Maap ya Mbak Lina...
Tadinya mau aku tulis buat Mbak Lina di PPIINDIA, tapi keburu kekirim 

Ojo nesu lho...mundak dosa...:))

rd

--- In [email protected], "Lina Dahlan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> RD ini memang aneh. Keanehan RD ini juga disadari oleh seorang 
teman 
> di milis lain. Masalahnya, pak Batara ini bukan member di milis ini 
> namun RD ini bertanya kepada pak Batara di milis ini?
> 
> Maksudnya apa?
> 
> Tentang penyebaran agama langit di pelosok dunia, sudah pernah 
ramai 
> didiskusikan disini.
> 
> Saya cuma ingin mengutarakan pendapat saya setelah membaca tulisan 
> pak Batara adalah politik/penjajahan itu bisa dan sah-sah saja 
> memakai alasan agama, ekonomi, budaya, etc sebagai alasan. Dalam 
> kultur budaya Batak ini, sangat kental dengan perpecahan/perebuatan 
> kekuasaan antara suku/ras. Dan ini dimanfaatkan oleh orang yang 
> berpolitik. Dalam politik sudah jelas aturan mainnya: teman/sekutu 
> itu adalah yang mempunyai tujuan yang sama. Semisal Kaum Penghulu 
> (pemimpin adat) akhirnya bersekutu dengan penjajah Belanda karena 
> mempunyai tujuan yang sama untuk memerangi Kaum Paderi.
> 
> Ada orang Minang yang menulis demikian (sebagai perbandingan)
> 
> http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg00437.html
> 
> wassalam,
>  
> --- In [email protected], radityo djadjoeri <radityo_dj@> 
> wrote:
> >
> > Terima kasih, Pak Batara, kisahnya amat menarik, walau cuma 
> singkat saja. 
> > Bagaimana ya cara mendapatkan buku itu? Saya coba ke Gramedia 
> tidak ada.
> >   Harapan saya, semoga kisah ini dapat ditambahkan dalam 
> perjalanan sejarah Indonesia.
> > 
> >   Intinya, penyebaran agama langit (samawi) - baik itu Islam 
> maupun 
> > Kristen (Katholik/Protestan) -  di Nusantara dan di manapun di 
> pelbagai
> > pelosok dunia sebenarnya tidak berjalan dengan damai, tetapi 
penuh 
> > pertumpahan darah dan jalan kekerasan. Dan itu terjadi di semua 
> wilayah. Dengan memahami  kisah sejarah yang sebenar-benarnya, 
tanpa 
> ditutup-tutupi, semoga kita 
> > semua bisa lebih arif dalam meniti perjalanan di masa depan.
> >    
> >   Juga perlu sedikit untuk memperjelas, ketiga haji yang 
> mengislamkan
> > wilayah Minangkabau sebelumnya beraliran Hanafi karena mereka ikut
> > pasukan Turki yang menduduki Makah. Kemudian ketiga haji tersebut
> > diindoktrinasi aliran Wahabi, lalu melanjutkan perjuangannya untuk
> > mengislamkan Sumatra Barat. Akan lebih menarik apabila ada kisah 
> semasa
> > Sumatra menganut Hindu. Sepertinya peninggalan Hindu/Budha di 
> Sumatra 
> > sudah musnah tak bersisa ya?
> >    
> >   Biar lebih lengkap, kalau bisa ditambahkan riset pustaka di 
> Belanda. Mungkin rekan-rekan kita seperti Oom Danny Lim, Mang Ucup, 
> Ida Khouw, teman-teman di Ranisi, dan lainnya yang  mukim di 
Belanda 
> bisa membantu. Soalnya kalau saya baca di catatan kaki, pak 
> Parlindungan Siregar  hanya akan meminta T.B. Simatupang, Ali 
> Budiarjo, SH dan dr. Wiliater  Hutagalung untuk memberi masukan-
> masukan dan koreksi terhadap naskah buku  tersebut. Relevansinya 
apa 
> ya pak sederet tokoh-tokoh tersebut dengan sejarah pengislaman di 
> Minangkabau dan pengislaman/pengkristenan  di Tanah Batak (Sumut)?
> >    
> >   Juga ingin saya tambahkan, jauh sebelum masuknya aliran Hambali 
> di 
> > Minangkabau, pada 1128 telah menyebar aliran Syi'ah yang menjalar 
> dari
> > Aceh. Jadi sekira 700 tahun sebelum terjadi Perang Paderi. Pada 
> waktu 
> > itu, laksamana Nazimudin Al-Kamil mengadakan gerakan militer dari 
> pantai Aceh ke sungai Kampar Kanan dan Kiri, untuk menguasai hasil 
> lada di daerah tersebut. Nazimudin gugur saat ekspedisi pada 1128. 
> Daerah sungai Kampar dikuasai oleh pedagang-pedagang asing yang 
> menganut aliran Syi'ah, dan disokong oleh dinasti Fathimiah di 
> Mesir. Mereka ingin memonopoli hasil lada. Hasil lada itu diangkut 
> ke bandar  Perlak, terus dibawa ke pasaran Gujarat.
> >    
> >   Pada 1513, Tuanku Burhanudin Syah di Pariaman yang dikuasai 
> Aceh, mulai
> > mengislamkan daerah Minangkabau secara intensif. Burhanudin 
adalah 
> putra
> > sultan Syamsul Syah dari Mahkota Alam, yang ikut mendirikan 
> kesultanan
> > Aceh. Para tokoh setempat dididik menjadi ulama yang kemudian akan
> > menyebarkan ajaran Syi'ah di antara penduduk Minangkabau. Para 
> pengajar
> > didatangkan dari Kambayat, Gujarat. Pengawasan terhadap 
pendidikan 
> ulama
> > di Pariaman, sampai 1697, dilakukan oleh Tuanku Burhanudin Syah 
> turun
> > temurun. Sementara sebagian tidak senang dengan pengislaman yang 
> dilakukan
> > Tuanku Burhanudin Syah. 
> >    
> >   Pada 1803, tiga tokoh beraliran Wahabi bermazhab Hambali, Haji 
> Piobang, 
> > Haji Sumanik, dan Haji Miskin, membentuk gerakan pembersihan 
> agama. 
> > Gerakan mereka disponsori oleh Abdullah ibn Saud di Riyadh. 
> Sebagai catatan,
> > ketiga haji tersebut pernah menjadi tentara di Turki. Timbullah 
> ketegangan 
> > antara golongan kaum adat, penganut aliran Syi'ah dan para 
> pengikut 
> > gerakan Wahabi. Akhirnya mereka berhasil membasmi kaum Hindu dan 
> > kaum Syi'ah di Minangkabau, nyaris tak tersisa. Di Irak, pada 
1801,
> > gerakan Wahabi juga sibuk memberantas kaum Syi'ah, dan berhasil
> > merebut Karbala. Masjid-masjid Syi'ah dan makam-makam keturunan 
> Hasan
> > Husein, cucu Nabi Muhammad, dibumihanguskan. Pada 1802, tentara 
> Wahabi
> > di bawah pimpinan Abdullah ibn Saud, putra Abdul Aziz ib Saud, 
> berhasil
> > merebut kota Makah dan Madinah, serta mengusir tentara Turki dari
> > jazirah Arab. Karena pembebasan kota Makah dan Madinah dari 
> kekuasaan
> > Turki yang beraliran Hanafi itu, maka gerakan Wahabi menjadi 
> terkenal
> > di dunia internasional. 
> >    
> >   Ketiga haji asal Minangkabau yang ikut dalam pasukan Turki yang 
> menduduki 
> > Makah dan Madinah, ditangkap kelompok Wahabi. Karena mereka 
adalah 
> orang 
> > asing, bukan orang Turki, mereka tidak dibunuh. Ketiga orang 
> tersebut 
> > segera diindoktrinasi dalam gerakan Wahabi, lalu melepas aliran 
> Hanafi-nya.  
> > Sekembalinya dari Makah pada 1803, mereka membentuk gerakan 
Wahabi 
> di Minangkabau.
> > 
> >   Timbullah ketegangan antara golongan kaum adat, penganut Hindu, 
> penganut aliran 
> > Syi'ah dan para pengikut gerakan Wahabi. Puncaknya, meletuslah 
> Perang Padri.
> > Akhirnya mereka berhasil membasmi kaum adat, umat Hindu, dan 
> pengikut
> > aliran Syi'ah di Minangkabau, nyaris tak tersisa.
> >    
> >   salam,
> >    
> >   RD
> >    
> >   
_________________________________________________________________
> >    
> >   Tuanku Rao: Teror Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak 
> >   oleh: Batara R. Hutagalung 
> >  
> > Perang Paderi (Ada yang berpendapat kata ini berasal dari Pidari 
> di 
> > Sumatera Barat, dan ada yang berpendapat kata Paderi berasal dari 
> > kata Padre, bahasa Portugis, yang artinya pendeta, dalam hal ini 
> > adalah ulama) di Sumatera Barat berawal dari pertentangan antara 
> > kaum adat dengan kaum ulama. Sebagaimana seluruh wilayah di Asia 
> > Tenggara lainnya, sebelum masuknya agama Islam, agama yang dianut 
> > masyarakat di Sumatera Barat juga agama Buddha dan Hindu. Sisa-
> sisa 
> > budaya Hindu yang masih ada misalnya sistem matrilineal (garis 
> ibu), 
> > yang mirip dengan yang terdapat di India hingga sekarang. 
Masuknya 
> > agama Islam ke Sumatera Utara dan Timur, juga awalnya dibawa oleh 
> > pedagang-pedagang dari Gujarat dan Cina. 
> >    
> >   Setelah kembalinya beberapa tokoh Islam dari Mazhab Hambali 
yang 
> > ingin menerapkan alirannya di Sumatera Barat, timbul pertentangan 
> > antara kaum adat dan kaum ulama, yang bereskalasi kepada konflik 
> > bersenjata. Karena tidak kuat melawan kaum ulama (Paderi), kaum 
> adat 
> > meminta bantuan Belanda, yang tentu disambut dengan gembira. Maka 
> > pecahlah Perang Paderi yang berlangsung dari tahun 1816 sampai 
> 1833.
> >  
> > Selama berlangsungnya Perang Paderi, pasukan kaum Paderi bukan 
> hanya 
> > berperang melawan kaum adat dan Belanda, melainkan juga menyerang 
> > Tanah Batak Selatan, Mandailing, tahun 1816 - 1820 dan kemudian 
> > mengIslamkan Tanah Batak selatan dengan kekerasan senjata, bahkan 
> di 
> > beberapa tempat dengan tindakan yang sangat kejam. 
> >    
> >   Sebelum masuknya agama Islam dan Kristen ke Tanah Batak, selain 
> agama 
> > asli Batak yaitu Parmalim, seperti di hampir di seluruh 
Nusantara, 
> agama yang berkembang di Sumatera Utara adalah agama Hindu dan 
> Buddha. Sedangkan di Sumatera Barat pada abad 14 berkembang aliran 
> Tantra Çaivite (Shaivite) Mahayana dari agama Buddha, dan hingga 
> tahun 1581 Kerajaan Pagarruyung di Minangkabau masih beragama 
Hindu. 
> >   
> > Agama Islam yang masuk ke Mandailing dinamakan oleh penduduk 
> setempat 
> > sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol) karena para penyerbunya 
datang 
> > dari Bonjol. Seperti juga di Jawa Timur dan Banten rakyat 
setempat 
> > yang tidak mau masuk Islam, menyingkir ke utara dan bahkan akibat 
> > agresi kaum Paderi dari Bonjol, tak sedikit yang melarikan diri 
> > sampai Malaya. 
> >    
> >   Penyerbuan Islam ke Mandailing berawal dari dendam keturunan 
> marga 
> > Siregar terhadap dinasti Singamangaraja dan seorang anak hasil 
> > incest (hubungan seksual dalam satu keluarga) dari keluarga 
> > Singamangaraja X. 
> >    
> >   Ketika bermukim di daerah Muara, di Danau Toba, Marga Siregar 
> sering 
> > melakukan tindakan yang tidak disenangi oleh marga-marga lain, 
> > sehingga konflik bersenjatapun tidak dapat dihindari. Raja Oloan 
> Sorba 
> > Dibanua, kakek moyang dari Dinasti Singamangaraja, memimpin 
> penyerbuan 
> > terhadap pemukiman Marga Siregar di Muara. Setelah melihat 
> kekuatan 
> > penyerbu yang jauh lebih besar, untuk menyelamatkan anak buah dan 
> > keluarganya, peminpin marga Siregar, Raja Porhas Siregar meminta 
> Raja 
> > Oloan Sorba Dibanua untuk melakukan perang tanding -satu lawan 
> satu- 
> > sesuai tradisi Batak. Menurut tradisi perang tanding Batak, 
rakyat 
> > yang pemimpinnya mati dalam pertarungan satu lawan satu tersebut, 
> > harus diperlakukan dengan hormat dan tidak dirampas harta 
bendanya 
> > serta dikawal menuju tempat yang mereka inginkan. 
> >    
> >   Dalam perang tanding itu, Raja Porhas Siregar kalah dan tewas 
di 
> > tangan Raja Oloan Sorba Dibanua. Anak buah Raja Porhas ternyata 
> tidak 
> > diperlakukan seperti tradisi perang tanding, melainkan diburu 
oleh 
> > anak buah Raja Oloan sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke 
> > tebing-tebing yang tinggi di belakang Muara, meningggalkan 
> keluarga 
> > dan harta benda. Mereka kemudian bermukim di dataran tinggi 
> Humbang. 
> > Pemimpin Marga Siregar yang baru, Togar Natigor Siregar 
> mengucapkan 
> > sumpah, yang diikuti oleh seluruh Marga Siregar yang mengikat 
> untuk 
> > semua keturunan mereka, yaitu: Kembali ke Muara untuk membunuh 
> Raja 
> > Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya. 
> >    
> >   Dendam ini baru terbalas setelah 26 generasi, tepatnya tahun 
> 1819, 
> > ketika Jatengger Siregar –yang datang bersama pasukan Paderi, di 
> > bawah pimpinan Pongkinangolngolan (Tuanku Rao)- memenggal kepala 
> > Singamangaraja X, keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, dalam 
> penyerbuan 
> > ke Bakkara, ibu kota Dinasti Singamangaraja. 
> >    
> >   Ibu dari Pongkinangolngolan adalah Gana Sinambela, putri dari 
> > Singamangaraja IX sedangkan ayahnya adalah Pangeran Gindoporang 
> > Sinambela adik dari Singamangaraja IX. Gindoporang dan 
> Singamangaraja 
> > IX adalah putra-putra Singamangaraja VIII. Dengan demikian, 
> > Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Putri 
> Gana 
> > Sinambela dengan Pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela. 
> >   Gana Sinambela sendiri adalah kakak dari Singamangaraja X. 
> Walaupun 
> > terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat 
> mengasihi 
> > dan memanjakan keponakannya. Untuk memberikan nama marga, tidak 
> > mungkin diberikan marga Sinambela, karena ibunya bermarga 
> Sinambela. 
> > Namun nama marga sangat penting bagi orang Batak, sehingga 
> > Singamangaraja X mencari jalan keluar untuk masalah ini. 
> >   
> > Singamangaraja X mempunyai adik perempuan lain, Putri Sere 
> Sinambela, 
> > yang menikah dengan Jongga Simorangkir, seorang hulubalang. Dalam 
> > suatu upacara adat, secara pro forma Pongkinangolngolan "dijual" 
> > kepada Jongga Simorangkir, dan Pongkinangolngolan kini bermarga 
> > Simorangkir. 
> >    
> >   Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh 3 orang Datu 
> > (tokoh spiritual) yang dipimpin oleh Datu Amantagor Manurung. 
> Mereka 
> > meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh 
> > pamannya, Singamangaraja X. Oleh karena itu, Pongkinangolngolan 
> harus 
> > dibunuh. 
> >    
> >   Sesuai hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan 
hukuman 
> mati 
> > atas keponakan yang disayanginya. Namun dia memutuskan, bahwa 
> > Pongkinangolngolan tidak dipancung kepalanya, melainkan akan 
> > ditenggelamkan di Danau Toba. Dia diikat pada sebatang kayu dan 
> > badannya dibebani dengan batu-batu supaya tenggelam. 
> >    
> >   Di tepi Danau Toba, Singamangaraja X pura-pura melakukan 
> pemeriksaan 
> > terakhir, namun dengan menggunakan keris pusaka Gajah Dompak ia 
> > melonggarkan tali yang mengikat Pongkinangolngolan, sambil 
> menyelipkan 
> > satu kantong kulit berisi mata uang perak ke balik pakaian 
> > Pongkinangolngola. Perbuatan ini tidak diketahui oleh para Datu, 
> > karena selain tertutup tubuhnya, juga tertutup tubuh Putri Gana 
> > Sinambela yang memeluk dan menangisi putra kesayangannya. 
> >   Tubuh Pongkonangolngolan yang terikat kayu dibawa dengan rakit 
> ke 
> > tengah Danau dan kemudian di buang ke air. Setelah berhasil 
> melepaskan 
> > batu-batu dari tubuhnya, dengan berpegangan pada kayu 
> > Pongkinangolngolan berhasil mencapai sungai Asahan, di mana 
> kemudian 
> > di dekat Narumonda, ia ditolong oleh seorang nelayan, Lintong 
> > Marpaung. 
> >    
> >   Setelah bertahun-tahun berada di daerah Angkola dan Sipirok, 
> > Pongkinangolngolan memutuskan untuk pergi ke Minangkabau, karena 
> > selalu kuatir suatu hari akan dikenali sebagai orang yang telah 
> > dijatuhi hukuman mati oleh Raja Batak. 
> >    
> >   Di Minangkabau ia mula-mula bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo 
> > sebagai perawat kuda. Pada waktu itu, tiga orang tokoh Islam 
> Mazhab 
> > Hambali, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik baru 
> kembali 
> > dari Mekkah dan sedang melakukan penyebaran Mazhab Hambali di 
> > Minangkabau, yang menganut aliran Syi'ah. Haji Piobang dan Haji 
> > Sumanik pernah menjadi pewira di pasukan kavaleri Janitsar Turki. 
> >   Gerakan mereka mendapat dukungan dari Tuanku Nan Renceh, yang 
> > mempersiapkan tentara untuk melaksanakan gerakan Mazhab Hambali, 
> > termasuk rencana untuk mengislamkan Mandailing. 
> >   
> > Tuanku Nan Renceh yang adalah seorang teman Datuk Bandaharo 
> Ganggo, 
> > mendengar mengenai nasib dan silsilah dari Pongkinangolngolan. Ia 
> > memperhitungkan, bahwa Pongkinangolngolan yang adalah keponakan 
> > Singamangaraja X dan sebagai cucu di dalam garis laki-laki dari 
> > Singamangaraja VIII, tentu sangat baik untuk digunakan dalam 
> rencana 
> > merebut dan mengIslamkan Tanah Batak. Oleh karena itu, ia meminta 
> > kawannya, Datuk Bandaharo agar menyerahkan Pongkinangolngolan 
> > kepadanya untuk dididik olehnya. 
> >    
> >   Pada 9 Rabiu'ulawal 1219 H (tahun 1804 M), dengan syarat-syarat 
> > Khitanan dan Syahadat, Pongkinangolngolan diislamkan dan diberi 
> nama 
> > Umar Katab oleh Tuanku Nan Renceh. Nama tersebut diambil dari 
nama 
> > seorang Panglima Tentara Islam, Umar Chattab. Namun terselip juga 
> asal 
> > usul Umar Katab, karena bila dibaca dari belakang, maka akan 
> terbaca: 
> > Batak! 
> >    
> >   Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan 
> > keluarga Kerajaan Pagarruyung di Suroaso, yang menolak aliran 
baru 
> > tersebut. Hampir seluruh keluarga Raja Pagarruyung dipenggal 
> > kepalanya oleh pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Lelo, yang nama 
> > asalnya adalah Idris Nasution. Hanya beberapa orang saja yang 
> dapat 
> > menyelamatkan diri, di antaranya adalah Yang Dipertuan Arifin 
> Muning 
> > Alamsyah yang melarikan diri ke Kuantan dan kemudian meminta 
> bantuan 
> > Belanda. Juga putrinya, Puan Gadis dapat menyelamatkan diri, dan 
> pada 
> > tahun 1871 menceriterakan kisahnya kepada Willem Iskandar. 
> >    
> >   Umar Katab alias Pongkinangolngolan Sinambela kembali dari 
> Mekkah dan 
> > Syria tahun 1815, di mana ia sempat mengikuti pendidikan 
> kemiliteran 
> > pada pasukan kavaleri janitsar Turki. Oleh Tuanku Nan Renceh ia 
> > diangkat menjadi perwira tentara Paderi dan diberi gelar Tuanku 
> Rao. 
> > Ternyata Tuanku Nan Renceh menjalankan politik divide et impera 
> > seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang 
> Tanah 
> > Batak. 
> >    
> >   Penyerbuan ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadhan 1231 H 
> > (tahun 1816 M), dengan penyerbuan terhadap benteng Muarasipongi 
> yang 
> > dipertahankan oleh Marga Lubis. 5.000 orang dari pasukan berkuda 
> > ditambah 6.000 infanteri meluluhlantakkan benteng Muarasipongi, 
> dan 
> > seluruh penduduknya dibantai tanpa menyisakan seorangpun. 
> Kekejaman 
> > ini sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk menebarkan teror 
> dan 
> > rasa takut agar memudahkan penaklukkan. Setelah itu, satu persatu 
> > wilayah Mandailing ditaklukkan oleh pasukan Paderi, yang dipimpin 
> > oleh Tuanku Rao dan Tuanku Lelo, yang adalah putra-putra Batak
> > sendiri. Selain kedua nama ini, ada sejumlah orang Batak yang 
> telah 
> > masuk Islam, ikut pasukan Paderi menyerang Tanak Batak, yaitu 
> Tuanku 
> > Tambusai (Harahap), Tuanku Sorik Marapin (Nasution), Tuanku 
> > Mandailing (Lubis), Tuanku Asahan (Mansur Marpaung), Tuanku 
> > Kotapinang (Alamsyah Dasopang), Tuanku Daulat (Harahap), Tuanku 
> > Patuan Soripada (Siregar), Tuanku Saman (Hutagalung), Tuanku Ali 
> > Sakti (Jatengger Siregar), Tuanku Junjungan (Tahir Daulay) dan 
> Tuanku 
> > Marajo (Harahap). 
> >    
> >   Penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara, 
> dilaksanakan 
> > tahun 1819. Orang-orang Siregar Salak dari Sipirok dipimpin oleh 
> > Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang, guna memenuhi 
> sumpah 
> > Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja 
> Oloan 
> > Sorba Dibanua, yaitu Singamangaraja X. Jatengger Siregar 
menantang 
> > Singamangaraja untuk melakukan perang tanding. Walaupun sudah 
> berusia 
> > lanjut, namun Singamangaraja tak gentar dan menerima tantangan 
> > Jatengger Siregar yang masih muda. Duel dilakukan dengan 
> menggunakan 
> > pedang di atas kuda. 
> >   
> > Duel yang tak seimbang berlangsung tak lama. Singamangaraja kalah 
> dan 
> > kepalanya dipenggal oleh pedang Jatengger Siregar. Terpenuhi 
sudah 
> > dendam yang tersimpan selama 26 generasi. Kepala Singamangaraja X 
> > ditusukkan ke ujung satu tombak dan ditancapkan ke tanah. Orang-
> orang 
> > marga Siregar masih belum puas dan menantang putra-putra 
> > Singamangaraja X untuk perang tanding. Sebelas putra-putra 
> > Singamangaraja memenuhi tantangan ini, dan hasilnya adalah 7 – 4 
> untuk
> > kemenangan putra-putra Singamangaraja. Namun setelah itu, 
> penyerbuan 
> > terhadap Benteng Bakkara terus dilanjutkan, dan sebagaimana di 
> > tempat-tempat lain, tak tersisa seorangpun dari penduduk Bakkara, 
> > termasuk semua perempuan yang juga tewas dalam pertempuran. 
> >    
> >   Penyerbuan pasukan Paderi terhenti tahun 1820, karena 
> berjangkitnya 
> > penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang 
> tentara 
> > Paderi yang memasuki Tanah Batak tahun 1818, hanya tersisa 
sekitar 
> > 30.000 orang dua tahun kemudian. Sebagian terbesar bukan tewas di 
> > medan petempuran, melainkan mati karena berbagai penyakit. 
> >   
> > Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, tahun 1820 Tuanku Rao 
> bermaksud 
> > menarik mundur seluruh pasukannya dari Tanah Batak Utara, 
sehingga 
> > rencana pengIslaman seluruh Tanah Batak tak dapat diteruskan. 
> Namun 
> > Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama 
> pasukannya 
> > tetap di Tanah Batak, untuk menghadang masuknya tentara Belanda. 
> > Ketika keadaan bertambah parah, akhirnya Tuanku Rao melakukan 
> > pembangkangan terhadap perintah Tuanku Imam Bonjol, dan 
> memerintahkan 
> > sisa pasukannya keluar dari Tanah Batak Utara dan kembali ke 
> Selatan. 
> >    
> >   Enam dari panglima pasukan Paderi asal Batak, yaitu Tuanku 
> Mandailing, 
> > Tuanku Asahan, Tuanku Kotapinang, Tuanku Daulat, Tuanku Ali Sakti 
> dan 
> > Tuanku Junjungan, tahun 1820 memberontak terhadap penindasan 
asing 
> > dari Bonjol/Minangkabau dan menanggalkan gelar Tuanku yang 
> dipandang 
> > sebagai gelar Minangkabau. Bahkan Jatengger Siregar hanya 
> menyandang 
> > gelar tersebut selama tiga hari. Mereka sangat marah atas 
perilaku 
> > pasukan Paderi yang merampok dan menguras Tanah Batak yang telah 
> > ditaklukkan. Namun hanya karena ingin balas dendam kepada 
> > Singamangaraja, Jatengger Siregar menahan diri sampai 
> terlaksananya 
> > sumpah Togar Natigor Siregar dan ia behasil membunuh 
> Singamangaraja X. 
> >   Mansur Marpaung (Tuanku Asahan) dan Alamsyah Dasopang (Tuanku 
> > Kotapinang) dengan tegas menyatakan tidak mau tunduk lagi kepada 
> > Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Nan Renceh, dan kemudian mendirikan 
> > kesultanan/kerajaan sendiri. Marpaung mendirikan Kesultanan 
Asahan 
> > dan mengangkat dirinya menjadi sultan, sedangkan Dasopang 
> mendirikan 
> > Kerajaan Kotapinang, dan ia menjadi raja. 
> >    
> >   Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air Bangis pada 5 
> September 
> > 1821, sedangkan Tuanku Lelo (Idris Nasution) tewas dipenggal 
> > kepalanya dan kemudian tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti, 
> > salah satu tawanan yang dijadikan selirnya. 
> >    
> >   http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?
t=4737 
> >  
> > ---------------- -----------------------------
> > Catatan: 
> > Tulisan ini merupakan cuplikan dari buku yang ditulis oleh 
> > Mangaradja Onggang Parlindungan Siregar, "Pongkinangolngolan 
> > Sinambela gelar Tuanku Rao, Terror Agama Islam Mazhab Hambali di 
> > Tanah Batak", Penerbit Tanjung Pengharapan, Jakarta, 1964. 
> >  
> > Tuanku Lelo/Idris Nasution adalah kakek buyut dari Mangaraja 
> > Onggang Parlindungan ( hlm. 358). Dari ayahnya, Sutan Martua Raja 
> > Siregar, seorang guru sejarah, M.O. Parlindungan memperoleh 
> warisan 
> > sejumlah catatan tangan yang merupakan hasil penelitian dari 
> Willem 
> > Iskandar, Guru Batak, Sutan Martua Raja dan Residen Poortman. 
> >   
> > Sebenarnya ia hanya bermaksud menulis buku untuk putra-putranya. 
> > Buku tersebut memuat banyak rahasia keluarga, termasuk kebiadaban 
> > yang dilakukan oleh Tuanku Lelo tersebut. Mayjen TNI (purn.) 
> T.Bonar 
> > Simatupang menilai, bahwa tulisan tersebut banyak mengandung 
> sejarah 
> > Batak, yang perlu diketahui oleh generasi muda Batak. 
Parlindungan 
> > Siregar setuju untuk menerbitkan karyanya untuk publik. 
> Parlindungan 
> > Siregar meminta T.B. Simatupang, Ali Budiarjo, SH dan dr. 
Wiliater 
> > Hutagalung memberi masukan-masukan dan koreksi terhadap naskah 
> buku 
> > tersebut.
> >    
> >   =============================
> > 
> > 
> >             
> > ---------------------------------
> > Do you Yahoo!?
> >  Everyone is raving about the  all-new Yahoo! Mail.
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke