Pada tahun 2000, saya diperkenalkan kepada Herwig Zahorka oleh teman saya,
Georg Eschle, Commander Senior Grade, Atase Pertahanan Republik Federal Jerman
di Jakarta. Zahorka dan Eschle memberi saya beberapa tulisan mengenai
keberadaan Jerman di Indonesia ketika Perang Dunia II.
Banyak orang yang tidak mengetahui, bahwa ada "peran" Jerman dalam pengetikan
teks proklamasi kemerdekaan RI pada 17.8.1945.
Hal ini kemudian saya tulis juga dalam buku saya, 10 November 45. Mengapa
Inggris Membom Surabaya? (xiv + 472 halaman), yang diterbitkan oleh Millenium
Publisher, Jakarta; pada bulan Oktober 2001. (Terlampir di bawah ini Book
review di The Jakarta Post).
Salam
Batara R. Hutagalung
Weblog: http://batarahutagalung.blogspot.com
==============================================
Cuplikan dari buku 10 November 45. Mengapa Inggris Membom Surabaya?
Di halaman 75 dan 76 tertulis:
Jerman, sebagai sekutu Jepang, juga memperoleh keuntungan dari kemenangan
tentara Jepang di Asia Tenggara, di mana terdapat banyak bahan baku yang mereka
butuhkan untuk industri dan perang. Banyak kapal-kapal Jerman yang membawa
bahan baku, tenggelam kena torpedo kapal selam sekutu. Oleh sebab itu, Jerman
memutuskan untuk mengangkut bahan baku dengan kapal selam. Mulai bulan Mei
1943, dengan persetujuan Jepang, Jerman mendirikan pangkalan Angkatan Laut dan
pangkalan kapal selam di Singapura, Penang dan Jakarta. (Lihat: Herwig Zahorka,
Arca Domas ein deutscher Soldatenfriedhof in Indonesien, Bogor, September
2000, hlm. 3).
Bulan Maret 1944, Jerman mendirikan pangkalan Angkatan Laut dan pangkalan
kapal selam di Surabaya. (Lihat: Holk H. Dengel, Die deutschen
Marinestützpunkte Jakarta und Surabaya 1943 1945, hlm. 3)
Atase Angkatan Laut Jerman, Korvettenkapitän Dr. Hermann Kandeler, yang
berkantor di Gambir Selatan (sekarang Jl. Medan Merdeka Selatan), tak melupakan
kesejahteraan anak buahnya. Perundingan dengan Jepang membuahkan tempat
peristirahatan bagi anggota marinir Jerman di Cikopo, Jawa Barat dan Tretes, di
Jawa Timur.
Antara tahun 1943 1944, Jerman mengirim 42 kapal selam ke Asia Tenggara,
hanya 13 kapal selam yang selamat; 11 di antaranya mencapai Jakarta. Namun
kemudian 5 kapal selam tenggelam kena torpedo Sekutu. Beberapa kapal selam
berhasil menembus blokade tentara Sekutu dan membawa berbagai kebutuhan Jerman,
seperti karet, timah, Wolfram, lemak, kinina, opium, Yodium dan bahkan
agar-agar yang dibutuhkan sebagai bahan dasar untuk cat pesawat terbang. Setiap
kapal selam dapat mengangkut 150 ton muatan.
---------------------------------------------------
Di halaman 110 dan 111 tertulis:
Dalam rapat guna menyusun teks proklamasi, pihak Indonesia diwakili oleh
Sukarno, Hatta dan Subarjo, sedangkan dari pihak Jepang adalah Laksamana Maeda,
Shigetada Nishijima, Tomegoro Yoshizumi dan Miyoshi. Teks tersebut harus
disusun sedemikian rupa, sehingga samar-samar dan sama sekali tidak terlihat
ada kaitannya dengan Jepang. Menurut catatan Nishijima, kalimat pemindahan
kekuasaan merupakan terjemahan kasar dari bahasa Jepang gyoseiken no iten
(pemindahan pengawasan administratif), dibandingkan dengan shuken no joto
(penyerahan kedaulatan sah), sedangkan pengertian Indonesia mengenai
pemindahan kekuasaan mencakup pengertian yang lebih luas dalam arti politis,
dan tidak hanya administratif. Akhirnya dicapai kesepakatan bunyi teks
proklamasi yang juga dapat diterima oleh Myoshi, untuk memenuhi keinginan
Jenderal Nishimura. (Lihat: Benedict Anderson, Revolusi Pemoeda, Pendudukan
Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944 1946, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta,
1988, hlm 104
105). Perumusan teks tersebut selesai sekitar pukul 04.00 dinihari. Selesai
pembahasan teks proklamasi, Maeda pergi tidur dan pembicaraan dilanjutkan
antara para pemimpin Indonesia. Teks tersebut dengan tulisan tangan Sukarno
berbunyi:
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal
yang mengenai pemindahan kekuasaan dll., diselenggarakan dengan cara seksama
dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.
Namun ketika teks tersebut dibacakan di hadapan tokoh Indonesia lain yang
telah menunggu, beberapa pemuda menyatakan protesnya, karena mereka menilai
bunyi teks tesebut terlalu mengambang dan tidak tegas. Oleh para perumus
dijelaskan, bahwa teks tersebut memang harus demikian, agar tidak terlihat ada
kaitan Jepang dalam hal ini. Akhirnya dicapai juga kesepakatan untuk menerima
rumusan teks proklamasi tersebut. Setelah itu, muncul permasalahan mengenai
siapa yang akan menandatangani. Sukarno mengusulkan, agar semua yang hadir,
menandatangani sebagai cerminan wakil-wakil seluruh rakyat Indonesia. Namun
Sukarni menentang pendapat Sukarno dan mengusulkan, jumlah penandatangan hanya
enam orang, karena dia keberatan bahwa orang yang boleh dikatakan tidak ikut
dalam perjuangan kemerdekaan, namanya akan tercantum dalam teks proklamasi.
Akhirnya Chaerul Saleh bangkit dan dengan suara baritonnya dengan tegas
mengatakan:
Sudahlah, cukup Bung Karno dan Bung Hatta saja yang menandatangani
Proklamasi itu!
Kata-kata Chaerul Saleh ini ternyata menjadi palu yang dijatuhkan ke meja
sejarah pada pukul 05.00 pagi pada tanggal 17 Agustus 1945. (Lihat: A.M.Hanafi,
Menteng 31. Membangun Jembatan Dua Angkatan, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta,
1997).
Teks Proklamasi yang aslinya ditulis dengan tangan oleh Sukarno, kemudian
ditulis dengan mesin tik. Mengenai hal ini, Herwig Zahorka, dalam buku kecilnya
Arca Domas, ein deutscher Soldatenfriedhof in Indonesien, hlm. 3, menulis
bahwa ketika teks akan ditulis dengan mesin tik, ternyata tidak dapat
mempergunakan mesin tik Jepang, karena mesin tik Jepang mempunyai huruf Jepang,
sehingga dipinjam mesin tik dari kantor Korvettenkapitän (di Angkatan Darat
setara dengan Kolonel) Dr. Hermann Kandeler, yang juga wakil Pemerintah Jerman
di Hindia Belanda.
===================================================
The Jakarta Post
Sunday, December 30, 2001
Book Review
"10 November '45, Mengapa Inggris Membom Surabaya?" ("10 November '45, Why Did
Britain Bomb Surabaya?"); By Batara R. Hutagalung; Millenium Publisher,
Jakarta;
(Oct. 2001), first edition, xiv + 472 pp; Rp 59,900,
This book analyzes the simultaneous sea, land and air campaign by British
forces against the defenders of the East Java capital of Surabaya in November
1945.
To this day, it remains a bitter memory for older Indonesians.
In the author's opinion, there are two main reasons why Britain, which did not
hold colonial authority over Indonesia, launched the invasion.
First, there were psychological and emotional reasons at play, since Britain
was victorious in World War II. Second, the British were bound by a treaty with
the Dutch stemming from the conference at Yalta on Feb. 11, 1945, and the
Postdam Declaration, which took place on July 26, 1945.
The objectives of the treaty were "to reestablish civilian rule, and return the
colony to Dutch administration," as well as "to maintain the status quo which
existed before the Japanese invasion".
They can be found in a letter dated Sept. 2, 1945 by the Allied Forces' Supreme
Commander South East Asia Vice Admiral Lord Louis Mountbatten. British
assistance was also in line with the Civil Affairs Agreement between the Dutch
and Britain in Chequers, Britain, on Aug. 24, 1945.
The author also outlines the violations committed by British troops. They
include infringements upon the sovereignty of the fledgling nation of
Indonesia, human rights abuses -- including crimes against humanity and forced
displacement -- and war crimes.
Apart from its thorough dissection of this bloody chapter of Indonesian
history, this book carries something else of equally important historical
significance: an official apology from the British government. It was expressed
by British Ambassador to Indonesia Richard Gozney in the name of the British
government during a seminar on the Battle of Surabaya in Jakarta in October
2000.
It was a sympathetic act -- one which has yet to be offered by the Dutch who,
as a colonial power, ruled Indonesia for centuries.
-- Darul Aqsha
================================
teddy sunardi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg01118.html
Silakan membaca di:
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/032006/06/teropong/utama02.htm
http://www.bogor.indo.net.id/indonesia.tuguperingatanjerman/
http://www.u-boot-greywolf.de/ugast_grab-steinfeld.htm
Orang Sudet, pengamat militer Jerman yang hidup di Indonesia????????
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/032006/06/teropong/wawancara.htm
---------------------------------
Low, Low, Low Rates! Check out Yahoo! Messenger's cheap PC-to-Phone call rates.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/