Mbak Aris, apakah pernikahan dengan lebih dari 1 istri sekarang seperti di jaman Nabi? Udah baca belum artikel yang ada menyebutkan salah satu syarat calon istri kedua dan selanjutnya adalah yang berumur 20an-30an? :-)
CMIIW.. Wassalam, Irwan.K On 12/6/06, aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mas Ikhsan, > Terima kasih, saya agak ndak enak mas bilang jangan bawa-bawa agama. Saya > kira tempatkan hukum agama juga pada proporsional. Saya juga berkeyakinan > bahwa ada orang poligami bukan semata-mata karena birahi juga ada. Tapi juga > karena keyakinan dan kemanusiaan. Entahlah karena setiap fakta tentang > poligami yang saya peroleh dari beberapa rekan bukan landasan birahi. Dan > itu juga tuduhan buruk bagi pelaku poligami jika demikian. Untuk Aa Gym, dia > menikahi janda anak tiga. Pernahkah kita berpikir, tentang nasib tiga anak > tersebut ditangan yang salah. > > Kalau tentang IQ, kesalihan dan kecantikan istri kedua Aa Gym, saya kira > normal, lelaki menginginkan keluarganya harmonis bahkan setelah berpoligami. > INi adalah contoh bagus, bahwa ketika orang pun berpoligami dia tidak > semata-mata memilih istri untuk hawa nafsunya. Tapi memikirkan penerimaan > istri kedua, capabilitasnya dalam mengelola rumah tangga bersama istri lain > dst > > Rasulullah dan para shahabat ketika berpoligami juga mereka sangat > menimbang istri-istrinya, mayoritas adalah perempuan atau janda yang bukan > sembarangan. Setidaknya kemuliaan disisi agama, kekerabatan (istri > sahabatnya), kedudukan dan kehormatan sang janda juga dipertimbangkan > mereka. Jangan sampai berpoligami dengan sembarangan perempuan yang malah > menghancurkan RT yang dibangun. > > btw mas Ikhsan, saya menunggu analisis ekonomi mas mengenai kelangkaan > minyak tanah, saya bingung kenapa Menteri ESDM mengatakan perbedaan harga > minyak non subdisi dan subsidi menjadi penyebab kelangkaan minyak di > masyarakat, bagaimana nalarnya mas. > > Bingungn nih? Mohon pencerahannya, syukron > salam, > aris > > > Mohamad Ikhsan <[EMAIL PROTECTED] <mikhsan.modjo%40gmail.com>> > wrote: > Nah setuju sama Mbak Aris. Harus proporsional, menempatkan pada > tempatnya. Jadi sekali lagi jangan bawa-bawa agama dong. Kayaknya > sangat murah deh melampiaskan birahi dengan kemudian mengatasnamakan > agama, sunnah etc. Kalau Kanjeng Nabi masih hidup saya pikir akan > sangat marah beliau mendengar ini. > > Begitu juga, Dari berbagai diskusi seharusnya jelas bahwa Poligami itu > hukumnya adalah mubah, alias boleh dilakukan boleh tidak. Dan bukannya > sunnah, yang artinya membawa kebaikan. > > Kenapa mubah dan bukannya sunnah karena memang poligami adalah satu > alternatif diantara dua alternatif yang sama-sama membawa kejelekan. > Dampak kejelekan poligami, secara sosial budaya maupun bagi keluarga, > saya pikir sudah banyak diteliti secara global. Begitu juga di > Indonesia, penelitian-penelitian dari pusat studi wanita UI, UGM dan > Unair, maupun terakhir dari Mbak Nina (dari Uni Melbourne), saya pikir > juga sudah mengkonfirmasi masalah ini. Bawa poligami dewasa ini adalah > satu hal yang membawa banyak kejelekan. > > Poligami harus ditempatkan pada tempatnya yang benar. Poligami adalah > sekedar solusi bagi kaum pria yang sudah bener-bener kebelet. Seperti > AA Gym yang konon sudah 'lima tahun' memendam keinginan birahinya > (lihat pikiran rakyat). Jadi bukannya satu hal yang dianjurkan dalam > agama karena membawa kebaikan, baik yang laki-laki maupun perempuan > yang dipoligami. > > Saya pikir masalah ini harus jelas dan para poligamiers, dan para > pendukungnya, harus jantan mengakuinya. Sebab agak kurang fair dan > tendensius untuk mengatakan bahwa seseorang berpoligami sekedar untuk > mengikuti sunnah nabi. Akui saja dengan jantan bahwa saya ngak tahan > dengan birahi dimana dengan itu saya berpoligami. Full Stop. > > Jangan bawa-bawa karena agama, sunnah nabi etcetera. Sementara wanita > yang menolah dipoligami sebagai wanita yang tidak taat pada suami dan > tidak solehah. Apalagi kemudian mempersoalkan Aqidah dan Akhlak. > Please dong...Dont be that cheap untuk masalah ini. Terlalu rendah > saya pikir membungkus birahi dengan pernak-pernik agama, > menjustifikasi dengan satu dua buah ayat, dan apalagi kemudian > justru membalik keadaan dan mengatakan pihak wanita yang tidak > sholehah. Apa bener wanita yang solehah adalah seperti ini. Wanita > solehah adalah wanita yang mau dipoligami, mau ditindas suami, mau > dipotong kemaluannya, harus nurut dengan suami apapun itu juga > keadaanya . Kalau definisi sholehah adalah yang seperti ini, maka saya > berdoa, istri dan anak saya bukan termasuk orang yang sholehah. > > Salam, > > --- In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>, aris > solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Mbak Indah dan Jimmy, > > saya sepakat dengan Anda sekaliyan untuk menempatkan segala sesuatu > sesuai proporsional. Begitu pula poligami. Saya juga kecewa dengan > media masa yang berusaha terus-menerus membuat stigma negatif mengenai > poligami, seakan-akan itu adalah kejahatan mbak. Selalu dicari-cari > sisi negatifnya. Ini masalah individual.Mari kita amati apa kata para > presenter infoteinment di TV-TV dan testimoni mereka > > > > Saya melihat orang berpoligami, oh poligami tho, ya sudah cukup itu > saja. BIasa-biasa saja. Karena itu sebenarnya biasa saja. > > > > Saya hanya ingin menempatkan poligami pada tempatnya. Sesuatu yang > saya juga tak habis berpikir, kenapa juga ada rekan-rekan yang > berusaha melakukan upaya pelegalan pelarangan poligami. cek disini: > pada poin 2 dan 3 > > > > http://www.lbh-apik.or.id/amandemen_UUP-usulan.htm > > > > Mbakyu Indah, > > HUkum dalam aturan agama pun tak akan berubah ketentuannya > berdasarkan atas hasil survey yang mohon maaf sekali, yang belum tentu > metode survey dan penelitiannya benar. Penelitian ilmu sosial agak > berbeda dengan ilmu eksakta. Ini mohon maaf ya mbak, karena Insya > Allah aris akan sering berhubungan dengan hasil penelitian baik > eksakta dan sosial. > > > > KAlau mengikuti survey penelitian seperti dibawah kegadisan > mahasiswa Yogya : > > > > http://www.free-webspace.biz/konseling/indonesia_seks9.htm > > > > Maka orang akan berpikir gila benar Yogya, gimana kalau respondennya > adalah muslimah aktivis dakwah diberbagai organisasi misalnya, bisa > jadi kebalik. > > > > Mas Jimmy, hati-hati untuk perkataan Anda mengenai Fedopihilia Siti > Aisyah.salam, > > aris > > > > > > > > Jimmy Okberto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Wis tho Mba Indah, ... > > > > Memang Mba Aris ini orang aneh ... > > > > Educated People but never with her Capacity ... > > > > just soaring and boasting ... > > > > Gw jadi gak habis pikir kalau Mba Aris ini mendukung Poligami > > > > Berarti juga pendukung fedophilia sunnah yang dialami Siti Aisah ... > > > > Jimmy > > > > _____ > > > > From: indah nuritasari [mailto:[EMAIL PROTECTED] > > > > Mbak Aris, anda sah-sah saja untuk berpendapat demikian. Tapi sebaiknya > > pendapat Anda itu disertai argumen yang jelas, setidaknya seperti > > tulisan yang Anda komentari itu. Kalau cuma sekedar yakin, hati-hati, > > jangan-jangan itu karena Anda masih muda dan belum tahu seluk-beluknya > > laki-laki dan pernikahan? > > > > Anda kan bergelut di bidang akademis, kenapa tidak cari tahu data yang > > kredibel soal ini? Setahu saya program Kajian Wanita UGM dan UI pernah > > membuat penelitian soal dampak negatif poligami dan hasilnya telah > > dimuat di media massa. > > > > Masih banyak wilayah untuk berjihad, jika Anda berniat untuk berjihad > > demi kebesaran Islam. Poligami memang boleh dalam Islam, tapi siapa > > pelakunya, kapan, dan bagaimana pelaksanaannya bisa menyiratkan niat di > > balik poligami itu meski niat sesungguhnya hanya Allah saja yang tahu. > > Saya pikir, poligami Rasulullah bisa dibedakan dari poligami tokoh2 > > publik Indonesia yang Anda kagumi itu. > > > > Sorry jika ada kata yang tak berkenan, > > > > salam dari Philly yang dingiiiinn, > > > > Indah > > > > aris solikhah <[EMAIL PROTECTED] <mailto:fm_solihah% <fm_solihah%25> > 40yahoo.com> > > > wrote: Wa'alaikumsalam wr wb > > Terima kasih atas postingannya. Saya memahami poligami sampai kapan pun > > boleh. Saya bersyukur pada Allah bahwa para tokoh publik melakukan > > poligami dengan baik dan pada proporsi yang tepat. Saya berkeyakinan > > beliau-beliau orang-orang yang memang layak berpoligami terlepas siapa > > pun istri keduanya. > > > > BAgi yang mengkritisi kenapa istri keduanya begitu dan begini, dan > > harusnya begini dan begitu, saya kira kita tak berhak melakukan hal > > tersebut. Pelaksanaan poligami ini menjadi bukti tak terbantahkan bagi > > yang mengatakan poligami tak relevan dan dilarang dalam Islam, atau > > orang-orang yang berusaha membuat pandangan negatif mengenai poligami. > > Dan rekan-rekan yang ingin merevisi UU perkawinan dan memasukkan pasal > > pelarangan poligami, hendaklah mengevaluasi ulang keinginan mereka. > > wallahu'alam bishawab > > > > salam, > > aris > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > > Bila lidah kelu, tulisan menjadi perlu > > Pena lebih tajam dari pedang > > Tinta seorang berilmu lebih mulia dari darah seorang syahid > > > > > > pustaka tani > > nuraulia > [Non-text portions of this message have been removed]

