup 
> > sehari, yang dipenuhi dengan kebajikan, daripada hidup ratusan 
> tahun 
> > lamanya, yang dicengkram oleh kejahatan. Hidup yang senantiasa 
> > dipenuhi oleh kejahatan, akan menjerumuskan diri seseorang ke 
> > lautan " samsara : kelahiran dan kematian", yang tiada 
> > akhirnya. "Selama perbuatan jahat belum menghasilkan buah, orang 
> > sesat menganggapnya manis seperti madu. Tatkala perbuatan itu 
> > menghasilkan buah, ia niscaya mengalami penderitaan" Bala Vagga 
> V : 
> > 69. Jadi, berdasarkan pada fakta kebenaran ini, perbuatlah 
> kebajikan 
> > sedini mungkin dan yakinilah dengan sebaik baiknya, bahwa 
kematian 
> > itu bukanlah suatu hal yang menakutkan atau merupakan jalur yang 
> > akan menuntun kita, untuk terlahirkan di alam derita.
> > 
> > 
> > 
> > Silabbatupadana : kemelekatan akan upacara upacara.
> >        Yang dimaksud dengan silabbatupadana adalah suatu 
pandangan 
> > salah, yang meyakini bahwa dengan hanya memberikan (meletakkan) 
> > persembahan persembahan (sajian sajian), di altar suci Para 
> Buddha, 
> > Bodhisattva dan Dewa, akan bisa mendapatkan pahala pahala atau 
> > berkahan berkahan. Dan yang lebih fatal lagi adalah 
> mempersembahkan 
> > daging dagingan (sebagai hasil dari pengorbanan makhluk hidup) 
di 
> > altar suci Para Buddha, Bodhisattva dan Dewa. Apakah hal ini 
> pantas 
> > atau logis dilakukan…? Di dalam kitab suci ditegaskan bahwa 
salah 
> > satu syarat utama, agar kita bisa terlahirkan /mendiami 
> > alam "suggati : bahagia " adalah dengan mengembangkan "metta : 
> cinta 
> > kasih universal ", yang mengharamkan segala bentuk kebrutalan, 
> > kekejaman, kesadisan dan pembunuhan. Tanpa adanya pengembangan 
> cinta 
> > kasih yang sifatnya universal, maka alam "suggati : bahagia ", 
> > tidaklah mungkin bisa dicapai atau kesucian akan jauh 
> keberadaannya. 
> > Cara yang terbijaksana menghaturkan persembahan persembahan di 
> altar 
> > suci Para Buddha, Bodhisattva dan Dewa adalah dalam bentuk sayur 
> > sayuran atau buah buahan. Logikanya, jika persembahan daging 
> > dagingan rutin dihaturkan maka yang namanya makhluk makhluk 
suci, 
> > akan segera kabur dari tempat tersebut dan tidaklah mungkin 
> sanggup 
> > bertahan untuk jangka waktu yang lama, ditempat itu lagi. Dan 
> tidak 
> > tertutup kemungkinan, tempat tersebut akan dipenuhi (diisi) oleh 
> > makhluk makhluk, yang kesadarannya jauh lebih rendah daripada 
> > manusia. Makhluk makhluk yang kesadarannya di bawah alam manusia 
> > adalah peta (setan), asura (raksasa/jin), niraya (neraka) dan 
> > tiracchana (hewan). Sedangkan makhluk makhluk yang kesadarannya, 
> di 
> > atas alam manusia (makhluk makhluk suci) adalah para Buddha, 
> Arahat, 
> > Bodhisattva, Brahma dan Dewa. Jadi, persembahan persembahan 
> (sajian 
> > sajian) dalam bentuk apapun (daging dagingan, sayur sayuran atau 
> > buah buahan), yang diiringi dengan sejumlah pengharapan 
> pengharapan, 
> > mis : ingin mendapatkan kekayaan, jodoh, kekuasaaan atau 
kesucian 
> > adalah merupakan pandangan yang salah. Semuanya itu adalah wujud 
> > dari pengharapan yang sia sia saja. Didalam agama Buddha, 
terdapat 
> 4 
> > (empat) jenis persembahan wajib, yang selalu dihaturkan, di 
altar 
> > suci Para Buddha, Bodhisattva dan Dewa. Ke empat persembahan 
wajib 
> > tersebut adalah:
> > 
> > air yang melambangkan kerendahan hati atau kesucian 
> > (menyucikan "kilesa kilesa : kekotoran kekotoran batin " dari 
> > kegelapan ke jalur yang terang)
> > 
> > lilin yang melambangkan penerangan 
> > bunga yang melambangkan ketidak-kekalan dan 
> > dupa yang melambangkan harumnya kebajikan yang diperbuat. 
