Catatan Laluta:
   
  Pada tanggal 28 Oktober, 2006, 8:30-18:30, di Palais du Luxembourg, 15 rue de 
Vaugirard, 75006 Paris, telah diadakan acara ceramah, meja bundar, film dan 
interviews, dengan tema berjudul "Pengarang yang lepas dari negerinya: 
Pengarang dengan kultur ganda"
   
  Acara tersebut Didukung oleh :
Philippe Adnot, sénator ; Ambassade de France ; Ambassade d’Indonésie ; 
Ambassade des Pays-Bas ; Centre National du Livre ; DRAC-Ile de France ; 
Institut Néerlandais ; NLPVF*; Société des Gens de Lettres  (Masyarakat para 
Pecinta Sastra);  Maison des Cultures du Monde (Graha Budaya Dunia) et Willem 
(karikaturis)
   
   
  Pada acara Ceramah Claude Hagège, linguiste, Collège de France membahas Mitos 
dan Realitas bahasa ibu di Indonesia. 

  Bahasa Indonesia ada bahasa yang sejarahya telah dimulai pada awal  abad ke 
VII, pada tahun 1928 diputuskan bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional, hal 
mana dipertegas pada tahun 1945. 
Setelah kemerdekaan pada tahun 1945, bahasa Indonesia bisa dipandang sebagai 
bahasa kedua bagi kebanyakan orang Indonesia. Dan sesungguhnyalah, orang 
Indonesia pertama-tama dilahirkan sebagai orang Jawa, orang Sumatra, orang Bali 
dll, anak-anak di keluarga pertama-tama belajar bahasa daerah, baru kemudian 
belajar bahasa Indonesia di sekolah. Dari pandangan ini, Indonesia merupakan 
satu kasus tersendiri dari problematika universil.
  Dan, pada acara meja bundar Seno Gumira Ajidarma, pengarang Indonesia yang 
dikenal sejak pertengahan tahun 70an. Seno Gumira Ajidarma lahir tahun 19 Juni 
1958 di Boston - USA. 
   
  Sub-tema pada acara Meja Bundar mengenai "Bahasa natural/bahasa yang 
diperoleh dari belajar; perjalanan ke berbagai tempat Kendala dan kebebasan, 
keserasian atau perusakan? ". Dibawah ini adalah salah satu lampiran Catatan 
untuk diskusi. yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma berjudul "Saya dan 
Bahasa", . 
   
  Salam,
  MiRa
  
***
   
  Saya dan Bahasa
   
  Oleh SENO GUMIRA AJIDARMA
  
  Saya dilahirkan di Amerika Serikat, dan untuk sementara ini berarti sejak 
mulai belajar bicara saya menggunakan bahasa Inggris, baik dengan orangtua saya 
maupun teman-teman sepermainan saya. Usia lima tahun, melewati Inggris, 
Prancis, dan Italia mereka membawa saya kembali ke Indonesia, untuk kemudian 
tinggal di Yogyakarta, dan sejak saat itu sedikit demi sedikit terhapuslah 
perbincangan bahasa Inggris dari mulut saya, untuk berganti dengan bahasa Jawa. 
Demikianlah mula-mula saya berbahasa Jawa untuk berkomunikasi dengan 
teman-teman sepermainan, dan setelah itu berbahasa Jawa pula dengan orangtua 
saya.
 
 Untuk diketahui, bahasa Jawa adalah bahasa yang bertingkat-tingkat sesuai 
dengan kedudukan orang yang mengajak atau kita ajak bicara. Dengan kata lain 
bahasa masyarakat feodal. Kosa kata yang digunakan untuk berbicara dengan orang 
yang lebih tua lain dengan yang digunakan untuk berbicara dengan orang yang 
seusia misalnya, tetapi kelompok umur ini hanya menentukan sejauh kita wajib 
menghormatinya atau tidak, karena kepada orang yang meski lebih tua tetapi 
kelas sosialnya terandaikan di bawah kita, mengajaknya berbicara dengan bahasa 
untuk orang lebih terhormat akan membuatnya salah tingkah. Akibatnya, saya 
sering menjumpai, jika ada majikan kebetulan menikahi pembantu rumah tangganya, 
maka mantan pembantu rumah tangga ini akan tetap berbahasa seperti kepada 
majikan terhadap anak maupun cucunya sendiri. 
   
     Namun kerumitan “politik bahasa” dalam bahasa Jawa sebenarnya jauh lebih 
pelik, karena di antara peringkat kelas sosial maupun usia masih terdapat 
“peringkat antara” yang menambah kerumitan. Tidak cukup “lebih rendah”, 
“sederajat”, dan “lebih terhormat”, terdapat pula “peringkat antara” seperti 
“lebih rendah tapi sebaiknya dihormati”, “seusia tetapi tidak sederajat”, atau 
juga “lebih tua tetapi tidak perlu ditinggikan” dan lain sebagainya. Belum lagi 
jika kita mesti “membahasakan orang lain” dalam berbagai peringkat ini. Secara 
umum bahasa Jawa terbagi kepada dua peringkat, yakni krama (halus) dan ngoko 
(kasar); bahasa krama masih dibagi lagi antara krama dan krama inggil (halus 
dan tinggi). Artinya kalau saya berbahasa krama kepada seseorang yang tidak 
saya kenal, maka kepada kakek saya dari pihak bapak mau tidak mau saya harus 
berbahasa krama inggil, jika tidak itu berarti saya menganggap kakek saya lebih 
rendah dari seorang asing. 
 
  Meskipun kepada kedua orangtua saya terizinkan berbahasa Jawa ngoko dalam 
kedudukan setara, di luar rumah saya tidak mungkin berbahasa ngoko kepada 
orangtua teman-teman saya. Demikianlah sistem nilai dalam bahasa Jawa ini 
terkukuhkan ketika saya memasuki sekolah dasar pada usia enam tahun, setelah 
sebelumnya setahun digaulkan di taman kanak-kanak. Dalam dua tahun pertama, 
seluruh mata pelajaran disampaikan dalam bahasa Jawa—dan baru pada tahun 
ketiga, artinya menginjak usia delapan tahun, bahasa pengantarnya sekarang 
berbahasa Indonesia . Harus saya katakan betapa saya merasa mendapat pembebasan 
dalam bahasa Indonesia , karena dalam bahasa Indonesia tidak terdapat peringkat 
seperti dalam bahasa Jawa. Rupa-rupanya kedudukan sosial saya sebagai “anak 
kecil” dalam sistem sosial Jawa telah membuat saya susah payah berbahasa kepada 
berbagai macam pihak, kecuali terhadap teman-teman sepermainan tentunya.
   
    Maka inilah komposisi pengetahuan bahasa saya sampai usia delapan. Saya 
berbicara dengan teman-teman menggunakan bahasa Jawa, berbicara dengan guru dan 
membaca dalam bahasa Indonesia, tetapi meskipun berkomunikasi di rumah 
menggunakan bahasa Jawa, saya selalu mendengarkan orangtua saya berbicara 
dengan bahasa Belanda. Sejak kecil orangtua saya masing-masing dalam 
keluarganya memang berbahasa Belanda, dan memang itulah yang saya dengar dalam 
berbagai kunjungan keluarga yang saya alami. Hanya karena Jepang menduduki 
Indonesia dalam Perang Dunia II dan melarang siapapun berbahasa Belanda, mereka 
mau tidak mau berbahasa Indonesia — yang kelak bagi saya selalu terdengar agak 
aneh. Telah saya sebutkan bahwa terhadap kakek dari pihak bapak saya berbahasa 
krama inggil. Memang akar budaya keluarga ayah saya adalah Jawa, dan dalam 
rangka mengakui ke-jawa-annya, kakek saya yang mendapat gelar doktor dalam 
bidang kedokteran di Belanda telah menulis buku-buku tentang falsafah wayang
 kulit Jawa dalam bahasa Indonesia . Ini menjelaskan bagaimana bahasa menjadi 
bagian dari kehidupan sosial dalam keluarga saya.
   
    Sementara itu, akar budaya keluarga ibu saya adalah Sunda. Kakek dari pihak 
ibu adalah juga seorang dokter, bahkan satu kelas dengan kakek dari pihak ayah, 
meski tidak meneruskan sampai tingkat doktor. Dari keluarga besar pihak ibu 
saya, selain selalu mendengarkan orang berbahasa Belanda, saya juga selalu 
mendengar berbagai celetukan bahasa Sunda. Dengan begitu boleh dikatakan saya 
berbahasa Jawa dan Indonesia, tetapi mengerti percakapan dalam bahasa Belanda 
dan Sunda. Bahasa Indonesia kemudian sangat saya akrabi, karena buku-buku 
bacaan yang nyaris semuanya berbahasa Indonesia. Meski begitu, justru pada umur 
delapan ini pula kami mendapat pelajaran untuk membaca dan menulis dalam huruf 
Jawa. Memang, pelajaran ini tidak sulit, tetapi karena huruf Jawa sudah sangat 
terdesak oleh huruf Latin, saya sekarang ini hanya mengetahui bunyinya saja, 
yang kelak masih akan berguna untuk kepentingan lain.
   
    Masih di sekolah dasar, mungkin umur sepuluh, kami diperkenalkan dengan 
huruf Arab, sehingga kami diharapkan bisa membaca ayat Al-Qur’an, tetapi tidak 
berarti kami mendapat pelajaran bahasa Arab. Dalam latihan menulis dengan huruf 
Arab, kami tetap menggunakan bahasa Indonesia. Dengan begitu, dalam hal saya, 
pengetahuan saya dengan huruf Arab sampai hari ini hanyalah pengetahuan seorang 
anak sekolah dasar.
 
   Perkembangan selanjutnya adalah pelajaran bahasa Inggris yang saya dapatkan 
di sekolah menengah pertama. Bahasa yang satu ini, boleh dibilang terpelihara 
dengan banyak cara: oleh lagu-lagu pop, film, dan bacaan—bahkan sampai 
sekarang. Saya takbisa katakan saya fasih berbicara bahasa Inggris, tetapi 
buku-buku yang disebut sebagai berat, rasanya bisa saya pahami dan dengan a la 
kadarnya saya bisa berdiskusi di berbagai forum internasional dalam bahasa ini. 
Tentu saja di sekolah menengah atas kami juga mendapat pelajaran bahasa Jerman, 
tetapi seperti juga terjadi dengan sebagian besar murid lain, jejaknya sudah 
tidak berbekas lagi. 
   
    Sekarang, saya berbahasa Indonesia kepada anak saya, tetapi kepada ibunya 
saya berbahasa Jawa. Jadi anak mendengar orangtuanya berbahasa Jawa, tetapi 
berkomunikasi dengan orangtuanya itu dengan bahasa Indonesia.
  Demikianlah secara ringkas riwayat kebahasaan saya.
   
  ***
   Dalam sebuah diskusi di University of Washington di Seattle, Amerika Serikat 
pada 1999, untuk pertama kalinya saya mendapat pertanyaan, “Dalam bahasa apakah 
Anda berpikir?” Seingat saya, saya menjawab pertanyaan itu dengan, “Bahasa 
Jawa.” Namun sebetulnya saya masih bertanya- tanya, apakah kita berpikir dengan 
suatu bahasa? Ternyata masalah semacam itu nyaris tidak pernah saya pikirkan. 
Berbahasakah kita ketika berpikir? Ketika pikiran itu diutarakan, memang kita 
menyampaikannya melalui bahasa, tetapi ketika masih berkelebat dan bergulat di 
dalam kepala, dengan sangat cepat ataupun melintas sepintas dari saat ke saat, 
apakah berlangsung dalam susunan kebahasaan tertentu? Dalam berbahasa, pikiran 
sudah berlangsung runtut; dalam pikiran yang belum runtut, apakah sudah 
terdapat suatu bahasa?
   
    Ketika saya menjawab bahwa saya berpikir dengan bahasa Jawa, barangkali 
saya pikir bahasa Jawa adalah semacam “bahasa ibu” bagi saya, tempat ketika 
saya berbahasa Indonesia pun niscaya dengan aksen Jawa; tetapi saya kira ini 
tidak bisa berlangsung dengan “segala pikiran”. Dengan bahasa Jawa misalnya, 
saya memang bisa berpikir, tetapi tidak “memikirkan pikiran-pikiran”. Jika saya 
berpikir, “Saya mau pergi ke mana?” memang sangat mungkin saya pikirkan dalam 
bahasa Jawa; tetapi jika saya memikirkan sebuah topik untuk seminar misalnya, 
tidak mungkin saya pikirkan dalam bahasa Jawa, melainkan pasti dalam bahasa 
Indonesia. Dengan kata lain, bahasa pun terbagi-bagi wilayah intelektualnya, 
berdasarkan pengalaman budaya pemilik bahasa-bahasa itu. Saya tidak mengatakan 
bahasa Jawa dengan begitu tidak mungkin menjadi bahasa intelektual, sama sekali 
tidak, hanya saja dalam hal saya bahasa Jawa tidak pernah saya pergunakan demi 
kebutuhan intelektual saya.
   
    Dengan demikian, dengan bahasa apa saya berpikir? Tentu saja tergantung 
kepada apa yang saya pikirkan. Pengalaman tersimpan bersama bahasanya. Artinya 
bahasa yang tersimpan dalam perbendaharaan budaya seseorang selalu berkait 
dengan pengalaman tertentu. Maka apabila kepala saya terantuk dan saya berkata, 
“Aduh!”, tentunya adalah kesamaan pengalaman yang mengingatkan dan memanggil 
kata itu keluar, dan begitu pula jika terdapat rangsangan berpikir yang sangat 
abstrak, maka hanyalah pengalaman berbahasa Indonesia yang berurusan dengan 
rangsangan yang sama. Ketika kemudian saya lebih banyak membaca dalam bahasa 
Inggris daripada dalam bahasa Indonesia, agaknya saya masih tetap berpikir 
dalam perkara yang saya baca itu dalam bahasa Indonesia, meski ketika 
mengajarkannya kembali di depan kelas, saya pertahankan tetap dalam bahasa 
Inggris. 
   
     Saya tidak terlalu yakin, apakah saya telah merumuskan pengalaman saya 
dalam berbahasa ini dengan cukup, karena saya merasa bahwa memeriksa bahasa 
dalam pikiran tidaklah terlalu mudah. Mungkinkah karena saya berada di 
dalam—dan bukan di luar—bahasa? Seperti bermimpi misalnya, saya mungkin masih 
ingat mimpi-mimpi itu sebagai naratif, tetapi dalam bahasa apakah saya telah 
memahaminya, agak tidak terlalu jelas. Namun berikut ini saya sampaikan saja 
sebuah pengalaman dalam penulisan berbahasa Indonesia, yang telah memanfaatkan 
perbendaharaan bahasa Jawa karena tuntutan keadaan. 
   
    Dua buku saya, kumpulan cerita pendek Saksi Mata dan novel Jazz, Parfum, 
dan Insiden bermain dengan materi situasi sosial politik di Timor Timur dan 
terbit semasa Orde Baru. Karena situasinya yang khusus, saya tidak bisa 
menyebut Timor Timur sama sekali, bahkan apapun yang bisa 
mengingatkannya—sehingga saya terpaksa memanfaatkan apa yang disebut basa 
walikan (“bahasa terbalik”). Bahasa tersebut bukanlah bahasa tersendiri, 
melainkan bahasa Jawa yang berfungsi sebagai kata sandi, konon digunakan oleh 
komunitas underworld, yakni kaum kriminal, pencuri, perampok, begal, dan lain 
sebagainya, untuk menutupi kegiatan mereka, sehingga juga disebut basa maling 
(bahasa pencuri). Bahasa yang saya kenal dari pergaulan sebagai remaja di 
Yogyakarta itu memanfaatkan bunyi dari 20 huruf dalam tulisan Jawa yang terbagi 
menjadi empat baris. Baris pertama berpadanan dengan baris ketiga dan baris 
kedua dengan baris keempat—apa yang seharusnya diucapkan dengan baris pertama 
diucapkan dengan
 baris ketiga dan sebaliknya, begitu pula dengan baris kedua dan keempat. 
   
    Dengan bahasa sandi tersebut, Gidoy Giduy berarti Timor Timur dan Ningi 
berarti Dili, salah seorang kritisi yang membahas novel saya berhasil 
menguraikan bahasa sandi tersebut dalam sebuah resensi, dan tentu saja beliau 
pernah tinggal di Yogyakarta. Memang sebuah karya tulis tidak hanya berisi 
“rahasia” yang disandikan, melainkan ada tuntutan “kualitas sastra” di sana, 
tetapi telah saya sebutkan terdapatnya situasi khusus dalam iklim ketertekanan 
semasa Orde Baru, yang menyudutkan saya untuk menggunakan bahasa sandi Jawa 
tersebut, di samping juga bahasa Inggris, dalam penulisan berbahasa Indonesia. 
Sudut itu sebuah ruang yang sangat pribadi dari masa lalu saya sebetulnya, 
tetapi yang telah berperan untuk kepentingan yang lebih umum karena tekanan 
keadaan. Saya kira, hanya karena saya seorang pengarang yang hidup lebih dengan 
satu bahasa, yang telah membuat saya dapat melakukannya. 
   
    Baru belakangan saya sadari, betapa sudah terlalu lama saya menyia-nyiakan 
kemampuan saya berbahasa Jawa dalam hidup saya, baik untuk membaca, apalagi 
untuk menulis. Jika selama ini saya merasa beruntung bisa menggali 
perbendaharaan pengetahuan melalui buku-buku berbahasa Inggris, hal yang sama 
mestinya saya alami dengan naskah-naskah berbahasa Jawa—sekali pernah saya 
melakukannya dan saat itulah kesadaran saya terbuka, betapa tidak 
termanfaatkannya pengetahuan bahasa Jawa saya selama ini. Jadi, di satu pihak 
saya mungkin merasa beruntung, tetapi pada saat yang sama tampaknya saya juga 
orang yang rugi, karena telah menganggap bahasa Jawa dalam diri saya sebagai 
taken for granted, tidak usah saya pedulikan lagi karena sudah ada di sana dari 
sononya. Memang sangat berbeda dengan sikap saya terhadap bahasa Indonesia, 
yang selama ini menjadi wahana representasi diri saya, maupun bahasa Inggris, 
yang melaluinya saya selalu berusaha meluaskan wawasan saya. Begitulah.
  
SENO GUMIRA AJIDARMA
  Catatan untuk diskusi 

   
  “L’auteur depayse: Ecrivains de double appartenance culturelle.”
Association franco-indonesienne Pasar Malam Palais du Luxembourg, Paris,
28 Oktober 2006.
Association franco-indonésienne Pasar Malam
Association Loi 1901 pour l'amitié entre les peuples français et indonésien
14 rue du Cardinal Lemoine
75005 Paris
33 (0)1 56 24 94 53
[EMAIL PROTECTED]
http://


Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 






 
---------------------------------
 Check out the New Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things 
done faster. 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke