Dear all;

Alenia pertama Laluta dalam tulisan "Konspirasi Jahat Suharto..." 
itu penuh dengan kengawurannya, karena (pura-pura) tidak faham apa 
yang sedang berlangsung di dalam perjalanan sejarah semasa Zaman 
Perang Dingin dan Masa Globalisasi Ekonomi Neo-Liberal. Akibatnya 
tulisannya di awal alenia itu saja sudah kacau balau! Kalau sudah 
alenia pertama saja kacau balau, maka selanjutnya isi tulisan Laluta 
ini amburadul semua!

Bagian Pertama: ZAMAN PERANG DINGIN

Yang dijalankan oleh "Mafia Berkeley" dan Suharto adalah penolakan 
terhadap Kubu Komunis, dan pemihakan kepada Kubu AS dengan sistem 
Kapitalismenya. Jadi, pilihannya adalah antara memihak Kubu AS atau 
Kubu Soviet/RRC. Di dalam Kubu Non-Blok ada kubu komunis masuk, 
bukan? Jadi omongkosong kalau Non-Blok itu netral. 

Malah yang melakukan konspirasi terhadap Bangsa Indonesia (Bangsa 
Indonesia ini tidak identik dengan Pemerintah Indonesia di bawah BK 
atau Suharto atau SBY lho!) pada Zaman Perang Dingin itu adalah Kubu 
Komunis lewat Dokumen Gilchrist yang palsu buatan Departemen 
Disinformasi Intel Cheko di bawah komando KGB (komandan operasinya: 
Jendral Aghayant dari Moskow! -- silahkan baca "The Deception Game" 
karya seorang tokoh intel Cheko bernama Ladislav Bittman) . 

Celakanya, dokomen palsu itulah yang dipercaya oleh Subandro dan 
Bung Karno, bahwa akan ada kup dari kalangan Jendral TNI dibantu 
oleh CIA dan armada AS dan Inggeris yang ada di kaqasan Asia 
Tenggara ketika itu. Untuk itu disusunlah Skenario Tampaksiring 
(disusunnya di Tampaksiring, Bali) untuk menangkap sejumlah Jendral. 
Pimpinan penangkapnya Untung dari Cakrabirawa. Rencananya, para 
jenderal itu akan diadili dalam Mahkamah Militer yang akan diadakan 
di Halim Perdanakusuma. 

Jadi, isi dokumen palsu yang berupa fitnah itu telah menjebak 
Subandrio bersama Bung Karno ketika itu, sehingga tanpa disadari 
oleh mereka berdua mereka pun telah masuk ke dalam barisan Kubu 
Komunis, atau telah menari dalam irama genderang yang ditabuh oleh 
Intel Chekoskowakia dan Uni Soviet. Fitnah (dis-informasi) model 
beginian inilah yang juga dikarang oleh Kantor Departemen D 
Chekoslowakia untuk mengobok-obok negara dan di Asia, Afrika dan 
Amerika Latin. Tujuannya adalah menghancurkan mereka yang anti-
komunis atau non-Komunis di semua negara Asia, Afrika dan Amerika 
Latin ketika itu. Dan Bangsa Indonesia tidak terkecuali dijadikan 
targetnya.

Nah, Chekoslowakia itu kan negara pendukung Kubu Non-Blok, bukan? 
Tapi dari membaca dokumen yang sekarang sudah bisa dibaca secara 
terbuka tentang apa yang mereka lakukan di Zaman Perang Dingin itu 
maka jelas bahwa mereka bekerja untuk Kubu Uni Soviet. Indonesia 
telah diobok-obok oleh mereka dengan dokumen palsu yang menjerat 
Bung Karno dan Soebandrio menjadi secara tidak langsung antek Uni 
Soviet dengan menyusun Skenario Tampaksiring tadi. 

Tapi apa yang terjadi di malam penangkapan para jenderal itu? 
Bukannya ditangkap, tetapi dihabisi dan kemudian dicemplungkan ke 
dalam sumur tua di Lubang Buaya. (Mayat yang dicempelungkan ke dalam 
sumur ini teringat kembali oleh saya ketika membaca pembukaan 
novel "My Name Is Red" karya Orhan Pamuk Pemenang Nobel Sastra 2006) 
Sejarah berjalan tidak sesuai dengan arahan Kubu Komunis, karena TNI 
bersama semua kekuatan anti-komunis ketika itu malah berbalik 
menyerang kubu pro-komunis di negeri kita. Trauma ketakutan dan 
klengerian atas pembantaian yang dilakukan oleh Muso cs ketika 
memproklamirkan Negara Soviet Indonesia di Madiun tahun 1948 itu 
menyulut semangat juang mereka yang anti-komunis menjadi beringas 
dan korban pun berjatuhan di fihak Bangsa Indonesia di mana-mana.

Jadi, Kubu Front Pancasila yang anti-komunis dimpimpin Suharto 
memenangkan gelanggang pertarungan, sedangkan Kubu Komunis termasuk 
yang pro seperti Soebandrio dan Bung Karno ketika itu terkalahkan, 
maka wajarlah sejalan dengan tradisi percaturan kekuasaan dalam 
sejarah manusia di mana saja akhirnya Bung Karno harus turun dari 
tahtanya dan batal menjadi "Presiden Seumur Hidup." Inilah sebabnya 
bagian yang menceritakan tentang Indonesia dalam buku "The Deception 
Game" itu bertajuk "Indonesian Boomerang."

Jadi situasinya ketika itu adalah siapa yang menang dalam 
pertarungan kekuasan dan kekuatan di Zaman Perang Dingin itu, maka 
dialah yang duduk di tahta dan langsung merobah wajah seluruh 
negeri. Kalau saja Kubu Komunis menang di bawah pimpinan Aidit, 
Soebandrio dan Bung Karno ketika itu, maka bisa dibayangkan hal yang 
sama akan terjadi pula di negeri kita, hanya saja yang duduk di 
singgasana kekuasaan adalah Aidit dan para kameradnya. Tapi sejarah 
di negeri kita tidaklah seperti yang direncanakan dan diharapkan 
oleh Kubu Komunis.
-- Bersambung ke "Laluta Ngaco! (Bagian Dua)"


Ik.-

 





--- In [email protected], Mira Wijaya Kusuma <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Catatan Laluta:
>    
>   ...."Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya 'hadiah 
terbesar', hasil tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation 
mensponsori konferensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari 
merancang pengambilalihan Indonesia...."
>    
>   Dan, ..."Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan 'the 
Berkeley Mafia'  (kebanyakan dosen UI), karena beberapa di antaranya 
pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk 
belajar di Universitas California di Berkeley...." 
>    
>   Tapi,... "Jangan berani mengungkit masa lampau kami dan hormati 
kami s/d kami meninggal. Setelah kami meninggal silahkan buka borok2 
kami dan luruskan sejarahmu...."  Untuk selanjutnya, silahkan baca 
karya tulisan ini, berjudul "Konspirasi Jahat Soeharto, CIA, dan 
Mafia UI Dalam Menghabisi Bung Karno"
>    
>   La Luta Continua!
>    
>   *** 
>   Konpirasi Jahat Soeharto, CIA, dan Mafia UI Dalam Menghabisi 
Bung Karno 
>    
>   Keterlibatan AS dalam kupdeta militer yang merangkap di tahun 
1965 di 
> Indonesia sudah banyak ditulis. Bung Karno (BK) yang mempunyai 
visi jauh 
> kedepan sudah menetapkan bahwa Indonesia adalah non blok, mandiri 
> (berdikari), dan tidak mau tergantung pada utang luar negeri ("Go 
to hell 
> with your aids!"). Sayang sekali, Soeharto dkk. melakukan 
konspirasi dengan 
> USA (via CIA) menusuk bangsanya sendiri. Negara-negara sahabat 
Bung Karno, 
> sperti RRC dan India, yang mempunyai prinsip serupa dengan BK dan 
tidak 
> mempunyai pengkianat negara semacam Soeharto Cs., saat ini sudah 
menjadi 
> bangsa yang sehat, normal, bahkan adidaya! Presiden SBY baru-baru 
ini terpaksa mengulangi langkah BK lagi dengan mengunjungi RRC dan 
India. 
>    
>   Dalam buku yang ditulis John Pilger dan yang juga ada film 
dokumenternya, dengan judul The New Rulers of the World, antara 
lain, dikatakan: "Dalam dunia ini, yang tidak dilihat oleh bagian 
terbesar dari kami yang hidup di belahan utara dunia, cara 
perampokan yang canggih telah memaksa lebih dari sembilan puluh 
negara masuk ke dalam program penyesuaian struktural sejak tahun 
delapan puluhan, yang membuat kesenjangan antara kaya dan miskin 
semakin menjadi lebar". Ini terkenal dengan istilah nation building 
dan good governance oleh "empat serangkai" yang mendominasi World 
Trade Organisation (Amerika Serikat, Eropa, Canada, dan Jepang), dan 
triumvirat Washington (Bank Dunia, IMF, dan Departemen Keuangan AS). 
Mereka mengendalikan setiap aspek detail dari kebijakan pemerintah 
di negara-negara berkembang. Kekuasaan mereka diperoleh dari utang 
yang belum terbayar, yang memaksa negara-negara termiskin membayar 
USD 100 juta per hari kepada para kreditor Barat. Akibatnya adalah
>  sebuah dunia yang elitenya -dengan jumlah lebih sedikit dari satu 
miliar orang- menguasai 80 persen kekayaan seluruh umat manusia."
>    
>   Itu ditulis oleh John Pilger, seorang wartawan Australia yang 
bermukim di London, yang tidak saya kenal. Antara John Pilger dan 
saya, tidak pernah ada komunikasi. Namun, ada beberapa kata yang 
saya rasakan berlaku untuk bangsa Indonesia dan yang relevan dengan 
yang baru saya kemukakan. Kalimat John Pilger itu begini: "Their 
power derives largely from an unrepayable debt that forces the 
poorest countres..." dan seterusnya. Dalam hal Indonesia, keuangan 
negara sudah bangkrut pada 1967. Paling tidak, demikianlah yang 
digambarkan oleh para teknokrat ekonom Orde Baru yang dipercaya oleh 
Presiden Soeharto untuk memegang tampuk pimpinan dalam bidang 
perekonomian. Maka, dalam buku John Pilger tersebut, antara lain, 
juga dikemukakan sebagai berikut:
>   (Saya kutip halaman 37) "Dalam bulan November 1967, menyusul 
tertangkapnya 'hadiah terbesar', hasil tangkapannya dibagi. The Time-
Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa yang 
dalam waktu tiga hari merancang 
> pengambilalihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis 
yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David 
Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili: perusahaan-
perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical 
Industries, British Leyland, British American Tobacco, American 
Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US 
Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh 
Rockefeller disebut "ekonoom-ekonoom Indonesia yang top".
>    
>   "Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan 'the Berkeley 
Mafia'  (kebanyakan dosen UI), karena beberapa di antaranya pernah 
menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di 
Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-
minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan 
yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan 
bangsanya, mereka menawarkan :... buruh murah yang melimpah… 
cadangan besar dari sumber daya alam … pasar yang besar."  
>    
>   Di halaman 39 ditulis: "Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah 
dibagi, sektor demi sektor. 'Ini dilakukan dengan cara yang 
spektakuler' kata Jeffry Winters, guru besar pada Northwestern 
University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja 
untuk gelar doktornya, Brad Sampson, telah mempelajari dokumen-
dokumen konferensi. 'Mereka membaginya ke dalam lima seksi: 
pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan 
di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang 
dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang 
mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan 
para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar 
ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan: ini 
yang kami inginkan: ini, ini, dan ini, dan mereka pada dasarnya 
merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia.
>    
>   Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di 
mana modal 
> global duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan 
sebagai negara 
> berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka 
ke dalam 
> negaranya sendiri.
>   Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga di Papua 
Barat (Henry 
> Kissinger duduk dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat 
nikel Papua 
> Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit 
Indonesia. 
> Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang, dan Prancis 
mendapat 
> hutan-hutan tropis di Sumatera, Papua Barat, dan Kalimantan. 
Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan buru-
buru disodorkan kepada Soeharto membuat perampokan ini bebas pajak 
untuk lima tahun lamanya. 
> Nyata dan secara rahasia, kendali ekonomi Indonesia pergi ke Inter 
Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya 
adalah Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Australia dan, yang 
terpenting, Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia." Sekali lagi, 
semuanya itu tadi kalimat-kalimatnya John Pilger yang tidak saya 
kenal.
>    
>   Kalau kita percaya John Pilger, Brad Sampson, dan Jeffry 
Winters, sejak 1967 
> Indonesia sudah mulai dihabisi (plundered) dengan tuntunan oleh 
para elite bangsa Indonesia sendiri yang ketika itu berkuasa. Sejak 
itu, Indonesia dikepung oleh kekuatan Barat yang terorganisasi 
dengan sangat rapi. Instrumen utamanya adalah pemberian utang terus-
menerus sehingga utang luar negeri semakin lama semakin besar. 
Dengan sendirinya, beban pembayaran cicilan utang pokok dan bunganya 
semakin lama semakin berat. Kita menjadi semakin tergantung pada 
utang luar negeri.  Ketergantungan inilah yang dijadikan leverage 
atau kekuatan untuk mendikte semua kebijakan pemerintah Indonesia. 
Tidak saja dalam bentuk ekonomi dan keuangan, tetapi jauh lebih luas 
dari itu. Utang luar negeri kepada 
> Indonesia diberikan secara sistematis, berkesinambungan, dan 
terorganisasi secara sangat rapi dengan sikap yang keras serta 
persyaratan-persyaratan yang berat. Sebagai negara pemberi utang, 
mereka tidak sendiri-sendiri, tetapi menyatukan diri dalam 
organisasi yang disebut CGI.
>    
>   Negara-negara yang sama sebagai pemberi penundaan pembayaran 
cicilan utang 
> pokok dan bunganya yang jatuh tempo menyatukan diri dalam 
organisasi yang 
> bernama Paris Club. Pemerintah Indonesia ditekan oleh semua 
kreditor yang 
> memberikan pinjaman kepada swasta Indonesia supaya pemerintah 
menekan para 
> kreditor swasta itu membayar tepat waktu dalam satu klub lagi yang 
bernama London Club. Secara kolektif, tanpa dapat dikenali negara 
per negara, utang diberikan oleh lembaga multilateral yang bernama 
Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia. Pengatur dan pemimpin kesemuanya 
itu adalah IMF. Jadi, kesemuanya itu tidak ada bedanya dengan kartel 
internasional yang sudah berhasil membuat Indonesia sebagai 
pengutang yang terseok-seok.
>    
>   Sejak itu, utang diberikan terus sampai hari ini. Dalam krisis 
di tahun 1997, Indonesia sebagai anggota IMF menggunakan haknya 
untuk memperoleh bantuan. Ternyata, ada aturan ketat untuk bantuan 
itu. Bantuan uang tidak ada, hanya dapat dipakai dengan persyaratan 
yang dibuat demikian rupa, sehingga praktis tidak akan pernah 
terpakai. Dengan dipegangnya pinjaman dari IMF sebagai show case, 
IMF mendikte kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia, yang dengan 
segala senang hati dipenuhi oleh para menteri ekonomi Indonesia, 
karena mereka orang-orang pilihan yang dijadikan kroni dan 
kompradornya.
>   Maka, dalam ikatan EFF itulah, pemerintah dipaksa menerbitkan 
surat utang dalam jumlah Rp 430 triliun untuk mem-bail out para 
pemilik bank yang menggelapkan uang masyarakat yang dipercayakan 
pada bank-bank mereka. Mereka tidak dihukum, sebaliknya justru 
dibuatkan perjanjian perdata bernama MSAA yang harus dapat 
meniadakan pelanggaran pidana menurut undang-undang perbankan. Dalam 
perjanjian perdata itu, asalkan penggelap uang rakyat yang diganti 
oleh pemerintah itu dapat mengembalikan dalam bentuk aset yang 
nilainya sekitar 15 persen, dianggap masalahnya sudah selesai, 
diberikan release and discharge.
>    
>   Lima tahun lamanya, yaitu untuk tahun 1999 sampai dengan tahun 
2003, pembayaran utang luar negeri yang sudah jatuh tempo ditunda. 
Namun, mulai tahun 2004, utang yang jatuh tempo beserta bunganya 
harus dibayar sepenuhnya. Pertimbangannya tidak karena keuangan 
negara sudah lebih kuat, tetapi karena sudah tidak lagi menjalankan 
program IMF dalam bentuk yang paling keras dan ketat, yaitu EFF atau 
LoI. 
>   Setelah keuangan negara dibuat bangkrut, Indonesia diberi 
pinjaman yang tidak boleh dipakai sebelum cadangan devisanya sendiri 
habis total. Pinjaman diberikan setiap pemerintah menyelesaikan 
program yang didiktekan oleh IMF dalam bentuk LoI demi LoI. Kalau 
setiap pelaksanaan LoI dinilai baik, pinjaman sebesar rata-rata USD 
400 juta diberikan. Pinjaman ini menumpuk sampai jumlah USD 9 
miliar, tiga kali lipat melampaui kuota Indonesia sebesar USD 3 
miliar. Karena saldo pinjaman dari IMF melampaui kuota, Indonesia 
dikenai program pemandoran yang dinamakan Post Program Monitoring.
>   Mengapa Indonesia tidak mengembalikan saja yang USD 6 miliar 
supaya saldo 
> menjadi USD 3 miliar sesuai kuota agar terlepas dari post program 
monitoring. Berkali-kali saya mengusulkan dalam sidang kabinet agar 
seluruh saldo utang sebesar USD 9 miliar dikembalikan. Alasannya, 
kita harus membayar, sedangkan uang ini tidak boleh dipakai sebelum 
cadangan devisa milik sendiri habis total. Cadangan devisa kita 
ketika itu sudah mencapai USD 25 miliar, sedangkan selama Orde Baru 
hanya sekitar USD 14 miliar. Yang USD 9 miliar itu harus dicicil 
sesuai jadwal yang ditentukan oleh IMF. 
> 
>   Skemanya diatur sedemikian rupa sehingga pada akhir 2007 
saldonya tinggal 
> USD 3 miliar. Ketika itulah, baru program pemandoran dilepas. 
Alasannya kalau yang USD 9 miliar dibayarkan sekarang, cadangan 
devisa kita akan merosot dari USD 34 miliar menjadi USD 25 miliar. 
Saya mengatakan, kalau yang USD 9 miliar dibayarkan, cadangan devisa 
kita meningkat dari USD 14 miliar menjadi USD 25 miliar. Toh 
pendapat saya dianggap angin lalu sampai hari ini.
>    
>   Mari sekarang kita bayangkan, seandainya cadangan devisa kita 
habis pada akhir 2007. Ketika itu, utang dari IMF tinggal USD 3 
miliar sesuai kuota. Barulah ketika itu utang dari IMF boleh 
dipakai. Olehnya secara implisit dianggap bahwa ini lebih kredibel, 
yaitu mengumumkan bahwa cadangan devisa tinggal USD 3 miliar yang 
berasal dari utang IMF. Kalau seluruh utang yang USD 9 miliar 
dibayar kembali karena sudah mempunyai cadangan devisa sendiri 
sebesar USD 25 miliar dikatakan bahwa Indonesia tidak akan kredibel 
karena cadangan devisa merosot dari USD 34 miliar menjadi USD 25 
miliar.
>    
>   Jelas sekali sangat tidak logisnya kita dipaksa untuk memegang 
utang dari IMF dengan pengenaan bunga yang tinggi, sekitar 4 persen 
setahun, tanpa boleh dipakai. Jelas sekali bahwa Indonesia dipaksa 
berutang yang jumlahnya melampaui kuota yang sama sekali tidak kita 
butuhkan. Tujuannya hanya supaya Indonesia dikenai pemandoran yang 
bernama post program monitoring. Jelas ini hanya mungkin dengan 
dukungan dan kerja sama dari kroni-kroninya Kartel IMF.
>   Mengapa kami dan teman-teman yang sepikiran dan sepaham 
dikalahkan terus-menerus? Mengapa pikiran yang tidak masuk akal 
seabsurd itu dipertahankan? Sebab, para menteri ekonomi yang ada 
dalam kabinet dan otoritas moneter sedikit pun tidak menanggapinya. 
Memberikan komentar pun tidak mau. Mengapa? Sebab, perang modern 
yang menggunakan seluruh sektor ekonomi sebagai senjata, terutama 
sektor moneternya, membutuhkan kroni atau komprador bangsa Indonesia 
sendiri yang mutlak mengabdi pada kepentingan agresor.
>    
>   Kalau kita percaya pada Brad Sampson, Jeffrey Winters, dan John 
Pilger, dan kita perhatikan serta ikuti terus sikap satu kelompok 
tertentu, kiranya jelas bahwa kelompok pakar ekonomi yang 
dijuluki "the Berkeley Mafia" adalah kelompok kroni dalam bidang 
ekonomi dan keuangan. Lahirnya kelompok tersebut telah dikemukakan 
dalam studi Brad Sampson yang tadi saya kutip. Pengamatan saya 
sendiri juga membenarkan bahwa kelompok itu menempatkan dan 
memfungsikan diri sebagai kroni kekuatan asing.
>    
>   Yang paling akhir menjadi kontroversi adalah sikap beberapa 
menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu terhadap uluran tangan 
spontan dari beberapa kepala pemerintahan beberapa negara Eropa 
penting berkenaan dengan bencana Tsunami. Baru kemarin media massa 
penuh dengan komentar minor mengapa tim 
> ekonomi pemerintah utang lagi dalam jumlah besar sehingga jumlah 
stok utang 
> luar negeri keseluruhannya bertambah? Ini sangat bertentangan 
dengan yang 
> dikatakan selama kampanye presiden dan juga dikatakan oleh para 
menteri 
> ekonomi sendiri bahwa stok utang akan dikurangi. Berdasar 
pengalaman, saya 
> yakin bahwa kartel IMF yang memaksa kita berutang dalam jumlah 
besar supaya 
> dapat membayar utang yang jatuh tempo. Buat mereka, yang 
terpenting memperoleh pendapatan bunga dan mengendalikan Indonesia 
dengan menggunakan utang luar negeri yang sulit dibayar kembali.
>    
>   Mafia Berkeley
>   Mafia Berkeley adalah Organisasi Tanpa Bentuk (OTB). Mereka 
mempunyai atau 
> menciptakan keturunan-keturunan. Para pendirinya memang sudah 
sepuh, yaitu 
> Prof Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Emil Salim, Soebroto, Moh. 
Sadli, J.B. Soemarlin, Adrianus Mooy, dan masih sangat banyak lagi. 
Yang sekarang dominan adalah Sri Mulyani, Moh. Ikhsan, Chatib Basri, 
dan masih banyak lagi. Mereka tersebar pada seluruh departemen dan 
menduduki jabatan eselon I dan II, sampai kepala biro.
>   Ciri kelompok itu ialah masuk ke dalam kabinet tanpa peduli 
siapa presidennya. Mereka mendesakkan diri dengan bantuan kekuatan 
agresor. Kalau kita ingat, sejak akhir era Orde Lama, Emil Salim 
sudah anggota penting dari KOTOE dan Widjojo Nitisastro sudah 
sekretaris Perdana Menteri Djuanda. Widjojo akhirnya menjabat 
sebagai ketua Bappenas dan bermarkas di sana. 
> Setelah itu, presiden berganti beberapa kali. Yang "kecolongan" 
tidak masuk ke dalam kabinet adalah ketika Gus Dur menjadi presiden. 
Namun, begitu mereka mengetahui, mereka tidak terima. Mereka 
mendesak supaya Gus Dur membentuk Dewan Ekonomi Nasional. Seperti 
kita ketahui, ketuanya adalah Emil Salim dan sekretarisnya Sri 
Mulyani. Mereka berhasil mempengaruhi atau "memaksa" Gus Dur bahwa 
mereka diperbolehkan hadir dalam setiap rapat koordinasi bidang 
ekuin. Tidak puas lagi, mereka berhasil membentuk Tim Asistensi pada 
Menko Ekuin yang terdiri atas dua orang saja, yaitu Widjojo 
Nitisastro dan Sri Mulyani. Dipaksakan bahwa mereka harus ikut 
mendampingi Menko Ekuin dan menteri keuangan dalam perundingan Paris 
Club pada 12 April 2000, walaupun mereka sama sekali di luar 
struktur dan sama sekali tidak dibutuhkan. Mereka membentuk opini 
publik bahwa ekonomi akan porak-poranda di bawah kendali tim ekonomi 
yang ada. Padahal, kinerja tim ekonomi di tahun 2000 tidak jelek 
kalau kita
>  pelajari statistiknya sekarang. 
>    
>   Yang mengejutkan adalah Presiden Megawati yang mengangkat 
Boediono sebagai menteri keuangan dan Dorodjatun sebagai Menko 
Perekonomian. Aliran pikir dan 
> sikap Laksamana Sukardi sangat jelas sama dengan Berkeley Mafia, 
walaupun dia bukan anggotanya. Ada penjelasan tersendiri tentang hal 
ini. Presiden SBY sudah mengetahui semuanya. Toh tidak dapat menolak 
dimasukkannya ke dalam kabinet tokoh-tokoh Berkeley Mafia seperti 
Sri Mulyani, Jusuf Anwar, dan Mari Pangestu, seperti yang telah 
disinaylir oleh beberapa media massa. 
>   Peranan UI dalam Konspirasi Destruktip Setelah dr. Mahar Marjono 
sukses mengemban tugas Soeharto dalam "mempersingkat" hidup Bung 
Karno (meninggal pada usia sekitar 66 th.), maka Mahar Marjono 
diangkat menjadi Rektor UI. Dengan ini, maka konspirasi tiga 
serangkai: USA-Militer-UI mulai terjadi. Untuk menguasai SDM top 
Indonesia, maka dibentuklah mafia Berkeley (yang sipil, yang 
notabene para oknum akademisi UI) dan mafia West Point (yang 
militer, yang notabene para oknum petinggi TNI AD/Polisi). Sejarah 
dan pendidikan Indonesia mengalami kegelapan disaat Rektor UI 
dijabat oleh jendral TNI AD yaitu Nugroho Notosusanto. 
>    
>   Hari lahir Pancasila diabaikan, sejarah nasional dijungkir 
balikan: nama2 jalan besar diseluruh kota besar di Indonesia harus 
memakai nama jendral AD (Yani, Tendean, dst), peran BK diminimalkan, 
peran militer di blow up, peran nteligensia/kecerdasan disempitkan, 
dan wawasan almamater (pembungkaman kampus) dilaksanakan. Para 
pelacur intelektual UI sungguh banyak, mereka ini telah ikut serta 
menenggelamkan Indonesia, sudah saatnya mereka mengalami hukuman 
sosial dengan membeberkan dosa-dosa terselubung mereka! Prof. Ismail 
Suni, Yusril, Jimmly Asidiqi, Miranda Gultom, Anwar Nasution, 
Nazarudin, dst., adalah termasuk para konspiran. Pada umumnya, 
mereka ditokohkan terlebih dahulu melalui televisi sebagai 
intelektual yang kritis (politik kambing putih); kemudian setelah 
beberapa bulan dan telah mempunyai reputasi nasional, maka mereka 
diselundupkan/ disusupkan dan diangkat menjadi pejabat penting regim 
ORBA (dan bablasannya) dalam pemerintahan (eselon 1, 2, atau 
menteri).
>  Konspirasi destruktip USA-Militer-UI yang berhasil menusuk Bung 
Karno dari belakang (kupdeta yang merangkak) menjadikan Indonesia 
hingga kini terjebak dalam berbagai krisis dan sulit kembali menjadi 
bangsa yang sehat sehat.  Dalam perkembangannya, Soeharto dan regim 
penerusnya tidak hanya menggunakan UI, melainkan juga memanfaatkan 
para pelacur intelektual dari: ITB, UGM dan IPB. Seperti diketahui, 
UI, ITB, IPB, dan UGM adalah institusi perguruan tinggi negeri (PTN) 
tertua dan terbesar di Indonesia. Jadi, mereka adalah pencetak para 
PNS (peg. Negeri sipil) terbanyak, tersenior dan terbesar di 
Indonesia, dan alumni mereka menduduki jabatan tertinggi di 
pemerintahan; dari pegawai menengah (IIIA), eselon dua, eselon satu, 
dan menteri. 
>    
>   Sayang sekali, masyarakat telah memahami adanya istilah korupsi 
berjamaah dan 
> birokrasi keranjang sampah; ini ibarat mengatakan bahwa keempat 
PTN itu adalah produsen koruptor dan birokrat keranjang sampah 
terbesar didunia (ingat prestasi KKN kita selalu nomor satu atau 
tiga besar)! Melihat, memahami, dan mengalami sendiri berbagai 
krisis di Indonesia, sudah sepatutnya kalau kita tidak perlu 
mensyukuri kehadiran ITB, UI, UGM, dan IPB, mereka tidak membawa 
berkah dan rahmat ke masyarakat; atau justru sebaliknya, kita harus 
merasa prihatin atas moral hazard dan tingkat kecerdasan mereka, 
mereka yang dianggap kelompok terpandai di Indonesia ternyata tidak 
pernah bisa membawa Indonesia ke bangsa yang mandiri, sejahtera, 
adil, berwibawa, dan berkepribadian! Ternyata mereka, kalau 
diijinkan pembaca, boleh diibaratkan dan boleh disebut sekedar 
sampah 
> masyarakat yang terhormat (sampah berdasi) dan sekedar alat 
politisi busuk atau alat negara asing dalam membodohi bangsanya 
sendiri! 
>    
>   Mari Mewaspadai Mass Media Terutama TV Regim ORBA (dan 
bablasannya) menguasai hampir 75% mass media di Indonesia; maka 
mereka dengan mudah menyusupkan manusia2nya melalui politik "kambing 
putih"; dan sebaliknya melakukan character assasination/kambing 
hitam bagi musuh2 politiknya! Seringkali mereka cukup memberi gaji 
tambahan bulanan bagi para kuli tinta, tanpa harus mendirikan mass 
media corporation, sungguh jeli dan licik! Dengan menguasai mass 
media, maka mereka dapat membentuk mind set (pola pikir) bangsa 
Indonesia sesuai kehendak mereka. 
>    
>   Kambing Putih adalah strategi memberikan gelar yang hebat agar 
didengar masyarakat dan untuk mendongkrak dan menjadikan level 
nasional, contoh politik kambing putih adalah:
> - Prof. Sumitro (besan Soeharto): digelari Begawan Ekonomi, 
padahal anak2nya 
> terlibat maha kejahatan (Prabowo: pembantaian Cina Mei 98, dan 
Sudrajat J. 
> dan Hasyim: kasus BLBI, dst), jadi mestinya begawan Durna (karena 
suka menipu Pendawa, muridnya sendiri!). Dijaman beliau, ekonomi 
kita mulai dijajah Barat!
> - Marie Muhammad: digelari Mister Clean, padahal saat beliaulah 
terjadi kasus BLBI, jadi semestinya Mister berlepotan saja!
> - Zainudin MZ: digelari Dai Sejuta Umat, padahal dai politik untuk 
menggaet suara pemilih! Semestinya digelari dai sejuta dollar, atas 
upahnya menipu umat Islam melalui politisi agama!
> - Tanri Abeng: digelari Manajer Satu Milyar, padahal dipakai untuk 
menghisap 
> BUMN! Semestinya manajer sejuta kasus, atas upahnya membuat BUMN 
menjadi 
> sapi perah politisi, petinggi militer dan polri!
> - Prof. Yuwono Sudarsono: penjaga setia dominasi Militer atas 
Sipil dan dwi 
> fungsi ABRI, maka ia diselundupkan ke LEMHANAS (alat intelektual 
militer) dan saat ini menjabat MENHAN. Bagaimana para petinggi 
militer tidak pakar dalam politik kalau pekerjaan utamanya beralih 
ke politik (sehingga tugas utamanya terbengkelai, apalagi juga 
pelaku bisnis ilegal) yang menghasilkan account di bank menjadi 
ukuran XL (puluhan milyar rupiah), yang semestinya ukuran S (small) 
mengingat gaji pegawai negeri itu rendah sekali. Sementara itu, 
sipil, yang digaji rendah sehingga sulit fokus pada bidangnya, yang 
berusaha menguasai perpolitikan dengan baik dan etis selalu mereka 
ganggu dan gagalkan upayanya untuk mendominasi kancah perpolitikan 
nasional!
> - Prof. Nazarudin Syamsudin dkk.: diselundupkan ke KPU untuk 
menjaga PEMILU 
> agar regim ORBA selalu menang atau minimal termasuk tiga besar.
> - Saat menjelang reformasi: Sri Mulyani dan Anwar Nasution (dosen 
UI) di 
> "roketkan", seolah-olah mereka kritis terhadap regim ORBA, padahal 
mereka 
> diselundupkan demi mengamankan sisa hari Tua regim Soeharto/ORBA 
dari 
> jamahan hukum dibidang Keuangan dan demi dominasi asing!
> - Puncak politik kambing putih dan strategi penyelundupan adalah 
Amien Rais! 
> Beliau digelari tokoh/pelopor reformasi, padahal beliau 
diselundupkan untuk 
> membelokan reformasi dan menyelamatkan regim ORBA! Untuk ini baca 
artikel di 
> web site di seksi Pesan Penutup dibawah.
> - Dst. (sampai dengan sekarang, politik kambing putih terus 
dilaksanakan)
>   Saat ini kedudukan politik regim ORBA dan Bablasannya amat 
sangat kuat, lihatlah posisi: Yusril (kesayangan Soeharto) menjadi 
Setneg (powerful sekali dalam memfilter informasi ke presiden SBY); 
Miranda Gultom (kepala BI) dan Anwar Nasution (ketua BPK): untuk 
melindungi ORBA dari segi keuangan atas kasus BLBI, dan kasus besar 
lainnya (terutama di BUMN), agar sulit terungkap, padahal mengungkap 
KKN itu mudah sekali, cukup mempelajari histori rekening para 
pejabat dan tersangka secara mendalam dan tuntas, nah disinilah 
faktor keamanan regim Soeharto terjamin oleh Miranda Gultom dan 
Anwar Nasution; Jimmly Asidiqi (ketua MK): untuk melindungi ORBA 
dari segi hukum, agar berbagai kasus pelanggaran HAM berat sulit 
terungkap; dan seterusnya …masih banyak sekali. Mereka ini, pelacur 
intelektual sekaligus akademisi selebritis dari UI, selalu 
dikonotasikan pandai dan bersih dalam mass media, padahal sebaliknya!
>    
>   Saat reformasi (1998) papan tulisan di Kampus UI Salemba yang 
berjudul: 
> KAMPUS PERJUANGAN ORDE BARU ditutup kain hitam, tanda malu dan 
berkabung; mungkin sekarang sudah dibuka lagi dan ditulis ulang 
sebagi: "KAMPUS PERJUANGAN ORDE BARU DAN BABLASANNYA, MENERIMA ORDER 
PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT WALAU UNTUK MERUSAK BANGSA 
SENDIRI."
>   Sebaliknya, Kambing Hitam adalah strategi memberikan gelar yang 
sangat negatip agar mereka tidak laku dimasyarakat (character 
assasination); contoh politik kambing hitam adalah: di PKI kan, 
dikonotasikan radikal (Munir, Budiman Sujatmiko, Ditasari, dst), 
dikonotasikan agen asing (Hendardi dan NGO/LSM yang baik dan 
bermoral).
>    
>   Menonton TV (dan mendengarkan radio) di Indonesia harus waspada; 
sebab banyak skenario dibelakangnya/terselubung; pada umumnya untuk 
membentuk opini yang pro Regim ORBA dan bablasannya. Semakin sering 
seorang cendekiawan/akademisi/pengamat muncul di TV, kita harus 
semakin waspada pada orang itu (alat Regim ORBA dan bablasannya dan 
moralitasnya perlu diragukan)! Sebaliknya, semakin jarang, semakin 
dapat dipercaya ke idealismeannya! Sebagai contoh: pernah terjadi 
dialog yang sangat menggelikan, WS Rendra tidak bisa dikontrol 
pembicaraannya oleh Salim Said (pengamat militer, alat ORBA) dan 
Anhar Gogong (pengamat sejarah, alat ORBA); WS Rendra terus nerocos 
membahas rusaknya kebudayaan kita akibat ORBA! Sejak saat itu, WS 
Rendra tidak pernah muncul lagi di dialog Televisi! 
> 
>   Jangan harap kita disuguhi dialog yang sering dengan orang yang 
bermoral baik dan idealis seperti: Kwik Kian Gie, Mochtar 
Prabotinggi, Hendardi, Teten Masduki/tokoh ICW, Dita Sari, Wardah 
Hafidz/ketua UPC, Munir, Jeffry Winters, Budiman Sujatmiko, Faisal 
Basri, dst. Seandainya mereka muncul, slot waktunya paling hanya 
singkat dan amat jarang; mereka dimunculkan kadang2 saja hanya untuk 
sekedar mengelabui bahwa stasiun TV tsb. adalah netral, padahal 
tidak!
>    
>   Pesan Penutup
>   Dengan keterlibatan USA dalam kupdeta 1965, semestinya para 
kurban PKI mempunyai alat jitu dengan membuat masalah ini menjadi 
masalah internasional dengan strategi tidak hanya menuntut regim 
militer Soehato, melainkan juga menuntut USA! 
>    
>   Tentu saja dengan melibatkan NGO level internasional; sayang 
sekali nalar para kurban 1965 belum sampai kesitu! Dengan 
internasionalisasi masalah HAM berat, maka kans untuk membawa ybs. 
ke kebenaran dan keadilan akan mudah terlaksana! Karena visi/misi 
para konspirator/mafia 1965 (yang saat ini banyak yang sudah berusia 
diatas 60 th.) adalah: "Jangan berani mengungkit masa lampau kami 
dan hormati kami s/d kami meninggal. Setelah kami meninggal silahkan 
buka borok2 kami dan luruskan sejarahmu. Kalau kami masih hidup, 
jangan sekali-kali kau berani melakukannya, atau negara ini akan 
kami obok2 sampai manusianya mabok. Hanya dengan bunga uang kami 
(hasil curian/merampok) yang disimpan di luar negeri, kiranya sudah 
cukup untuk mengobok-obok Indonesia! Ketahuilah dengan samar2 bahwa 
TNI AD, Kepolisian, Badan Intelijen dan Lembaga Peradilan masih 
dalam cengkeraman kami. Selain itu, telah kami tempatkan penjaga 
setia kami yaitu para pakar/pelacur intelektual di posisi yang
>  strategis!". Memahami misi mereka, maka upaya membawa mereka ke 
justice, kalau hanya level dalam negeri, hanya akan sia2 saja! 
Demikian pula dengan kasus pelanggaran HAM dan KKN berat yang lain!
>    
>   Sebagai penutup, tulisan diatas diambil dari artikel karangan 
Kwik Kian Gie 
> di Jawa Pos, edisi pertengahan Agustus 2005, dengan sedikit 
tambahan. Bila 
> anda merasa artikel ini bagus dan bermanfaat untuk mencerdaskan 
kebudayaan 
> bangsa Indonesia, maka mohon diteruskan keseluruh penjuru 
Indonesia dan 
> dunia.
>    
>   Penulis juga berharap agar tulisan ini jatuh ketangan para 
mahasiswa aktivis 
> di ITB, UI, UGM dan IPB, dengan maksud agar mereka 
menyadari/memahami bahwa banyak dosen mereka yang menjadi oknum 
kelas berat (level nasional atau 
> bahkan internasional) dan yang sepantasnya dijadikan musuh bangsa!
>    
>   Dan bagi anda yang mempunyai: inteligensi, idealisme, moral dan 
etika yang baik, keprihatinan akan krisis di Indonesia, serta 
kemampuan menulis, kami menghimbau anda untuk menulis di Internet 
yang bebas, kritis, lugas dan pembacanya mencapai seluruh dunia! 
Selamat berkarya.
>   * Catatan: kata saya = Kwik Kian Gie, tokoh cerdas, bijak dan 
nasionalis.
> * Semua tanggapan harap ditulis ke: [EMAIL PROTECTED]
> * artikel lain yang sangat dalam dan sangat luas pembahasannya ada 
di 
> http://diskusikebudayaan3.blogspot.com/ DAN 
http://analisakebudayaan.blogspot.com/.
>    
>     Sep 5, '06 4:37 AM for everyone 
> 
>   Sumber: http://rajasidi.multiply.com/tag/nasional
>      
> 
> 
>   
> 
> 
> Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: 
http://www.progind.net/   
> http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>       
> ---------------------------------
> Everyone is raving about the  all-new Yahoo! Mail.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke