28 Oktober 1945, Pertempuran Heroik di Surabaya
Pendahuluan
Tanggal 28 Oktober setiap tahun, bangsa Indonesia memeringati hari yang
bersejarah, yang merupakan salah satu tonggak menuju pembentukan negara
Republik Indonesia. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda yang tergabung dalam
berbagai organisasi pemuda dari berbagai daerah di India Belanda, di akhir
Kongres Pemuda ke II mengeluarkan satu keputusan, yang kini dikenal sebagai
Sumpah Pemuda. Bunyi keputusan tersebut adalah:
Poetoesan Congres
Pemoeda-Pemoedi Indonesia
Kerapatan pemoeda-pemoeda Indonesia jang berdasarkan kebangsaan, dengan
namanja Jong Java, Jong Soematra (Pemoeda Soematra), Pemoeda Indonesia, Sekar
Roekoen, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan
Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia;
Memboeka rapat pada tanggal 27 dan 28 Oktober tahoen 1928 di negeri Djakarta;
Sesoedahnja menimbang segala isi-isi pidato-pidato dan pembitjaraan ini;
Kerapatan laloe mengambil kepoetoesan:
Pertama : Kami poetera dan poeteri Indonesia mengakoe
bertoempah darah jang satoe, Tanah Indonesia.
Kedoea : Kami poetera dan poeteri Indonesia mengakoe
Berbangsa jang satoe, Bangsa Indonesia
Ketiga : Kami poetera dan poeteri Indonesia mendjoendjoeng
bahasa persatoean, Bahasa Indonesia
Setelah mendengar poetoesan ini, kerapatan mengeloearkan kejakinan azas ini
wajib dipakai oleh segala perkoempoelan kebangsaan Indonesia.
Mengeloearkan kejakinan persatoean Indonesia diperkoeat dengan memperhatikan
dasar persatoeannya:
Kemaoean
Sedjarah
Bahasa
Hoekoem Adat
Pendidikan dan Kepandoean
dan mengeloearkan pengharapan soepaja poetoesan ini disiarkan dalam segala
soerat kabar dan dibatjakan di moeka rapat perkoempoelan-perkoempoelan.
Selain peristiwa 28 Oktober 1928, ada satu peristiwa heroik yang juga terjadi
pada tanggal 28 Oktober, yang hingga kini kurang atau belum memperoleh
perhatian dari bangsa Indonesia, yaitu pertempuran dahsyat yang terjadi pada 28
Oktober 1945 di Surabaya, di mana para pemuda dari hampir seluruh daerah di
Indonesia bertempur melawan tentara Inggris, untuk mempertahankan kemerdekaan
bangsa Indonesia, yang baru diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Pertempuran
heroik di Surabaya pada 28 Oktober 1945 adalah akar dari peristiwa pemboman
yang dilakukan oleh tentara Inggris, yang dimulai pada 10 November 1945.
Berikut ini disampaikan sekilas mengenai peristiwa bersejarah tersebut, agar
dalam renungan 28 Oktober, selain memperingati Hari Sumpah Pemuda, dapat digali
kembali semangat yang tertanam dalam diri para pemuda Indonesia pada waktu itu,
guna membangun kembali semangat kebersamaan dan perjuangan dari bangsa
Indonesia, yang kini sedang terancam bahaya disintegrasi.
Latar belakang sejarah
Setelah Jepang menyerah kepada sekutu pada 15 Agustus 1945, Belanda
bersiap-siap untuk kembali ke bekas jajahannya sebagai penguasa. Sebenarnya
Belanda telah kehilangan haknya atas wilayah India Belanda, karena pada 9 Maret
1942, di Kalijati, dekat Subang, setelah digempur selama satu minggu oleh
tentara Jepang, Pemerintah India Belanda yang diwakili oleh Panglima Tertinggi
tentara Belanda, Letnan Jenderal Hein ter Poorten, telah menandatangani dokumen
menyerah tanpa syarat kepada balatentara Dai Nippon, di bawah pimpinan Letnan
Jenderal Hitochi Imamura, Panglima Tentara 16. Di atas sepotong kertas, Belanda
menyerahkan seluruh wilayah India Belanda kepada Jepang.
Pada 15 Agustus 1945 di Australia, Letnan Gubernur Jenderal Dr. Hubertus
Johannes van Mook, bersama orang-orang Belanda yang ada di Australia mengadakan
rapat dan bersiap-siap untuk segera berangkat ke Indonesia.
Untuk mempercepat penguasaan Sekutu atas Jepang, pada bulan Juli 1945 di
Potsdam, Jerman, dicapai kesepakatan antara Amerika Serikat dan Inggris, bahwa
Letnan Jenderal Douglas MacArthur, panglima South West Pacific Area Command
(Komando Wilayah Pasifik Baratdaya) harus secepatnya mengerahkan pasukannya
menuju Jepang dan menyerahkan komando atas wilayah India Belanda kepada South
East Asia Command (Komando Asia Tenggara) di bawah Vice Admiral Lord Louis
Mountbatten. Maka pada tanggal 15 Agustus 1945, wewenang atas Jawa, Bali,
Lombok, Kalimantan dan Sulawesi diserahkan oleh MacArthur kepada Mountbatten.
Banyak orang berpendapat, bahwa nasib Indonesia akan berbeda apabila yang masuk
ke Indonesia adalah tentara Amerika, dan bukan tentara Inggris.
Secara resmi, tugas pokok yang diberikan oleh pimpinan Allied Forces kepada
Mountbatten adalah:
1. Melucuti tentara Jepang serta mengatur
pulangkan kembali ke negaranya (The disarmament and removal of the Japanese
Imperial Forces),
2. membebaskan para tawanan serta interniran
Sekutu yang ditahan oleh Jepang di Asia Tenggara (RAPWI - Rehabilitation of
Allied Prisoners of War and Internees), termasuk di Indonesia, serta
3. menciptakan keamanan dan ketertiban
(Establishment of law and order).
Jumlah tentara Jepang yang harus dilucuti dan ditahan di Sumatera, Jawa,
Sunda Kecil, Kalimantan, Papua Barat dll. mencapai lebih dari 300.000 orang.
Setelah dilucuti, mereka juga akan dipulangkan kembali ke Jepang. Selain itu
masih terdapat sekitar 100.000 tawanan dan interniran Sekutu yang harus
dibebaskan dari tahanan Jepang dan juga akan dipulangkan ke negara
masing-masing. Semula, Mountbatten memperkirakan akan diperlukan 6 Divisi untuk
dapat menyelesaikan tugas-tugas tersebut, namun kenyataannya, mereka hanya
dapat menyiapkan 3 Divisi, itupun dengan keterlambatan, sehingga ketika mereka
tiba di bekas India Belanda, boleh dikatakan hampir seluruh tentara Jepang
telah dilucuti oleh pihak Republik Indonesia, yang kemudian menguasai
persenjataan tersebut, seperti yang terjadi di Surabaya.
Pada 17 Agustus 1945, para pemimpin bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan
bangsa Indonesia. Pada 18 Agustus 1945, Ir. Sukarno dipilih sebagai Presiden
dan Dr. M. Hatta sebagai Wakil Presiden. Mereka kemudian membentuk kabinet yang
menjadi pemerintah Republik Indonesia. Juga ditunjuk para gubernur yang
mengepalai beberapa provinsi di republik yang muda tersebut.
Dengan demikian, tiga syarat pembentukan suatu negara telah terpenuhi, yaitu:
1. Adanya wilayah,
2. Adanya penduduk, dan
3. Adanya pemerintahan.
Berita mengenai proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945,
tentu sangat mengejutkan pemerintah Belanda. Setelah MacArthur menyerahkan
wewenang atas Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, serta daerah-daerah lain yang
termasuk wilayah bekas India Belanda kepada Mountbatten, Pemerintah Belanda
melakukan serangkaian pertemuan dan lobi dengan Pemerintah Inggris. Pada 24
Agustus 1945, di Chequers dekat London, Belanda dan Inggris menandatangani
Civil Affairs Agreement (CAA) yang isinya dituangkan dalam Nota tanggal 24
Agustus 1945,
Butir yang terpenting untuk Belanda dalam perjanjian ini adalah, penyerahan
wilayah Indonesia yang telah dibersihkan oleh tentara Inggris kepada
Netherlands Indies Civil Administration (NICA).
Konferensi Yalta pada bulan Februari 1945, ternyata bukan hanya membagi Eropa
menjadi dua blok: Barat dan Timur, melainkan juga menghasilkan suatu keputusan
yang sangat fatal bagi negara-negara bekas jajahan negara Eropa. Dalam suatu
pembicaraan rahasia antara Roosevelt dan Churchill, disepakati untuk
mengembalikan situasi di Asia kepada status quo, seperti sebelum invasi Jepang
Desember 1941. Kesepakatan rahasia keduanya ini dipertegas dan diformalkan
dalam deklarasi Potsdam pada 26 Juli 1945.
Untuk pelaksanaan tugas tersebut, Mountbatten membentuk Allied Forces in the
Netherlands East Indies (AFNEI) Tentara Sekutu di India Belanda; dan jabatan
Komandan AFNEI, semula dijabat oleh Rear Admiral Sir Wilfred Patterson, yang
kemudian digantikan oleh Letnan Jenderal Sir Philip Christison, Panglima
Tentara 15 Inggris, yang juga seorang bangsawan Inggris. Christison sendiri
baru tiba di Jakarta tanggal 30 September 1945. Pasukan yang akan ditugaskan
dari British-Indian Divisions, adalah Divisi 5 di bawah Mayor Jenderal Robert
C. Mansergh untuk Jawa Timur, Divisi 23 di bawah Mayor Jenderal Douglas Cyril
Hawthorn untuk Jawa Barat dan Jawa Tengah, sedangkan Divisi 26 di bawah Mayor
Jenderal H.M. Chambers untuk Sumatera.
Namun ternyata ada hidden agenda (agenda rahasia) yang dilakukan oleh tentara
Inggris -dengan mengatasnamakan Sekutu- yaitu mengembalikan Indonesia sebagai
jajahan kepada Belanda.
Mountbatten mendapat bantuan dua Divisi Australia di bawah Letnan Jenderal
Lesley Morsehead, yang karena kekejamannya mendapat julukan Ming the
merciless. Kedua Divisi Australia tersebut ditugaskan untuk menduduki
kota-kota penting di Kalimantan dan Indonesia Timur lainnya. Pasukan Australia
datang bersama kesatuan-kesatuan NICA (Netherlands Indies Civil Administration)
di sebagian besar kota-kota itu sebelum adanya suatu gerakan Republik yang
terorganisasi dengan baik. Oleh karena itu, mereka relatif tidak banyak
menghadapi kesulitan untuk melaksanakan rencana semula guna mempersiapkan
pengambilalihan pemerintahan oleh pihak Belanda.
Dengan demikian, Australia sangat berjasa dalam membantu Belanda menduduki
wilayah-wilayah tersebut, karena pada waktu itu Belanda belum memiliki satuan
bersenjata yang terorganisir. Yang ada hanya bekas tawanan Jepang yang kondisi
fisiknya belum mampu untuk bertempur. Kemudian, atas desakan pihak Belanda,
Inggris menyerahkan wewenang atas Kalimantan serta kepulauan lain di bagian
timur Indonesia -kecuali Bali dan Lombok- kepada tentara Australia.
Setelah membersihkan wilayah Indonesia Timur dari kekuatan bersenjatan
pendukung Republik Indonesia, pada 13 Juli 1946 Australia secara resmi
menyerahkan seluruh wilayah Indonesia Timur kepada Belanda. Belanda tidak
membuang waktu, dan tanggal 15 22 Juli Belanda menggelar Konferensi Malino,
dekat Makassar, yang menjadi cikal bakal pembentukan Negara Indonesia Timur.
Pada 1 September 1945, Dr. Hubertus Johannes van Mook, mantan Wakil Gubernur
Jenderal di India Belanda bersama Dr. Charles Olke van der Plas, mantan
Gubernur Jenderal wilayah Timur, menemui Mountbatten di Kandy, Ceylon (Sri
Lanka), untuk mendesak Inggris melaksanakan persetujuan Civil Affairs Agreement
(CAA), serta tindaklanjut hasil keputusan konferensi Yalta dan Deklarasi
Potsdam.
Mengenai penambahan tugas yang diberikan secara mendadak kepadanya dan
informasi yang diberikan oleh van Mook mengenai situasi di India Belanda,
Mountbatten menulis:
Having taken over the NEI (Netherlands East Indies pen.) from the
South-West Pacific Area without any intelligence reports, I had been given no
hint of the political situation which had arisen in Java. It was known of
course, that an Indonesian Movement had been in existence before the war; and
that it had been supported by prominent intellectuals, some of whom had
suffered banishment for their participation in nationalist propaganda but no
information had been made available to me as to the fate of this movement under
the Japanese occupation.
Dr. H.J. van Mook, Lieut.-Governor-General of the NEI who had come to Kandy
on 1st September, had given me no reason to suppose that the reoccupation of
Java would present any operational problem beyond the of rounding up the
Japanese.
Catatan Mountbatten tersebut menunjukkan dengan jelas, bahwa informasi yang
diberikan oleh van Mook kepada Mountbatten salah dan menyesatkan, sehingga
berakibat sangat fatal, bukan saja bagi rakyat Indonesia, namun juga bagi
tentara Inggris, sebagaimana kemudian dialami oleh Brigade 49 di Surabaya bulan
Oktober 1945.
Van Mook dan pimpinan Belanda lain selalu menyatakan kepada pimpinan militer
Inggris, bahwa pengambil-alihan Indonesia tidak memerlukan kekuatan militer.
Kemungkinan karena percaya akan keterangan van Mook tersebut, maka Mountbatten
mengirim salah satu staf kepercayaannya, Mayor Jenderal A.W.S. Mallaby, yang
adalah seorang perwira administrasi, yang belum pernah memimpin pasukan tempur.
Untuk dapat memimpin satu Brigade tempur, ia rela pangkatnya turun menjadi
Brigadir Jenderal. Adalah suatu kebanggaan bagi seorang perwira, apabila dapat
menjadi komandan pasukan tempur, dan bukan sembarangan pasukan tempur,
melainkan Brigade 49, yang dijuluki sebagai The Fighting Cock (Ayam tarung)..
Misi van Mook dan van der Plas berhasil, karena setelah pertemuan tersebut,
Mountbatten mengeluarkan perintah tertanggal 2 September 1945 kepada pada
komandan Divisi, termasuk komandan Divisi 5, dengan kalimat yang kemudian
berakibat fatal bagi rakyat Indonesia, terutama di Surabaya, yaitu:
Headquarters, S.E. Asia Command
2 Sept. 1945.
From : Supreme Commander S.E.Asia
To : G.O.C. Imperial Forces.
Re. Directive ASD4743S.
You are instructed to proceed with all speed to the island
of Java in the East Indies to accept the surrender of Japanese Imperial Forces
on that island, and to release Allied prisoners of war and civilian internees.
In keeping with the provisions of the Yalta Conference you
will re-establish civilians rule and return the colony to the Dutch
Administration, when it is in a position to maintain services.
The main landing will be by the British Indian Army 5th
Division, who have shown themselves to be most reliable since the battle of El
Alamein.
Intelligence reports indicate that the landing should be at
Surabaya, a location which affords a deep anchorage and repair facilities.
As you are no doubt aware, the local natives have declared
a Republic, but we are bound to maintain the status quo which existed before
the Japanese Invasion.
I wish you God speed and a sucessful campaign.
(signed)
Mountbatten
____________________
Vice
Admiral.
Supreme
Commander S.E.Asia.
Kalimat:
In keeping with the provisions of the Yalta Conference you will re-establish
civilians rule and return the colony to the Dutch Administration, when it is in
a position to maintain services.
dan kalimat berikutnya:
the local natives have declared a Republic, but we are bound to maintain
the status quo which existed before the Japanese Invasion.
menyatakan secara jelas dan gamblang maksud Inggris untuk
..mengembalikan koloni (Indonesia) kepada Administrasi Belanda
dan
mempertahankan status quo yang ada sebelum invasi Jepang.
Namun konspirasi mereka tidak memperhitungkan perlawanan rakyat Indonesia,
yang telah menghirup udara kemerdekaan yang telah dicetuskan pada 17 Agustus
1945.
Serangkaian perlawanan dahsyat rakyat Indonesia di berbagai daerah, telah
merubah jalannya sejarah. Pertempuran-pertempuran melawan tentara
Sekutu/Inggris yang lebih dikenal sebagai Pertempuran Surabaya, Pertempuran
Medan Area, Palagan Ambarawa dan Bandung Lautan Api, merupakan perjuangan
rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17
Agustus 1945.
Tepat 17 tahun setelah Sumpah Pemuda 1928, yaitu pada 28 Oktober 1945 di
Surabaya, semangat Sumpah Pemuda tersebut terwujud dalam peristiwa heroik yang
patut dibanggakan, karena boleh dikatakan hampir seluruh suku bangsa yang ada
di Indonesia, diwakili oleh para pemudanya di Surabaya, berhasil mengalahkan
tentara Inggris, yang adalah salah satu pemenang Perang Dunia II. Pada waktu
itu Indonesia belum memiliki Tentara Nasional, yang ada hanyalah Badan Keamanan
Rakyat/Tentara Keamanan Rakyat (BKR/TKR) dan berbagai laskar serta pasukan
pemuda/pelajar.
Pertempuran heroik di Surabaya
Di Surabaya dan sekitarnya pembentukan BKR (Badan Keamanan Rakyat)
dipelopori antara lain oleh K.R.M.H. Yonosewoyo, Sungkono, dr. Wiliater
Hutagalung, Surachman, Abdul Wahab, R. Kadim Prawirodirjo, drg. Mustopo, dan
lain-lain. Selain BKR, juga didirikan berbagai laskar dan pasukan pemuda,
seperti TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar).
Perebutan senjata dari tentara Jepang di Surabaya dimulai sejak pertengahan
September 1945. Melihat bahwa Jepang sangat mengalah kepada Belanda dan bahkan
memberikan berbagai fasilitas serta pengawalan bagi pimpinan Belanda yang baru
dilepaskan dari interniran, membuat kemarahan rakyat terhadap tentara Jepang
makin berkobar. Kalangan pejuang Republik di Surabaya semakin kuat
berprasangka, bahwa Jepang telah bekerjasama dengan Sekutu untuk memberikan
peluang kepada Belanda kembali menjajah Indonesia.
Hal ini terlihat dalam insiden bendera pada 19 September 1945. Orang-orang
Belanda yang baru dibebaskan dari kamp interniran Jepang dan kemudian tinggal
di Hotel Oranye (kini Hotel Majapahit), pada 19 September 1945 menaikkan
bendera Belanda, merah- putih- biru. Para pemuda yang marah melihat hal itu,
segera naik ke atas hotel, kemudian merobek warna biru dan mengibarkan
merah-putihnya kembali di atas hotel tersebut.
Di Don Bosco, Sawahan, terdapat salah satu arsenal tentara Jepang terbesar di
Asia Tenggara. Pertempuran untuk merebut senjata yang menimbulkan korban besar
di kedua belah pihak, berakhir dengan menyerahnya tentara Jepang kepada pasukan
Indonesia yang menyerbu.
Penyerbuan dan perebutan senjata yang sangat dramatis di Surabaya dilakukan
pada tanggal 1 dan 2 Oktober terhadap markas Kempeitai (Polisi Militer) dan
markas Kaigun (Angkatan Laut) Jepang. Kempeitai dianggap sebagai simbol
kekejaman tentara Jepang selama masa pendudukan. Mereka sangat ditakuti rakyat
karena kekejamannya, sehingga pembalasan dendam terutama terhadap anggota
Kempeitai juga tidak kalah kejamnya. Tentara Jepang yang tewas dalam perebutan
senjata selama dua hari tersebut berjumlah 16 orang dan luka-luka 26 orang,
serta beberapa tentara Jepang dilaporkan sebagai hilang. Di pihak Indonesia
jatuh korban lebih banyak, yaitu 26 orang gugur, 50 orang luka-luka. Jumlah
yang tewas dan luka-luka di kedua belah pihak menunjukkan betapa sengitnya
pertempuran dua hari tersebut guna merebut senjata dari tentara Jepang.
Seluruh korban di pihak Jepang dalam perebutan senjata di Surabaya dan
sekitarnya tercatat: 240 tewas, 18 orang hilang dan 36 orang luka-luka. Korban
di pihak Indonesia sangat besar. Kurang diketahui dengan pasti jumlah korban
tewas dan luka-luka. Beberapa sumber menyebutkan, diperkirakan sekitar 500
orang Indonesia tewas dalam perebutan senjata di Surabaya dan sekitarnya.
Penguasaan rakyat Indonesia atas persenjataan di pos-pos pertahanan Jepang di
Surabaya sangat bervariasi. Selain perebutan, ada juga yang sukarela diserahkan
oleh komandan tentara Jepang, dan ada juga ditemukan sejumlah besar senjata,
amunisi, pakaian, obat-obatan, gula, beras, dll. yang rupanya ditimbun oleh
tentara Jepang; mungkin dimaksudkan sebagai persediaan rahasia.
Jumlah senjata yang dapat direbut dari tentara Jepang demikian banyaknya,
sehingga untuk membantu perjuangan di Jakarta dan Yogyakarta, pimpinan
Indonesia di Surabaya dapat mengirim 4 gerbong senjata (sekitar 1000 pucuk
senapan) ke Jakarta, dan dua gerbong senjata ke Yogyakarta.
Ceritera mengenai berjuang dengan bambu runcing, hanyalah mitos belaka,
karena pada waktu itu, di Jawa telah ada sekitar 60 batalyon Peta yang mendapat
pelatihan militer dari jepang, dan bahkan sekitar 2.000 pemuda Sumatera yang
direkrut sebagai Gyugun, telah dikerahkan dalam pertempuran melawan tentara
sekutu di Morotai, Halmahera Utara.
Dalam waktu kurang dari dua bulan, di Surabaya dan sekitarnya telah terbentuk
lebih dari 60 satuan BKR dan Laskar, di mana jumlah rakyat bersenjata
diperkirakan mencapai 30.000 orang. Hal tersebut dimungkinan, karena sebagian
terbesar adalah mantan anggota Peta, Heiho, Gyugun, Keibodan, Seinendan,
Hizbullah, yang memperoleh pendidikan dan pelatihan militer atau semi militer
dari Jepang, yang semula dirancang untuk membantu Jepang dalam pertahanan dan
keamanan di India Belanda. Jenis persenjataan yang dimiliki dari mulai senjata
ringan, senjata setengah berat sampai senjata berat, tank dan meriam kaliber
besar, bahkan pesawat terbang.
Pada 25 Oktober 1945, Brigade 49 dari 23rd British-Indian Division (Divisi
23) yang berkekuatan sekitar 5.000 tentara, mendarat di Surabaya di bawah
pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby. Mereka segera
masuk ke dalam kota dan mendirikan pos pertahanan di 8 tempat. Awalnya, mereka
ingin segera melucuti semua persenjataan yang telah dikuasai rakyat, namun
karena mendapat tentangan yang sangat keras dari pimpinan Indonesia di
Surabaya, akhirnya mereka mengalah. Tanggal 26 Oktober 1945 dicapai kesepakatan
antara pimpinan Indonesia dengan komandan Brigade 49, Brigadir Mallaby, yang
isinya a.l.:
1. Yang dilucuti senjata-senjatanya hanya tentara Jepang. (The
disarmament shall be carried out only in the Japanese Forces).
2. Tentara Inggris selaku wakil Sekutu akan membantu Indonesia dalam
pemeliharaan keamanan dan perdamaian. (The Allied Forces will assist in the
maintenace of law, order and peace).
3. Setelah semua tentara Jepang dilucuti, maka mereka akan diangkut
melalui laut. (The Japanese Forces after being disarmed, shall be transported
by sea).
Pada 27 Oktober pukul 11.00 pagi, sebuah pesawat Dakota langsung dari
Jakarta, atas perintah Mayjen Hawthorn, menyebarkan pamflet yang isinya adalah
perintah, agar dalam waktu 2 x 24 jam, seluruh senjata yang dimiliki oleh
rakyat Indonesia diserahkan kepada tentara Sekutu, dan setelah batas waktu
tersebut, barangsiapa terlihat membawa senjata, akan ditembak di tempat. Isi
pamflet ini jelas bertentangan dengan kesepakatan sehari sebelumnya, yang telah
disetujui oleh komandan tertinggi tentara Inggris di Surabaya, Brigadir
Jenderal Mallaby. Walaupun dikabarkan, bahwa Mallaby sendiri terkejut dengan
adanya pamflet terserbut, namun dia mematuhi perintah pimpinannya di Jakarta,
dan segera memerintahkan pasukannya untuk mulai melucuti persenjataan yang
dimiliki rakyat Indonesia di Surabaya. Rakyat Indonesia di Surabaya menilai
bahwa pihak Inggris telah melanggar perjanjian. Pimpinan militer Indonesia di
Surabaya mempertimbangkan, apabila mereka menyerahkan senjata kepada
sekutu, maka Indonesia tidak mempunyai kekuatan samasekali untuk
mempertahankan diri, sedangkan apabila tidak menyerahkan senjata, akan ditembak
di tempat. Namun mereka juga melihat, bahwa tentara Inggris tidak mengetahui,
berapa kekuatan bersenjata di pihak Indonesia. Dengan pedoman yang diajarkan
oleh pakar strategi militer Prusia, Carl von Clausewitz, bahwa Angriff ist die
beste Verteidigung (bahasa jerman, artinya: Menyerang adalah pertahanan yang
terbaik) pimpinan militer Indonesia memberikan perintah untuk menyerbu seluruh
pos pertahanan Inggris.
Serangan total dilakukan tanggal 28 Oktober 1945, pukul 4.30 pagi. Delapan
pos pertahanan Inggris diserbu oleh sekitar 30.000 rakyat bersenjata, dan masih
ditambah sekitar 100.000 bonek -artinya benar-benar bermodal nekad- dengan
bersenjata bambu runcing, clurit, pedang, golok dsb.
Tercatat sekitar 60 pasukan/laskar yang ikut dalam penyerbuan terhadap
tentara Inggris pada 28 Oktober 1945 tersebut. Hampir seluruh sukubangsa yang
ada di Indonesia terwakili oleh para pemuda yang tergabung dalam berbagai
pasukan/laskar, antara lain Pasukan Pemuda Sulawesi (KRIS Kebaktian Rakyat
Indonesia Sulawesi), Pasukan Pemuda Kalimantan, Pasukan Sadeli Bandung, Pasukan
Magenda Bondowoso, TKR Mojokerto, TKR Gresik, Pasukan Sriwijaya (sebagian besar
berasal dari Aceh dan Batak), Pasukan Sawunggaling, Barisan Hizbullah, Lasykar
Minyak, Pasukan TKR Laut, Pasukan BKR/TKR Morokrembangan, Pasukan BKR Kereta
Api, Pemuda Ponorogo, Pasukan Jarot Subiantoro Pemuda Banten, Corps Pegadaian,
Corps PTT, Pasukan Pelajar (TRIP). Banyak pemuda-pemuda dari Papua, Maluku dan
Pulau Rote tergabung dalam berbagai laskar, dan bahkan ada Pasukan Narapidana
Kalisosok (penjara di Surabaya).
Dengan demikian, bersatunya para pemuda Indonesia dalam perlawanan terhadap
tentara Sekutu pada 28 Oktober 1945 merupakan perwujudan dari semangat Sumpah
Pemuda 28 Oktober 1928. Peristiwa heroik ini terjadi tepat 17 tahun kemudian.
Suatu kebetulan? Atau suatu predistinasi?
Setelah digempur total selama sehari-semalam, tentara Inggris yang tidak
dipersiapkan untuk suatu pertempuran, mengibarkan bendera putih, minta
berunding. Pada tahun 1975, seorang perwira Inggris, Kapten R.C. Smith, dalam
suratnya kepada J.G.A. Parrot menuliskan, bahwa Brigjen Mallaby menyadari,
apabila pertempuran dilanjutkan, mereka akan disapu bersih (wiped out). Bahkan
mengenai dahsyatnya gempuran pemuda Indonesia di Surabaya tersebut, Kolonel
A.J.F. Doulton, dalam bukunya, The Fighting Cock: Being the History of the
Twenty-third Indian Division, 1942-1947. Aldershot: Gale and Polden, 1951,
menulis:
The heroic resistance of the British troop could only end in the
extermination of the 49th Brigade, unless somebody could quell the passion of
the mob. There was no such person in Surabaya and all hope rested on the
influence of Sukarno.
(Perlawanan heroik dari tentara Inggris hanya akan berakhir dengan musnahnya
Brigade 49, kecuali ada seorang yang dapat mengendalikan nafsu rakyat banyak
itu. Tak ada tokoh seperti itu di Surabaya dan semua harapan tertumpu pada
pengaruh Sukarno).
Menyadari bahwa apabila pertempuran dilanjutkan hanya akan mengakibatkan
kehancuran total Brigade 49, malam itu juga, tanggal 28 Oktober 1945, mereka
menghubungi pimpinan Republik di Jakarta. Inggris tidak dapat segera
mendatangkan bantuan pasukan, baik dari Brigade Bethell di Jawa Tengah yang
juga sedang menghadapi perlawanan rakyat Indonesia-, apalagi dari Malaya, yang
akan memerlukan waktu beberapa hari, sedangkan keadaan Brigade 49 di Surabaya
sudah sangat kritis. Tak ada jalan lain, selain meminta bantuan pimpinan
Republik di Jakarta, untuk menyelamatkan nyawa ribuan tentara Inggris yang
sudah terkepung di pos-pos pertahanan mereka di dalam kota Surabaya. Pimpinan
tentara Inggris menilai, situasi di Surabaya sangat mengkhawatirkan bagi
mereka, sehingga Presiden Sukarno yang sedang tidur, didesak agar segera
dibangunkan. Dalam Autobiografi yang ditulis oleh Cindy Adams, Sukarno
menuturkan:
Tukimin yang setia berbisik-bisik. Itu ada seorang yang menamakan dirinya
Pembantu Khusus (ADC) dari komandan Tentara Inggris. Ia menyatakan, bahwa ada
persoalan yang amat penting. Kepadanya telah saya jawab, bahwa Bapak sedang
tidur, tetapi ia mendesak agar supaya saya membangunkan Bapak.
Akhirnya setelah saya bangun, selama 30 menit terpaksa berbicara melalui
telepon. Tetapi tidak sepatah kata pun apa yang sedang menggelisahkan perasaan
saya dari pembicaraan telepon itu saya ungkapkan kepada intern keluarga saya,
baik Fatmawati maupun kepada Tukimin. Saya hanya menyatakan bahwa besok pagi
saya akan ke Surabaya dengan kapal terbang militer kepunyaan Inggris. Dan
kemudian saya kembali ke kamar tidur, dan pelan-pelan menutup pintu.
Saya dengan Hatta, yang baru saja dipilih menjadi Wakil Presiden, selama
lebih kurang 2 jam berbicara dengan pihak Sekutu Inggris, tetapi pihak Inggris
mengharapkan saya, sebab saya dibutuhkan. Dan saya tahu, bahwa tidak akan ada
sesuatu pun yang akan dapat menghentikan persoalan ini.
Di Surabaya, ternyata Inggris telah menempatkan markasnya di gedung-gedung di
tengah kota Surabaya sebagai pusatnya
.
Pada 29 Oktober sore hari, Presiden Sukarno beserta Wakil Presiden M. Hatta
dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin Harahap, tiba di Surabaya dengan
menumpang pesawat militer yang disediakan oleh Inggris. Segera hari itu juga
Presiden Sukarno bertemu dengan Mallaby di gubernuran. Malam itu dicapai
kesepakatan yang dituangkan dalam Armistic Agreement regarding the
Surabaya-incident; a provisional agreement between President Soekarno of the
Republic Indonesia and Brigadier Mallaby, concluded on the 29th October 1945.
Enam butir isi perjanjian tersebut antara lain:
Ø Perjanjian diadakan antara Panglima Tentara Pendudukan Surabaya
dengan PYM Ir. Sukarno, Presiden Republik Indonesia untuk mempertahankan
ketenteraman kota Surabaya.
Ø Untuk menenteramkan, diadakan perdamaian: ialah tembakan-tembakan dari
kedua pihak harus diberhentikan.
Ø Syarat-syarat termasuk dalam surat selebaran yang disebarkan oleh
sebuah pesawat terbang tempo hari (yang dimaksud adalah pamflet tanggal 27
Oktober 1945) akan diperundingkan antara PYM Ir Sukarno dengan Panglima
Tertinggi Tentara pendudukan seluruh Jawa pada tanggal 30 Oktober besok.
Mengenai hal-hal lain, dirundingkan dengan atasan Mallaby, Mayjen Hawthorn,
yang datang ke Surabaya keesokan harinya, tanggal 30 Oktober. Dalam perundingan
pada hari itu, dicapai kesepakatan antara Bung Karno dengan Komandan Divisi 23,
Mayjen Hawthorn, yang isinya a.l.: mencabut perintah dalam pamflet tertanggal
27 Oktober, dan pengakuan terhadap keberadaan TKR dan polisi Indonesia.
Pada pertempuran yang berlangsung di Surabaya tanggal 28 dan 29 Oktober 1945,
Inggris mencatat: 18 perwira dan 374 serdadu, yang tewas, luka-luka dan hilang.
Sedangkan di pihak Indonesia diperkirakan sekitar 6.000 orang yang tewas,
luka-luka dan hilang.
Setelah Presiden Sukarno beserta rombongan pulang ke Jakarta, dalam rangka
penyebarluasan hasil kesepakatan dan gencatan senjata, terjadi insiden tembak
menembak, yang mengakibatkan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby, komandan
Brigade 49 di Surabaya. Inggris menyalahkan pihak Indonesia telah melanggar
gencatan senjata, dan membunuh Mallaby secara licik.
Kedua tuduhan tersebut ternyata tidak benar, namun tentara Inggris tetap
melaksanakan penghancuran kota Surabaya dengan pemboman besar-besaran yang
dimulai tanggal 10 November 1945. Inggris mengerahkan lebih dari 30.000
tentaranya yang dilengkapi dengan persenjataan mutakhir yang dimiliki tentara
Inggris, yaitu pasukan Divisi 5 yang berkekuatan sekitar 20.000 tentara, sisa
Brigade 49, dibantu marinir dari armada Inggris di bawah pimpinan Rear Admiral
Patterson dan skuadron pesawat tempur dan pembom. Akibat agresi militer Inggris
-terbesar setelah Perang Dunia II usai- yang berlangsung selama sekitar 3
minggu, diperkirakan lebih dari 20.000 penduduk Surabaya tewas, termasuk
perempuan dan anak-anak, serta hancurnya hampir separuh kota Surabaya.
Dalam Seminar di LEMHANNAS tanggal 27 Oktober 2000 yang diselenggarakan oleh
Komite Pembela Hak Asasi Rakyat Surabaya Korban Pemboman November 45 bersama
LEMHANNAS, Richard Gozney, Duta Besar Inggris, atas nama Pemerintah dan Rakyat
Inggris menyampaikan penyesalan atas pemboman yang dilakukan tentara Inggris di
Surabaya, dan mengakui terus terang, bahwa pada waktu itu memang Inggris
membantu Belanda untuk menguasai Indonesia kembali sebagai jajahan.
Disadur dari
Batara R. Hutagalung, 10 November 1945. Mengapa Inggris Membom Surabaya?
Millenium Publisher, Jakarta, Oktober 2001, edisi pertama, xiv + 472 halaman.
Kumpulan tulisan Batara R. Hutagalung dapat dibaca di Weblog:
http://batarahutagalung.blogspot.com
dan website Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB):
http://www.kukb.nl
====================================================
The Jakarta Post
Sunday, December 30, 2001
Book Review
"10 November '45, Mengapa Inggris Membom Surabaya?" ("10 November '45, Why Did
Britain Bomb Surabaya?"); By Batara R. Hutagalung; Millenium Publisher,
Jakarta;
(Oct. 2001), first edition, xiv + 472 pp; Rp 59,900,
This book analyzes the simultaneous sea, land and air campaign by British
forces against the defenders of the East Java capital of Surabaya in November
1945.
To this day, it remains a bitter memory for older Indonesians.
In the author's opinion, there are two main reasons why Britain, which did not
hold colonial authority over Indonesia, launched the invasion.
First, there were psychological and emotional reasons at play, since Britain
was victorious in World War II. Second, the British were bound by a treaty with
the Dutch stemming from the conference at Yalta on Feb. 11, 1945, and the
Postdam Declaration, which took place on July 26, 1945.
The objectives of the treaty were "to reestablish civilian rule, and return the
colony to Dutch administration," as well as "to maintain the status quo which
existed before the Japanese invasion".
They can be found in a letter dated Sept. 2, 1945 by the Allied Forces' Supreme
Commander South East Asia Vice Admiral Lord Louis Mountbatten. British
assistance was also in line with the Civil Affairs Agreement between the Dutch
and Britain in Chequers, Britain, on Aug. 24, 1945.
The author also outlines the violations committed by British troops. They
include infringements upon the sovereignty of the fledgling nation of
Indonesia, human rights abuses -- including crimes against humanity and forced
displacement -- and war crimes.
Apart from its thorough dissection of this bloody chapter of Indonesian
history, this book carries something else of equally important historical
significance: an official apology from the British government. It was expressed
by British Ambassador to Indonesia Richard Gozney in the name of the British
government during a seminar on the Battle of Surabaya in Jakarta in October
2000.
It was a sympathetic act -- one which has yet to be offered by the Dutch who,
as a colonial power, ruled Indonesia for centuries.
-- Darul Aqsha
---------------------------------
Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/