Jalur Gaza: Antara Harapan dan Kekhawatiran
   
    Oleh: Peter Phillipp dari Dresden
   
  Gencatan senjata antara Israel dan Palestina ditanggapi beragam di kedua 
kawasan.
   
  Kubu kanan di Israel khawatir, pihak Palestina hanya akan memanfaatkan 
gencatan senjata ini untuk memperbaiki persenjataan. Dan kenyataannya, 
kemampuan faksi-faksi Palestina semakin meningkat dari hari ke hari baik dalam 
peralatan maupun strategi. Modernisasi ini tidak lepas dari sokongan yang besar 
dari negara-negara Islam dari berbagai kawasan, yang memang telah komit 
terhadap berdirinya negara Palestina. Palestina seolah seorang adik yang terus 
di bela kakak-kakaknya. Negara-negara Islam pun kini tampaknya jauh lebih lihai 
dari beberapa tahun sebelumnya, didalam memainkan perannya di kawasan Timur 
Tengah, sehingga dalam tahun-tahun belakangan membuat Israel mengalami 
kemunduran hebat .
   
  Gencatan senjata adalah langkah yang salah, kata ketua partai oposisi dari 
kalangan nasionalis, mantan Jendral Effi Eitam. Ia menambahkan:
   
  "Kita sedang masuk perangkap seperti di Libanon. Di sana kita juga bersabar 
menunggu, padahal sudah jelas apa yang dilakukan lawan kita. Kali ini 
situasinya malah lebih jelas lagi. Kita hanya mengikat tangan sendiri, seperti 
di Libanon. Semua ahli militer mengatakan, ini perangkap.”
   
  Tidak hanya pihak oposisi yang skeptis. Demikian juga di kalangan partai 
Kadima pimpinan Perdana Menteri Ehud Olmert, banyak yang ragu. Ketua Komisi 
Luar Negeri di parlemen, Tzahi Hanegbi mengatakan:
   
  “Kita harus melihat gencatan senjata ini seperti apa adanya: ini adalah gong 
jeda dalam pertandingan tinju. Pertandingan ini tidak diakhiri dengan KO. Kedua 
petinju masih duduk di bangku di sudut mereka masing-masing. Pelatih dan 
pembantu menyeka darah dari muka mereka, pelatih membisikkan instruksi 
terakhir. Kemudian gong berbunyi dan pertarungan dimulai lagi.”
   
  Tapi Menteri Pertahanan Amir Peretz berharap, gencatan senjata kali ini 
benar-benar bisa jadi titik balik bagi kedua pihak dalam konflik berdarah, 
sehingga langkah diplomatik bisa dirintis lagi. Dalam sebuah wawancara di radio 
Israel, Menteri Pertahanan Amir Peretz menyatakan:
   
  “Gencatan senjata pada fase ini adalah langkah yang benar. Hal ini bisa 
membangkitkan dinamika baru, sampai ada titik balik menuju penyelesaian 
masalah-masalah penting. Misalnya pembebasan serdadu Gilad Shalit, dan kerangka 
yang lebih stabil menuju suatu kesepakatan. Ini bisa jadi awal saling pengakuan 
antara kedua pihak.“
   
  Demikian juga di kawasan Palestina banyak pihak berharap ada titik balik 
dalam konflik dengan Israel. Radio Palestina Senin (27/11) pagi memberitakan, 
pertemuan puncak antara Presiden Palestina Mahmud Abbas, PM Israel Ehud Olmert 
dan menteri luar negeri AS, Condolezzea Rice sedang disiapkan. Juru runding 
Palestina Saeb Erakat mengatakan, ada kemungkinan Abbas akan bertemu dengan 
presiden AS George W. Bush dalam kunjungannya ke Yordania.
   
  Tetapi di kalangan militan Palestina tidak ada reaksi berlebihan. Jika Israel 
tetap melanjutkan politik pembunuhan terarah di Tepi Barat, segera akan ada 
langkah balasan, demikian disebutkan. Yang pasti, langkah-langkah tersebut jauh 
lebih maju dari saat-saat sebelumnya.


 
---------------------------------
Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke