--- In [email protected], "Lina Dahlan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Lina: Bisa jadi demikian. Namun nampaknya bangsa kita seperti bangsa > yang baru melek mata lalu melihat kemajuan kehidupan negara dan > bangsa lain, lalu langsung mau mencontoh/menjiplak kemajuan itu apa > adanya, tanpa instrospeksi diri: siapa kita ini?. Ada yang mau > mencontoh ke Timur (Tengah) sana, ada pula yang mau ke Barat sana. > Yaaa..itulah hidup..selalu ada daya tarik menarik antara dua kutub. > > > wassalam, >
Akuuurrrr Saya lebih lama di LN diantara manusia Barat yang bule daripada mbak Aris hidup didunia. Tetapi tetap saya dirumah pakai sarung batik, dengar CD gamelan, masak tempe dan tahu, membaca pustaka Jawa dan bahasa Indonesia (terutama periode Poejangga Baroe).. Yang baik dari Barat kita ambil, misalnya rationalitas, dari Timur Tengah tempat lahirnya agama agama besar, yang baik, dan jangan lupa, dari lelhr kita masing masing suku, yang baik. Lihat di Minangkabau, ada khazanah petuah yang dalam sekali, juga di Jawa dalam putaka Kawi..pasti juga didaerah lain.. Tetapi kekuatan industri periklanan diiringi Telenovella kosong melompong, mode yang dangkal dan sering a Timur, membuat generasi muda kesengsem.. Keponakan saya dengan bangga katakan, dia berdiri bulu tengkuk kalau dengar gamelan dan keroncong. saya jawab, oh ya, kamu memang bule sekali, dan hidungmu alngkah mancungnya. Mungkin bapakmu Cowboy ya? bapaknya ya iparku ha ha ha. Udah pesek sok jago.. Salam Danardono

