Mbak Lina Dahlan yang baik, terima kasih untuk link-nya:
   
  http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg00437.html
   
  Komentar dari saya hanya satu kata saja: MENGERIKAN!
   
  Usai saya baca, gerakan Kaum Paderi yang terjadi ratusan tahun lalu 
mirip-mirip dengan gerakan ormas-ormas Islam yang terjadi saat ini di 
Indonesia. Polanya
serupa tapi tak sama 'plek' - karena beda zaman. Adakah hubungan antara Perang 
Paderi dan Perang Jawa? Imam Bonjol dan kawan-kawannya juga mungkin
tak kenal Pangeran Diponegoro, tapi gerakannya mirip. Lihat pakaian
yang dikenakan Diponegoro, sungguh tak lazim untuk seorang pangeran Jawa 
yang hidup di masa itu. Sangat-sangat Islami, bahkan nyaris kearab-araban.
Memang, sejak kecil Pangeran Diponegoro jadi santri di ponpes, tapi
kemungkinan ada pengaruh dari aliran yang ia percayai. Ternyata, ada satu 
nama sebagai kunci penghubung antara gerakan kaum Paderi dan Perang Jawa, 
yaitu Sentot Ali Basyah. Menurut catatan Belanda yang mungkin tak tercatat 
dalam sejarah resmi Indonesia, dia melakukan persekongkolan dengan kaum 
Paderi, walau sebelumnya dia dan pasukannya telah direkrut sebagai 
balatentara Belanda. 
   
  Lalu apa bedanya gerakan kaum Paderi dengan gerakan ormas Islam di masa
kini? Wilayah Indonesia terus terang terlalu luas untuk di-SI-kan secara
serentak. Jadi gerakannya mirip pola komunis yang merangkak: "desa kepung 
kota". 
Walau kita mengklaim bahwa mayoritas bangsa Indonesia adalah Islam, namun 
ormas-ormas Islam garis keras ini menuding bahwa umat Islam di Indonesia baru 
memeluk  Islam namanya saja, belum benar-benar mengamalkan ajaran Islam yang 
sejati.  Islam harus sesuai seperti apa yang mereka yakini. Sungguh pas seperti 
apa yang terjadi di Minangkabau ratusan tahun lampau. Lagipula, dunia kini 
makin mengglobal, plus telah hadir berbagai media massa, sehingga kalau ada 
"jarum jatuh" di sudut mana pun pasti cepat menyebar ke seluruh dunia. 

  Nah, salah satu point dari 'grand design' mereka adalah menguasai media
massa, seperti dulu di zaman Orba dimana keluarga Pak Harto telah
memonopolinya, hanya sebagian kecil media massa yang mau jadi antek-antek
mereka. Kalau isinya terlalu berani, ya dibredel!
   
  Pertanyaannya: Bisakah point itu terwujud? Mungkin saja bisa, karena 
menurut pengamatan, ada beberapa crew media massa yang mulai ikut 
"bermain". Di beberapa media massa kini marak dengan "pengajian kantor", liqo,
dan ujung-ujungnya di-bai'at (janji sehidup semati). Dengan penyebaran 
sistem sel, indoktrinasinya amat intens, sehingga mereka punya pikiran yang 
nyaris
seragam.
   
  Nah, sosok seperti Mbak Aris Solikhah itu sebenarnya cocok kalau ikut
berperan aktif. Siapa tahu kelak masuk buku sejarah sebagai tokoh perempuan
yang berhasil menjungkirbalikkan NKRI. Sesuai namanya, Mbak Aris itu 
perempuan yang solehah, 'sumeleh', gigih memperjuangkan SI, cukup piawai 
berkomunikasi,  penyabar, 'tlaten' dan amat anti-Barat. Tetapi kalau Mbak Aris 
cuma nongkrong di Bogor jadi karyawati IPB, impian  untuk mewujudkan Syariat 
Islam di Indonesia bakal kian lama.  Ayo ayo Mbak Aris, bangun, bangun, bangun. 
Bantulah itu Indonebia dan sohib-sohibnya yang konon tersebar dan berkiprah 
dimana-mana, jangan  cuma bermimpi saja!
   
  Kalau media massa dan tokoh-tokoh politik serta kekuatan birokrat dan
militer sudah berhasil dikuasai, barulah mereka bergerak secara lebih intens. 
Sehingga berita-berita di media massa yang selama ini merugikan gerakan-gerakan 
kelompok mereka, dapat dipoles menjadi sebaliknya. Perda-Perda yang menurut 
sebagian orang nampak "aneh", nantinya akan menjadi hal biasa yang tak perlu 
dipertanyakan  lagi, apalagi diprotes. Namun ya akibatnya akan parah, NKRI akan 
terpecah. Minahasa saja sudah mau mendeklarasikan negerinya, karena pemerintah 
pusat berdiam diri saja, seolah tutup mata, atas maraknya perda-perda bernuansa 
Islami yang mendompleng maraknya otda di berbagai wilayah NKRI. Ujung-ujungnya, 
kelak Indonesia akan kembali ke  masa lampau, zaman-zaman berjayanya 
kesultanan-kesultanan Islam di  Nusantara yang tetap saja saling berperang, mau 
diadu domba,  dan dalam jangka waktu yang tak lama akhirnya satu persatu ambruk 
juga. 
   
  Di sisi lain, para penganut Islam sejuk, moderat, pluralis, dan warna-warni 
cuma bisa terbengong-bengong saja menyaksikan semua yang telah terjadi. 
Mereka tak berani bersikap. Mereka takut melanggar akidah kalau mengingatkan 
Islam fundamentalis bergaris keras yang menghalalkan segala cara untuk mencapai 
tujuannya. Kalau toh kasih saran secara lisan maupun tulisan, tak bakal 
didengarkan 
karena dari sononya sudah 'dicetak' seperti itu. Mereka juga takut 
ditekan, apalagi yang non-muslim. 
   
  Banyak juga masyarakat kita yang berpikiran mau untungnya sendiri: "Ah 
apa pun bentuk pemerintahannya saya mah cuek saja, yang penting rezeki lancar, 
duit tetap mengalir, dan bisnis tetap jalan." Lagi-lagi, yang akan berdayung di 
air 
keruh ya negara-negara neo-imperialis dan pedagang senjata berjaringan 
internasional. Seperti Freeport misalnya,  bisnisnya pertambangannya akan lebih 
mantap apabila Papua terpisah dari NKRI menjadi negeri mandiri. Kenapa?
Karena tak ada lagi 'recokan' orang-orang pusat di Jakarta. Sikap serupa
pasti juga pasti dipikirkan oleh Exxon, Caltex, Newmont, dan MNC lainnya. Mereka
juga sebenarnya 'sebel' sama orang-orang Pusat yang selalu minta 'jatah'. 
Buat mereka, bisnis yang mereka jalani akan lebih efektif dan efisien 
kalau NKRI bubar. Buat mereka, siapa pun kelompok yang membubarkan NKRI
tak jadi masalah besar sepanjang mereka bisa mendikte untuk keuntungan
mereka. Bukankah yang namanya uang itu tak beragama? Justru kini malah
kian banyak orang menjadikan uang sebagai sesembahan - alias berhala baru. 
Apakah pemerintah SBY - JK juga punya jalan pikiran yang sama? Atau sebenarnya 
kita tak membutuhkan peran mereka lagi, karena toh mereka tetap saja 
berperilaku 'business as usual'? Mampukah Anda membaca pikiran 
mereka-mereka yang ada di pusat kekuasaan? 
   
  Salam,
  
RD
  _________________________________________________________________
   
  [Urangawak] Perang Padri - Oleh Abdul Qadir Djaelani
Wady Afriadi
  
Sat, 01 Apr 2006 08:38:16 -0800
   
  PERANG PADRI
  Apabila diteliti masa Perang Padri di daerah Sumatera Barat dalam 
abad ke-19 dapat digolongkan kepada beberapa periode, yaitu: 
   
  (a) Periode 1809 - 1821 
  Periode ini adalah merupakan pembersihan yang ditakukan oleh kaum 
Padri terhadap golongan penghulu adat yang dianggap menyimpang dan 
bertentangan dengan syari'at Islam. Dalam masa ini terjadilah pertempuran 
antara kaum Padri melawan golongan penghulu adat. 
   
