bung ari ini luas juga pergaulannya di dunia kang-aw, eh, haraqah.
tahu peta kelompok-kelompok mereka dan perbedaan-perbedaannya.
salut!


At 12:04 PM 12/12/2006, you wrote:
>aneh,
>
>
>tiba tiba majalah hidayatullah dan mbak aris dari HT menjunjung darul arqam
>alias rofiqoh.  padahal gerakan ini termasuk aliran sesat menurut MUI dan
>tentu saja DDII.  beda nih kelakuan dan pedekatenya dengan LDII atau
>Ahmadiyyah.
>
>pilih pilih tebu ?
>
>
>padahal di LDII maupun ahmadiyah, banyak juga tuh yg poligami.
>
>
>On 12/12/06, aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >    Dr. Gina Puspita : "Anak Saya Senang Memiliki Ibu yang Banyak" Senin,
> > 11 Desember 2006 Dr. Gina Puspita, bercerita seputar pengalamannya praktik
> > poligami dengan sang suami, Dr. Abdurahman Riesdam Efendi. "Poligami itu
> > enak dan perlu, " katanya
> >
> > Sudah hampir sepekan wacana poligami secara terus-menerus diulas berbagai
> > media massa. Banyak yang setuju dan tak sedikit yang sinis. Diantara yang
> > sinis, tentu saja para aktivis perempuan dan para pengagum feminisme. Sabtu
> > (9/12) kemarin, Koalisi Perempuan dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat
> > (LSM) menolak praktik poligami. Alasannya, poligami melanggar hak-hak
> > perempuan serta rawan terhadap kekerasan psikis dan fisik. Benarkah?
> > Kali ini hidayatullah.com mewawancarai Dr. Gina Puspita. Sebelum
> > ramai-ramai berkembang wacana poligami, istri 
> pertama Dr. Abdurahman Riesdam
> > Efendi ini boleh jadi diantara sekian Muslimah yang merasakan sendiri
> > pengalaman "dimadu". Tidak seperti umumnya pria yang ingin menikah lagi, ia
> > mencarikan sendiri calon untuk pasangan suaminya itu.
> > Tahun 1995, Abdurahman menikah lagi untuk yang kedua dengan Basyiroh Cut
> > Mutia. Enam tahun kemudian, ia menikah yang ketiga dengan Siti Salwa asal
> > Malaysia. Dan yang terakhir, menikah dengan Fatimah. Praktis ia memiliki
> > empat orang istri.
> > Jangan keliru, semua istri mudanya ini bukan pilihan sang suami, justru
> > pilihan Gina alias sang istri pertamanya. Tak seperti dugakan aktivis
> > perempuan selama ini, di mana poligami dianggap begitu rendah dan rawan
> > konflik. Mereka berempat justru sangat rukun dan bahagia. Bahkan bekerja di
> > kantor yang sama dan tinggal seatap, di Taman Rempoa Indah, Ciputat,
> > Tangerang.
> > ''Kalau suami sedang dengan istri yang lain, kami bertiga ngobrol-ngobrol
> > di satu kamar,'' tutur kepada Gatra suatu hari. Bila berada di luar kota,
> > mereka bertukar pesan lewat SMS. Pokoknya, 
> akrab. ''Poligami yang didasarkan
> > pada Allah SWT tidak akan menimbulkan masalah.'' Ujarnya. "Bahkan enak dan
> > perlu, " tambah mantan Kepala Departemen 
> Structure Optimizition Divisi Riset
> > & Development IPTN (Industri Pesawat Terbang 
> Nusantara) ini di sebuah harian
> > di Jawa Barat.
> > Apa kabar Anda dan keluarga?
> > Kami sekeluarga alhamdulillah sehat.semoga kesehatan yg dirahmati Allah.
> > Lama tak dengar kabarnya, apa kesibukan Anda terbaru?
> > Selama kurang lebih 2 tahun terkahir kami banyak berada di Malaysia.
> > Alhamdulillah perusahaan yangg dipimpin oleh guru kami Abuya Ashaari
> > (pendiri Darul Arqam yang dilarang mantan PM Mahathir Mohammad-- berkembang
> > pesat di sana. Kebetulan Tuhan rizkikan kami untuk ikut serta berkatifitas
> > di sana selama 2 tahun. Setelah di sana terasa manfaatnya untuk kalangan
> > luas, dan perusahaan terus berkembang ke berbagai negara di Asia, Eropa,
> > Timur Tengah, maka mulai 2 bulan belakangan ini kami mulai menguatkan
> > kembali aktifitas perusahaan Rufaqa di Indonesia.
> > Saya dengar Anda juga punya proyek besar di Malaysia? boleh tau?
> > Di malaysia bukan proyek saya tapi perusahaan yang dipimpin oleh guru
> > saya, Abuya Ashaari Muhammad. Dari tahun 1997 beliau mendirikan perusahaan
> > Rufaqa namanya yang bergerak di berbagai 
> bidang seperti pendidikan, ekonomi,
> > sosial, kesehatan, kebudayaan dll. Kalau mau jelas, boleh kunjungi website
> > nya www.rufaqa.com & www.rufaqadaily.com.
> > Sepekan ini banyak orang sibuk mendiskusikan poligami, apa pendapat Anda?
> > Segala kejadian Allah yang menentukan. Diantara sekian banyak hikmahnya,
> > Allah nampaknya mau menunjukkan keadaan masyarakat sekarang ini. Dan kita
> > bertanggung jawab untuk memperbaiki keadaan. Sebenarnya ada dua kejadian
> > yang terjadi secara serentak. Pertama tentang poligami-nya Aa Gym, kedua,
> > monogami nya anggota DPR RI, tapi selingkuh. Tapi yang diramaikan hanya
> > poligaminya. Bahkan poligami mau dilarang segala. Hehehe
> > Yang menarik, sikap masyarakat terbelah dua. Kasus monogai selingkuh
> > menjadi kasus cukup besar. Tapi poligami, 
> pernikahan secara syah justru yang
> > dikatakan zalim. Padahal menurut saya, monogami selingkuh itu jauh lebih
> > menzalimi perempuan. Seperti wanita ini tak ada harganya.
> > Menurut Anda, mengapa masyarakat justru seperti itu?
> > Saya tak menyalahkan masyarakat. Itulah keadaan masyarakat yang kita perlu
> > rasakan sebagai peringatan Allah pada kita. Mungkin kita gagal membawa
> > kebaikan di tengah masyarakat ini. Saya juga 
> maklum kenapa banyak masyarakat
> > awam begitu membenci poligami, kerana memang 
> susah mau mencari poligami yang
> > dapat dijadikan teladan di indonesia sekarang ini. Yang lebih menyedihkan,
> > yang sekarang berlaku bukan sekedar diskusi tapi penafsiran-penafsiran
> > terhadap Rasulullah yang sifatnya merendahkan beliau. Jauh sekali daripada
> > mencari solusi. Lagi pula, mengapa banyak orang sibuk membicarakan poligami
> > atau bahkan terkesan begitu ketakutan. Padahal dalam Islam, poligami haya
> > sekedar satu dari sekian ribu syariat dalam agama kita.. Jadi dia bukan
> > perkara yang wajib. Tapi kok yang bisa-bisa menjadi masalah Negara. Padahal
> > Shalat yang berkali-kali Allah katakana sebagai "tiang agama" pun, Negara
> > tak pernah peduli apakah mansuia melakukannya?
> > Anda termasuk diantara pelaku, sebelum banyak orang melakukan. Bisakan
> > bercerita pengalaman poligami?
> > Islam itu adalah "cara hidup". Selain tentang Allah yang utama, di
> > dalamnya ada juga syariat yang beribu jenisnya, yang mengatur kehidupan
> > manusia di dunia ini. Sepertimana janji kita 
> dalam setiap kali shalat, "inna
> > shalolati wa nusuki… (dst), "hidup mati kita untuk Allah, maka tentulah
> > sebagai seorang Muslim, kita perlu wujudkan 
> janji kita dalam kehidupan. Kita
> > atur individu kita, ekonomi kita, pendidikan kita, kebudayaan kita, rumah
> > tangga kita, menurut Islam. Hal ini tidak dapat kita wujudkan
> > sendiri-sendiri. Misalnya untuk mewujudkan pendidikan Islam, perlu guru dan
> > murid. Kalau sendirian mana mungkin dapat 
> terwujud. Itulah yang kami lakukan
> > melalui perusahaan Rufaqa ini. Sama halnya dengan masalah rumah tangga.
> > Setelah kami dididik oleh guru kami, kami (saya dan suami) merasakan bahwa
> > Allah mesti dijadikan segalanya. Syariat Islam mesti diperjuangkan. Dengan
> > melihat keluarga guru kami yang memiliki 4 istri dan 37 anak, 200 cucu,
> > namun semua justru menjadi pendukung perjuangan Islam. Maka kami melihat
> > (bukan sekedar membaca buku atau hanya 
> mendengar), bahwa poligami juga dapat
> > kita laksanakan. Atas kesepakatan bersama 
> itulah, saya dan suami ­tentu saja
> > atas persetujuan guru kami-- maka kami tambahkan anggota keluarga kami
> > dengan mengambil salah seorang staf Rufaqa sebagai istri kedua untuk suami
> > saya.
> > Siapa yang mencari dan melamarkannya?
> > Saya sendiri yang datang pertama kali dan menjelaskan pada orang tuanya
> > untuk menyampaikan hasrat kami.
> > Apa sih yang ada di perasaan Anda saat mencarikan suami istri lagi?
> > Karena dari awal memang sama-sama berniat (saya, suami dan istri kedua)
> > untuk menguatkan keluarga, maka, masalah-masalah dalam keluarga dapat
> > diatasi dengan baik. Bertambah terasa kehebatan Allah. Ternyata belum lagi
> > kita baik, baru niat mau baik, tapi Allah sangat memberikan bantuan-Nya.
> > Apakah setelah poligami pernah cekcok? Atau cemburu?
> > Kalau beda pendapat sih dalam rumah tangga itu hal yang biasa. Jangankan
> > di keluarga yang praktik poligami, dalam 
> rumah tangga monogami pun ada. Tapi
> > kerena sama-sama sudah dididik oleh guru yang sama, jadi setiap kali ada
> > masalah, masing-masing berusaha untuk dapat 
> menilai yang baik di sisi Allah.
> > Bila semua mempunyai tujuan yang sama yaitu 
> keridhaan Allah, perkara apapaun
> > selalu jadi mudah. Kami berempat serumah. Kecuali sekarang ini, dua orang
> > sedang bertugas di Malaysia.
> > Menjadi istri "dimadu" apa tak membuat martabat Anda sebagai seorang
> > perempuan terhina?
> > Saya hendak mengingatkan kita bahwa dalam menilai sesuatu, karena zaman
> > ini sudah rosak, maka nilai-nilai manusia/moral juga sudah sangat jauh dari
> > kehendak Allah. Contoh saja; para wanita mengatakan dirinya merasa
> > "dihina" dengan poligami. Padahal itu kan memang boleh menurut Islam. Tapi
> > wanita diminta buka aurat, ia menjadi tontonan. Tak satupun menganggap
> > dirinya merasa terhina. Padahal itu adalah keadaan yang sangat menghinakan.
> > Wanita sudah hilang malunya karena ketiadaan iman.
> > Poligami itu, bila dijalankan dengan tujuan membesarkan Allah, kita akan
> > merasakan bahwa itu sangat baik untuk pendidikan hati kita. Kita akan tahu
> > bahwa kita belum sabar. Maka, kita akan belajar untuk bersabar. Kita bisa
> > tahu bahwa di hati kita ada hasad dan dengki. Cemburu itu adalah hasad dan
> > dengki adalah puncaknya. Lalu kita belajar untuk tidak hasad atau dengki
> > hingga timbul rasa tidak membahagiakan orang lain.
> > Bukankan manusia normal tak menginginkan suaminya jadi rebutan wanitalain?
> > Jadi, bila dikatakan manusia normal tidak mau dipoligami gitu? Manusia
> > normal itu seperti apa? Apakah istri-istri Rasulullah bukan wanita normal?
> > Menurut saya, manusia normal itu adalah manusia yang tahu dirinya hamba dan
> > Allah sebagai Tuhannya. Tentu dia akan sangat mencintai Tuhan Nya. Dan
> > dirinya akan merasakan bahwa syariat Allah adalah yang terbaik. Bahkan
> > sekarang kadang saya merasa malu dengan Allah. Malu, mengapa "orang jahat"
> > seperti saya tapi Allah masih memberi rasa 
> kebaikan-kebaikan dalam poligami.
> > Kalau saya saja yang menganggap "masih jahat" dan masih diberi banyak
> > kebaikan oleh Allah, bagaiman pula kehebatan keluarga Rasulullah?.
> > Anda tidak takut, rasa cinta suami Anda tak akan seperti di awal
> > pernikahan? karena akan terbagi?
> > Tidak. Sebab suami dan kami punya cita-cita yang sama. Untuk mencintai
> > Allah. Dan mencintai Allah itulah yang dapat menambah kuat ikatan diantara
> > kami semua. Perlu kita sadari, kerana manusia sudah tidak menganggap Tuhan
> > segalanya, maka bila berumahtangga, dia menganggap suami adalah
> > segala-galanya. Ya dengan kata lain, cinta suami. Padahal, kalau kita
> > membesarkan cinta pada Allah, maka Allah sendirilah yang akan mebagi
> > kebahagiaan itu.
> > Bagaimamana dengan kebutuhan finansial dan pembagian perhatian terhadap
> > anak-anak Anda suami menikah lagi?
> > Alhamdulillah Allah bukan saja mencukupkan, tapi menambah-nambah. Dan
> > alhamdulillah, anak-anak kami semua justru bersyukur dengan poligami.
> > Kemarin anak saya yang berumur 10 tahun diwawancara sebuah majalah. Dia
> > mengatakan, begitu senang memiliki ibu banyak. Banyak tapi sayang. Dia
> > pernah melihat seorang aktifis perempuan begitu keras berkata tentang
> > poligami. Anak saya mengatakan, "Ini perempuan bercakap bukan dengan akal
> > lagi, tapi dengan nafsu. Sangat emosional. Padahal, kami (anak-anak saya
> > maksudnya) suka dengan itu . tak ada penzaliman."
> > Apakah mungkin seorang suami bisa membagi perhatian tiga orang istri
> > dengan banyak anak berbeda-beda misalnya?
> > Bisa. Bahkan hubungan anak-anak semua sangat baik. Tak ada perbedaan dia
> > dari ibu yang mana. Suami saya baru memiliki 4 orang anak. Tiga dari saya
> > dan 1 dari istri kedua. Istri ketiga dan keempat belum dikaruniai anak.
> > Banyak aktivis perempuan mengkritik poligami, apa pandangan Anda
> > menghadapi kritikan itu?
> > Jangankan untuk hal poligami, gerakan kaum feminis hingga sekarang ini,
> > belum mendapatkan kejayaan. Patutnya sekiranya jika mereka melihat gagalnya
> > perjuangan kaum feminis di Prancis yang menjadi sumber awalnya. Saya pernah
> > 11 tahun di Prancis melihat sampai sekarang, di sana gerakan tersebut boleh
> > dikatakan tidak membuahkan hasil, yang ada justru kesengsaraan bagi kaum
> > wanitanya. Banyak orang berkonsultasi dengan saya. Sebab banyak hal yang
> > diperjuangkannya tidak sesuai dengan fitrah dia. Jadi katakanlah dia
> > mendapatkan apa yang dia mau, tapi ternyata bila sudah mendapatkan,
> > sesungguhnya dia begitu tersiksa.
> > Jadi apa hikmahnya bagi Anda dan kalangan Muslimah dengan berpoligami?
> > Saya pernah mengatakan di media massa, "poligami itu indah dan memang
> > perlu." Perlu bagi wanita dan lelaki sebagai pendidikan hati kita untuk
> > dapat lebih mudah membesarkan asma Allah.
> > Karenanya, saya menghimbau pada semua, mari kita kembali pada Allah, Tuhan
> > kita. Dialah penyelesai segala maslah. Sekarang ini yang jadi masalah
> > sebenarnya bukanlah poligami. Jadi tak perlu sibuk memerangi poligami. Sama
> > halnya sekarang banyak orang shalat tapi 
> masih korupsi. Lantas apakah dengan
> > begitu kita akan memerangi shalat? Banyak masalah lain yang kita perlu
> > selesaikan.
> > Pendidikan kita sedang bermasalah. Ekonomi kita bermasalah. Kebudayaan dan
> > semua aspek kehidupan kita sudah rusak dan itu adalah masalah. Maka mari
> > kita kembali pada Allah. Jadikan Ia 
> segalanya. Bila demikian akan selesailah
> > semua masalah. Mau monogami atau poligami, jika kembali pada Allah, tetap
> > akan membawa kehidupan yang harmoni. [Cholis Akbar]
> >
> > 
> http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3963&Itemid=61
> >
> > Bila lidah kelu, tulisan menjadi perlu
> > Pena lebih tajam dari pedang
> > Tinta seorang berilmu lebih mulia dari darah seorang syahid
> >
> > pustaka tani
> > nuraulia
> >
> > ---------------------------------
> > Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> >
>
>
>[Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>***************************************************************************
>Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat 
>Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in 
>Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>***************************************************************************
>__________________________________________________________________________
>Mohon Perhatian:
>
>1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
>2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
>3. Reading only, http://dear.to/ppi
>4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
>5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
>6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
>Yahoo! Groups Links
>
>
>


Kirim email ke