> > Dari ke empat persembahan wajib yang tertera di atas, tidak 
> satupun 
> > yang bermakna atau mengandung unsur meminta (bagaikan pengemis) 
> atau 
> > mendambakan hal hal yang diluar dari kelogikaan. Makna 
> sesungguhnya 
> > dari persembahan, yang dihaturkan di altar suci Para Buddha, 
> > Bodhisattva dan Dewa adalah untuk mengikis kesombongan diri, 
> dengan 
> > menyadari bahwa segala sesuatunya, tidaklah kekal keberadaannya. 
> > Oleh karena itu, tidak ada satu kelebihan pun, yang pantas 
> > disombongkan ! Disamping itu, jadilah pelita di dalam kehidupan 
> ini, 
> > yang mana bisa menuntun atau menerangi siapapun juga, agar 
> terbebas 
> > dari aneka bentuk kejahatan, melalui banyaknya kebajikan yang 
> > diperbuat. Persembahan (sajian) apapun yang dihaturkan, di altar 
> > suci Para Buddha, Bodhisattva dan Dewa, yang perlu direnungkan 
> > adalah 
> > 
> > janganlah dari hasil pembunuhan 
> > janganlah sampai terdapat unsur barternya. Misalnya dengan 
> > mengutarakan " "JIKA PERMINTAANKU TERKABULKAN MAKA AKAN KUPERSEM-
> BAH-
> > KAN, YANG LEBIH LUAR BIASA LAGI !", ini adalah salah satu contoh 
> > dari ungkapan (janji) yang sangat salah, yang tidak sesuai 
dengan 
> > konsep Buddhis ! 
> > 
> > jadikanlah persembahan tersebut, hanya sebagai wujud rasa terima 
> > kasih (katannukatavedi) dan mengurangi ke EGOIS an serta 
> > meningkatkan tekad untuk menimbun kebajikan sedini mungkin.
> > 
> > "Orang tersucikan, bukanlah karena kelahiran (keturunan) atau 
> harta 
> > benda, melainkan perbuatan, pengetahuan, dharma (kebenaran), 
> > kesilaan (moral yang baik) dan penghidupan yang luhur ," 
Samyutta 
> > Nikaya, Sagathavagga 147.
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Attavadupadana : kemelekatan akan ke egois an 
> >        ""Semakin banyak yang diketahui maka akan semakin banyak 
> > pula, yang tidak diketahui ". Dari pribahasa yang singkat ini, 
> bisa 
> > ditarik suatu kesimpulan bahwa, tidak ada seorangpun yang serba 
> tahu 
> > atau sempurna, di dalam kehidupan ini. Dan berdasarkan pada 
> > kebenaran ini, pantaskah kita melekat dengan ke EGOIS an diri…? 
> > Terlahir kaya, pintar, berkuasa, sehat dan lain sebagainya, 
> > pantaskah dilekati atau disombongkan…? Tanpa adanya dukungan 
atau 
> > timbunan karma (perbuatan) baik, yang telah disemai di kehidupan 
> > kehidupan sebelumnya, tidaklah mungkin kita bisa menikmati 
> kelebihan 
> > kelebihan disaat ini. Mengapa ke EGOIS an bisa timbul….? Ke 
EGOIS 
> an 
> > bisa timbul, umumnya karena adanya kebanggaan yang berlebihan 
atas 
> > kelebihan kelebihan yang telah dimiliki, misalnya terlahir kaya, 
> > pintar, cantik dan berkuasa. Menyombongkan kelebihan kelebihan 
> yang 
> > telah dimiliki, cepat maupun lambat, akan menuntun seseorang ke 
> > liang derita.
> >        Fakta telah membuktikan bahwa orang yang ke EGOIS an 
sangat 
> > menonjol, akan mudah sekali mengalami frustasi, kecewa dan patah 
> > semangat. Kalau kaya, dia hanya akan memanfaatkan kekayaannya, 
> untuk 
> > melampiaskan kepuasan dirinya semata mata. Dan dengan 
> kepintarannya, 
> > dia selalu memperdaya pihak lain. Kerupawanan yang dimiliki, 
hanya 
> > dimanfaatkannya untuk menghancurkan pihak lain dan jika 
berkuasa, 
> > otoriternya luar biasa, siapa yang menentang maka akan langsung 
> > disingkirkan. Di akhirnya, apakah yang akan terjadi….? Tiada 
lain 
> > yang akan dia rasakan, selain dari pada penderitaan. Jadi, 
> > attavadupadana dalam kondisi dan keadaan yang bagaimanapun juga, 
> > tidaklah akan memberikan dampak yang positif, disamping 
> menimbulkan 
> > penderitaan yang berlarut larut. Oleh karena itu, agar terbebas 
> dari 
> > kondisi yang tidak baik ini, sadarilah dengan sebaik baiknya 
bahwa 
> > kemelekatan akan apapun juga (termasuk diri sendiri) adalah 
> > derita. " Kamehilokamhi na hatthi titti : di dunia ini, tidak 
ada 
> > kepuasan dalam penikmatan nafsu inderawi ", Majjhima Nikaya, 
> > Majjhima pannasaka 451. 
> > 
> > 
> > Kesimpulam
> >        Setelah beragama Buddha sekian tahun lamanya dan belum 
juga 
> > merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, mengapakah kondisi ini 
> bisa 
> > terjadi….? Kondisi ini bisa terjadi, tidaklah terlepas karena 
> bathin 
> > kita masih terpenjara. Terpenjara dalam hal ini, maknanya adalah 
> > terbelenggu atau buta sama sekali, akan fakta fakta kebenaran. 
> Yang 
> > benar bisa saja dikatakan salah dan yang salah dikatakan benar. 
> > Bagaikan si buta yang jalannya meraba raba dan pasti cenderung 
> > melakukan kesalahan kesalahan, itulah gambaran yang 
sesungguhnya, 
> > bagi seseorang yang bathinnya terpenjara. Penjara bathin yang 
> > membuat diri kita menderita, pada umumnya adalah : 
> > 
> > 
> > Kamupadana : kemelekatan akan nafsu indera. 
> > Adanya keinginan untuk mau memiliki (menguasai) atau 
menghancurkan 
> > dikala melihat, mendengar, membaui, mengecap, merasa dan 
berpikir, 
> > itulah kemelekatan akan nafsu indera, yang pasti berdampak 
negatif 
> > (penderitaan). Tetapi jika kita bisa mengontrol diri agar indera 
> > kita, tidak sampai terlekat oleh objek objek (sasaran sasaran) 
> yang 
> > tersentuh, maka yang namanya "dukkha : derita", tidak akan 
> > berkesempatan lagi mendera bathin kita. 
> > 
> > Ditthupadana : kemelekatan akan pandangan salah.
> > Agar ditthupadana ini bisa dihindari, milikilah sedini mungkin 
> makna 
> > dari kebenaran, dengan mau mempelajari, menyelami dan 
mengamalkan 
> > dharma (kebenaran) di setiap derap langkah yang akan dilalui. 
Umat 
> > Buddha yang telah mengenal Buddha Dharma, tidak akan mencari hal 
> hal 
> > yang aneh jika sakit. Dia tidak akan mencari dukun atau orang 
yang 
> > bisa kesurupan, untuk menangani sakitnya. Pilihan utamanya, 
hanya 
> > kepada seorang dokter dan memakan obat yang telah diresepkan. 
Dan 
> > jika ingin berlindung maka perlindungannya, hanyalah kepada Sang 
> Tri 
> > Ratna (Sang Buddha, Dharma dan Sangha) serta para Bodhisattva 
> > Mahasattva lainnya. Dia tidak akan mencari perlindungan, yang 
> diluar 
> > dari kelogikaan, misalnya pada benda benda keramat, dukun dukun 
> atau 
> > orang orang yang katanya sakti, yang mana bisa kesurupan ini dan 
> itu.
> > 
> > Silabbatupadana : kemelakatan akan upacara-upacara. 
> > Agar terbebas dari kondisi yang salah ini, yakinilah terlebih 
> dahulu 
> > dengan sebaik-baiknya, bahwa persembahan persembahan (sajian-
> sajian) 
> > yang dihaturkan di hadapan altar suci Para Buddha, Bodhisatva 
dan 
> > Dewa, bukanlah untuk mendapatkan ini dan itu, di kemudian hari. 
Di 
> > samping itu, persembahan-persembahan yang diberikan, janganlah 
> > sampai terdapat unsur pembunuhan (mis. : daging-dagingan). 
> > Persembahan-persembahan yang sepantasnya dihaturkan dialtar suci 
> > Para Buddha, Bodhisattva dan Dewa adalah dupa (melambangkan 
> harumnya 
> > kebajikan), lilin (melambangkan penerangan ke jalur yang benar), 
> > bunga (melambangkan ketidak-kekalan), air (melambangkan 
kerendahan 
> > hati/kesucian), buah-buahan (melambangkan buah-buah karma 
> > (perbuatan) yang baik) dan lain sebagainya. Pada prinsipnya, 
> > persembahan-persembahan yang dihaturkan di altar suci Para 
Buddha, 
> > Bodhisattva dan Dewa adalah untuk memotivasi dan menyadarkan 
diri 
> > kita, agar senantiasa mau berbuat dan berlaku, yang baik-baik.
> > 
> > Attavadupadana : kemelekatan akan ke egois an.
> > Agar terbebas dari kondisi ini, sadarilah dengan sebaik-baiknya 
> > bahwa tiada suatu makhluk pun, yang belum mencapai kesucian, 
yang 
> > lahir sempurna di alam semesta ini dan juga tiada satupun 
> kelebihan 
> > kelebihan yang telah dimiliki, pantas dan logis disombongkan. 
> > Mengapa……? Semuanya tidaklah kekal keberadaannya dan suatu hari 
> > kelak, apakah diinginkan atau tidak, pasti (harus) ditinggalkan.
> > Semoga dengan terbebasnya diri kita dari penjara bathin ini, 
hidup 
> > yang terjalani penuh dengan hal-hal yang baik, bermanfaat bagi 
> diri 
> > sendiri dan makhluk lain. Sabbe satta sabba dukkha pamuccantu - 
> > sabbe satta bhavantu sukhitata : Semoga semua makhluk 
terbebaskan 
> > dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia….sadhu,
> ….sadhu,
> > ….sadhu,…… 
> > 
> > Salam
> > 
> > danardono
> > 
> > 
> > 
> > 
> > --- In [email protected], "antonhartomo" <antonhartomo@> 
> > wrote:
> > >
> > > dear all
> > > ada beberapa tanya, saya jawab :
> > > 
> > > saudara masyarakat HinduBali sebagaimana HinduJawa memang
> > > rayakan galungan kuningan nyepi dll, tetapi saudara yang
> > > Singaraja (juga sebagian Tangerang) merayakan DIPAVALI.
> > > 
> > > jangan hendaknya kita terjungkir tiupan sembilu eksklusif
> > > mikirnya minoritas-mayoritas belaka, karena semua adalah
> > > saudara kita sebangsa.
> > > viwa bhinneka tunggal ika, jangan biarkan provokasi eksklusif
> > > diskriminatif makin membabibuta
> > > 
> > > salam
> > > 
> > > 
> > > ---------------------------
> > > 
> > > yang muslim (idulfitri) yang hindu (divali)
> > > pada mudik, juga yang budhis dan kristiani
> > > rukun damai
> > > hahaha, salam bakdan riyayan lebaran
> > > oleh-oleh penganan tempo doeloe jang lupa borong
> > > 
> > > ---
> > >
> >
>





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke