Bener emang.

Pengalaman satu bulan yang lalu sangat terukir di jidatku. Baru kali itu aku 
bisa nangis, di malam operasiku aku menyadari bahwa ternyata hidupku belum 
berarti buat bekal menghadap Tuhan, JAsa orang tua tidak bisa dibayarkan 
"TERLALU MAHAL UNTUK BISA DIBAYAR" & menyadari terlalu banyak dosa terhadap 
sesama.

Saat itu aku alergi obat sehingga merasakan sakit yang baru kali itu aku 
mengalami.

Satu yang sangat terasakan, orang yang selama ini menyayangi aku tapi sering 
kali tersiasiakan oleh aku. Dia juga yang merawatku dengan sabar di rumah 
sakit, padahal dia juga sedang Flu berat.

Itu mungkin yang disebut musibah membawa berkah, rahasia tuhan untuk bisa 
membuka pikiranku kali ya mas...

Tapi mas, gimana ya caranya biar aku bisa sering bangin malem?  Susah banget. 
Mungkin bisa bantu saya...

Thanks before


----- Original Message ----
From: aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, November 24, 2006 8:55:12 AM
Subject: [ppiindia] Hidup Jangan Tertidur

Dari milis klub pengembangan kepriadian, dalam juga euy.

Hidup Jangan Tertidur!
oleh Arvan Pradiansyah, penulis buku You Are A Leader!

Hidup Jangan Tertidur!

Untuk dapat menikmati hidup, hal terpenting yang perlu Anda lakukan
adalah menjadi SADAR. Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti
spiritualitas juga adalah kesadaran. Banyak orang yang menjalani
hidup ini dalam keadaan ''tertidur.' ' Mereka lahir, tumbuh, menikah,
mencari nafkah, membesarkan anak, dan akhirnya meninggal dalam
keadaan ''tertidur.' '

Analoginya adalah seperti orang yang terkena hipnotis. Anda tahu di
mana menyimpan uang. Anda pun tahu persis nomor pin Anda. Dan
Andapun menyerahkan uang Anda pada orang tidak dikenal. Anda tahu,
tapi tidak sadar. Karena itu, Anda bergerak bagaikan robot-robot
yang dikendalikan orang lain, lingkungan, jabatan, uang, dan harta
benda.

Pengertian menyadari amat berbeda dengan mengetahui. Anda tahu
berolah raga penting untuk kesehatan, tapi Anda tidak juga
melakukannya. Anda tahu memperjualbelikan jabatan itu salah, tapi
Anda menikmatinya. Anda tahu berselingkuh dapat menghancurkan
keluarga, tapi Anda tidak dapat menahan godaan. Itulah contoh tahu
tapi tidak sadar!

Ada dua hal yang dapat membuat orang menjadi sadar. Pertama,
peristiwa-peristiwa pahit dan musibah. Musibah sebenarnya
adalah ''rahmat terselubung' ' karena dapat membuat kita bangun dan
sadar. Anda baru sadar pentingnya kesehatan kalau Anda sakit. Anda
baru sadar pentingnya olahraga kalau kadar kolesterol Anda mencapai
tingkat yang mengkhawatirkan. Anda baru sadar nikmatnya bekerja
kalau Anda di-PHK. Seorang wanita karier baru menyadari bahwa
keluarga jauh lebih penting setelah anaknya terkena narkoba. Seorang
sopir taksi pernah bercerita bahwa ia baru menyadari bahayanya judi
setelah hartanya habis.

Kematian mungkin merupakan satu stimulus terbesar yang mampu
menyentakkan kita. Banyak tokoh terkenal meninggal begitu saja.
Mereka sedang sibuk memperjualbelikan kekuasaan, saling menjegal,
berjuang meraih jabatan, lalu tiba-tiba saja meninggal. Bayangkan
kalau Anda sedang menonton film di bioskop. Pertunjukan sedang
berlangsung seru ketika tiba-tiba listrik padam. Petugas bioskop
berkata, ''Silakan Anda pulang, pertunjukan sudah selesai!'' Anda
protes, bahkan ingin menunggu sampai listrik hidup kembali. Tapi, si
penjaga hanya berkata tegas, ''Pertunjukan sudah selesai, listriknya
tidak akan pernah hidup kembali.''

Itulah analogi sederhana dari kematian. Kematian orang yang kita
kenal, apalagi kerabat dekat kita sering menyadarkan kita pada arti
hidup ini. Kematian menyadarkan kita pada betapa singkatnya hidup
ini, betapa seringnya kita meributkan hal-hal sepele, dan betapa
bodohnya kita menimbun kekayaan yang tidak sempat kita nikmati.

Hidup ini seringkali menipu dan meninabobokan orang. Untuk menjadi
bangun kita harus sadar mengenai tiga hal, yaitu siapa diri kita,
darimana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi. Untuk itu kita
perlu sering mengambil jarak dari kesibukan kita dan melakukan
kontemplasi.

Ada sebuah ungkapan menarik dari seorang filsuf Perancis, Teilhard
de Chardin, ''Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-
pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami
pengalaman-pengalam an manusiawi.'' Manusia bukanlah ''makhluk bumi''
melainkan ''makhluk langit.'' Kita adalah makhluk spiritual yang
kebetulan sedang menempati rumah kita di bumi. Tubuh kita sebenarnya
hanyalah rumah sementara bagi jiwa kita. Tubuh diperlukan karena
merupakan salah satu syarat untuk bisa hidup di dunia. Tetapi, tubuh
ini lama kelamaan akan rusak dan akhirnya tidak dapat digunakan
lagi. Pada saat itulah jiwa kita akan meninggalkan ''rumah'' untuk
mencari ''rumah'' yang lebih layak. Keadaan ini kita sebut meninggal
dunia. Jangan lupa, ini bukan berarti mati karena jiwa kita tak
pernah mati. Yang mati adalah rumah kita atau tubuh kita sendiri.

Coba Anda resapi paragraf diatas dalam-dalam. Badan kita akan mati,
tapi jiwa kita tetap hidup. Kalau Anda menyadari hal ini, Anda tidak
akan menjadi manusia yang ngoyo dan serakah. Kita memang perlu
hidup, perlu makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya.
Bila Anda sudah mencapai semua kebutuhan tersebut, itu sudah cukup!
Buat apa sibuk mengumpul-ngumpulka n kekayaan -- apalagi dengan
menyalahgunakan jabatan -- kalau hasilnya tidak dapat Anda nikmati
selama-lamanya. Apalagi Anda sudah merusak jiwa Anda sendiri dengan
berlaku curang dan korup. Padahal, jiwa inilah milik kita yang abadi.

Lantas, apakah kita perlu mengalami sendiri peristiwa-peristiwa yang
pahit tersebut agar kita sadar? Jawabnya: ya! Tapi kalau Anda merasa
cara tersebut terlalu mahal, ada cara kedua yang jauh lebih mudah:
Belajarlah MENDENGARKAN. Dengarlah dan belajarlah dari pengalaman
orang lain. Bukalah mata dan hati Anda untuk mengerti, mendengarkan,
dan mempertanyakan semua pikiran dan paradigma Anda. Sayang, banyak
orang yang mendengarkan semata-mata untuk memperkuat pendapat mereka
sendiri, bukannya untuk mendapatkan sesuatu yang baru yang mungkin
bertentangan dengan pendapat mereka sebelumnya. Orang yang seperti
ini masih tertidur dan belum sepenuhnya bangun.

Bila lidah kelu, tulisan menjadi perlu
Pena lebih tajam dari pedang
Tinta seorang berilmu lebih mulia dari darah seorang syahid

pustaka tani 
nuraulia


------------ --------- --------- ---
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.

[Non-text portions of this message have been removed]





 
____________________________________________________________________________________
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
http://new.mail.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]


Kirim email ke