Catatan Laluta:
Kumpulan tulisan "dari sejarah Indonesia" oleh Kusalah Subagyo, merupakan
seri karya tulisannya yang dimuat di milis wahana-news.
Mudah-mudahan berguna buat merekam daya ingatan sejarah kita semua, yang
pernah diajarkan di bangku sekolah....
Salam,
MiRa
--- In [EMAIL PROTECTED], "Kusalah Subagyo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Subject: dari sejarah Indonesia, Sep 7, 2006
Adil menurut Ratu Si-mo
(akhir abad ke-7)
Menurut sumber-sumber Tiongkok masa Dinasti Tang, pada akhir
abad ke-7 di pantai utara Jawa Tengah berdiri Kerajaan Ho-ling (= Kaling) yang
diperintah oleh Ratu Si-mo.
Ratu Si-mo memerintah dengan keras tapi adil, dan memang berhasil
menciptakan ketertiban di negerinya. Ini ternyata dari cerita berikut:
Tak seorang pun boleh memungut barang yang bukan miliknya. Raja
(Pangeran) Ta-tsye tak percaya akan hal itu. Untuk membuktikannya, ia
tinggalkan sekantong emas di sebuah jalan. Tiga tahun lamanya kantong itu
tergeletak, tanpa seorang pun menyentuhnya. Pada suatu hari putra mahkota
menemukan dan memungutnya.
Perbuatan itu oleh Ratu dipandang sebagai kejahatan serius, dan
putra mahkota harus dipenggal lehernya. Untunglah para menteri berhasil
membujuknya agar pelanggar hukum itu diampuni. Ratu luluh hatinya, namun putra
mahkota tetap harus dihukum untuk mempertakuti warga negara yang lain, yaitu
dengan memotong jari-jari kakinya. (KEI)
--- In [EMAIL PROTECTED], "Kusalah Subagyo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Subject: dari sejarah Indonesia, Sep 10, 2006
Rekayasa Ken Arok
(1222)
Semua pelajar Indonesia tahu, siapa Ken Arok, dan tahu rekayasa ciptaannya.
Ken Arok adalah punggawa istana Akuwu Tumapel bernama Tunggul Ametung yang
beristri cantik, Ken Dedes. Pada suatu kali ketika Ken Dedes sedang turun dari
kereta, tersingkap kainnya -- maklum jaman itu -- dan Ken Arok sekilas melihat
betis Ken Dedes menyala menyilaukan. Sejak itu hati Ken Arok (dalam bahasa
remaja sekarang) ngeres, yang berasal dari kata res, kemudian res-res, akhirnya
des-des, alias Dedes. Dedes adalah perempuan yang membuat hati Ken Arok
ngeres. Sejak itu Ken Arok tak bisa tidur.
Dan itulah awal mula rekayasanya. Ia memesan keris kepada pande
ampuh bernama Empu Gandring. Dasar empu ampuh! Keris buatannya sangat indah dan
hebat. Oleh Ken Arok dipinjamkanlah keris itu kepada kawannya, Kebo Hijo. Dia
tahu, Kebo Hijo bermental "kere", keris dipamer-pamerkan kepada orang lain dan
diaku sebagai keris sendiri. Setelah semua orang tahu kelakuan Kebo Hijo itu,
oleh Ken Arok keris diminta kembali. Dengan keris itulah ia membunuh Tunggul
Ametung, agar dapat merebut Ken Dedes.
Ketika Tunggul Ametung terbunuh, semua tuduhan menimpa Kebo Hijo
dan tak seorang pun menuduh Ken Arok. Dan, tega-teganya, Ken Arok sendirilah
yang kemudian menghukum mati Kebo Hijo.
Rekayasa semacam atau sejenis itulah yang kemudian sering ditiru
para penguasa Jawa, dan kemudian Indonesia. (KEI)
--- In [EMAIL PROTECTED], "Kusalah Subagyo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Subject: dari sejarah Indonesia, Sep 14, 2006
Kawin empat cuma dapat satu mertua
(1293-1309)
Jaman sekarang orang mengedepankan monogami: seorang lelaki kawin
dengan seorang perempuan. Kadang-kadang saja seorang lelaki kawin dengan lebih
dari seorang perempuan, baik resmi (yang diijinkan Islam) maupun slintutan. Itu
pun menimbulkan pembicaraan orang.
Tapi Raden Wijaya barangkali seorang lelaki sejati. Ia sekaligus (bukan
berturut-turut) mengawini empat perempuan, dan kakak beradik pula, putri-putri
Sri Kartanegara, raja terakhir Kerajaan Singasari. Mereka adalah Ratu
Tribhuwana (Dyah Sri Tribhuwaneswari) yang menjadi permaisuri, Dyah Duhita
sebagai (bergelar) Mahadewi, Prajnaparamita sebagai Jayendradewi, dan Dyah
Gayatri sebagai Rajapatni). Dengan kata lain, Wijaya kawin empat cuma dapat
satu mertua. Sebaliknya Kartanegara punya empat putri hanya dapat satu menantu.
Kecuali itu Wijaya masih punya selir dari Melayu, hasil dari ekspedisi Pamalayu
tahun 1293, bernama Dara Petak bergelar Indreswari.
Kelelakian Wijaya tidak hanya dibuktikan di tempat tidur. Sebagai panglima
perang Kerajaan Singasari ia ditugaskan menggempur Jayakatwang, waktu Bupati
Kadiri itu memberontak. Wijaya langsung tanggap, dan berhasil menggebuk pasukan
Jayakatwang yang menyerang dari utara. Padahal itu hanyalah serangan pancingan.
Justru waktu itu pasukan pokok Jayakatwang menyerbu dari selatan dan membunuh
Kartanegara beserta para pendeta. Singasari diduduki Jayakatwang. Wijaya
terpaksa lari ke Madura, tapi kemudian kembali lagi ke wilayah Tarik (yang
nantinya dinamakan Majapahit, Mojokerto sekarang).
Waktu itulah tentara Tiongkok yang diberangkatkan oleh Kaisar
Tiongkok Kubhilai Khan datang untuk menghukum Kartanegara karena tindak
penghinaan Kartanegara atas utusan dari Tiongkok. Wijaya menggabungkan diri
dengan tentara Tiongkok, dan bersama-sama menggempur Jayakatwang yang oleh
orang Tiongkok disangka Kartanegara.
Selesai menggempur Jayakatwang, ganti Wijaya menggebuk tentara
Tiongkok, dan menang. Selanjutnya ia mendirikan kerajaan baru, Majapahit (1293)
yang sampai kini suka diagung-agungkan orang Indonesia. (PM22)
--- In [EMAIL PROTECTED], "Kusalah Subagyo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Subject: dari sejarah Indonesia, Sep 17, 2006
Adil sama musuh, batil sama kawan
(1575)
Sultan Baabullah atau Babullah (mm. 1570-1583) dari Ternate adalah pengganti
ayahnya Sultan Khairun atau Hairun (mm. 1535-1370) yang dibunuh di Ambon (1570)
atas perintah De Mesquita, Gubernur Portugis. Baabullah satu-satunya orang
Indonesia yang menang mutlak secara militer melawan kekuatan internasional,
walau dia tidak masuk dalam lebih dari 100 orang Indonesia yang mendapat gelar
Pahlawan Nasional. (Barangkali pejabat Indonesia tidak kenal dia, ya? Sayang.)
Dengan bantuan orang Tidore ia menaklukkan benteng Portugis di Ternate (1575)
sesudah mengepungnya 5 tahun (1570-1574). Waktu itu Portugis tidak hanya
kehilangan benteng, tapi juga menyerah kalah. Tiga hari sesudah meninggalkan
benteng, orang Portugis mendapat bala bantuan, tetapi tak dapat merebut kembali
bentengnya dan terpaksa meninggalkan Ternate. Dan mereka tidak lalu dibunuhi
seperti sering terjadi di mana-mana, melainkan dipersilahkan berkampung di
pantai sampai kapal-kapal mereka datang menjemput.
Sesudah kepergian orang Portugis dari Ternate, terjadi sengketa antara
Ternate dan Tidore. Apa pasal? Karena orang Tidore tak mendapat bagian dari
barang-barang yang ditinggalkan orang Portugis di Ternate! Akibatnya orang
Tidore lalu mengijinkan orang Portugis mendirikan benteng di Tidore. Jadilah
permusuhan antara Ternate dan Tidore.
Walau demikian perlu dicatat: Pukulan yang diterima orang Portugis di Ternate
itu sangat melemahkan kedudukan orang Portugis di Maluku. Orang Portugis
dicabut hak monopolinya. Maka sesudah itu kekuasaan Portugis dipusatkan di
Ambon.
Kekuasaan Baabullah di Ternate makin kuat. Menurut taksiran seorang pendeta
masa itu, ada 72 pulau yang mengakui kekuasaan sultan tersebut. Waktu pada
akhir abad ke-16 orang Belanda tiba di Indonesia, kekuasaan Baabullah sedang
sebesar-besarnya.
Baabullah giat menyiarkan agama Islam, tetapi tak memaksa orang Kristen masuk
Islam. Daerah kekuasaannya membentang di antara Mindanao, Sumbawa, Irian, dan
Sulawesi, termasuk Pulau Buton. Sesudah meninggal ia digantikan putranya,
Sa'aduddin Barakat (mulai 1583). (EI; KES; PN2 166)
***
--- In [EMAIL PROTECTED], "Kusalah Subagyo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Subject: dari sejarah Indonesia, Sep 20, 2006 Kusalah Subagyo
Sultan Agung dan Perang Kuman
(1625-1629)
Dalam usahanya menjadi negara adidaya satu-satunya di Jawa,
Sultan Agung Hanyakrakusuma (nama kecil: Raden Mas Rangsang) dari Mataram
melabrak Surabaya (1614), Wirasaba dan Lasem (1615), Tuban (1616), Pasuruan
(1617), Pajang yang memberontak (1617), Balambangan (1619), Sukadana di
Kalimantan bawahan Surabaya (1622), dan Madura (1624).
Di antara negeri-negeri itu yang sukar ditaklukkan adalah
Surabaya, Madura, dan Balambangan. Balambangan terus berganti tangan dengan
Mataram. Madura Timur, yaitu Pamekasan dan Sumenep, berlawan dengan gagah
berani. Tentaranya yang cuma 2.000 orang menghadapi tentara Mataram yang 50.000
orang, dan berhasil membunuh 6.000 orang di antaranya, termasuk 17 orang
terkemuka Mataram. Perempuan Madura ikut aktif dalam peperangan itu. Tanpa ragu
mereka membunuh suami yang melarikan diri dari pertempuran, juga mereka yang
terluka, yang dianggap meninggalkan pertempuran juga.
Dan yang paling ulet bertahan adalah Surabaya yang sebagai kota
yang kaya, waktu itu sudah dilingkung benteng. Kota yang terletak di gosong
antara Kali Mas dan Kali Pegirian itu bertahun-tahun dikepung, dibakar dan
dihancurkan. Karena itu pun tidak mempan, Sultan Agung menerapkan Perang Kuman
terhadapnya. Itulah untuk pertama kalinya Perang Kuman dilancarkan oleh
penguasa Jawa/Indonesia. Kali Mas dibendung agar orang Surabaya tak bisa makan
dan minum. Dan pada alirannya yang tersisa dihanyutkan bangkai-bangkai.
Akibatnya wabah kolera berjangkit, dan dari sekitar 60.000 penduduk Surabaya
tersisa hanya 1.000, hingga Adipati Surabaya menyerah. Dengan itu Jawa Timur
jatuh ke tangan Sultan.
Sebagai pewaris Kesultanan Demak, Sultan Agung merasa Banten
harus tunduk juga kepadanya. Sayangnya Gubernur Jenderal Belanda, Jan
Pieterszoon Coen sudah bercokol di Batavia. Maka ia kirim beberapa orang duta
ke Batavia membawa berbagai hadiah, ditambah pula janji, Belanda akan diberi
merica Banten apabila Coen mau bersama-sama menyerang Banten. Coen menolak,
karena tak suka Mataram semakin kuat.
Maka pengalaman Perang Kuman di Surabaya oleh Sultan Agung
diulangi, waktu ia menyerang Batavia untuk kedua kalinya bulan September 1629.
Sungai Ciliwung dibendung, dan pada sisa alirannya dihanyutkan bangkai-bangkai.
Wabah kolera berkecamuk, hingga jumlah orang yang tewas oleh kolera di kedua
belah pihak lebih besar dari yang tewas oleh senjata. Di antara yang tewas
termasuklah si Coen, yang menurut orang Mataram mereka bunuh.
Justru karena Perang Kuman itu serangan Sultan Agung terhadap
Batavia gagal. Senjata makan tuan. (ECI)
***
--- In [EMAIL PROTECTED], "Kusalah Subagyo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Subject: dari sejarah Indonesia, Sep 24, 2006
Sultan Agung-Portugis Satu-Satu
(1629-1640)
Tahun 1511 Malaka direbut oleh Portugis. Berulang kali dilakukan
usaha oleh kerajaan-kerajaan Nusantara untuk merebutnya kembali, a.l. oleh
Pangeran Sabrang Lor dari Demak, namun tak berhasil.
Sebagai kelanjutan usahanya untuk menundukkan Batavia, Sultan Agung tahun
1629 mengirim utusan ke Malaka menghadap vice-rey (raja muda) Portugis dengan
permintaan agar Portugis mengepung Batavia dari laut, sedang Mataram akan
mengerahkan 100.000 prajurit dari darat. Tapi Malaka tak mendapat persetujuan
dari Goa (pangkalan utama Portugis di India), karena Goa tak mempercayai
Mataram.
Tahun 1633, ketika Malaka mulai dikepung Belanda dan orang Melayu
menghentikan kiriman makanan, Portugis ganti mengirimkan utusan ke Mataram. Ia
minta Sultan Agung menyerang Batavia untuk ketiga kalinya. Portugis akan
mengerahkan 40-60 kapal, dan Mataram agar mengerahkan 100.000 prajurit
sebagaimana pernah dijanjikan. Utusan diterima baik dan mendapat karunia
indah-indah, tapi persekutuan tak menjadi kenyataan. (EC5)
Sultan Agung-Portugis satu-satu. Dan tahun 1640 Malaka jatuh ke
tangan Belanda.
***
--- In [EMAIL PROTECTED], "Kusalah Subagyo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Subject: dari sejarah Indonesia, Sep 28, 2006
Sultan Agung dan buaya
(1632-1641)
Kegagalan dalam usaha mengenyahkan Kompeni dari Batavia tahun
1628 dan 1629 sangat mengecewakan Sultan Agung, dan kegagalan itu menjadi
trauma baginya.
Tahun 1632, ketika Kompeni mengirimkan perutusan di bawah
pimpinan Maseyck, dengan anggota onderkoopman (pejabat Kompeni) Antonie Paulo,
oleh Sultan mereka ditangkap dan tak dilepaskan lagi. Sultan pun tak bersedia
melakukan pertukaran tawanan.
Tahun 1641 utusan Sultan kembali dari Mekkah bersama beberapa
orang Arab, menumpang kapal Inggris. Dari Suratte (India) mereka mendarat di
Banten, dan dari Banten menumpang kapal Banten ke pelabuhan Mataram. Mereka
membawa gelar Sultan Abdul Mohammad Maulana Mataarami untuk Sultan (waktu itu
Agung belum bergelar Sultan).
Beberapa bulan kemudian, dalam rangka mencari sekutu, Inggris
mengirimkan utusan ke Mataram dengan membawa persembahan kuda dan meriam.
Mereka pun menawarkan jasa membawa kembali para utusan Arab dan Jawa yang dulu
diangkutnya, dengan kapal "Reformation" ke Suratte. Utusan pun naik. Sampai di
pelabuhan Batavia, Kompeni sengaja menciptakan pertempuran di kapal itu dan
memenangkannya. Dan atas perintah Gubernur Jenderal Van Diemen, perutusan
diturunkan dari kapal dan ditahan. Dengan itu Kompeni membalas dendam atas
penahanan Maseyck dan Antonie Paulo, sekaligus membuyarkan hubungan Mataram
dengan Inggris.
Sultan murka sekali terhadap tindakan Kompeni itu. Namun tetap
tak bersedia menukarkan tawanan. Sebaliknya ia perintahkan melemparkan Antonie
Paulo ke kolam buaya.
Tiga hari tiga malam Antonie Paulo berdiri bersembahyang, karena
binatang-binatang itu tidak juga melahapnya. Atas perintah Sultan, tawanan itu
ditarik dan dicincang untuk santapan buaya. Tetapi tetap buaya-buaya itu tak
bersedia memakannya. Akhirnya orang menguburkannya.
Pembalasan Kompeni pun tidak tanggung-tanggung. Armada dagang
Mataram di Maluku dihancurkannya, hingga sejak itu hampir tak kelihatan perahu
Jawa di sana. (ECI)
***
--- In [EMAIL PROTECTED], "Kusalah Subagyo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
dari sejarah Indonesia, Oct 2, 2006
Subject: Sultan yang durhaka
(1680-1684)
Sultan Abdul Kahar dari Banten sungguh istimewa di antara para
sultan, bahkan di antara orang Indonesia pada jamannya, karena ia sempat dua
kali naik haji, yang pertama antara 1669-1671, yang kedua antara 1674-1676.
Justru karena itu ia terkenal sebagai Sultan Haji. Adapun nama kecilnya adalah
Pangeran Gusti atau Pangeran Anom.
Namun kehajiannya tidak menjadikannya anak yang soleh, justru
sebaliknya menjadikannya anak yang durhaka terhadap orang tua, yang tidak lain
tidak bukan adalah Sultan Ageng Tirtayasa (mm. 1651-1683).
Ageng Tirtayasa seorang sultan yang anti-Belanda, karena tingkah
laku Belanda yang menyalahi rasa sopan santun dan rasa keadilannya. Sebaliknya
Pangeran Gusti yang diangkat sebagai Sultan Pembantu (Raja Muda) pada 1671
dengan gelar Sultan Abdul Kahar, dekat dengan Belanda. Justru karena itu ia
menjadi pintu masuknya pengaruh, bahkan kekuasaan, Belanda di Banten.
Tahun 1680 Pangeran Gusti memberontak terhadap ayahnya, dan
mengangkat diri sebagai Sultan. Begitu ia naik tahta Banten, langsung Belanda
mendekatinya, mendorongnya serta menggosoknya agar mau menandatangani
perjanjian dengan Belanda.
Akibat pokok dorongan dan gosokan itu pada 1682 ia mengumumkan
perang kepada Ageng Tirtayasa yang waktu itu berkeraton di Tirtayasa.
Celakanya, rakyat Banten mendukung Ageng Tirtayasa, hingga Sultan Haji terjepit.
Itulah saat yang tepat bagi Sultan Haji untuk menghamba kepada
Belanda, dan saat yang sudah lama diinginkan oleh Belanda untuk "mengentaskan"
Sultan Haji. Gubernur Jenderal Cornelis Speelman yang sangat berpengalaman
menghadapi tokoh-tokoh pribumi (Sultan Hasanuddin, Pangeran Trunajaya) langsung
tanggap, dan tanggal 8 Maret 1682 Angkatan Laut Belanda sudah berlabuh di
Banten.
Dalam sebulan saja Sultan Haji sudah dapat dibebaskan dari
kepungan ayahnya. Bahkan Tirtayasa sebagai benteng Sultan Ageng dapat direbut
(28 Desember 1682), hingga Sultan Ageng terpaksa melarikan diri ke selatan
bersama putra bungsunya, Pangeran Purbaya.
Maret 1683 Sultan Ageng tertangkap, lalu ditawan di Batavia.
Dengan ini Sultan Haji diakui sebagai Sultan. Tahun berikutnya, 1684, ia
mengadakan perjanjian dengan Kompeni yang sangat merugikan Banten:
1.Ia mengakui Kompeni sebagai pelindung; 2. Ia melepaskan tuntutan sebagai
penguasa Cirebon; 3. Ia membayar ongkos perang sebesar 600.000 ringgit; 4. Ia
serahkan kepada Kompeni monopoli ekspor/impor untuk Banten dan Lampung; 5.
Orang-orang Eropa lainnya harus pergi dari Banten; 6. Kompeni mendirikan
benteng di Banten.
Habislah riwayat Banten sebagai negara yang merdeka.
***
--- In [EMAIL PROTECTED], "Kusalah Subagyo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Subject: dari sejarah Indonesia, Oct 8, 2006
Cidera kepada sahabat
(1674-1680)
Raja Jawa terkenal suka kawin, baik ketika masih menjadi raja
merdeka maupun sesudah menjadi raja jajahan Belanda. Sering calon istri sudah
dicadangkan ketika masih kecil, yang diserahkan pengasuhannya kepada orang tua
calon istri raja tersebut. Sementara menunggu besar, calon istri itu disebut
sengkeran (simpanan).
Salah seorang raja Jawa yang kebetulan sedang punya sengkeran adalah Sunan
Amangkurat I (mm. 1645-1677) dari Mataram. Tapi entah bagaimana ceritanya,
Pangeran Adipati Anom alias Putra Mahkota, putra sang raja sendiri, kok
mengambil sengkeran tersebut.
Tentu saja raja murka, dan karenanya Putra Mahkota dibuang ke Lipura, dekat
pantai selatan. Ganti pembuangan tersebut bikin sakit hati Putra Mahkota.
Ndilalah waktu itu Pangeran Trunajaya dari Madura yang mengaku turunan
Majapahit merasa tak puas dengan pemerintahan Bupati Madura Cakraningrat II,
dan pemerintahan Amangkurat I yang tunduk kepada Belanda.
Berkomplot dengan para ulama Gresik (pimpinan Sunan Giri), Putra
Mahkota Mataram, Karaeng Galesung, dan Raden Kajoran ulama terkenal, Trunajaya
memberontak kepada Amangkurat I. Mereka berhasil menguasai kabupaten-kabupaten
pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur (hanya Bupati Jepara yang memihak Amangkurat
I), lalu menyerang Mataram (yang berpusat di Plered). Markas mereka di Kediri.
Amangkurat I dengan diiringi Putra Mahkota lari untuk mengungsi
... ke Batavia (!), tapi di Tegal Wangi (Tegal Arum) mangkat. Sebelum mangkat
ia sempat menasihati Putra Mahkota agar meminta bantuan VOC. Putra Mahkota yang
memang mulai ngeri dengan itikad sahabatnya, Trunajaya, mendatangi Cornelis
Speelman dari VOC yang sedang berlabuh di Jepara sesudah merebut Surabaya dan
Madura. Speelman mengajukan syarat:
1.Kompeni mempunyai hak bebas dagang di Mataram, tanpa pajak dan
cukai; 2.Bandar Semarang, daerah Kerawang dan Priangan diserahkan Kompeni;
3.Kompeni membangun galangan kapal di Rembang; 4.Selama biaya perang belum
dilunasi, Adipati Anom menggadaikan daerah pesisir Jawa Tengah; 5.Kompeni
membangun benteng di Mataram.
Putra Mahkota setuju. Ia dinobatkan sebagai Amangkurat II dengan
pengukuhan Gubernur Jenderal. Kemudian Speelman menyerang Trunajaya dengan
bantuan Aru Palaka dari Bugis dan Kapten Jonker dari Ambon. Kediri jatuh.
Trunajaya lari ke Gunung Kawi. Dengan pasukan Makasar, dalam perlawanannya
akhirnya ia terkurung di Gunung Kelut. Karena kelaparan, maka pada bulan
Desember 1679 ia menyerah kepada Kapten Jonker, dan lalu diserahkan kepada
Sunan Amangkurat II.
Oleh Sunan Amangkurat II Trunajaya akhirnya dijatuhi hukuman mati (2 Januari
1680).
***
--- In [EMAIL PROTECTED], "Kusalah Subagyo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Subject: dari sejarah Indonesia, Oct 12, 2006
Kapan Belanda mulai menjajah Indonesia?
(1749)
Pakubuwana II adalah Sunan Mataram yang lemah. Maka ketika terjadi
pemberontakan, ia terusir dari keratonnya di Kartasura. Hanya karena ditolong
oleh VOC dengan senjata ia tetap menjadi raja. Tapi ketika VOC minta upah
berupa daerah pantai utara Jawa Kerajaan Mataram, permintaan itu diluluskannya.
Ia pun tidak berani berbuat apa-apa terhadap wakil VOC di keratonnya. Kalau ada
upacara di keraton, dan wakil VOC duduk di sampingnya di Sitinggil, ia diam
saja.
Inilah yang menyebabkan rakyat tidak senang. Mereka tak suka
melihat wakil VOC duduk sama tinggi alias sederajat dengan raja mereka. Dan
golongan Islam yang semakin kuat di Mataram pun menganggap tidak pantas Sunan
bersahabat erat dengan orang kapir seperti orang Belanda itu.
Bagaimanakah rasa tak senang itu diungkapkan? Pertama, dengan
menghasut perdana menteri. Kedua, dengan meninggalkan keraton. Jalan kedua ini
memang biasa ditempuh oleh para pangeran sejak jaman dahulu kala. Dan pangeran
yang kini meninggalkan keraton adalah Pangeran Mangkubumi, saudara Pakubuwana
II, pada tahun 1746.
Pangeran inilah yang nantinya menjadi Sultan Yogyakarta yang pertama yaitu
Hamengku Buwana I.
Kelemahan Pakubuwana II lebih kelihatan lagi waktu pada tahun 1749 secara
resmi ia menyerahkan seluruh kedaulatannya di Pulau Jawa kepada VOC. Peristiwa
inilah yang sering dianggap orang sebagai awal penjajahan Belanda atas
Indonesia. Maka orang Belanda yang datang di Indonesia sebagai pedagang, kini
berubah menjadi penjajah. (Star Weekly, 11 Desember 1949:30)
***
--- In [EMAIL PROTECTED], "Kusalah Subagyo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Subject: dari sejarah Indonesia, Sun Oct 15, 2006
Sultan pelit
(mm. 1792-1810, 1811-1812, 1826-1828)
Sultan Hamengku Buwana II yang kemudian terkenal sebagai Sultan
Sepuh adalah putra dan pengganti Sultan Hamengku Buwana I. Berlainan dengan
ayahnya yang sederhana, Sultan Hamengku Buwana II terkenal pelit dan mata
duitan. Tentang itu banyak tersiar lelucon, terutama tentang cara ia memungut
pajak atas segala macam barang tetek-bengek. Tiap pelanggar hukum dikenainya
denda. Untuk orang kecil besarnya 20 sampai 30 duit, sedang untuk orang kaya
sampai 500 real Spanyol. Dengan cara itu ia dapat menimbun harta sebanyak
1.200.000 real Spanyol.
Dua kali ia mengubah tapal batas daerah Yogyakarta yang hanya
menguntungkan penghasilannya sendiri. Inilah yang membuat rakyat membencinya.
Ketika Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels berkuasa (mm.
1808-1811), ia ubah peraturan yang mengharuskan wakil Gubernur Jenderal duduk
lebih rendah dari Sultan. Ia merasa sebagai wakil dari seorang raja, dalam hal
ini Kaisar Napoleon, maka ia anggap peraturan Sultan dan Sunan itu merupakan
penghinaan. Wakil Daendels kini memakai gelar Menteri Raja Belanda. Daendels
mengarang upacara sendiri untuk wakilnya, ia tetapkan pakaiannya (dari kain
laken biru dengan banyak emas), payungnya (dengan warna sama), dan kalau
bertemu Sultan boleh memakai topi dan duduk di kursi yang sama tinggi dengan
Sultan. Mula-mula memang Sultan keberatan, tetapi ia tak dapat berbuat apa-apa.
Ketika Inggris menang perang melawan Belanda (17 September 1811)
dan Sir Stamford Raffles menjadi Letnan Gubernur Jenderal, Sultan Hamengku
Buwana II kembali memberlakukan peraturan yang lama: Raffles harus duduk lebih
rendah dari dirinya. Karena kekuatan Raffles waktu itu masih kecil, ia tunduk
kepada peraturan itu. Tapi tahun 1812 Raffles mendatangkan pasukan besar (2.000
orang) bersenjata lengkap di bawah Kolonel Gillespie. Keraton Sultan yang
dipertahankan 8.000 serdadu tidak dapat bertahan dan menyerah. Harta Sultan
yang lama dikumpulkan habis dirampas, malahan Sultan sendiri dibuang ke Pulau
Pinang dan kemudian ke Ambon (1816). Putra mahkota yang tidak ikut berperang
diangkat menjadi Sultan Hamengku Buwana III (mm. 1812-1814). (Star Weekly, 18
Desember 1949:10)
***
--- In [EMAIL PROTECTED], "Kusalah Subagyo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Subject: dari sejarah Indonesia, Sat Oct 21, 2006
Bercerai kita jatuh
(1827)
Perang Dipanegara, yang oleh Belanda dinamakan Perang Jawa,
berlangsung sengit selama lima tahun, dimulai dengan pembakaran rumah Pangeran
Dipanegara di Tegalrejo pada 20 Juli 1925, dan berakhir dengan penangkapan
Dipanegara di Magelang 28 Maret 1930. Betapa sengit perang itu tampak dari
angka-angka berikut:
15.000 serdadu Hindia Belanda tewas, yaitu 8.000 orang Belanda
dan 7.000 orang bumiputra. Sebaliknya, kira-kira 200.000 orang Jawa menemui
ajalnya dalam perang itu. Data lain menyebutkan, dari penduduk Yogyakarta
sebanyak 343.000 orang tinggal 20.000 orang. Kebun kopi mengalami kehancuran,
dan kerajinan merosot, kecuali di Kota Gede karena di situ terdapat makam orang
suci. (Star Weekly, 18 Desember 1949:12)
Dengan mudah Dipanegara dapat menghimpun tentara dari rakyat
biasa yang jumlahnya ribuan. Perang itu bersifat gerilya.
Dengan mengerahkan tentara dari berbagai daerah di Indonesia,
Belanda berhasil merebut pusat pertahanan Dipanegara di Selarong. Tapi ketika
mereka bergerak ke daerah lain, Selarong kembali diduduki. Demikian pula yang
terjadi dengan Plered.
Karena kemenangan ini, makin banyak rakyat bergabung. Termasuk
a.l. Kyai Maja yang sangat berpengaruh di kalangan ulama, dan Sentot Alibasah
Prawiradirja, putra Prawiradirja III, yang baru berumur 17 tahun tapi sanggup
menjadi salah seorang panglima Dipanegara.
Waktu itu Belanda memiliki benteng di Yogyakarta, Magelang,
Surakarta, Boyolali dan Demak. Namun seluruh daerah Yogyakarta, Kedu dan
sebagian besar Surakarta dikuasai oleh Dipanegara. Bahkan benteng Demak
terpaksa ditinggalkan. Dari 3.000 serdadu yang didatangkan dari Belanda, lebih
dari 2.000 tewas dalam pertempuran.
Tahun-tahun 1925-1926 kemenangan ada di pihak Dipanegara. Seluruh Jawa Tengah
kecuali kotanya dikuasai oleh Dipanegara.
Tahun 1827 panglima tentara Belanda De Kock melaksanakan
benteng-stelsel. Daerah yang telah direbut tidak ditinggalkan; di situ
didirikan benteng untuk menjaganya, yang letaknya tak jauh dari benteng lain
dan dihubungkan dengan jalan, hingga perhubungan dapat cepat dan lancar.
Walaupun cara ini mahal, tapi berhasil. Tahun 1828 wilayah Dipanegara tinggal
sebelah barat Sungai Progo.
Tapi yang lebih fatal dari kekalahan di medan tempur adalah
perpecahan di kubu sendiri. Lebih-lebih perpecahan yang dipicu oleh hal yang
tidak penting.
Tahun 1829 Dipanegara berselisih dengan Kyai Maja. Kyai Maja
menuntut kedudukan sebagai panatagama (kepala agama), padahal Dipanegara sudah
menyandang gelar itu pula. Kyai Maja pun mendesak Dipanegara untuk berunding
dengan Belanda. Dipanegara menolak keduanya. Tahun itu juga Kyai Maja
tertangkap dan dibuang ke Menado. Bersamaan dengan itu Sentot menerima bujukan
Belanda untuk menyerah. Dengan seluruh pasukan ia masuk tentara Hindia Belanda.
Selesailah perang dengan tragis.
***
--- In [EMAIL PROTECTED], "Kusalah Subagyo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Subject: dari sejarah Indonesia, Mon Oct 30, 2006
Puas terhadap kekuasaan Belanda
(26 Januari 1913)
Sarekat Dagang Islam (SDI) adalah perkumpulan modern kedua orang
Indonesia, yang didirikan tahun 1911 oleh saudagar batik Kampung Laweyan, Solo,
Haji Samanhudi, dengan dua dasar: agama Islam dan ekonomi.
Maksud pendirian: 1) memajukan agama; 2) memperkuat diri dalam
persaingan melawan pedagang-pedagang Tionghoa yang menguasai kain putih, malam,
alat-alat cat, dan mempermainkan pedagang pribumi.
Ketika menyusun Statuten (Anggaran Dasar), SDI meminta tolong
pelajar Indonesia yang waktu itu bekerja di sebuah perusahaan dagang Surabaya,
Umar Said Tjokroaminoto. Atas usul Umar, istilah "dagang" dihapuskan, agar tak
terbatas pada golongan itu, menjadi Sarekat Islam (SI). Demikian riwayat Akte
Notaris SI tgl. 10 September 1912.
Karena khawatir akan menjadi gerakan yang melawan pemerintah,
tanggal 12 Agustus 1912 SI disekors oleh Residen Surakarta, yaitu dilarang
menerima anggota baru dan mengadakan rapat-rapat. Rumah-rumahnya digeledah,
tapi karena tak ada bukti-bukti menentang pemerintah, tanggal 26 Agustus 1912
sekorsing dicabut.
Tanggal 26 Januari 1913 di Surabaya berlangsung Kongres Sarekat
Islam (SI) I yang dihadiri oleh ribuan orang. Perlu diketahui, bahwa di Betawi
saja keanggotaan SI waktu itu 12.000 orang.
Dalam pidatonya, Ketua menyatakan a.l. bahwa SI bukan partai politik yang
menghendaki revolusi seperti disangka kebanyakan orang. "Jika nanti diadakan
pengejaran-pengejaran, kita harus meminta perlindungan pada Gubernur Jenderal.
Kita setia dan puas terhadap kekuasaan Belanda. Sungguh, tidak benar kalau
kita dikatakan hendak menyebabkan huru-hara, sungguh tidak benar, kalau kita
dikatakan hendak berontak. Itu semua tidak benar, tidak, seribu kali tidak .."
Ketua SI waktu itu H.O.S. Tjokroaminoto. (RUS6)
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
---------------------------------
Check out the New Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things
done faster.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/