  (b) Periode 1821 - 1832 
  Periode ini adalah merupakan pertempuran antara kaum Padri dengan 
Belanda-Kristen yang dibantu sepenuhnya oleh golongan penghulu adat. Dalam 
masa ini sifat pertempuran telah berubah antara penguasa kolonial 
Belanda-Kristen yang mau menjajah Sumatera Barat yang dibantu oleh para 
penguasa bangsa sendiri yang berkolaborasi untuk mempertahankan 
eksistensinya sebagai penguasa yang ditentang secara gigih oleh kaum 
Padri. 
   
  (c) Periode 1832 - 1837 
  Periode ini adalah merupakan perjuangan seluruh rakyat Sumatera Barat, 
dimana kaum Padri dan golongan penghulu adat telah bersatu melawan 
penguasa kolonial Belanda-Kristen. Dalam masa ini rakyat Sumatera Barat 
dengan dipelopori dan dipmimpin oleh para ulama yang tergabunig dalam kaum 
Padri bahu-membahu di medan pertempuran untuk mengusir penguasa kolonial 
Belanda-Kristen dari Sumatera Barat. 
   
  Latar belakang lahirnya kaum Padri mempunyai kaitan dengan gerakan Wahabi 
yang muncul di Saudi Arabia, yaitu gerakan yang dipimpin oleh seorang 
ulama besar bernama Muhammad bin Abdul Wahab (1703--1787). Nama gerakan 
Wahabi sesungguhnya merupakan nama yang mempunyai konotasi yang kurang 
baik, yang diberikan oleh lawan-lawannya, sedangkan gerakan ini lebih 
senang dan menamakan dirinya sebagai kaum 'Muwahhidin' yaitu kaum yang 
konsisten dengan ajaran tauhid, yang merupakan landasan asasi ajaran 
Islam. 
   
  Paham kaum Muwahhidin (Wahabi) ini antara lain: 
(a) Yang boleh dan harus disembah hanyalah Allah se-mata; dan siapa saja yang 
menyembah selain  Allah, adalah musyrik; 
(b) Umat Islam yang meminta safaat kepada para wali, syeikh atau ulama dan 
kekuatan ghaib yang di-pandang memiliki dan 
mampu memberikan safaat adalah suatu kemusyrikan; 
(c) Menyebut-nyebut nama Nabi, wali, ulama untuk dijadikan perantara dalam 
berdo'a adalah termasuk perbuatan syirik; 
(d) Mengikuti shalat berjamaah adalah merupakan kewajiban; 
(e) Merokok dan segala bentuk candu adalah haram; 
(f) Memberantas segala bentuk kemunkaran dan kemaksiatan; 
(g) Umat Islam, harus hidup sederhana, segala macam pakaian mewah dan 
berlebih-lebihan diharamkan. 
   
  Sifat gerakan Wahabi yang keras ini, benar-benar merupakan tenaga 
penggerak yang sanggup membangkitkan kembali kesadaran kaum muslimin yang 
sedang tidur lelap dalam keterbelakangannya. Dibantu oleh para 
sahabatnya seperti Ibnu Sa'ud dan Abdul Azis Ibnu Sa'ud, pemikiran dan 
cita-cita ini diwujudkan dalam gerakan yang keras, akhirnya pada tahun 
1921 menjelma menjadi satu pemerintahan yang berdaulat di Saudi Arabia 
dengan ibukotanya Riyadh. 
   
  Paham dan gerakan Wahabi inilah yang mewarnai pandangan Haji Miskin dari 
Pandai Sikat (Luhak Agam), Haji Abdur Rahman dari Piabang (Luhak Lima 
Puluh) dan Haji Muhammad Arief dari Sumanik (Luhak Tanah Datar) yang 
bermukim di Mekah Saudi Arabia dan pada tahun 1802 mereka kembali ke 
Sumatera Barat. 
   
  Sesampainya di Sumatera Barat, mereka berpendapat bahwa umat Islam di 
Minangkabau baru memeluk Islam namanya saja, belum benar-benar mengamalkan 
ajaran Islam yang sejati. Berdasarkan penilaian semacam itu, maka di 
daerahnya masing-masing mereka mencoba memberikan fatwanya. Haji Muhammad 
Arifin di Sumanik mendapat tantangan hebat di daerahnya sehingga terpaksa 
pindah ke Lintau. Haji Miskin mendapat perlawanan hebat pula di daerahnya 
dan terpaksa harus pindah ke Ampat Angkat. Hanya Haji Abdur Rahman di 
Piabang yang tidak banyak mendapat halangan dan tantangan. 
   
  Kepindahan Haji Miskin ke Ampat Angkat membawa angin baru, karena di sini 
ia mendapatkan sahabat-sahabat perjuangan yang setia; diantaranya yaitu 
Tuanku Nan Renceh di. Kamang, Tuanku di Kubu Sanang; Tuanku di Ladang 
Lawas, Tuanku di Koto di Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto 
Ambalau, Tuanku di Lubuk Aur. Itulah tujuh orang yang berbai'ah (berjanji 
sehidup semati) dengan Tuanku Haji Miskin. Jumlah para ulama yang 
berbai'ah ini menjadi delapan orang, yang kemudian terkenal dengan sebutan 
'Harimau Nan Salapan'. 
   
  Harimau Nan Salapan ini menyadari bahwa gerakan ini akan lebih berhasil 
bilamana mendapat sokongan daripada ulama yang lebih tua dan lebih 
berpengaruh, yaitu Tuanku Nan Tuo di Ampat Angkat. Oleh sebab itu Tuanku 
Nan Renceh yang lebih berani dan lebih lincah telah berkali-kali menjumpai 
Tuanku Nan Tuo untuk meminta agar ia bersedia menjadi 'imam' atau pemimpin 
gerakaa ini. Tetapi setelah bertukar-pikiran berulang kali, Tuanku Nan Tuo 
menolak tawaran itu. Sebab pendirian Harimau Nan Salapan hendak dengan 
segera menjalankan syari'at Islam di setiap nagari yang telah ditaklukkannya. 
Kalau perlu dengan kekuatan dan kekuasaan. 
   
  Tetapi Tuanku Nan Tuo mempunyai pendapat Yang berbeda; ia berpendapat 
apabila telah ada orang beriman di satu nagari walaupun baru seorang, 
tidaklah boleh nagari itu diserang. Maka yang penting menurut pandangannya 
ialah menanamkan pengaruh yang besar pada setiap nagari. Apabila seorang 
ulama di satu nagari telah besar pengaruhnya, ulama itu dapat memasukkan 
pengaruhnya kepada penghulu-penghulu, imam-khatib mantri dan dubalang. 
  Pendapat yang berbeda dan bahkan bertolak belakang antara Tuanku Nan Tuo 
dengan Harimau Nan Salapan sulit untuk dipertemukan, sehingga tidak 
mungkin Tuanku Nan Tuo dapat diangkat menjadi imam atau pemimpin gerakan 
ini. Untuk mengatasi masalah ini, Harimau Nan Salapan mencoba mengajak 
Tuanku di Mansiangan, yaitu putera dari Tuanku Mansiangan Nan Tuo, yakni 
guru daripada Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat. Rupanya Tuanku yang muda di 
Man-siangan ini bersedia diangkat menjadi imam atau pemimpin gerakan 
Harimau Nan Salapan, dengan gelar Tuanku Nan Tuo. 
   
  Karena yang diangkat menjadi imam itu adalah anak daripada gurunya 
sendiri, sulitlah bagi Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat itu untuk menentang 
gerakan ini. Padahal hakikatnya yang menjadi imam dari gerakan Hariman Nan 
Salapan adalah Tuanku Nan Renceh; sedangkan Tuanku di Mansiangan hanya 
sebagai simbol belaka. 
   
  Kaum Harimau Nan Salapan senantiasa memakai pakaian putih-putih sebagai 
lambang kesucian dan kebersihan, dan kemudian gerakan ini terkenal dengan 
nama 'Gerakan Padri'. 
   
  Setelah berhasil mengangkat Tuanku di Mansiangan menjadi imam gerakan 
Padri ini, maka Tuanku Nan Renceh selaku pimpinan yang paling menonjol 
dari Harimau Nan Salapan mencanangkan perjuangan padri ini dan memusatkan 
gerakannya di daerah Kameng. Untuk dapat melaksanakan syari'at Islam 
secara utuh dan murni, tidak ada alternatif lain kecuali memperoleh 
kekuasaan politik. Sedangkan kekuasaan politik itu berada di tangan para 
penghulu. Oleh karena itu untuk memperoleh kekuasaan politik itu, tidak 
ada jalan lain kecuali merebut kekuasaan dari tangan para penghulu. Karena 
Kamang menjadi pusat perjuangan Padri, maka kekuasaan penghulu Kamang 
harus diambil alih oleh kaum Padri, dan berhasil dengan baik. 
   
  Sementara itu para penghulu di luar Kamang yang telah mendengar adanya 
gerakan Padri ini, ingin mem-buktikan sampai sejauh mana kemampuan para 
alim ulama dalam perjuangan mereka untuk melaksanakan syari'at Islam 
secara utuh dan murni. Bertempat di Bukit Batabuah dengan Sungai Puar di 
lereng Gunung Merapi, para penghulu dengan sengaja dan mencolok mengadakan 
penyabungan ayam, main judi dan minum-minuman keras yang diramaikan 
dengan bermacam pertunjukan. Para penghulu itu dengan para pengikut-nya 
seolah-olah memancing apakah para alim-ulama mampu merealisasikan ikrarnya 
untuk betul-betul melaksanakan syari'at Islam secara keras. 
   
  Tentu saja tantangan ini menimbulkan kemarahan dari pihak kaum Padri. 
Dengan segala persenjataan yang ada pada mereka, seperti 'setengger' 
(senapan balansa), parang, tombak, cangkul, sabit, pisau dan sebagainya 
kaum Padri pergi ke Bukit Batabuh tersebut untuk membubarkan pesta 
'maksiat' yang diselenggarakan oleh golongan penghulu (penguasa). 
  Sesampainya pasukan kaum Padri di Bukit Batabuh disambut dengan 
per-tempuran oleh golongan penghulu. Dengan sikap mental perang sabil dan 
mati syahid, pertempuran yang banyak menelan korban di kedua belah pihak, 
akhirnya dimenangkan oleh pasukan kaum Padri. Dengan peristiwa Bukit 
Batabuh, berarti permulaan peperangan Padri. 
   
  Kemenangan pertama yang gemilang bagi kaum Padri, mendorong Tuanku Nan 
Renceh sebagai pimpinan gerakan ini untuk memperkuat dan melengkapi 
persenjataan pasukan Padri. Tindakan ofensif bagi daerah-daerah yang 
menentang kaum Padri segera dilakukan. Daerah Kamang Hilir ditaklukkan, 
kemudian menyusul daerah Tilatang. Dengan demikian seluruh Kamang telah 
berada di tangan kaum Padri. 
   
  Dari Kamang operasi pasukan Padri ditujukan ke luar yaitu Padang Rarab dan 
Guguk jatuh ketangan kaum Padri. Lalu daerah Candung, Matur dan bahkan 
pada tahun 1804 seluruh daerah Luhak Agam telah ber-ada di dalam kekuasaan 
kaum Padri. 
   
  Keberhasilan kaum Padri menguasai daerah Luhak Agam, selain kesungguhan 
yang keras, tetapi juga kondisi masyarakatnya memang sangat memungkinkan 
untuk cepat berhasil. Sebab daerah Luhak Agam terkenal tempat bermukimnya 
ulama-ulama besar seperti Tuanku Pamansiangan dan Tuanku Nan Tuo, 
sedangkan pengaruh para penghulu sangat tipis. Wibawa para peng-hulu 
berada di bawah pengaruh para ulama. 
   
  Operasi pasukan Padri ke daerah Luhak Lima Puluh Kota berjalan dengan 
damai. Sebab penghulu daerah ini bersedia menyatakan taat dan patuh kepada 
kaum Padri serta siap membantu setiap saat untuk kemenangan kaum Padri. 
   
  ********
   
  Perang Padri 2/6 
   
  Dengan berkuasanya kaum Padri; maka daerah-daerah yang berada di dalam 
kekuasaannya diadakan perubahan struktur pemerintahan yaitu pada setiap 
nagari diangkat seorang 'Imam dan seorang Kadhi'. Imam bertugas memimpin 
peribadahan seperti sembah-yang berjam aah lima waktu sehari semalam, 
puasa, dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah-masalah ibadah. Kadhi 
bertugas untuk menjaga kelancaran dijalankannya syari'at Islam dalam arti 
kata lebih luas dan menjaga ketertiban Umum. 
   
  Di daerah Luhak Tanah Datar, pasukan kaum Padri tidak semudah dan selicin 
di daerah Luhak Adam dan Lima Puluh Kota untuk memperoleh kekuasaannya. Di 
sini pasukan kaum Padri mendapat perlawanan yang sengit dari golongan 
penghulu dan pemangku adat. Sebab Luhak Tanah Datar adalah merupakan pusat 
kekuasa-an adat Minangkabau. Kekuasaan itu berpusat di Pagaruyung yang 
dipimpin oleh Yang Dipertuan Minangkabau. Di waktu itu Yang Dipertuan atau Raja 
Minangkabau adalah Sultan Arifin Muning Syah. 
   
  Pada pemerintahan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung terdapat tiga 
orang raja yang berkuasa yang dikenal dengan nama Raja Tigo Selo, yaitu : 
(a) Raja Alat atau Yang Dipertuan Pagaruyung, adalah yang memegang 
kekuasaan tertinggi di seluruh Minangkabau. 
(b) Raja Adat, adalah yang memegang kekuasaan dalam masalah adat. 
(c) Raja Ibadat adalah yang memegang kekuasaan dalam masalah agama. 
   
  Dalam pelaksanaan pemerintah sehari-hari Raja Tigo Selo dibantu oleh 
Basa Empat Balai yang berkedudukan sebagai menteri dalam pemerintahan 
Minangkabau di Pagaruyung. Mereka itu adalah : 
  - Dt. Bandaharo atau Tuan Tittah di Sungai Tarab, yang mengepalai tiga 
orang lainnya atau dapat dikatakan sebagai Perdana Menteri; 
  - Makkudun di Sumanik, yang menjaga kewibawaan istana dan menjaga bubungan 
dengan daerah rantau dan daerah-daerah lainmya; 
  - Indomo di Suruaso, yang bertugas menjaga kelancaran pelaksanaan adat; 
  - Tuan Kadhi di Padang Ganting; yang bertugas menjaga kelancaran syari'at 
atau agama. 
   
  Di samping Basa Empat Balai ada seorang lagi, yaitu Tuan Gadang di Batipuh 
yang bertindak sebagai Panglima Perang, kalau Pagaruyung kacau dialah 
bersama pasukannya untuk mengamankannya. 
   
  Kekuasaan Raja Minangkabau sebetulnya tidak begitu terasa oleh rakyat 
dalam kehidupan sehari-hari, karena nagari-nagari di Minangkabau mendapat 
otonomi yang sangat luas, sehingga segala sesuatu di dalam nagari dapat 
diselesaikan oleh kepala nagari melalui kerapatan adat nagari. Kalau masalahnya 
tidak selesai dalam nagari baru  dibawa ke pimpinan Luhak (kira-kira sana 
dengan kabupaten sekarang). Kalau  masih belum selesai diteruskan ke Basa Empat 
Balai untuk selanjutnya  diteruskan ke Raja Adat atau Raja Ibadat, tergantung 
pada masalahnya. Kalau semuanya tak dapat menyelesaikan masalahnya, maka akan 
diputuskan oleh Raja Minangkabau. 
   
  Oleh karena itu gerakan Padri oleh Raja Minangkabau dan stafnya dianggap 
satu bahaya besar, sebab gerakan ini akan mengambil kekuasaan mereka. 
Selain itu para bangsawan pun cemas, karena khawatir adat nenek-moyang 
yang telah turun-menurun akan lenyap, jika kaum Padri berkuasa. 
   
  Pertempuran sengit di daerah Luhak Tanah Datar antara pasukan Padri dengan 
pasukan Raja berjalan sangat alot. Perebutan daerah Tanjung Barulak, salah 
satu jalan untuk masuk ke pusat kekuasaan Minang-kabau dari Luhak Agam, 
sering berpindah tangan, terkadang dikuasai pasukan Padri, terkadang 
dapat di-rebut kembali oleh pasukan raja. Walaupun begitu, pasukan Padri 
makin hari makin maju, sehingga daerah kekuasaan para penghulu makin lama 
makin kecil. Untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk bagi para penghulu, 
akhirnya atas persetujuan Yang Dipertuan di Pagaruyung, Basa Empat Balai 
mengadakan perundingan dengan kaum Padri. 
   
  Perundingan itu dilaksanakan di nagari Koto Tangah pada tahun 1808, 
sesudah enam tahun gerakan kaum Padri melancarkan aksinya. Kaum Padri 
dalam perundingan itu dipimpin oleh Tuanku Lintau yang datang dengan 
seluruh pasukannya, sedangkan para penghulu dipimpin oleh Raja 
Minangkabau sendiri. Seluruh staf raja dan sanak keluarganya hadir dalam 
pertemuan tersebut, tanpa menaruh curiga sedikit juga, karena gencatan 
senjata telah disepakati sebelumnya. 
   
  Tetapi sekonyong-konyong keadaan menjadi kacau sebelum perundingan 
dimulai. Karena kesalah-pahaman antara bawahan Tuanku Lintau yang bernama 
Tuanku Belo dengan para staf raja, yang berakibat meledak menjadi 
perkelahian dan pertumpahan darah. 
   
  Raja dan hampir sebagian terbesar staf dan keluarganya mati terbunuh 
dalam perkelahian itu, hanya ada beberapa orang dari para penghulu dan 
seorang cucu raja yang dapat selamat meloloskan diri sampai ke Kuantan. 
  Mendengar peristiwa berdarah ini, Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan 
tertinggi gerakan Padri sangat marah terhadap Tuanku Lintau dan 
pasukannya, karena dianggap melanggar gencatan senjata yang telah 
di-sepakati dan berarti menggagalkan usaha perdamaian. 
   
  Dengan peristiwa ini, maka praktis seluruh Luhak Tanah Datar menyerah 
kepada kaum Padri tanpa perlawanan, karena takut melihat pengalaman di 
Koto Tangah. 
   
  Untuk mengokohkan gerakan kaum Padri, Tuanku Nan Renceh telah 
memerintahkan salah seorang muridnya yang bernama Malin Basa atau Peto 
Syarif atau Muhammad Syahab, untuk membuat sebuah benteng yang kuat, 
sebagai markas gerakan kaum Padri. Pemilihan Malin Basa, yang kemudian 
bergelar Tuanku Mudo untuk membuat benteng besar, guna menjadi pusat 
gerakan kaum Padri, disebabkan karena Malin Basa (Tuanku Mudo) seorang 
murid yang pandai, alim dan berani. 
   
  Perintah Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan tertinggi gerakan Padri dan 
guru dari Tuanku Mudo, dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan 
keberanian dan berhasil memilih tempat di sebelah timur Alahan Panjang, di 
kaki bukit yang bernama Bukit Tajadi. Dengan bantuan seluruh umat Islam 
yang tinggal di sekitar Alahan Panjang, di mana setiap hari bekerja tidak 
kurang dari 5000 orang, akhirnya 'Benteng Bonjol' yang terletak di bukit 
Tajadi itu menjelma menjadi kenyataan dengan ukuran panjang kelilingnya 
kira-kira 800 meter dengan areal seluas kira-kira 90 hektar, tinggi 
tembok empat meter dengan tebalnya tiga meter. Di sekelilingnya ditanami 
pagar aur berduri yang sangat rapat. 
   
  Di tengah-tengah benteng Bonjol berdiri dengan megahnya sebuah masjid yang 
lengkap dengan per-kampungan pasukan Padri dan rakyat yang setiap saat 
mereka dapat mengerjakan sawah ladangnya untuk keperluan hidup 
sehari-hari. Sesuai dengan, fungsinya, maka be nteng Bonjol juga 
diperlengkapi dengan persenjataan perang, guna setiap saat siap 
menghadapi per-tempuran. Benteng Bonjol itu dipimpin langsung oleh Tuanku 
Mudo yang bertindak sebagai 'imam' dari masyarakat benteng Bonjol, yang 
sesuai dengan struktur pemerintahan kaum Padri. Oleh sebab itu, Tuanku 
Mudo digelari dengan 'Imam Bonjol'. 
   
  Setelah benteng Bonjol selesai dan struktur pemerin-tahan lengkap berdiri, 
Imam Bonjol memulai gerakan Padrinya ke daerah-daerah sekitar Alahan 
Panjang dan berhasil dengan sangat memuaskan. Keberbasilan Imam Bonjol 
dengan pasukannya menimbulkan kecemasan para penghulu di Alahan Panjang 
seperti antara lain Datuk Sati. Kecemasan ini melahirkan satu gerakan para 
penghulu di Alahan Panjang untuk menyerang pasukan Imam Bonjol dan merebut 
benteng sekaligus. Pada tahun 1812 Datuk Sati dengan pasukannya menyerbu 
benteng Bonjol, tetapi sia-sia dan kekalahan diderita olehnya. Untuk 
mencegah hal-hal yang lebih buruk, maka Datuk Sati mengajak diadakannya 
perdamaian antara para penghulu dengan Imam Bonjol. 
   
  Keberhasilan Imam Bonjol menguasai seluruh daerah Alahan Panjang, ia 
kemudian diangkat menjadi pemimpin Padri untuk daerah Pasaman. Untuk 
meluaskan kekuasaan kaum Padri, Imam Bonjol mengarahkan pasukannya ke 
daerah Tapanuli Selatan. Mulai Lubuk Sikaping sampai Rao diserbu oleh 
pasukan Imam Bonjol. Dari sana terus ke Talu, Air Bangis, Sasak, Tiku dan 
seluruh pantai barat Minangkabau sebelah utara. 
   
  Setelah seluruh Pasaman dikuasai, maka untuk memperkuat basis pertahanan 
untuk penyerangan ke utara, didirikan pula benteng di Rao dan di 
Dalu-Dalu. Benteng ini terletak agak ke sebelah utara Minangkabau. 
Benteng Rao dikepalai oleh Tuanku Rao, sedangkan benteng Dalu-Dalu dikepalai 
oleh Tuanku Tambusi. Kedua perwira Padri ini berasal dari Tapanuli dan berada 
di bawah pimpinan Imam Bonjol. 
   
  Dengan mengangkat Tuanku Rao dan Tuanku Tambusi sebagai pimpinan kaum 
Padri di Tapanuli Selatan, gerakan Padri berjalan dengan sangat berhasil, 
tanpa menghadapi perlawanan yang berarti. Daerah-daerah disini begitu 
setia untuk menjalankan syari'at Islam secara penuh, sesuai dengan 
misi yang diemban oleh gerakan Padri. 
   
  Sementara kaum Padri bergerak menguasai Tapanuli Selatan dan daerah 
pesisir barat Minangkabau, Belanda muncul kembali di Padang. Tuanku 
Pamansiangan salah seorang pemimpin di Luhak Agam mengusulkan kepada Imam 
Bonjol untuk menarik pasukan Padri dari Tapan uli Selatan dan menggempur 
kedudukan Belanda di Padang yang belum begitu kuat. Karena baru saja serah 
terima kekuasaan dari Inggeris (1819). Tetapi perwira-perwira Padri 
seperti Tuanku Raos, Tuanku Tambusi dan Tuanku Lelo dari Tapanuli Selatan 
berkebaratan untuk melaksakan usul itu, oleh karena itu Imam Bonjol 
hanya dapat memantau kegiatan dan gerakan pasukan Belanda melalui 
kurir-kurir yang sengaja dikirim ke sana. 
   
  Belanda yang tahu bahwa daerah pesisir seperti Pariaman, Tiku, Air Bangis 
adalah daerah strategis yang telah dikuasai kaum Padri, maka Belanda telah 
membagi pasukan untuk merebut daerah-daerah ter-sebut. Dalam menghadapi 
serangan Belanda ini, maka terpaksa kaum Padri yang berada di Tapanuli 
Selatan di bawah pimpinan Tuanku Rao dan Tuanku Tambusi dikirim untuk 
menghadapinya. Pertempuran sengit terjadi dan pada tahun 1821 Tuanku Rao 
gugur sebagai syuhada di Air Bangis. Perlawanan pasukan Padri melawan 
pasukan Belanda diteruskan dengan pimpinan Tuanku Tambusi. 
   
  Kemenangan yang diperoleh Belanda dalam medan pertempuran menghadapi 
pasukan Padri, menumbuhkan semangat bagi golongan penghulu, yang selama 
ini kekuasaannya telah lepas. Dengan secara diam-diam para penghulu 
Minangkabau mengadakan perjanjian kerjasama dengan Belanda untuk 
memerangi kaum Padri. Para penghulu yang mengatasnamakan yang Dipertuan 
Minangkabau langsung mengikat perjanjian kerjasama dengan Residen Belanda 
di Padang yang bernama Du Puy.
   
  [Abdul Qadir Djaelani] 
  BERSAMBUNG
   

 
---------------------------------
 Check out the New Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things 
done faster. 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke