Ketrampilan? Pendidikan dan pelatihan ketrampilan bukankah dua hal yang berbeda? Pendidikan menekankan pemahaman, sementara hal-hal teknis dikembangkan sesuai situasi dan kondisi. Ketrampilan menekankan penguasaan teknis tertentu tanpa terlalu banyak berkutat dengan gagasan-gagasan pokok di belakangnya.
Dalam pengantar buku Mathemathics: From the Bird of Number karangan Jan Gullberg (W.W. Norton & Company Inc., 1997), Peter Hilton, profesor matematik di State University of New York, menyatakan bahwa telah terjadi salah-sangka yang mendalam mengenai pelatihan dan pendidikan matematika (dalam konteks ini termasuk sains). Banyak orang mengira menguasai matematika berarti terampil berhitung. Semakin terampil dan tangkas mengerjakan soal, semakin pintarlah sang anak. Hilton berpendapat bahwa memahami lebih penting daripada terampil. Keterampilan selalu berubah sesuai situasi yang sedang dihadapi saat itu. Oleh karena itu peserta-didik semestinya diajak memahami bukan menghafal. Ibarat kuda-kuda dalam ilmu bela-diri, pemahaman membuat orang siap menguasai bahkan menciptakan jurus-jurus baru kapan saja diperlukan. Hilton memberi contoh dampak salah-kaprah ini dikalangan kritikus film. Pada 1989 Dustin Hofman menerima Oscar untuk peranannya dalam film Rain Man. Tokoh yang ia perankan bisa menghitung √19 sampai 10 desimal di luar kepala. Lakon ini dianggap oleh para kritikus sebagai jenius. Hilton menyatakan bahwa kemampuan semacam itu justru pertanda kebodohan yang berlawanan dengan jenius. Ia memberi contoh fisikawan Frederick Gauss. Gauss mula-mula mampu berhitung seperti itu. Tapi kemampuan ini merosot tatkala kejeniusannya di bidang fisika meningkat. Kritik Hilton boleh jadi menjelaskan musabab buta-sains di kalangan terdidik Indonesia. Selama ini mereka cuma dilatih terampil mengerjakan soal bukan memahami sains dan matematika. Gairah berilmu dibabat menjadi rumus dan hafalan. Pada saat yang sama, kalangan terdidik Indonesia harus menghadapi isu-isu konkret yang sarat muatan sains, seperti luapan lumpur panas, pembabatan hutan, erosi, pangan transgenik, sampah, pemanasan global, rasialisme, gempa-bumi, dan tsunami. Menuntut mereka kembali ke bangku sekolah jelas tidak masuk-akal. Salah satu harapan untuk memberantas buta-sains adalah penerbitan buku sains populer. [dikutip dari http://www.undik.net/index.php?data=artikel&tugas=lihat&artikel=00000220 ] sangkakala . wrote: > Pendidikan zaman sekarang masih terlihat tidak menjanjikan apa-apa kecuali > harapan agar pemerintah bisa mencerdaskan yg diperintah yaitu rakyat > kebanyakan.. tetapi pada kenyataannya pelajar-pelajar maupun mahasiswa kita > sebaliknya malahan dididik dgn cara yg sama yaitu DUDUK MANIS MENGHADAP PAPAN > TULIS SAMBIL MENYARINGKAN TELINGA MENANGKAP NYANYIAN DAN KICAUAN GURU MAUPUN > DOSENNYA sambil melamun kesana kemari menunggu lonceng dan bel pulang > berbunyi.. pola ini selalu sama dimana-mana diseluruh pelosok tanah air > kita,... > > Lalu diakhir semester ataupun tahun ajar diuji dgn cara yg sama yaitu duduk > nongkrong sambil menjawab pertanyaan ABCD mulitiple choice juga dgn semangat > siapa berani memilih jawaban BENAR dan SALAH yg anak TK-pun juga bisa.. > > Dan UJIAN NASIONAL menjadi kebanggaan Departemen Pendidikan dgn harapan > generasi kita akan makin pintar, makin cerdas dan makin kreatif plus makin > produktif penuh gerak aktifitas memeras keringat dalam menghadapi globalisasi > yg penuh persaingan dan tantangan ekonomi politik... > > Saya lebih cenderung pada pendidikan ketrampilan dan keahlian khusus > yg spesifik dibanding ketrampilan menulis, mencatat dan menghafal yg > nota bene hampir semua yg diingat dalam memori setelah dia lulus, > malahan hilang sama sekali dan diganti dgn selembar ijazah berisi > daftar nilai-nilai test tertulisnya.. > >

