Bidan Witnowati Raih Penghargaan Hermann-Gmeiner 2006
   
  Oleh: Vidi Legowo dari Dusseldorf
   
  Seorang bidan bernama Witnowati yang berasal dari Cipatujah Tasikmalaya 
tiba-tiba menjadi perbincangan di Jerman dan Austria.
   
  Perempuan yang baru berusia 32 tahun ini memenangkan penghargaan Hermann 
Gmeiner 2006 dan berhak atas hadiah uang sebesar 15 ribu Euro atau sekitar 180 
juta rupiah. Penghargaan ini diberikan setiap dua tahun kepada sosok yang 
dianggap berprestasi dalam bidang kemanusiaan, pekerjaan, olahraga, pendidikan 
atau kebudayaan. 
   
  Namun penghargaan ini hanya bagi mereka yang dulunya dibesarkan di salah satu 
dari SOS Kinderdorf yang terbesar di seluruh dunia. SOS Kinderdorf adalah 
semacam perkampungan yang didirikan oleh Yayasan Hermann Gmeiner di 
wilayah-wilayah tertentu bagi anak-anak yang berasal dari keluarga miskin dan 
yatim piatu. Di sana mereka memiliki orang tua asuh yang membimbing mereka dan 
mereka juga memperoleh pendidikan yang layak. Dulunya, Witnowati juga salah 
seorang dari anak-anak yang besar di SOS Kinderdorf. 
   
  Witnowati berasal dari keluarga yang tidak mampu, dan bahkan di daerah 
asalnya sarana untuk bisa bersekolah pun saat itu masih minim. Witnowati 
menceritakan, bahwa pemasukan keluarganya bergantung pada hujan. Kalau hujan 
turun, mereka bisa menanam padi. Kalau tidak, bisa paceklik.
   
  Nasib Witnowati mulai berubah saat ia terpilih untuk menjadi anak asuh SOS 
Kinderdorf di Lembang. Saat itu, ia baru berusia 8 tahun. Ia tinggal bersama 
anak-anak lain dan seorang ibu asuh seperti layaknya sebuah keluarga normal. 
Pada masa liburan sekolah barulah ia bisa kembali ke kampungnya untuk berkumpul 
kembali bersama keluarganya. Masih menjadi anak SOS Kinderdorf, setelah lulus 
SMP Witnowati memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Perawat. Ia mengatakan bahwa 
menjadi perawat memang cita-cita awalnya.
  Setelah dapat bekerja sendiri, Witnowati pun lepas dari SOS Kinderdorf. 
Sebagai bidan, ia sempat melanglang buana ke Kalimantan Tengah dan Kalimantan 
Timur sebelum akhirnya kembali ke daerah Bandung. Di desa Cibodas, Lembang, 
Witnowati membuka praktek pertamanya bersama suaminya. Ia menyewa sebuah garasi 
kosong dan satu kamar. Kamar ia pakai untuk ruang tidur keluarganya dan garasi 
untuk tempat praktek. 
   
  Witnowati dikenal warga Cibodas sebagai Bidan Wiwit. Namun Witnowati tidak 
hanya berperan sebagai bidan saja. Karena rumah sakit terdekat jauh letaknya 
dan puskesmas kalau malam tutup, maka Witnowati bisa dibilang adalah P3Knya 
desa Cibodas. Ia harus siap setiap saat pintu rumahnya diketuk untuk dimintai 
pertolongon. 
   
  Tidak dibutuhkan waktu lama, hingga garasi tempat ia praktek tidak memadai 
lagi untuk menampung pasien yang terus bertambah jumlahnya. Akhirnya, Witnowati 
terpaksa mengambil keputusan yang cukup berani. Tiga tahun yang lalu, ia 
menjual seluruh tabungan ternaknya. 20 ekor sapi ia tukar untuk memperoleh 
lahan seluas 1.000 meter persegi. Di sanalah ia mendirikan klinik bersalin dan 
perawatan bagi ibu hamil. Saat ini ia mempekerjakan tiga orang yang membantunya 
dan seorang bidan lain. Ini adalah klinik bersalin pertama di daerah tersebut.
   
  Witnowati memang lain daripada yang lain. Namun, ia selalu kembali mengatakan 
bahwa ini adalah berkat dukungan suami dan anak-anaknya. Sang suami 
meninggalkan pekerjaan lamanya untuk mendukungnya dalam mengelola klinik. 
Keempat orang anaknya bahkan juga membantunya dengan secara bergantian menjaga 
klinik. Perempuan muda yang penuh semangat ini sebenarnya orang yang sangat 
sederhana. Ia tidak langsung percaya, saat ia diberitahu bahwa ia memperoleh 
penghargaan Hermann Gmeiner.
   
  Dengan hadiah uang dari penghargaan itu, Witnowati menjadi jutawan baru. 
Namun, ia tidak terpikir untuk menggunakan uang itu selain untuk membenahi 
kliniknya dengan peralatan-peralatan medis yang masih ia butuhkan. Christian 
Honold, ketua harian Yayasan Hermann Gmeiner, sempat bertemu langsung dengan 
Witnowati di kota Innsbruck, Austria saat penyerahan penghargaan tersebut. 
Honold mengungkapkan kekagumannya akan kegigihan perempuan tersebut.
   
  "Bagi saya ini adalah prestasi luar biasa. Dengan kompetensi sosialnya dan 
kebaikan hatinya ditambah profesionalitasnya di bidang kedokteran ia berhasil 
membantu masyarakat setempat yang benar-benar membutuhkannya. Gabungan 
antusiasme, cara berpikirnya yang selalu positif dalam keadaan sesulit itu 
serta pengalamannya sebagai bidan bertahun-tahun menunjukkan betapa hebatnya 
kepribadian perempuan ini.“
   

 
---------------------------------
Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke