http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=269988&kat_id=16
Dusta Liberalisme 
           
              Oleh :  
          
                   Umaruddin Masdar
 Pemerhati Masalah Geopolitik Internasional
  Perang Irak akibat agresi Amerika Serikat telah tiga tahun berjalan. Ribuan 
korban jiwa melayang. Seperti dilaporkan dari hasil penelitian Sekolah 
Kesehatan Masyarakat the John Hopkins Bloomberg di Maryland, AS, tercatat lebih 
dari 655 ribu warga Irak meninggal. Sementara di pihak AS lebih dari 2.600 
tentara tewas. Dan lebih dari 120 wartawan dari berbagai negara meninggal dalam 
tugas.
  Setelah berjalan dan memakan korban cukup banyak, Presiden AS George W 
akhirnya mengakui bahwa Saddam Hussein sama sekali tak terkait dengan serangan 
11 September 2001. Padahal alasan utama AS menginvasi Irak adalah karena 
pemerintahan Saddam dituding terlibat serangan 11 September di AS. Sebelumnya 
Bush juga menyatakan bahwa AS menyerang Irak karena negara itu memiliki senjata 
pemusnah massal. Namun, tuduhan itu juga hanya kedok belaka dan tidak pernah 
dapat dibuktikan.
  Irak telah menjadi korban keangkuhan AS dan ideologi liberalisme. Dalam 
retorika AS, perang Irak ditempatkan sebagai 'perjuangan ideologi yang 
menentukan' di masa depan, apakah abad ke-21 akan dikuasai oleh kebebasan atau 
teror. Padahal itu hanyalah alasan yang dibuat-buat dan dibungkus secara 
ilmiah-rasional untuk mencegah krisis ekonomi dan politik AS yang terus 
mengalami tekanan dari para pesaing.
  Yang lemah terjerat
 Dalam konteks sejarah struktural, ideologi liberalisme dibangun untuk 
melegitimasi penjajahan dan eksploitasi negara besar atas negara yang lemah. 
Ada dua hal yang bisa menjelaskan hal ini. Pertama, sistem internasional 
menuntut partisipasi aktif negara dalam hubungan ekonomi internasional. Negara 
kapitalis maju tidak bisa secara mandiri atau bersama-sama mengimplementasikan 
kebijakan-kebijakan neokolonial tanpa ada dukungan kapitalisme negara di 
pinggiran. Kedua, kebijakan neokolonial didesain untuk mencegah potensi 
independen negara pinggiran dalam melakukan konsolidasi politik sekaligus untuk 
mempertahankan ketergantungan negara pinggiran secara penuh dalam sistem 
kapitalisme dunia.
  Dengan demikian, nilai-nilai dan ideologi yang terus direproduksi rezim 
kapitalisme internasional, seperti kebebasan (liberalisme), demokrasi dan 
globalisasi, tidak semata-mata merupakan nilai-nilai atau diskursus pengetahuan 
yang bersifat akademik. Ideologi tersebut juga menjadi strategi negara maju 
untuk menaklukkan negara lemah agar masuk dalam jebakan hegemoni pengetahuan 
dan dominasi politiknya.
  Karena alasan untuk menegakkan demokrasi misalnya, AS melakukan intervensi 
politik di berbagai negara Asia, Afrika dan Amerika Latin. Padahal tujuan 
sesungguhnya bukanlah menegakkan demokrasi, tetapi mengganti penguasa yang 
tidak pro-AS, atau di negara bersangkutan ada banyak kepentingan AS yang harus 
dilindungi. Seperti yang terjadi di Irak, demokratisasi hanyalah kedok untuk 
menguasai sumber-sumber energi, terutama minyak, sekaligus memutus jalur 
pasokan minyak ke Cina.
  Bahwa ideologi liberalisme penuh tipu muslihat dan cenderung menjerumuskan, 
bisa disimak dalam dua contoh berikut. Pertama, konsep utang yang diperuntukkan 
bagi negara-negara berkembang sepenuhnya merupakan mekanisme eksploitasi dan 
alat politik untuk mengintervensi negara berkembang. Konsep utang yang 
diberikan kepada negara debitor (berkembang) untuk memacu meningkatkan ekspor 
dan pada akhirnya memacu pertumbuhan ekonomi. Negara debitor melunasi utangnya 
dengan jalan meningkatkan nilai ekspornya agar melebihi nilai impor, termasuk 
di dalamnya perebutan dalam kompetisi pasar global.
  Menurut Michael Rowbotham, keberatan-keberatan atas konsep utang tersebut 
bermunculan, baik dipandang dari segi empiris maupun teoritis. Jika dilihat 
dari segi empiris, negara-negara debitor telah gagal untuk mencapai tahap 
surplus dalam perdagangan sesuai dengan apa yang diinginkan agar mereka bisa 
melunasi hutang mereka. Secara teoretis, bentuk ini sebenarnya telah gagal 
dalam berbagai hal.
  Negara sedang berkembang harus bisa mencapai surplus perdagangan agar bisa 
melunasi utangnya, tapi tidak hanya negara sedang berkembang yang mengejar 
target surplus, negara-negara makmur pun (negara pusat) berusaha untuk menjaga 
nilai surplus perdagangannya. Nilai perdagangan mungkin meningkat, volume 
aliran barang mungkin juga meningkat, tapi surplus perdagangan satu negara 
merupakan defisit perdagangan bagi negara lain.
  Kelemahan dari model perekonomian seperti itu ada pada asumsi bahwa negara 
debitor dapat memperoleh surplus perdagangan dengan mengekspor barang ke negara 
kreditor. Tapi dengan begitu negara debitor akan langsung berhadapan dengan 
negara kapitalis yang kuat dan sudah pasti melakukan hal yang sama.
  Konsep ekonomi liberal, termasuk konsep tentang utang, dengan demikian 
merupakan sesuatu yang sangat menipu. Sayangnya para elite modern sering 
terkena mental yang meyakini bahwa yang bisa menolong dan menyelamatkan kita 
hanyalah pihak asing atau negara lain.
  Kedua, ketika beberapa negara terkena krisis moneter pada 1997, termasuk 
Indonesia, rezim kapitalisme internasional melalui IMF yang bermarkas di 
Washington AS 'membantu' beberapa negara yang terkena krisis. Namun 
kredibilitas IMF terus disorot karena kegagalan menyelesaikan krisis moneter. 
Bahkan beberapa negara terjebak dalam krisis ekonomi dan politik yang bertambah 
parah setelah mengikuti resep IMF.
  Terus dianut
 Meski liberalisme merupakan nilai dan ideologi nyata-nyata menipu, para ekonom 
dan penguasa di negeri ini tampaknya tetap setia mengikuti resepnya dan 
cenderung menjaganya dengan penuh dedikasi dan loyalitas. Dalam pikiran para 
ekonom kita, hampir tidak ada varian bagi sistem ekonomi kita kecuali 
kapitalisme pasar. Padahal, seperti ditegaskan ahli ekonomi mazhab regulasi 
dari Prancis, Robert Boyer, dalam sebuah tulisannya How and Why Capitalism 
Differ- yang dipresentasikan pada Seminar Internasional Ekonomi Regulasi di 
Jakarta, 5-6 Juli 2006 yang lalu - ada beberapa varian kapitalisme yang 
dipraktikkan berbagai negara di dunia. Pertama, kapitalisme berorientasi pasar, 
seperti telah disebutkan. Kedua, meso-corporatist capitalism yang dipraktikkan 
negara seperti Jepang dan Korea Selatan. Ketiga, state-driven capitalism, 
seperti yang menjadi ciri khas negara-negara Uni Eropa. Keempat, social 
democratic capitalism, seperti dipraktikkan di negara-negara Skandinavia.
  Monoloyalitas para ekonom dan penguasa kita terhadap kapitalisme pasar tentu 
menimbulkan tanda tanya besar, bukan saja karena sikap demikian jelas-jelas 
mengabaikan varian-varian dan keberhasilan dari bentuk kapitalisme yang lain. 
Lebih dari itu, kapitalisme yang berorientasi pasar telah nyata-nyata gagal 
dipraktikkan di negeri ini.
  Mungkin benar apa yang dikatakan David Ransom dalam tulisannya Ford Country: 
Building an Elite for Indonesia, bahwa elite modern Indonesia memang dididik 
dan dilatih bekerja di bawah kendali dan untuk kepentingan AS. Amerika Latin, 
Cina, India dan Uni Eropa telah mulai bangkit. Tapi kita cenderung menutup mata 
dan takut untuk belajar -apalagi meniru- dari keberhasilan mereka.
  Ikhtisar
 - Amerika Serikat dengan liberalismenya telah mengecoh negara-negara 
berkemampuan ekonomi lemah.
 - Liberalisme dibangun untuk melegalkan penjajahan dan eksploitasi negara 
besar atas negara yang lemah.
 - Meski mengandung banyak muslihat, banyak ekonom dan penguasa di Indonesia 
tetap menganut liberalisme dengan menjalankan ekonomi beraliran kapitalisme 
pasar.
 - Kapitalisme berorientasi pasar telah nyata-nyata gagal dijalankan di 
Indonesia.


Bila lidah kelu, tulisan menjadi perlu
Pena lebih tajam dari pedang
Tinta seorang yang berilmu
Lebih mulia dari darah 
Seorang syahidah
....telah hadir komunitas penulis muda baru : Alpen Prosa (15/10/06).......

  pustaka tani 
  nuraulia

 
---------------------------------
Low, Low, Low Rates! Check out Yahoo! Messenger's cheap  PC-to-Phone call rates.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke