Artikel yang sangat bagus Pak Danar. Saya sih optimis radikalisme, baik dalam bentuk yang pling kasar ala terorisme maupun soft radikal, di Indonesia ke depan akan jauh berkurang.
Kuncinya ada dua. Nomer satu tetap di pendidikan, dimana saya pikir pers kita yang sangat dinamis perlu diacungkan jempol. Namun itu saja tidak cukup. Kita tetap perlu kunci kedua: perbaikan ekonomi. Yang ini juga perlahan sudak agak lumayan, walau ada banyak sisi yang bisa diperbaiki. Semakin cepat perbaikan ekonomi saya pikir semakin bagus. Pendidikan tanpa ada perbaikan ekonomi tetap saja dilematis. Sebab semakin banyak penganggur dan sulit ekonomi, semakin laku teori konspirasi dan model2 pemikiran sesat ala Nizami atau Mbak Aris. Salam, --- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Antara Kemiskinan, Radikalisme, dan Surga > > > Maruli Tobing > > Apakah kemiskinan terkait erat dengan radikalisme kelompok berbasis > agama? > > Kalangan intelektual kampus umumnya berpendapat demikian. Maka, > solusinya adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sebaliknya, > selama kemiskinan masih melekat dalam irama kehidupan rakyat, > radikalisme akan beranak-pinak. Mereka kemudian menghubungkannya > dengan aksi kelompok teroris di Indonesia. > > Akan tetapi, Prof Haim Harari, teoretikus fisika dan Ketua Davidson > Institution of Science Education, meragukan hal tersebut. Bom bunuh > diri, misalnya, tidak dikenal di negara-negara miskin di Afrika, yang > mayoritas penduduknya beragama Islam (A View from the Eye of the > Storm, 2004). > > Jauh sebelum tegaknya Republik Indonesia, kemiskinan sudah menjalar > di pelosok pedesaan Pulau Jawa. Pemberontakan petani maupun Pangeran > Diponegoro bukanlah akibat kemiskinan, melainkan bentuk penolakan > terhadap kebijakan kolonial. > > Ralph Dahrendorf, pelopor sosiologi konflik, menjelaskan radikalisme > dengan mengacu pada pemikiran Karl Marx. Di setiap pergantian zaman, > radikalisme selalu dimotori oleh kelompok yang kondisi ekonominya > relatif lebih baik. > > Kelompok ini merasa dipinggirkan dalam proses perubahan yang sedang > berlangsung. Muncul kekecewaan bercampur kebencian kepada rezim yang > berkuasa, yang dianggap memblokir peluang mobilitas sosial mereka. > > Dalam hal ini kesenjangan antara harapan dan kenyataan merupakan > bahan bakar radikalisme. Dahrendorf berpendapat, kelompok miskin > cenderung apatis (The Politics of Frustration, Oktober 2005). Lantas, > apakah memang demikian? > > Hasil penelitian Dr Marc Sageman, psikiater forensik AS, sangat > membantu menjelaskan hal tersebut. Sageman mengambil sampel biografi > 400 anggota Al Qaeda maupun jaringannya. Hasilnya dituangkan dalam > buku Understanding Terror Networks (2004). > > Pakistan > > Menariknya, Marc Sagemen adalah mantan anggota CIA yang bertugas di > Pakistan tahun 1980-an. Pada waktu itu, Pakistan disiapkan sebagai > pangkalan utama CIA dalam mempersenjatai Mujahidin melawan tentara > pendudukan Uni Soviet di Afganistan. Dengan sendirinya, Marc Sageman > tidak asing dengan dunia Mujahidin. > > Biografi yang dikumpulkan Marc Sageman sebagian besar warga asal > Arab, komunitas imigran di Eropa Barat, dan warga Indonesia di > Malaysia. Mereka ternyata bukan berasal dari negara termiskin. Lebih > mengejutkan lagi, tidak satu pun di antara 400 sampel yang berasal > dari Afganistan, salah satu negara termiskin di dunia. > > Dalam kaitannya dengan latar belakang sosial-ekonomi, tiga perempat > berasal dari keluarga kelas atas dan menengah. Mereka lahir dan > dibesarkan dalam keluarga yang rukun, penuh perhatian terhadap anak, > taat beragama, dan menaruh perhatian terhadap masalah kemasyarakatan. > > Sekitar 60 persen sampel pernah menjadi mahasiswa. Padahal, di negara > asal imigran tersebut tidak semua orang berkesempatan masuk perguruan > tinggi. Umumnya mereka bergabung dengan organisasi teroris pada usia > rata-rata 26 tahun. Tiga perempat sudah menikah dan sangat > bertanggung jawab kepada keluarga. > > Dari keseluruhan sampel, tidak ditemukan indikasi > mengalami "pencucian otak" oleh keluarga maupun pendidikan. Sekitar > 50 persen di antara mereka sejak kecil sudah menekuni agama. Hanya 13 > persen dari sampel, yang hampir semua berasal dari Asia Tenggara, > mengikuti pendidikan di pondok pesantren. > > Hal menarik lainnya, 70 persen di antara mereka bergabung dalam jihad > global ketika di perantauan. Sekitar 10 persen lagi adalah imigran > baru Arab Magrib di Eropa. Dengan demikian, lebih kurang 80 persen > terasing di negeri rantau, terputus dari ikatan sosial budaya asli, > dan jauh dari sanak keluarga. > > Di tengah suasana demikian, masjid merupakan tempat para imigran > untuk bertemu sesama perantau. Bertukar pikiran mengenai berbagai > masalah dan membangun solidaritas. Sekitar 68 persen sampel bergabung > dengan organisasi teroris melalui hubungan sosial maupun keluarga, > yang terbentuk jauh sebelumnya. > > Kekecewaan > > Biografi teroris yang bergabung dalam Al Qaeda maupun jaringannya > tidak menunjukkan hal yang terkait dengan masalah kemiskinan. > Sembilan belas pelaku pembajakan pesawat udara15 di antaranya asal > Arab Saudidalam peristiwa serangan 11 September, misalnya, bukan > dari kalangan melarat. Beberapa orang malah sedang melanjutkan > pendidikan di Hamburg, Jerman. > > Mereka sama seperti Osama bin Laden, tokoh pemrakarsa jihad global, > yang lahir dan besar di lingkungan keluarga kaya raya. Ia mendapat > warisan bernilai ratusan juta dollar AS ketika masih berusia 20 > tahun. > > Sekembalinya dari perang Afganistan, bin Laden hanya menemukan > kekecewaan di Arab Saudi. Puncaknya ketika penguasa kerajaan > mengizinkan pangkalan militer AS dibangun di Arab Saudi. > > Bin Laden akhirnya hijrah ke Sudan dan kembali ke Afganistan tahun > 1996. Memilih tinggal di goa-goa di pegunungan Hindu Kush, seperti > halnya di zaman batu. Dari lokasi inilah ia memimpin perang global > menghadapi mesin-mesin perang elektronik AS dan sekutunya. > > Bangkitnya kembali agama sebagai ideologi pergerakan bermula di Mesir > tahun 1970-an dan sama sekali tidak terkait dengan masalah > kemelaratan. Ia adalah alternatif terhadap ideologi sekuler, > sosialisme-nasionalis, yang berkuasa. > > Kekalahan dalam perang melawan Israel tahun 1967 merontokkan ideologi > sekuler, termasuk nasionalisme Pan Arab dengan segala mimpi negara > modern. Maka, yang tersisa hanyalah kekecewaan dan kebencian kepada > rezim sekuler. > > Kelompok-kelompok agama kemudian tampil dengan menjanjikan surga bagi > para pengikutnya. > > Indonesia bukan mustahil akan mengikuti irama yang sama jika ideologi > sekuler gagal mewujudkan janjinya, yaitu Indonesia adil dan > makmur. "Surga" akan muncul sebagai ideologi alternatif. > > Wakil Presiden Jusuf Kalla memahami hal ini. Dalam sambutannya pada > pengukuhan doktor honoris causa Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul > Ulama KH Dr A Hasyim Muzadi di IAIN Sunan Ampel Surabaya, Sabtu > (2/12), Kalla meminta tokoh agama di Indonesia tidak "menjual" murah > surga kepada kaumnya sehingga mereka mudah terhasut dan menyerang ke > agama lain. >

