Lydia kawanku yang hilang..... (7)
   
  Selama dalam pelajaran di kelas aku masih tetap duduk merunduk tidak 
memperhatikan guru yang sedang sibuk menerangkan mata pelajarannya. Tapi bukan 
berarti aku tidak mengikuti proses pelajarannya yang sedang di jelaskan di 
depan kelas. Setelah pelajaran di kelas selesai, waktu beristirahat pun tiba 
dan teman-teman sekelasku dengan segera meninggalkan ruang kelas. Sedangkan aku 
masih saja duduk merenung sambil memperhatikan para teman yang dengan cepatnya 
satu persatu meninggalkan ruang kelas. Sementara itu Debi yang duduk 
disebelahku masih saja belum beranjak dari kursinya.
“Keluar yuk!. “ Tanya Debi sambil menoleh kearahku “Tadi aku janjian sama 
temanku mau jalan-jalan ke Blok M. Karena dia baru nanti sore supirnya 
menjemput di rumahku”
“Yaaah..tapi hari ini Lydia engga masuk sekolah jadi pengen juga aku berkunjung 
kerumahnya.”
“Kenapa engga nanti sore saja setelah kita dari Blok M mampir kerumahnya.”  
Tanpa berpikir panjang lagi, langsung aku mengemas buku-buku dan memasukkannya 
ke dalam tas. Lalu aku dan Debi bergegas pergi keluar kelas dan langsung 
berlari cepat menuju pintu gerbang. Sementara itu teman akrabnya Debi sudah 
menunggu dan berdiri di muka pintu gerbang yang sedang terbuka. Lantas kami 
bertiga mengambil bus ke jurusan Blok M tapi selama dalam perjalanan menuju 
Blok M, teman akrabnya itu kelihatan tidak sahaja.  Aku pun tak mengerti kenapa 
dia menjadi pendiam bahkan raut wajahnya mulai kelihatan seperti takut dan 
menjijikan untuk duduk di dalam bus umum.  Memang setahuku dia belum pernah 
menjadi penumpang kendaraan umum. Dan kali ini kita bertiga naik bus umum juga 
merupakan yang pertama kali buatku. 
“Wah...mobil kau ini baunya hebat juga yah?” tanyanya sambil menoleh kearahku. 
Aku hanya terdiam sambil melirik kearahnya kemudian aku menoleh kearah Debi, 
yang kelihatannya merasa tidak enak mendengar celoteh sahabat karibnya. 
“ Aaah...kau jangan sombonglah. Mestinya kau harus bisa ikut merasakan 
orang-orang kecil ini yang hidupnya pas-pasan.” Jawab Debi kemudian yang 
langsung memperingati sikap kesombongan temannya itu.  Sebenarnya aku kenal 
juga teman akrabnya Debi itu, yang menurut ceritanya dia bersahabat sejak 
mereka sama-sama duduk di sekolah dasar. Lalu katanya, ketika itu temannya 
masih bermukim di daerah Tebet tapi karena kakak perempuannya sebagai salah 
satu penyanyi pop terkenal itu menjadi perempuan simpatan direktur Pertamina, 
sehingga kakaknya diberilah kado rumah di daerah Menteng. Dengan begitu teman 
akrabnya bersama Ibunya ikut serta bermukim bersama kakaknya. Pada awalnya aku 
dan Lydia diajak Debi untuk ikut serta mampir kerumah teman akrabnya itu. Tapi 
dikemudian hari akulah yang lebih sering diajak oleh Debi mampir kerumahnya 
yang di jalan Tanjung itu. Rumahnya memang kuanggap sangat mewah dan letaknya 
di pojokan antar jalan tanjung dan jalan Palem. Dan herannya, kalau kami
 sedang bermain dirumahnya selalu saja ku lihat Ibunya sedang menyibukan diri 
menghitung uang dan sesekali memanggil kakaknya untuk menanyakan tentang 
ini-itu. Kemudian, kupikir mungkin itulah pekerjaannya karena kakaknya memang 
waktu itu sering mendapat kontrak sebagai penyanyi. Juga kuketahui keluarganya 
itu suka sekali shopping ke Singapura. Dan kalau mereka kembali dari  pergi 
belanja selalu saja di hari seninnya kami pun mendapat jatah oleh-oleh kaos 
kaki model stoking yang berwarna warni atau kami diberi sapu tangan bagus yang 
warnanya macam-macam. Namun biar bagaimanapun juga aku tidak pernah merasa ada 
proses hubungan lebih akrab dengan temannya itu, biarpun pertemanan antara aku 
dan Debi menjadi semakin akrab pula. Tentu wajar-wajar saja kalau hubungan 
pertemanan antar aku dan Debi itu semakin akrab. Karena selain jarak antar 
rumahku dengan rumahnya Debi tidak berjauhan, juga orangtua Debi hanya di 
setiap weekend ada dirumah. Dengan begitu Debi merasa lebih bebas
 dan banyak meluangkan waktunya untuk menjalin pertemanan denganku.  
   
  Sesampainya kami di Blok M, banyak waktunya dipakai hanya buat keluar-masuk 
pertokoan. Karena memang tujuannya hanya buat jalan-jalan melihat etalase 
pajangan di toko-toko saja. Jadi aku hanya mengikuti arus interes tak 
menentunya para temanku itu sambil sekali-kali aku melemparkan senyum pahitku 
saja. Lain halnya dengan Debi yang kadang kala mengajakku pula naik bus untuk 
pergi ke Blok M karena buat membeli sesuatu yang dibutuhkannya, biarpun 
sebenarnya keikutsertaanku pergi ke Blok M hanyalah untuk mengantar saja. Namun 
suasana pengalaman perjalanan ku bersama Debi selalu kualami sahaja dan tidak 
menjemukan.  Kali ini acara masuk-keluar pertokoan berlangsung sudah hampir 
menghabiskan waktu dua jam tapi kali ini pikiranku hanyalah tertuju pada 
temanku Lydia yang tidak masuk sekolah. Terkadang muncul pula dalam bayanganku, 
yang datang mengganggu alam pemikiranku. Entah kenapa ada kekhawatiran dan rasa 
takutku untuk kehilangan dia, yang mungkin dia tak sudi lagi berteman
 denganku. Namun aku berusaha menetralisir alam pemikiranku kembali bahwa apa 
pun yang akan terjadi dengan sikap kawanku itu, tentunya akan tetap kuhadapi 
dengan ketabahan dan ketegaranku. Apalagi ini adalah merupakan salah satu dari 
kenyataan hidup keseharianku dalam lingkungan pergaulanku di sekolah. Aku harus 
pula belajar menerima seadaanya aku sekarang ini, yang nyatanya tidak setiap 
orang akan merasa nyaman untuk menjalin proses perkawanan dengan orang 
semacamku ini, yang tak tahu asal-usulnya juga tak tahu pula apa pekerjaan 
orang tuanya. Mungkin memang ada yang sudah bisa menerimanya bilamana diketahui 
bahwa misalnya anak itu adalah anak yatim-piatu. Tapi toh tetap saja setiap 
orang ingin tahu kenapa anak itu menjadi anak yatim-piatu? Dan, aku pun baru 
mengerti bahwa pandangan masyarakat lingkungan terdekat begitu berpengaruh kuat 
dalam menilai hidup seseorang.  Biarpun sebenarnya aku tak pernah peduli dengan 
segala penilaian masyarakat lingkunganku. Buatku yang
 terpenting adalah selalu berbuat baik dan jujur pada sesama umat manusia,  
juga yang terpenting aku musti pandai-pandai menjaga dan melindungi diri 
sendiri. Bahkan ku coba tetap pada pendirianku sendiri dalam memilih dan 
menempuh jalan hidupku yang memang sudah kuanggap baik dan cocok serta berguna 
buat diriku dan keluargaku.  

  Bersambung....
   
  MiRa
  Amsterdam, 26 Oktober 2006
   


Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 






                
---------------------------------
Why keep checking for Mail? The all-new Yahoo! Mail shows you when there are 
new messages.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke