Mbak Lina Dahlan yang baik, terima kasih untuk link-nya: http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg00437.html Komentar dari saya hanya satu kata saja: MENGERIKAN! Usai saya baca, gerakan Kaum Paderi yang terjadi ratusan tahun lalu mirip-mirip dengan gerakan ormas-ormas Islam yang terjadi saat ini di Indonesia. Polanya serupa tapi tak sama 'plek' - karena beda zaman. Adakah hubungan antara Perang Paderi dan Perang Jawa? Imam Bonjol dan kawan-kawannya juga mungkin tak kenal Pangeran Diponegoro, tapi gerakannya mirip. Lihat pakaian yang dikenakan Diponegoro, sungguh tak lazim untuk seorang pangeran Jawa yang hidup di masa itu. Sangat-sangat Islami, bahkan nyaris kearab-araban. Memang, sejak kecil Pangeran Diponegoro jadi santri di ponpes, tapi kemungkinan ada pengaruh dari aliran yang ia percayai. Ternyata, ada satu nama sebagai kunci penghubung antara gerakan kaum Paderi dan Perang Jawa, yaitu Sentot Ali Basyah. Menurut catatan Belanda yang mungkin tak tercatat dalam sejarah resmi Indonesia, dia melakukan persekongkolan dengan kaum Paderi, walau sebelumnya dia dan pasukannya telah direkrut sebagai balatentara Belanda. Lalu apa bedanya gerakan kaum Paderi dengan gerakan ormas Islam di masa kini? Wilayah Indonesia terus terang terlalu luas untuk di-SI-kan secara serentak. Jadi gerakannya mirip pola komunis yang merangkak: "desa kepung kota". Walau kita mengklaim bahwa mayoritas bangsa Indonesia adalah Islam, namun ormas-ormas Islam garis keras ini menuding bahwa umat Islam di Indonesia baru memeluk Islam namanya saja, belum benar-benar mengamalkan ajaran Islam yang sejati. Islam harus sesuai seperti apa yang mereka yakini. Sungguh pas seperti apa yang terjadi di Minangkabau ratusan tahun lampau. Lagipula, dunia kini makin mengglobal, plus telah hadir berbagai media massa, sehingga kalau ada "jarum jatuh" di sudut mana pun pasti cepat menyebar ke seluruh dunia.
Nah, salah satu point dari 'grand design' mereka adalah menguasai media massa, seperti dulu di zaman Orba dimana keluarga Pak Harto telah memonopolinya, hanya sebagian kecil media massa yang mau jadi antek-antek mereka. Kalau isinya terlalu berani, ya dibredel! Pertanyaannya: Bisakah point itu terwujud? Mungkin saja bisa, karena menurut pengamatan, ada beberapa crew media massa yang mulai ikut "bermain". Di beberapa media massa kini marak dengan "pengajian kantor", liqo, dan ujung-ujungnya di-bai'at (janji sehidup semati). Dengan penyebaran sistem sel, indoktrinasinya amat intens, sehingga mereka punya pikiran yang nyaris seragam. Nah, sosok seperti Mbak Aris Solikhah itu sebenarnya cocok kalau ikut berperan aktif. Siapa tahu kelak masuk buku sejarah sebagai tokoh perempuan yang berhasil menjungkirbalikkan NKRI. Sesuai namanya, Mbak Aris itu perempuan yang solehah, 'sumeleh', gigih memperjuangkan SI, cukup piawai berkomunikasi, penyabar, 'tlaten' dan amat anti-Barat. Tetapi kalau Mbak Aris cuma nongkrong di Bogor jadi karyawati IPB, impian untuk mewujudkan Syariat Islam di Indonesia bakal kian lama. Ayo ayo Mbak Aris, bangun, bangun, bangun. Bantulah itu Indonebia dan sohib-sohibnya yang konon tersebar dan berkiprah dimana-mana, jangan cuma bermimpi saja! Kalau media massa dan tokoh-tokoh politik serta kekuatan birokrat dan militer sudah berhasil dikuasai, barulah mereka bergerak secara lebih intens. Sehingga berita-berita di media massa yang selama ini merugikan gerakan-gerakan kelompok mereka, dapat dipoles menjadi sebaliknya. Perda-Perda yang menurut sebagian orang nampak "aneh", nantinya akan menjadi hal biasa yang tak perlu dipertanyakan lagi, apalagi diprotes. Namun ya akibatnya akan parah, NKRI akan terpecah. Minahasa saja sudah mau mendeklarasikan negerinya, karena pemerintah pusat berdiam diri saja, seolah tutup mata, atas maraknya perda-perda bernuansa Islami yang mendompleng maraknya otda di berbagai wilayah NKRI. Ujung-ujungnya, kelak Indonesia akan kembali ke masa lampau, zaman-zaman berjayanya kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara yang tetap saja saling berperang, mau diadu domba, dan dalam jangka waktu yang tak lama akhirnya satu persatu ambruk juga. Di sisi lain, para penganut Islam sejuk, moderat, pluralis, dan warna-warni cuma bisa terbengong-bengong saja menyaksikan semua yang telah terjadi. Mereka tak berani bersikap. Mereka takut melanggar akidah kalau mengingatkan Islam fundamentalis bergaris keras yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Kalau toh kasih saran secara lisan maupun tulisan, tak bakal didengarkan karena dari sononya sudah 'dicetak' seperti itu. Mereka juga takut ditekan, apalagi yang non-muslim. Banyak juga masyarakat kita yang berpikiran mau untungnya sendiri: "Ah apa pun bentuk pemerintahannya saya mah cuek saja, yang penting rezeki lancar, duit tetap mengalir, dan bisnis tetap jalan." Lagi-lagi, yang akan berdayung di air keruh ya negara-negara neo-imperialis dan pedagang senjata berjaringan internasional. Seperti Freeport misalnya, bisnisnya pertambangannya akan lebih mantap apabila Papua terpisah dari NKRI menjadi negeri mandiri. Kenapa? Karena tak ada lagi 'recokan' orang-orang pusat di Jakarta. Sikap serupa pasti juga pasti dipikirkan oleh Exxon, Caltex, Newmont, dan MNC lainnya. Mereka juga sebenarnya 'sebel' sama orang-orang Pusat yang selalu minta 'jatah'. Buat mereka, bisnis yang mereka jalani akan lebih efektif dan efisien kalau NKRI bubar. Buat mereka, siapa pun kelompok yang membubarkan NKRI tak jadi masalah besar sepanjang mereka bisa mendikte untuk keuntungan mereka. Bukankah yang namanya uang itu tak beragama? Justru kini malah kian banyak orang menjadikan uang sebagai sesembahan - alias berhala baru. Apakah pemerintah SBY - JK juga punya jalan pikiran yang sama? Atau sebenarnya kita tak membutuhkan peran mereka lagi, karena toh mereka tetap saja berperilaku 'business as usual'? Mampukah Anda membaca pikiran mereka-mereka yang ada di pusat kekuasaan? Salam, RD _________________________________________________________________ [Urangawak] Perang Padri - Oleh Abdul Qadir Djaelani Wady Afriadi Sat, 01 Apr 2006 08:38:16 -0800 PERANG PADRI Apabila diteliti masa Perang Padri di daerah Sumatera Barat dalam abad ke-19 dapat digolongkan kepada beberapa periode, yaitu: (a) Periode 1809 - 1821 Periode ini adalah merupakan pembersihan yang ditakukan oleh kaum Padri terhadap golongan penghulu adat yang dianggap menyimpang dan bertentangan dengan syari'at Islam. Dalam masa ini terjadilah pertempuran antara kaum Padri melawan golongan penghulu adat. (b) Periode 1821 - 1832 Periode ini adalah merupakan pertempuran antara kaum Padri dengan Belanda-Kristen yang dibantu sepenuhnya oleh golongan penghulu adat. Dalam masa ini sifat pertempuran telah berubah antara penguasa kolonial Belanda-Kristen yang mau menjajah Sumatera Barat yang dibantu oleh para penguasa bangsa sendiri yang berkolaborasi untuk mempertahankan eksistensinya sebagai penguasa yang ditentang secara gigih oleh kaum Padri. (c) Periode 1832 - 1837 Periode ini adalah merupakan perjuangan seluruh rakyat Sumatera Barat, dimana kaum Padri dan golongan penghulu adat telah bersatu melawan penguasa kolonial Belanda-Kristen. Dalam masa ini rakyat Sumatera Barat dengan dipelopori dan dipmimpin oleh para ulama yang tergabunig dalam kaum Padri bahu-membahu di medan pertempuran untuk mengusir penguasa kolonial Belanda-Kristen dari Sumatera Barat. Latar belakang lahirnya kaum Padri mempunyai kaitan dengan gerakan Wahabi yang muncul di Saudi Arabia, yaitu gerakan yang dipimpin oleh seorang ulama besar bernama Muhammad bin Abdul Wahab (1703--1787). Nama gerakan Wahabi sesungguhnya merupakan nama yang mempunyai konotasi yang kurang baik, yang diberikan oleh lawan-lawannya, sedangkan gerakan ini lebih senang dan menamakan dirinya sebagai kaum 'Muwahhidin' yaitu kaum yang konsisten dengan ajaran tauhid, yang merupakan landasan asasi ajaran Islam. Paham kaum Muwahhidin (Wahabi) ini antara lain: (a) Yang boleh dan harus disembah hanyalah Allah se-mata; dan siapa saja yang menyembah selain Allah, adalah musyrik; (b) Umat Islam yang meminta safaat kepada para wali, syeikh atau ulama dan kekuatan ghaib yang di-pandang memiliki dan mampu memberikan safaat adalah suatu kemusyrikan; (c) Menyebut-nyebut nama Nabi, wali, ulama untuk dijadikan perantara dalam berdo'a adalah termasuk perbuatan syirik; (d) Mengikuti shalat berjamaah adalah merupakan kewajiban; (e) Merokok dan segala bentuk candu adalah haram; (f) Memberantas segala bentuk kemunkaran dan kemaksiatan; (g) Umat Islam, harus hidup sederhana, segala macam pakaian mewah dan berlebih-lebihan diharamkan. Sifat gerakan Wahabi yang keras ini, benar-benar merupakan tenaga penggerak yang sanggup membangkitkan kembali kesadaran kaum muslimin yang sedang tidur lelap dalam keterbelakangannya. Dibantu oleh para sahabatnya seperti Ibnu Sa'ud dan Abdul Azis Ibnu Sa'ud, pemikiran dan cita-cita ini diwujudkan dalam gerakan yang keras, akhirnya pada tahun 1921 menjelma menjadi satu pemerintahan yang berdaulat di Saudi Arabia dengan ibukotanya Riyadh. Paham dan gerakan Wahabi inilah yang mewarnai pandangan Haji Miskin dari Pandai Sikat (Luhak Agam), Haji Abdur Rahman dari Piabang (Luhak Lima Puluh) dan Haji Muhammad Arief dari Sumanik (Luhak Tanah Datar) yang bermukim di Mekah Saudi Arabia dan pada tahun 1802 mereka kembali ke Sumatera Barat. Sesampainya di Sumatera Barat, mereka berpendapat bahwa umat Islam di Minangkabau baru memeluk Islam namanya saja, belum benar-benar mengamalkan ajaran Islam yang sejati. Berdasarkan penilaian semacam itu, maka di daerahnya masing-masing mereka mencoba memberikan fatwanya. Haji Muhammad Arifin di Sumanik mendapat tantangan hebat di daerahnya sehingga terpaksa pindah ke Lintau. Haji Miskin mendapat perlawanan hebat pula di daerahnya dan terpaksa harus pindah ke Ampat Angkat. Hanya Haji Abdur Rahman di Piabang yang tidak banyak mendapat halangan dan tantangan. Kepindahan Haji Miskin ke Ampat Angkat membawa angin baru, karena di sini ia mendapatkan sahabat-sahabat perjuangan yang setia; diantaranya yaitu Tuanku Nan Renceh di. Kamang, Tuanku di Kubu Sanang; Tuanku di Ladang Lawas, Tuanku di Koto di Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto Ambalau, Tuanku di Lubuk Aur. Itulah tujuh orang yang berbai'ah (berjanji sehidup semati) dengan Tuanku Haji Miskin. Jumlah para ulama yang berbai'ah ini menjadi delapan orang, yang kemudian terkenal dengan sebutan 'Harimau Nan Salapan'. Harimau Nan Salapan ini menyadari bahwa gerakan ini akan lebih berhasil bilamana mendapat sokongan daripada ulama yang lebih tua dan lebih berpengaruh, yaitu Tuanku Nan Tuo di Ampat Angkat. Oleh sebab itu Tuanku Nan Renceh yang lebih berani dan lebih lincah telah berkali-kali menjumpai Tuanku Nan Tuo untuk meminta agar ia bersedia menjadi 'imam' atau pemimpin gerakaa ini. Tetapi setelah bertukar-pikiran berulang kali, Tuanku Nan Tuo menolak tawaran itu. Sebab pendirian Harimau Nan Salapan hendak dengan segera menjalankan syari'at Islam di setiap nagari yang telah ditaklukkannya. Kalau perlu dengan kekuatan dan kekuasaan. Tetapi Tuanku Nan Tuo mempunyai pendapat Yang berbeda; ia berpendapat apabila telah ada orang beriman di satu nagari walaupun baru seorang, tidaklah boleh nagari itu diserang. Maka yang penting menurut pandangannya ialah menanamkan pengaruh yang besar pada setiap nagari. Apabila seorang ulama di satu nagari telah besar pengaruhnya, ulama itu dapat memasukkan pengaruhnya kepada penghulu-penghulu, imam-khatib mantri dan dubalang. Pendapat yang berbeda dan bahkan bertolak belakang antara Tuanku Nan Tuo dengan Harimau Nan Salapan sulit untuk dipertemukan, sehingga tidak mungkin Tuanku Nan Tuo dapat diangkat menjadi imam atau pemimpin gerakan ini. Untuk mengatasi masalah ini, Harimau Nan Salapan mencoba mengajak Tuanku di Mansiangan, yaitu putera dari Tuanku Mansiangan Nan Tuo, yakni guru daripada Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat. Rupanya Tuanku yang muda di Man-siangan ini bersedia diangkat menjadi imam atau pemimpin gerakan Harimau Nan Salapan, dengan gelar Tuanku Nan Tuo. Karena yang diangkat menjadi imam itu adalah anak daripada gurunya sendiri, sulitlah bagi Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat itu untuk menentang gerakan ini. Padahal hakikatnya yang menjadi imam dari gerakan Hariman Nan Salapan adalah Tuanku Nan Renceh; sedangkan Tuanku di Mansiangan hanya sebagai simbol belaka. Kaum Harimau Nan Salapan senantiasa memakai pakaian putih-putih sebagai lambang kesucian dan kebersihan, dan kemudian gerakan ini terkenal dengan nama 'Gerakan Padri'. Setelah berhasil mengangkat Tuanku di Mansiangan menjadi imam gerakan Padri ini, maka Tuanku Nan Renceh selaku pimpinan yang paling menonjol dari Harimau Nan Salapan mencanangkan perjuangan padri ini dan memusatkan gerakannya di daerah Kameng. Untuk dapat melaksanakan syari'at Islam secara utuh dan murni, tidak ada alternatif lain kecuali memperoleh kekuasaan politik. Sedangkan kekuasaan politik itu berada di tangan para penghulu. Oleh karena itu untuk memperoleh kekuasaan politik itu, tidak ada jalan lain kecuali merebut kekuasaan dari tangan para penghulu. Karena Kamang menjadi pusat perjuangan Padri, maka kekuasaan penghulu Kamang harus diambil alih oleh kaum Padri, dan berhasil dengan baik. Sementara itu para penghulu di luar Kamang yang telah mendengar adanya gerakan Padri ini, ingin mem-buktikan sampai sejauh mana kemampuan para alim ulama dalam perjuangan mereka untuk melaksanakan syari'at Islam secara utuh dan murni. Bertempat di Bukit Batabuah dengan Sungai Puar di lereng Gunung Merapi, para penghulu dengan sengaja dan mencolok mengadakan penyabungan ayam, main judi dan minum-minuman keras yang diramaikan dengan bermacam pertunjukan. Para penghulu itu dengan para pengikut-nya seolah-olah memancing apakah para alim-ulama mampu merealisasikan ikrarnya untuk betul-betul melaksanakan syari'at Islam secara keras. Tentu saja tantangan ini menimbulkan kemarahan dari pihak kaum Padri. Dengan segala persenjataan yang ada pada mereka, seperti 'setengger' (senapan balansa), parang, tombak, cangkul, sabit, pisau dan sebagainya kaum Padri pergi ke Bukit Batabuh tersebut untuk membubarkan pesta 'maksiat' yang diselenggarakan oleh golongan penghulu (penguasa). Sesampainya pasukan kaum Padri di Bukit Batabuh disambut dengan per-tempuran oleh golongan penghulu. Dengan sikap mental perang sabil dan mati syahid, pertempuran yang banyak menelan korban di kedua belah pihak, akhirnya dimenangkan oleh pasukan kaum Padri. Dengan peristiwa Bukit Batabuh, berarti permulaan peperangan Padri. Kemenangan pertama yang gemilang bagi kaum Padri, mendorong Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan gerakan ini untuk memperkuat dan melengkapi persenjataan pasukan Padri. Tindakan ofensif bagi daerah-daerah yang menentang kaum Padri segera dilakukan. Daerah Kamang Hilir ditaklukkan, kemudian menyusul daerah Tilatang. Dengan demikian seluruh Kamang telah berada di tangan kaum Padri. Dari Kamang operasi pasukan Padri ditujukan ke luar yaitu Padang Rarab dan Guguk jatuh ketangan kaum Padri. Lalu daerah Candung, Matur dan bahkan pada tahun 1804 seluruh daerah Luhak Agam telah ber-ada di dalam kekuasaan kaum Padri. Keberhasilan kaum Padri menguasai daerah Luhak Agam, selain kesungguhan yang keras, tetapi juga kondisi masyarakatnya memang sangat memungkinkan untuk cepat berhasil. Sebab daerah Luhak Agam terkenal tempat bermukimnya ulama-ulama besar seperti Tuanku Pamansiangan dan Tuanku Nan Tuo, sedangkan pengaruh para penghulu sangat tipis. Wibawa para peng-hulu berada di bawah pengaruh para ulama. Operasi pasukan Padri ke daerah Luhak Lima Puluh Kota berjalan dengan damai. Sebab penghulu daerah ini bersedia menyatakan taat dan patuh kepada kaum Padri serta siap membantu setiap saat untuk kemenangan kaum Padri. ******** Perang Padri 2/6 Dengan berkuasanya kaum Padri; maka daerah-daerah yang berada di dalam kekuasaannya diadakan perubahan struktur pemerintahan yaitu pada setiap nagari diangkat seorang 'Imam dan seorang Kadhi'. Imam bertugas memimpin peribadahan seperti sembah-yang berjam aah lima waktu sehari semalam, puasa, dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah-masalah ibadah. Kadhi bertugas untuk menjaga kelancaran dijalankannya syari'at Islam dalam arti kata lebih luas dan menjaga ketertiban Umum. Di daerah Luhak Tanah Datar, pasukan kaum Padri tidak semudah dan selicin di daerah Luhak Adam dan Lima Puluh Kota untuk memperoleh kekuasaannya. Di sini pasukan kaum Padri mendapat perlawanan yang sengit dari golongan penghulu dan pemangku adat. Sebab Luhak Tanah Datar adalah merupakan pusat kekuasa-an adat Minangkabau. Kekuasaan itu berpusat di Pagaruyung yang dipimpin oleh Yang Dipertuan Minangkabau. Di waktu itu Yang Dipertuan atau Raja Minangkabau adalah Sultan Arifin Muning Syah. Pada pemerintahan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung terdapat tiga orang raja yang berkuasa yang dikenal dengan nama Raja Tigo Selo, yaitu : (a) Raja Alat atau Yang Dipertuan Pagaruyung, adalah yang memegang kekuasaan tertinggi di seluruh Minangkabau. (b) Raja Adat, adalah yang memegang kekuasaan dalam masalah adat. (c) Raja Ibadat adalah yang memegang kekuasaan dalam masalah agama. Dalam pelaksanaan pemerintah sehari-hari Raja Tigo Selo dibantu oleh Basa Empat Balai yang berkedudukan sebagai menteri dalam pemerintahan Minangkabau di Pagaruyung. Mereka itu adalah : - Dt. Bandaharo atau Tuan Tittah di Sungai Tarab, yang mengepalai tiga orang lainnya atau dapat dikatakan sebagai Perdana Menteri; - Makkudun di Sumanik, yang menjaga kewibawaan istana dan menjaga bubungan dengan daerah rantau dan daerah-daerah lainmya; - Indomo di Suruaso, yang bertugas menjaga kelancaran pelaksanaan adat; - Tuan Kadhi di Padang Ganting; yang bertugas menjaga kelancaran syari'at atau agama. Di samping Basa Empat Balai ada seorang lagi, yaitu Tuan Gadang di Batipuh yang bertindak sebagai Panglima Perang, kalau Pagaruyung kacau dialah bersama pasukannya untuk mengamankannya. Kekuasaan Raja Minangkabau sebetulnya tidak begitu terasa oleh rakyat dalam kehidupan sehari-hari, karena nagari-nagari di Minangkabau mendapat otonomi yang sangat luas, sehingga segala sesuatu di dalam nagari dapat diselesaikan oleh kepala nagari melalui kerapatan adat nagari. Kalau masalahnya tidak selesai dalam nagari baru dibawa ke pimpinan Luhak (kira-kira sana dengan kabupaten sekarang). Kalau masih belum selesai diteruskan ke Basa Empat Balai untuk selanjutnya diteruskan ke Raja Adat atau Raja Ibadat, tergantung pada masalahnya. Kalau semuanya tak dapat menyelesaikan masalahnya, maka akan diputuskan oleh Raja Minangkabau. Oleh karena itu gerakan Padri oleh Raja Minangkabau dan stafnya dianggap satu bahaya besar, sebab gerakan ini akan mengambil kekuasaan mereka. Selain itu para bangsawan pun cemas, karena khawatir adat nenek-moyang yang telah turun-menurun akan lenyap, jika kaum Padri berkuasa. Pertempuran sengit di daerah Luhak Tanah Datar antara pasukan Padri dengan pasukan Raja berjalan sangat alot. Perebutan daerah Tanjung Barulak, salah satu jalan untuk masuk ke pusat kekuasaan Minang-kabau dari Luhak Agam, sering berpindah tangan, terkadang dikuasai pasukan Padri, terkadang dapat di-rebut kembali oleh pasukan raja. Walaupun begitu, pasukan Padri makin hari makin maju, sehingga daerah kekuasaan para penghulu makin lama makin kecil. Untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk bagi para penghulu, akhirnya atas persetujuan Yang Dipertuan di Pagaruyung, Basa Empat Balai mengadakan perundingan dengan kaum Padri. Perundingan itu dilaksanakan di nagari Koto Tangah pada tahun 1808, sesudah enam tahun gerakan kaum Padri melancarkan aksinya. Kaum Padri dalam perundingan itu dipimpin oleh Tuanku Lintau yang datang dengan seluruh pasukannya, sedangkan para penghulu dipimpin oleh Raja Minangkabau sendiri. Seluruh staf raja dan sanak keluarganya hadir dalam pertemuan tersebut, tanpa menaruh curiga sedikit juga, karena gencatan senjata telah disepakati sebelumnya. Tetapi sekonyong-konyong keadaan menjadi kacau sebelum perundingan dimulai. Karena kesalah-pahaman antara bawahan Tuanku Lintau yang bernama Tuanku Belo dengan para staf raja, yang berakibat meledak menjadi perkelahian dan pertumpahan darah. Raja dan hampir sebagian terbesar staf dan keluarganya mati terbunuh dalam perkelahian itu, hanya ada beberapa orang dari para penghulu dan seorang cucu raja yang dapat selamat meloloskan diri sampai ke Kuantan. Mendengar peristiwa berdarah ini, Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan tertinggi gerakan Padri sangat marah terhadap Tuanku Lintau dan pasukannya, karena dianggap melanggar gencatan senjata yang telah di-sepakati dan berarti menggagalkan usaha perdamaian. Dengan peristiwa ini, maka praktis seluruh Luhak Tanah Datar menyerah kepada kaum Padri tanpa perlawanan, karena takut melihat pengalaman di Koto Tangah. Untuk mengokohkan gerakan kaum Padri, Tuanku Nan Renceh telah memerintahkan salah seorang muridnya yang bernama Malin Basa atau Peto Syarif atau Muhammad Syahab, untuk membuat sebuah benteng yang kuat, sebagai markas gerakan kaum Padri. Pemilihan Malin Basa, yang kemudian bergelar Tuanku Mudo untuk membuat benteng besar, guna menjadi pusat gerakan kaum Padri, disebabkan karena Malin Basa (Tuanku Mudo) seorang murid yang pandai, alim dan berani. Perintah Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan tertinggi gerakan Padri dan guru dari Tuanku Mudo, dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan keberanian dan berhasil memilih tempat di sebelah timur Alahan Panjang, di kaki bukit yang bernama Bukit Tajadi. Dengan bantuan seluruh umat Islam yang tinggal di sekitar Alahan Panjang, di mana setiap hari bekerja tidak kurang dari 5000 orang, akhirnya 'Benteng Bonjol' yang terletak di bukit Tajadi itu menjelma menjadi kenyataan dengan ukuran panjang kelilingnya kira-kira 800 meter dengan areal seluas kira-kira 90 hektar, tinggi tembok empat meter dengan tebalnya tiga meter. Di sekelilingnya ditanami pagar aur berduri yang sangat rapat. Di tengah-tengah benteng Bonjol berdiri dengan megahnya sebuah masjid yang lengkap dengan per-kampungan pasukan Padri dan rakyat yang setiap saat mereka dapat mengerjakan sawah ladangnya untuk keperluan hidup sehari-hari. Sesuai dengan, fungsinya, maka be nteng Bonjol juga diperlengkapi dengan persenjataan perang, guna setiap saat siap menghadapi per-tempuran. Benteng Bonjol itu dipimpin langsung oleh Tuanku Mudo yang bertindak sebagai 'imam' dari masyarakat benteng Bonjol, yang sesuai dengan struktur pemerintahan kaum Padri. Oleh sebab itu, Tuanku Mudo digelari dengan 'Imam Bonjol'. Setelah benteng Bonjol selesai dan struktur pemerin-tahan lengkap berdiri, Imam Bonjol memulai gerakan Padrinya ke daerah-daerah sekitar Alahan Panjang dan berhasil dengan sangat memuaskan. Keberbasilan Imam Bonjol dengan pasukannya menimbulkan kecemasan para penghulu di Alahan Panjang seperti antara lain Datuk Sati. Kecemasan ini melahirkan satu gerakan para penghulu di Alahan Panjang untuk menyerang pasukan Imam Bonjol dan merebut benteng sekaligus. Pada tahun 1812 Datuk Sati dengan pasukannya menyerbu benteng Bonjol, tetapi sia-sia dan kekalahan diderita olehnya. Untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk, maka Datuk Sati mengajak diadakannya perdamaian antara para penghulu dengan Imam Bonjol. Keberhasilan Imam Bonjol menguasai seluruh daerah Alahan Panjang, ia kemudian diangkat menjadi pemimpin Padri untuk daerah Pasaman. Untuk meluaskan kekuasaan kaum Padri, Imam Bonjol mengarahkan pasukannya ke daerah Tapanuli Selatan. Mulai Lubuk Sikaping sampai Rao diserbu oleh pasukan Imam Bonjol. Dari sana terus ke Talu, Air Bangis, Sasak, Tiku dan seluruh pantai barat Minangkabau sebelah utara. Setelah seluruh Pasaman dikuasai, maka untuk memperkuat basis pertahanan untuk penyerangan ke utara, didirikan pula benteng di Rao dan di Dalu-Dalu. Benteng ini terletak agak ke sebelah utara Minangkabau. Benteng Rao dikepalai oleh Tuanku Rao, sedangkan benteng Dalu-Dalu dikepalai oleh Tuanku Tambusi. Kedua perwira Padri ini berasal dari Tapanuli dan berada di bawah pimpinan Imam Bonjol. Dengan mengangkat Tuanku Rao dan Tuanku Tambusi sebagai pimpinan kaum Padri di Tapanuli Selatan, gerakan Padri berjalan dengan sangat berhasil, tanpa menghadapi perlawanan yang berarti. Daerah-daerah disini begitu setia untuk menjalankan syari'at Islam secara penuh, sesuai dengan misi yang diemban oleh gerakan Padri. Sementara kaum Padri bergerak menguasai Tapanuli Selatan dan daerah pesisir barat Minangkabau, Belanda muncul kembali di Padang. Tuanku Pamansiangan salah seorang pemimpin di Luhak Agam mengusulkan kepada Imam Bonjol untuk menarik pasukan Padri dari Tapan uli Selatan dan menggempur kedudukan Belanda di Padang yang belum begitu kuat. Karena baru saja serah terima kekuasaan dari Inggeris (1819). Tetapi perwira-perwira Padri seperti Tuanku Raos, Tuanku Tambusi dan Tuanku Lelo dari Tapanuli Selatan berkebaratan untuk melaksakan usul itu, oleh karena itu Imam Bonjol hanya dapat memantau kegiatan dan gerakan pasukan Belanda melalui kurir-kurir yang sengaja dikirim ke sana. Belanda yang tahu bahwa daerah pesisir seperti Pariaman, Tiku, Air Bangis adalah daerah strategis yang telah dikuasai kaum Padri, maka Belanda telah membagi pasukan untuk merebut daerah-daerah ter-sebut. Dalam menghadapi serangan Belanda ini, maka terpaksa kaum Padri yang berada di Tapanuli Selatan di bawah pimpinan Tuanku Rao dan Tuanku Tambusi dikirim untuk menghadapinya. Pertempuran sengit terjadi dan pada tahun 1821 Tuanku Rao gugur sebagai syuhada di Air Bangis. Perlawanan pasukan Padri melawan pasukan Belanda diteruskan dengan pimpinan Tuanku Tambusi. Kemenangan yang diperoleh Belanda dalam medan pertempuran menghadapi pasukan Padri, menumbuhkan semangat bagi golongan penghulu, yang selama ini kekuasaannya telah lepas. Dengan secara diam-diam para penghulu Minangkabau mengadakan perjanjian kerjasama dengan Belanda untuk memerangi kaum Padri. Para penghulu yang mengatasnamakan yang Dipertuan Minangkabau langsung mengikat perjanjian kerjasama dengan Residen Belanda di Padang yang bernama Du Puy. [Abdul Qadir Djaelani] BERSAMBUNG --------------------------------- Check out the New Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things done faster. [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

