Maap ya Mbak Lina... Tadinya mau aku tulis buat Mbak Lina di PPIINDIA, tapi keburu kekirim
Ojo nesu lho...mundak dosa...:)) rd --- In [email protected], "Lina Dahlan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > RD ini memang aneh. Keanehan RD ini juga disadari oleh seorang teman > di milis lain. Masalahnya, pak Batara ini bukan member di milis ini > namun RD ini bertanya kepada pak Batara di milis ini? > > Maksudnya apa? > > Tentang penyebaran agama langit di pelosok dunia, sudah pernah ramai > didiskusikan disini. > > Saya cuma ingin mengutarakan pendapat saya setelah membaca tulisan > pak Batara adalah politik/penjajahan itu bisa dan sah-sah saja > memakai alasan agama, ekonomi, budaya, etc sebagai alasan. Dalam > kultur budaya Batak ini, sangat kental dengan perpecahan/perebuatan > kekuasaan antara suku/ras. Dan ini dimanfaatkan oleh orang yang > berpolitik. Dalam politik sudah jelas aturan mainnya: teman/sekutu > itu adalah yang mempunyai tujuan yang sama. Semisal Kaum Penghulu > (pemimpin adat) akhirnya bersekutu dengan penjajah Belanda karena > mempunyai tujuan yang sama untuk memerangi Kaum Paderi. > > Ada orang Minang yang menulis demikian (sebagai perbandingan) > > http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg00437.html > > wassalam, > > --- In [email protected], radityo djadjoeri <radityo_dj@> > wrote: > > > > Terima kasih, Pak Batara, kisahnya amat menarik, walau cuma > singkat saja. > > Bagaimana ya cara mendapatkan buku itu? Saya coba ke Gramedia > tidak ada. > > Harapan saya, semoga kisah ini dapat ditambahkan dalam > perjalanan sejarah Indonesia. > > > > Intinya, penyebaran agama langit (samawi) - baik itu Islam > maupun > > Kristen (Katholik/Protestan) - di Nusantara dan di manapun di > pelbagai > > pelosok dunia sebenarnya tidak berjalan dengan damai, tetapi penuh > > pertumpahan darah dan jalan kekerasan. Dan itu terjadi di semua > wilayah. Dengan memahami kisah sejarah yang sebenar-benarnya, tanpa > ditutup-tutupi, semoga kita > > semua bisa lebih arif dalam meniti perjalanan di masa depan. > > > > Juga perlu sedikit untuk memperjelas, ketiga haji yang > mengislamkan > > wilayah Minangkabau sebelumnya beraliran Hanafi karena mereka ikut > > pasukan Turki yang menduduki Makah. Kemudian ketiga haji tersebut > > diindoktrinasi aliran Wahabi, lalu melanjutkan perjuangannya untuk > > mengislamkan Sumatra Barat. Akan lebih menarik apabila ada kisah > semasa > > Sumatra menganut Hindu. Sepertinya peninggalan Hindu/Budha di > Sumatra > > sudah musnah tak bersisa ya? > > > > Biar lebih lengkap, kalau bisa ditambahkan riset pustaka di > Belanda. Mungkin rekan-rekan kita seperti Oom Danny Lim, Mang Ucup, > Ida Khouw, teman-teman di Ranisi, dan lainnya yang mukim di Belanda > bisa membantu. Soalnya kalau saya baca di catatan kaki, pak > Parlindungan Siregar hanya akan meminta T.B. Simatupang, Ali > Budiarjo, SH dan dr. Wiliater Hutagalung untuk memberi masukan- > masukan dan koreksi terhadap naskah buku tersebut. Relevansinya apa > ya pak sederet tokoh-tokoh tersebut dengan sejarah pengislaman di > Minangkabau dan pengislaman/pengkristenan di Tanah Batak (Sumut)? > > > > Juga ingin saya tambahkan, jauh sebelum masuknya aliran Hambali > di > > Minangkabau, pada 1128 telah menyebar aliran Syi'ah yang menjalar > dari > > Aceh. Jadi sekira 700 tahun sebelum terjadi Perang Paderi. Pada > waktu > > itu, laksamana Nazimudin Al-Kamil mengadakan gerakan militer dari > pantai Aceh ke sungai Kampar Kanan dan Kiri, untuk menguasai hasil > lada di daerah tersebut. Nazimudin gugur saat ekspedisi pada 1128. > Daerah sungai Kampar dikuasai oleh pedagang-pedagang asing yang > menganut aliran Syi'ah, dan disokong oleh dinasti Fathimiah di > Mesir. Mereka ingin memonopoli hasil lada. Hasil lada itu diangkut > ke bandar Perlak, terus dibawa ke pasaran Gujarat. > > > > Pada 1513, Tuanku Burhanudin Syah di Pariaman yang dikuasai > Aceh, mulai > > mengislamkan daerah Minangkabau secara intensif. Burhanudin adalah > putra > > sultan Syamsul Syah dari Mahkota Alam, yang ikut mendirikan > kesultanan > > Aceh. Para tokoh setempat dididik menjadi ulama yang kemudian akan > > menyebarkan ajaran Syi'ah di antara penduduk Minangkabau. Para > pengajar > > didatangkan dari Kambayat, Gujarat. Pengawasan terhadap pendidikan > ulama > > di Pariaman, sampai 1697, dilakukan oleh Tuanku Burhanudin Syah > turun > > temurun. Sementara sebagian tidak senang dengan pengislaman yang > dilakukan > > Tuanku Burhanudin Syah. > > > > Pada 1803, tiga tokoh beraliran Wahabi bermazhab Hambali, Haji > Piobang, > > Haji Sumanik, dan Haji Miskin, membentuk gerakan pembersihan > agama. > > Gerakan mereka disponsori oleh Abdullah ibn Saud di Riyadh. > Sebagai catatan, > > ketiga haji tersebut pernah menjadi tentara di Turki. Timbullah > ketegangan > > antara golongan kaum adat, penganut aliran Syi'ah dan para > pengikut > > gerakan Wahabi. Akhirnya mereka berhasil membasmi kaum Hindu dan > > kaum Syi'ah di Minangkabau, nyaris tak tersisa. Di Irak, pada 1801, > > gerakan Wahabi juga sibuk memberantas kaum Syi'ah, dan berhasil > > merebut Karbala. Masjid-masjid Syi'ah dan makam-makam keturunan > Hasan > > Husein, cucu Nabi Muhammad, dibumihanguskan. Pada 1802, tentara > Wahabi > > di bawah pimpinan Abdullah ibn Saud, putra Abdul Aziz ib Saud, > berhasil > > merebut kota Makah dan Madinah, serta mengusir tentara Turki dari > > jazirah Arab. Karena pembebasan kota Makah dan Madinah dari > kekuasaan > > Turki yang beraliran Hanafi itu, maka gerakan Wahabi menjadi > terkenal > > di dunia internasional. > > > > Ketiga haji asal Minangkabau yang ikut dalam pasukan Turki yang > menduduki > > Makah dan Madinah, ditangkap kelompok Wahabi. Karena mereka adalah > orang > > asing, bukan orang Turki, mereka tidak dibunuh. Ketiga orang > tersebut > > segera diindoktrinasi dalam gerakan Wahabi, lalu melepas aliran > Hanafi-nya. > > Sekembalinya dari Makah pada 1803, mereka membentuk gerakan Wahabi > di Minangkabau. > > > > Timbullah ketegangan antara golongan kaum adat, penganut Hindu, > penganut aliran > > Syi'ah dan para pengikut gerakan Wahabi. Puncaknya, meletuslah > Perang Padri. > > Akhirnya mereka berhasil membasmi kaum adat, umat Hindu, dan > pengikut > > aliran Syi'ah di Minangkabau, nyaris tak tersisa. > > > > salam, > > > > RD > > > > _________________________________________________________________ > > > > Tuanku Rao: Teror Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak > > oleh: Batara R. Hutagalung > > > > Perang Paderi (Ada yang berpendapat kata ini berasal dari Pidari > di > > Sumatera Barat, dan ada yang berpendapat kata Paderi berasal dari > > kata Padre, bahasa Portugis, yang artinya pendeta, dalam hal ini > > adalah ulama) di Sumatera Barat berawal dari pertentangan antara > > kaum adat dengan kaum ulama. Sebagaimana seluruh wilayah di Asia > > Tenggara lainnya, sebelum masuknya agama Islam, agama yang dianut > > masyarakat di Sumatera Barat juga agama Buddha dan Hindu. Sisa- > sisa > > budaya Hindu yang masih ada misalnya sistem matrilineal (garis > ibu), > > yang mirip dengan yang terdapat di India hingga sekarang. Masuknya > > agama Islam ke Sumatera Utara dan Timur, juga awalnya dibawa oleh > > pedagang-pedagang dari Gujarat dan Cina. > > > > Setelah kembalinya beberapa tokoh Islam dari Mazhab Hambali yang > > ingin menerapkan alirannya di Sumatera Barat, timbul pertentangan > > antara kaum adat dan kaum ulama, yang bereskalasi kepada konflik > > bersenjata. Karena tidak kuat melawan kaum ulama (Paderi), kaum > adat > > meminta bantuan Belanda, yang tentu disambut dengan gembira. Maka > > pecahlah Perang Paderi yang berlangsung dari tahun 1816 sampai > 1833. > > > > Selama berlangsungnya Perang Paderi, pasukan kaum Paderi bukan > hanya > > berperang melawan kaum adat dan Belanda, melainkan juga menyerang > > Tanah Batak Selatan, Mandailing, tahun 1816 - 1820 dan kemudian > > mengIslamkan Tanah Batak selatan dengan kekerasan senjata, bahkan > di > > beberapa tempat dengan tindakan yang sangat kejam. > > > > Sebelum masuknya agama Islam dan Kristen ke Tanah Batak, selain > agama > > asli Batak yaitu Parmalim, seperti di hampir di seluruh Nusantara, > agama yang berkembang di Sumatera Utara adalah agama Hindu dan > Buddha. Sedangkan di Sumatera Barat pada abad 14 berkembang aliran > Tantra Çaivite (Shaivite) Mahayana dari agama Buddha, dan hingga > tahun 1581 Kerajaan Pagarruyung di Minangkabau masih beragama Hindu. > > > > Agama Islam yang masuk ke Mandailing dinamakan oleh penduduk > setempat > > sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol) karena para penyerbunya datang > > dari Bonjol. Seperti juga di Jawa Timur dan Banten rakyat setempat > > yang tidak mau masuk Islam, menyingkir ke utara dan bahkan akibat > > agresi kaum Paderi dari Bonjol, tak sedikit yang melarikan diri > > sampai Malaya. > > > > Penyerbuan Islam ke Mandailing berawal dari dendam keturunan > marga > > Siregar terhadap dinasti Singamangaraja dan seorang anak hasil > > incest (hubungan seksual dalam satu keluarga) dari keluarga > > Singamangaraja X. > > > > Ketika bermukim di daerah Muara, di Danau Toba, Marga Siregar > sering > > melakukan tindakan yang tidak disenangi oleh marga-marga lain, > > sehingga konflik bersenjatapun tidak dapat dihindari. Raja Oloan > Sorba > > Dibanua, kakek moyang dari Dinasti Singamangaraja, memimpin > penyerbuan > > terhadap pemukiman Marga Siregar di Muara. Setelah melihat > kekuatan > > penyerbu yang jauh lebih besar, untuk menyelamatkan anak buah dan > > keluarganya, peminpin marga Siregar, Raja Porhas Siregar meminta > Raja > > Oloan Sorba Dibanua untuk melakukan perang tanding -satu lawan > satu- > > sesuai tradisi Batak. Menurut tradisi perang tanding Batak, rakyat > > yang pemimpinnya mati dalam pertarungan satu lawan satu tersebut, > > harus diperlakukan dengan hormat dan tidak dirampas harta bendanya > > serta dikawal menuju tempat yang mereka inginkan. > > > > Dalam perang tanding itu, Raja Porhas Siregar kalah dan tewas di > > tangan Raja Oloan Sorba Dibanua. Anak buah Raja Porhas ternyata > tidak > > diperlakukan seperti tradisi perang tanding, melainkan diburu oleh > > anak buah Raja Oloan sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke > > tebing-tebing yang tinggi di belakang Muara, meningggalkan > keluarga > > dan harta benda. Mereka kemudian bermukim di dataran tinggi > Humbang. > > Pemimpin Marga Siregar yang baru, Togar Natigor Siregar > mengucapkan > > sumpah, yang diikuti oleh seluruh Marga Siregar yang mengikat > untuk > > semua keturunan mereka, yaitu: Kembali ke Muara untuk membunuh > Raja > > Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya. > > > > Dendam ini baru terbalas setelah 26 generasi, tepatnya tahun > 1819, > > ketika Jatengger Siregar yang datang bersama pasukan Paderi, di > > bawah pimpinan Pongkinangolngolan (Tuanku Rao)- memenggal kepala > > Singamangaraja X, keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, dalam > penyerbuan > > ke Bakkara, ibu kota Dinasti Singamangaraja. > > > > Ibu dari Pongkinangolngolan adalah Gana Sinambela, putri dari > > Singamangaraja IX sedangkan ayahnya adalah Pangeran Gindoporang > > Sinambela adik dari Singamangaraja IX. Gindoporang dan > Singamangaraja > > IX adalah putra-putra Singamangaraja VIII. Dengan demikian, > > Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Putri > Gana > > Sinambela dengan Pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela. > > Gana Sinambela sendiri adalah kakak dari Singamangaraja X. > Walaupun > > terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat > mengasihi > > dan memanjakan keponakannya. Untuk memberikan nama marga, tidak > > mungkin diberikan marga Sinambela, karena ibunya bermarga > Sinambela. > > Namun nama marga sangat penting bagi orang Batak, sehingga > > Singamangaraja X mencari jalan keluar untuk masalah ini. > > > > Singamangaraja X mempunyai adik perempuan lain, Putri Sere > Sinambela, > > yang menikah dengan Jongga Simorangkir, seorang hulubalang. Dalam > > suatu upacara adat, secara pro forma Pongkinangolngolan "dijual" > > kepada Jongga Simorangkir, dan Pongkinangolngolan kini bermarga > > Simorangkir. > > > > Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh 3 orang Datu > > (tokoh spiritual) yang dipimpin oleh Datu Amantagor Manurung. > Mereka > > meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh > > pamannya, Singamangaraja X. Oleh karena itu, Pongkinangolngolan > harus > > dibunuh. > > > > Sesuai hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman > mati > > atas keponakan yang disayanginya. Namun dia memutuskan, bahwa > > Pongkinangolngolan tidak dipancung kepalanya, melainkan akan > > ditenggelamkan di Danau Toba. Dia diikat pada sebatang kayu dan > > badannya dibebani dengan batu-batu supaya tenggelam. > > > > Di tepi Danau Toba, Singamangaraja X pura-pura melakukan > pemeriksaan > > terakhir, namun dengan menggunakan keris pusaka Gajah Dompak ia > > melonggarkan tali yang mengikat Pongkinangolngolan, sambil > menyelipkan > > satu kantong kulit berisi mata uang perak ke balik pakaian > > Pongkinangolngola. Perbuatan ini tidak diketahui oleh para Datu, > > karena selain tertutup tubuhnya, juga tertutup tubuh Putri Gana > > Sinambela yang memeluk dan menangisi putra kesayangannya. > > Tubuh Pongkonangolngolan yang terikat kayu dibawa dengan rakit > ke > > tengah Danau dan kemudian di buang ke air. Setelah berhasil > melepaskan > > batu-batu dari tubuhnya, dengan berpegangan pada kayu > > Pongkinangolngolan berhasil mencapai sungai Asahan, di mana > kemudian > > di dekat Narumonda, ia ditolong oleh seorang nelayan, Lintong > > Marpaung. > > > > Setelah bertahun-tahun berada di daerah Angkola dan Sipirok, > > Pongkinangolngolan memutuskan untuk pergi ke Minangkabau, karena > > selalu kuatir suatu hari akan dikenali sebagai orang yang telah > > dijatuhi hukuman mati oleh Raja Batak. > > > > Di Minangkabau ia mula-mula bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo > > sebagai perawat kuda. Pada waktu itu, tiga orang tokoh Islam > Mazhab > > Hambali, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik baru > kembali > > dari Mekkah dan sedang melakukan penyebaran Mazhab Hambali di > > Minangkabau, yang menganut aliran Syi'ah. Haji Piobang dan Haji > > Sumanik pernah menjadi pewira di pasukan kavaleri Janitsar Turki. > > Gerakan mereka mendapat dukungan dari Tuanku Nan Renceh, yang > > mempersiapkan tentara untuk melaksanakan gerakan Mazhab Hambali, > > termasuk rencana untuk mengislamkan Mandailing. > > > > Tuanku Nan Renceh yang adalah seorang teman Datuk Bandaharo > Ganggo, > > mendengar mengenai nasib dan silsilah dari Pongkinangolngolan. Ia > > memperhitungkan, bahwa Pongkinangolngolan yang adalah keponakan > > Singamangaraja X dan sebagai cucu di dalam garis laki-laki dari > > Singamangaraja VIII, tentu sangat baik untuk digunakan dalam > rencana > > merebut dan mengIslamkan Tanah Batak. Oleh karena itu, ia meminta > > kawannya, Datuk Bandaharo agar menyerahkan Pongkinangolngolan > > kepadanya untuk dididik olehnya. > > > > Pada 9 Rabiu'ulawal 1219 H (tahun 1804 M), dengan syarat-syarat > > Khitanan dan Syahadat, Pongkinangolngolan diislamkan dan diberi > nama > > Umar Katab oleh Tuanku Nan Renceh. Nama tersebut diambil dari nama > > seorang Panglima Tentara Islam, Umar Chattab. Namun terselip juga > asal > > usul Umar Katab, karena bila dibaca dari belakang, maka akan > terbaca: > > Batak! > > > > Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan > > keluarga Kerajaan Pagarruyung di Suroaso, yang menolak aliran baru > > tersebut. Hampir seluruh keluarga Raja Pagarruyung dipenggal > > kepalanya oleh pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Lelo, yang nama > > asalnya adalah Idris Nasution. Hanya beberapa orang saja yang > dapat > > menyelamatkan diri, di antaranya adalah Yang Dipertuan Arifin > Muning > > Alamsyah yang melarikan diri ke Kuantan dan kemudian meminta > bantuan > > Belanda. Juga putrinya, Puan Gadis dapat menyelamatkan diri, dan > pada > > tahun 1871 menceriterakan kisahnya kepada Willem Iskandar. > > > > Umar Katab alias Pongkinangolngolan Sinambela kembali dari > Mekkah dan > > Syria tahun 1815, di mana ia sempat mengikuti pendidikan > kemiliteran > > pada pasukan kavaleri janitsar Turki. Oleh Tuanku Nan Renceh ia > > diangkat menjadi perwira tentara Paderi dan diberi gelar Tuanku > Rao. > > Ternyata Tuanku Nan Renceh menjalankan politik divide et impera > > seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang > Tanah > > Batak. > > > > Penyerbuan ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadhan 1231 H > > (tahun 1816 M), dengan penyerbuan terhadap benteng Muarasipongi > yang > > dipertahankan oleh Marga Lubis. 5.000 orang dari pasukan berkuda > > ditambah 6.000 infanteri meluluhlantakkan benteng Muarasipongi, > dan > > seluruh penduduknya dibantai tanpa menyisakan seorangpun. > Kekejaman > > ini sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk menebarkan teror > dan > > rasa takut agar memudahkan penaklukkan. Setelah itu, satu persatu > > wilayah Mandailing ditaklukkan oleh pasukan Paderi, yang dipimpin > > oleh Tuanku Rao dan Tuanku Lelo, yang adalah putra-putra Batak > > sendiri. Selain kedua nama ini, ada sejumlah orang Batak yang > telah > > masuk Islam, ikut pasukan Paderi menyerang Tanak Batak, yaitu > Tuanku > > Tambusai (Harahap), Tuanku Sorik Marapin (Nasution), Tuanku > > Mandailing (Lubis), Tuanku Asahan (Mansur Marpaung), Tuanku > > Kotapinang (Alamsyah Dasopang), Tuanku Daulat (Harahap), Tuanku > > Patuan Soripada (Siregar), Tuanku Saman (Hutagalung), Tuanku Ali > > Sakti (Jatengger Siregar), Tuanku Junjungan (Tahir Daulay) dan > Tuanku > > Marajo (Harahap). > > > > Penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara, > dilaksanakan > > tahun 1819. Orang-orang Siregar Salak dari Sipirok dipimpin oleh > > Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang, guna memenuhi > sumpah > > Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja > Oloan > > Sorba Dibanua, yaitu Singamangaraja X. Jatengger Siregar menantang > > Singamangaraja untuk melakukan perang tanding. Walaupun sudah > berusia > > lanjut, namun Singamangaraja tak gentar dan menerima tantangan > > Jatengger Siregar yang masih muda. Duel dilakukan dengan > menggunakan > > pedang di atas kuda. > > > > Duel yang tak seimbang berlangsung tak lama. Singamangaraja kalah > dan > > kepalanya dipenggal oleh pedang Jatengger Siregar. Terpenuhi sudah > > dendam yang tersimpan selama 26 generasi. Kepala Singamangaraja X > > ditusukkan ke ujung satu tombak dan ditancapkan ke tanah. Orang- > orang > > marga Siregar masih belum puas dan menantang putra-putra > > Singamangaraja X untuk perang tanding. Sebelas putra-putra > > Singamangaraja memenuhi tantangan ini, dan hasilnya adalah 7 4 > untuk > > kemenangan putra-putra Singamangaraja. Namun setelah itu, > penyerbuan > > terhadap Benteng Bakkara terus dilanjutkan, dan sebagaimana di > > tempat-tempat lain, tak tersisa seorangpun dari penduduk Bakkara, > > termasuk semua perempuan yang juga tewas dalam pertempuran. > > > > Penyerbuan pasukan Paderi terhenti tahun 1820, karena > berjangkitnya > > penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang > tentara > > Paderi yang memasuki Tanah Batak tahun 1818, hanya tersisa sekitar > > 30.000 orang dua tahun kemudian. Sebagian terbesar bukan tewas di > > medan petempuran, melainkan mati karena berbagai penyakit. > > > > Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, tahun 1820 Tuanku Rao > bermaksud > > menarik mundur seluruh pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga > > rencana pengIslaman seluruh Tanah Batak tak dapat diteruskan. > Namun > > Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama > pasukannya > > tetap di Tanah Batak, untuk menghadang masuknya tentara Belanda. > > Ketika keadaan bertambah parah, akhirnya Tuanku Rao melakukan > > pembangkangan terhadap perintah Tuanku Imam Bonjol, dan > memerintahkan > > sisa pasukannya keluar dari Tanah Batak Utara dan kembali ke > Selatan. > > > > Enam dari panglima pasukan Paderi asal Batak, yaitu Tuanku > Mandailing, > > Tuanku Asahan, Tuanku Kotapinang, Tuanku Daulat, Tuanku Ali Sakti > dan > > Tuanku Junjungan, tahun 1820 memberontak terhadap penindasan asing > > dari Bonjol/Minangkabau dan menanggalkan gelar Tuanku yang > dipandang > > sebagai gelar Minangkabau. Bahkan Jatengger Siregar hanya > menyandang > > gelar tersebut selama tiga hari. Mereka sangat marah atas perilaku > > pasukan Paderi yang merampok dan menguras Tanah Batak yang telah > > ditaklukkan. Namun hanya karena ingin balas dendam kepada > > Singamangaraja, Jatengger Siregar menahan diri sampai > terlaksananya > > sumpah Togar Natigor Siregar dan ia behasil membunuh > Singamangaraja X. > > Mansur Marpaung (Tuanku Asahan) dan Alamsyah Dasopang (Tuanku > > Kotapinang) dengan tegas menyatakan tidak mau tunduk lagi kepada > > Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Nan Renceh, dan kemudian mendirikan > > kesultanan/kerajaan sendiri. Marpaung mendirikan Kesultanan Asahan > > dan mengangkat dirinya menjadi sultan, sedangkan Dasopang > mendirikan > > Kerajaan Kotapinang, dan ia menjadi raja. > > > > Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air Bangis pada 5 > September > > 1821, sedangkan Tuanku Lelo (Idris Nasution) tewas dipenggal > > kepalanya dan kemudian tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti, > > salah satu tawanan yang dijadikan selirnya. > > > > http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php? t=4737 > > > > ---------------- ----------------------------- > > Catatan: > > Tulisan ini merupakan cuplikan dari buku yang ditulis oleh > > Mangaradja Onggang Parlindungan Siregar, "Pongkinangolngolan > > Sinambela gelar Tuanku Rao, Terror Agama Islam Mazhab Hambali di > > Tanah Batak", Penerbit Tanjung Pengharapan, Jakarta, 1964. > > > > Tuanku Lelo/Idris Nasution adalah kakek buyut dari Mangaraja > > Onggang Parlindungan ( hlm. 358). Dari ayahnya, Sutan Martua Raja > > Siregar, seorang guru sejarah, M.O. Parlindungan memperoleh > warisan > > sejumlah catatan tangan yang merupakan hasil penelitian dari > Willem > > Iskandar, Guru Batak, Sutan Martua Raja dan Residen Poortman. > > > > Sebenarnya ia hanya bermaksud menulis buku untuk putra-putranya. > > Buku tersebut memuat banyak rahasia keluarga, termasuk kebiadaban > > yang dilakukan oleh Tuanku Lelo tersebut. Mayjen TNI (purn.) > T.Bonar > > Simatupang menilai, bahwa tulisan tersebut banyak mengandung > sejarah > > Batak, yang perlu diketahui oleh generasi muda Batak. Parlindungan > > Siregar setuju untuk menerbitkan karyanya untuk publik. > Parlindungan > > Siregar meminta T.B. Simatupang, Ali Budiarjo, SH dan dr. Wiliater > > Hutagalung memberi masukan-masukan dan koreksi terhadap naskah > buku > > tersebut. > > > > ============================= > > > > > > > > --------------------------------- > > Do you Yahoo!? > > Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail. > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

