Nyindir ya mas Dede, mau forward berita Tempo bayar sih?  Informasi ko 
dibatasi dan dikungkung, mahal lagi. Seandainya saja mas Dede mau jadi guru 
jurnalistik  saya? Saya menyukai kritikan Anda tentang tata bahasa. Saya yakin 
orang yang sering  mengkritik tulisan saya, pasti paling mantep memajukan ilmu 
menulis saya ^_^. Kalau berkenan jadilah seperti mas Sulak yang juga dulu guru 
saya ^_^.
 
 Ini dari milis Sabili, coba Republika tanya kenapa?



salam menunggu jawaban,
aris 

yang siap ditolak, lebih siap lagi diterima


  -----------------------------]
  Seringkali pendapat seorang profesor dianggap “selalu benar” padahal tidak 
selamanya demikian. Contoh : tulisan Prof Syafii Ma’arif yang dimuat di 
Republika, Rubrik Resonansi, hal.12, tanggal 21 Nopember 2006.
 
 Ketika itu Syafii Ma’arif mencoba menafsirkan Qs.Al-Baqarah : 62, dengan 
memberi kesan bahwa Al-Quran mengesahkan semua penganut agama : Nasrani, Yahudi 
dan Sabi’in akan menjadi penghuni surga, hanya dengan berbuat kebajikan.
 
 Hal itu ditempuh dengan mengutip tafsir Al-Azhar karya mufassir yang mulia 
Prof. DR. Hamka. Padahal isi tafsir Prof.DR. Hamka tidak demikian.
 
 Karenanya saya mencoba meluruskan pendapat Syafii Ma’arif agar tidak 
menyesatkan umat, dengan cara membuat tanggapan atas tulisan tersebut dan 
mengirimkannya kepada Republika, tetapi sayangnya sampai hari ini Republika 
seakan-akan enggan memuatnya.
 
 Sehingga tanggapan tersebut saya lepaskan kepada pembaca melalui jalur 
internet. Semoga upaya ini menjadi ibadah bagi saya.
 
 Bekasi, 27 Nopember 2006
 
 
 Hajjah Irena Handono
 
 
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
 KETIKA MURID MENELIKUNG SANG GURU
 
 
 Ahmad Syafii Maarif, bekas ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menerima 
pesan singkat dari jenderal polisi yang bertugas di Poso. Sang jenderal minta 
Syafii membantunya memahami ayat 62 surat Al-Baqarah. Jenderal itu berharap 
makna ayat itu akan membantunya mengurai konflik yang terjadi di Poso. (Harian 
Republika, Selasa 21 November 2006 )
 
 Syafii Maarif merujuk ke kitab gurunya Prof. DR. Hamka yakni Tafsir Al- Azhar. 
Sayangnya buku tafsir itu dibaca dengan fikiran yang berkabut. Kesimpulannya, 
hal-hal yang benar dari Hamka tertutup dan memunculkan pemikiran Syafii Maarif 
sendiri 
 
 Menurut Syafii Maarif, Hamka adalah seorang mufassir yang berani. Saya setuju 
dan benar sekali. Bahkan beliau sudah menafsirkan ayat-ayat Allah dengan tepat 
dan gamblang, termasuk surat Al-Baqarah ayat 62 dan Al-Maidah ayat 69 serta Ali 
Imran ayat 85 yang terkait dengan ayat 62 surat Al- Baqarah.
 
 Tafsir Hamka terhadap surat Al-Baqarah ayat 62: “Sesungguhnya orang-orang yang 
beriman dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabiin, barang siapa 
yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shaleh, maka untuk 
mereka adalah ganjaran di sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas 
mereka dan tidaklah mereka akan berduka cita “
 
 Surat AlMaidah ayat 69: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan 
orang-orang Yahudi dan (begitu juga) orang Shabiun, dan Nashara, barang siapa 
yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan diapun mengamalkan amal yang 
shaleh, maka tidaklah ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan 
berduka cita.” 
 
 Merujuk pada Tafsir Al Azhar. karya Prof.DR Hamka, seharusnya Syafii Maarif 
bisa menjawab pertanyaan sang jenderal polisi dengan tegas dan benar. Sebab 
pada buku juz 1 halaman 212, Hamka menyatakan sebagai berikut :
 ”di dalam ayat ini dikumpulkanlah keempat golongan ini menjadi satu. Bahwa 
semua mereka tidak merasakan ketakutan dan dukacita asal saja mereka sudi 
beriman kepada Allah dan Hari Akhirat dan diikuti dengan amal yang saleh. Dan 
keempat-empat golongan itu lalu beriman kepada Allah dan Hari Akhirat itu akan 
mendapat ganjaran di sisi Tuhan mereka.”
 
 Jadi, penafsiran Prof DR Hamka, bukan tentang toleransi antar ummat beragama, 
tapi yang paling pokok adalah keempat golongan itu hendaknya beriman kepada 
Allah dan Hari Akhir. Itulah syarat mutlak untuk mendapatkan ganjaran disisi 
Tuhan mereka. Mestinya penafsiran yang gamblang ini jangan lagi diberi 
bayang-bayang kabut, karena tidak ada ayat Al Quran yang saling bertentangan, 
tapi justru saling melengkapi.
 
 Sebaliknya, Syafii Maarif “menjejalkan” fikirannya dengan menggambarkan Hamka 
(gurunya) sebagai seorang yang rindu akan dunia yang aman untuk didiami oleh 
siapa saja, mengaku beragama atau tidak, asal saling menghormati dan saling 
menjaga pendirian masing-masing Jadi, seolah-olah Hamka menyatakan beragama 
atau tidak bukan masalah, toh semua agama sama.
 
 Saran saya supaya tidak terkesan menelikung pemikiran Prof. Hamka, hendaknya 
Syafii Maarif juga mengutip pemikiran beliau pada halaman 214 dan 215 yaitu, 
 ”kerapkali menjadi kemuskilan bagi orang yang membaca ayat ini, karena disebut 
yang pertama sekali ialah orang-oang yang beriman, kemudiannya baru disusul 
oleh Yahudi, Nashrani dan Shabiin. Setelah itu disebutkan bahwa semuanya akan 
diberikan ganjaran oleh Tuhan apabila mereka beriman kepada Allah dan Hari 
Akhirat, lalu beramal yang saleh. Mengapa orang yang beriman disyaratkan 
beriman lagi ?”
 
 Lebih jauh Hamka berpendapat, “setengah ahli tafsir mengatakan bahwa yang 
dimaksud disini barulah iman pengakuan saja. Misalnya mereka sudah mengucapkan 
dua kalimah syahadat, mereka telah mengaku dengan mulut, bahwa tidak ada Tuhan 
melainkan Allah dan Muhammad utusan Allah. Tetapi pengakuan tadi baru pengakuan 
saja,belum diikuti oleh amalan, belum mengerjakan rukun Islam yang lima 
perkara, maka iman mereka itu masih sama saja dengan iman Yahudi, Nashrani dan 
Shabiin. Apatah lagi orang Islam peta bumi saja atau Islam turunan, maka Islam 
yang semacam itu masih sama saja dengan Yahudi, Nashrani dan Shabiin. Barulah 
keempat itu terkumpul menjadi satu, apabila semuanya memperbaharui iman, 
kembali kapada Allah dan Hari Akhirat, serta mengikutinya dengan perbuatan dan 
pelaksanaan.”
 
 Itulah syarat mutlak sehingga keempat golongan itu menjadi satu dan padu yaitu 
beriman kepada Allah, Hari Akhir dan beramal shaleh. Adapun yang tidak dikutip 
oleh Syafii Maarif sehingga pemikirannya berkabut adalah kalimat Prof. Hamka 
pada halaman 215 yaitu, “Apabila telah bersatu mencari kebenaran dan 
kepercayaan, maka pemeluk segala agama itu akhir kelaknya pasti bertemu pada 
satu titik kebenaran.”
 
 Ciri yang khas dari titik kebenaran itu adalah menyerah diri dengan penuh 
keikhlasan kepada Allah yang SATU ; itulah Tauhid, itulah Ikhlas, dan itulah 
Islam ! Maka dengan demikian orang yang telah memeluk Islam sendiripun 
hendaklah menjadi Islam yang sebenarnya. Inilah sebenarnya pemikiran Islami 
dari Prof. DR. Hamka yang ditelikung oleh Syafii Maarif, sang murid. 
 
 
 Di sisi lain, pernahkah terfikirkan oleh Syafii Maarif bahwa keyakinan 
Kristiani menyatakan Allah dalam Al Quran bukan Tuhan dalam Bible (Lihat buku 
.The Islamic Invasion, karya Robert Morey, edisi Bahasa Indonesia, Halaman 62, 
yang isinya sebagai berikut: “Ketika kita bandingkan sifat-sifat Tuhan Al Kitab 
(Bible) dengan sifat-sifat Tuhannya Al Quran, muncul dengan jelas, bahwa 
keduanya bukanlah dari Tuhan yang sama!” Bahkan pada halaman yang sama tertulis 
bahwa : ”Latar belakang sejarah mengenai asal-usul dan makna kata Arab “Allah” 
bukanlah Tuhan yang menjadi sesembahan orang Yahudi dan orang Kristen. Allah 
hanyalah suatu berhala Dewa Bulan bangsa Arab yang dimodifikasi dan 
ditingkatkan maknanya.”
 
 Pada halaman yang sama Robert Morey mengutip pendapat Doktor Samuel Schlorff, 
yang menyatakan dalam tulisannya mengenai perbedaan mendasar antara Allah dalam 
Al Quran dan Tuhan dalam Al Kitab (Bible) sebagai berikut : ” Saya percaya 
bahwa kunci masalahnya adalah pertanyaan mengenai hakekat Tuhan dan bagaimana 
Tuhan berhubungan dengan ciptaannya ; Islam dan Kristen, meskipun mempunyai 
kesamaan secara formal, sesungguhnya sangat jauh berbeda dalam masalah 
tersebut.”
 
 Nah marilah kita merenung kembali, samakah semua agama, samakah semua kitab 
suci ? Dan seharusnya Syafii Maarif meyakini bahwa : ”satu-satunya agama di 
sisi Allah adalah Islam.”
 
 
 Bekasi, Rabu 22 Nopember 2006
 
 
 Hajjah Irena Handono
 Pendiri Irena Center,
 Ketua Umum Gerakan Muslimat Indonesia (GMI),
 Penasehat Muslimah Peduli Ummat (MPU).
  

Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
 orang yang biasa memforward tulisan dari republika
 kok kali ini absen ya? tanya kenapa?
 
 At 06:39 AM 11/27/2006, you wrote:
 
 >Oleh : Ahmad Syafii Maarif
 >
 >Republika, Selasa, 21 Nopember 2006
 >
 ><http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=272485&kat_id=19>http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=272485&kat_id=19
 >
 >Pada suatu hari bulan November 2006 datanglah sebuah pesan singkat dari
 >seorang jenderal polisi yang sedang bertugas di Poso menanyakan tentang
 >maksud ayat 62 surat al-Baqarah. Kata jenderal ini pengertian ayat ini
 >penting baginya untuk menghadapi beberapa tersangka kerusuhan yang
 >ditangkap di sana. Karena permintaan itu serius, maka saya tidak boleh
 >asal menjawab saja, apalagi ini menyangkut masalah besar yang di
 >kalangan para mufassir sendiri belum ada kesepakatan tentang maksud ayat
 >itu. Ayat yang substansinya serupa dapat pula ditemui dalam surat
 >al-Maidah ayat 69 dengan sedikit perdedaan redaksi. Beberapa tafsir saya
 >buka, di antaranya Tafsir al-Azhar karya Hamka yang monumental itu.
 >
 >Sebenarnya saya cenderung untuk menerima penafsiran Buya Hamka dari
 >sekian tafsir yang pernah saya baca, baik yang klasik maupun yang
 >kontemporer. Dalam perkara ini Hamka bagi saya adalah fenomenal dan
 >revolusioner. Agar lebih runtut, saya kutip dulu makna kedua ayat itu
 >menurut tafsir Hamka.
 >
 >Al-Baqarah 62: "Sesungguhnya orang-orang beriman, dan orang-orang yang
 >jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi'in, barangsiapa yang beriman kepada
 >Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih, maka untuk mereka
 >adalah ganjaran dari sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas
 >mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita."
 >
 >Kemudian al-Maidah 69: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan
 >orang-orang Yahudi dan (begitu juga) orang Shabi'un, dan Nashara,
 >barangsipa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan dia pun
 >mengamalkan yang shalih. Maka tidaklah ada ketakutan atas mereka dan
 >tidaklah mereka akan berdukacita."
 >
 >Ikuti penafsiran Hamka berikut: "Inilah janjian yang adil dari Tuhan
 >kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka
 >hidup, atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka, namun mereka
 >masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan, sepadan
 >dengan iman dan amal shalih yang telah mereka kerjakan itu. 'Dan tidak
 >ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita (ujung
 >ayat 62), hlm.211.
 >
 >Yang menarik, Hamka dengan santun menolak bahwa ayat telah dihapuskan
 >(mansukh) oleh ayat 85 surat surat Ali 'Imran yang artinya: "Dan
 >barangsiapa yang mencari selain dari Islam menjadi agama, sekali-kali
 >tidaklah tidaklah akan diterima daripadanya. Dan di Hari Akhirat akan
 >termasuk orang-orang yang rugi." (Hlm. 217). Alasan Hamka bahwa ayat ini
 >tidak menghapuskan ayat 62 itu sebagai berikut: "Ayat ini bukanlah
 >menghapuskan (nasikh) ayat yang sedang kita tafsirkan ini melainkan
 >memperkuatnya. Sebab hakikat Islam ialah percaya kepada Allah dan Hari
 >Akhirat. Percaya kepada Allah, artinya percaya kepada segala firmannya,
 >segala Rasulnya dengan tidak terkecuali. Termasuk percaya kepada Nabi
 >Muhammad s.a.w. dan hendaklah iman itu diikuti oleh amal yang shalih."
 >(Hlm 217).
 >
 >"Kalau dikatakan bahwa ayat ini dinasikhkan oleh ayat 85 surat Ali
 >'Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatik; mengakui diri Islam,
 >walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan surga itu hanya dijamin untuk
 >kita saja. Tetapi kalau kita pahamkan bahwa di antara kedua ayat ini
 >adalah lengkap melengkapi, maka pintu da'wah senantiasa terbuka, dan
 >kedudukan Islam tetap menjadi agama fitrah, tetap (tertulis tetapi)
 >dalam kemurniannya, sesuai dengan jiwa asli manusia." (Hlm. 217).
 >
 >Tentang neraka, Hamka bertutur: "Dan neraka bukanlah lobang-lobang api
 >yang disediakan di dunia ini bagi siapa yang tidak mau masuk Islam,
 >sebagaimana yang disediakan oleh Dzi Nuwas Raja Yahudi di Yaman Selatan,
 >yang memaksa penduduk Najran memeluk agama Yahudi, padahal mereka telah
 >memegang agama Tauhid. Neraka adalah ancaman di Hari Akhirat esok,
 >karena menolak kebenaran." (Hlm. 218).
 >
 >Sikap Hamka yang menolak bahwa ayat 62 al-Baqarah dan ayat 69 al-Maidah
 >telah dimansukhkan oleh ayat 85 surat Ali 'Imran adalah sebuah
 >keberanian seorang mufassir yang rindu melihat dunia ini aman untuk
 >didiami oleh siapa saja, mengaku beragama atau tidak, asal saling
 >menghormati dan saling menjaga pendirian masing-masing. Sepengetahuan
 >saya tidak ada Kitab Suci di muka bumi ini yang memiliki ayat toleransi
 >seperti yang diajarkan Alquran. Pemaksaan dalam agama adalah sikap yang
 >anti Alquran (lih. al-Baqarah 256; Yunus 99).
 >
 >Terima kasih Buya Hamka, tafsir lain banyak yang sependirian dengan
 >Buya, tetapi keterangannya tidak seluas dan seberani yang Buya berikan.
 >Saya berharap agar siapa pun akan menghormati otoritas Buya Hamka,
 >sekalipun tidak sependirian.
 >
 >
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 
     
                       


Bila lidah kelu, tulisan menjadi perlu
Pena lebih tajam dari pedang
Tinta seorang  berilmu lebih mulia dari darah seorang syahid


  pustaka tani 
  nuraulia

 
---------------------------------
Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke