Thanks juga mbak Listy. 

Jadi ingat lagu yang mengharukan " Mother, how are you today?".


Kalau kita, para putera ibu, menjadi akil balik, dan menganjak usia 
untuk menikah, mendapatkan seorang istri, yang menghadiahkan kita 
putra putri, kita ingatlah, bagi anak anak kita, istri kita adalah 
sang ibunda.

Janganlah sakiti hatinya. Janganlah kita mendua cinta kita. Setialah 
padanya. Demi dia, demi anak anak kita.

Demi kaum ibunda...

Salam

danardono

PS: Apa lagi kata Nizami ya?







--- In [email protected], Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> tks ceritanya mbak listy.
> mata saya berkaca-kaca ingat ibu di rumah.
> 
> 
> 
> At 02:09 PM 12/7/2006, you wrote:
> 
> 
> >-----Original Message-----
> >From:
> >Sent:
> >To:
> >Subject: Titip Ibuku ya Allah
> >
> >_____
> >
> >Titip Ibuku ya Allah
> >
> >" Nak, bangun... udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di 
meja... "
> >Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku 
bisa 
> >mengingat.
> >Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang karyawan disebuah 
> >Perusahaan Tambang, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.
> >
> >" Ibu sayang... ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah 
dewasa "
> >
> >pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. 
> >Pun ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-
buru 
> >kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu 
selama 
> >ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.
> >Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, 
mungkin 
> >sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari 
> >sebuah artikel yang kubaca ... orang yang lanjut usia bisa sangat 
> >sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak ..... tapi 
> >entahlah.... Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. 
> >Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa
> >
> >Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya,
> >
> >" Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang 
bikin 
> >Ibu sedih ? "
> >Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana . 
> >Terbata-bata Ibu berkata,
> >
> >" Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian 
> >sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh 
> >lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin 
> >kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri "
> >
> >Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani 
> >putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan.
> >
> >Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan 
> >bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak 
> >berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari 
> >sudut pandang masing-masing.
> >Diam-diam aku bermuhasabah... Apa yang telah kupersembahkan untuk 
> >Ibu dalam usiaku sekarang ? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada 
> >putera putrinya ? Ketika itu kutanya pada Ibu, Ibu menjawab,
> >
> >" Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada 
Ibu. 
> >Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan . 
Kalian 
> >berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian 
> >berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu . Setelah 
> >dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, 
itu 
> >kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan 
> >kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua."
> >Lagi-lagi aku hanya bisa berucap,
> >" Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan 
> >yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu 
> >menginginkan sesuatu. "
> >
> >Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang 
> >wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku 
> >untuk "cuti" dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu 
kepada 
> >pembantu. Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga, 
> >merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu 
> >yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu 
> >bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke 
> >dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering 
tertidur lagi...
> >Ah, maafin kami Ibu ... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak 
> >pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ?
> >
> >" Nak... bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin 
dimeja.. "
> >Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu 
> >sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap 
> >matanya lekat-lekat dan kuucapkan,
> >
> >" Terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik 
hati, 
> >ijinkan aku membahagiakan Ibu...".
> >Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu, 
> >Ibu... Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum 
> >bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..
> >
> >Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan 
> >kalimat "aku sayang padamu... ",
> >
> >namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa 
cinta 
> >yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah.
> >
> >Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita ... 
> >Ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah 
tiada.
> >Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti 
dan bahagia.
> >
> >Wallaahua'lam
> >
> >"Ya Allah, cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa 
> >membahagiakan Ibu..., dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, 
> >panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala 
> >dosa-dosanya dan sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi aku 
selagi 
> >aku kecil "
> >
> >"Titip Ibuku ya Allah"
> >
> >[Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke