Catatan:
   
  NadirAttar adalah salah seorang yang hadir dalam diskusi di Tokobuku Ultimus 
Bandung. Ia sempat menginap semalam di rumah tahanan. Nadir Attar hadir di di 
diskusi ini dengan maksud seperti yang dikatakannya sendiri: "Tujuan saya, 
jelas adalah untuk mengetahui apa sih filsafat marxis itu, berkenaan dengan 
ilmu filsafat yang sedang saya ikuti di fakultas filsafat di sebuah universitas 
di Bandung".
   
  Perlu diketahui bahwa Nadir Attar secara agama adalah seorang penganut Islam 
yang taat.
   
  Haruskah Nadir Attar ke Tiongkok untuk mulai mewujudkan keinginan akademisnya 
dan rasa ingin tahunya ini? Siapa yang akan membeayainya ke Tiongkok? Mengapa 
harus jauh-jauh ke Tiongkok kalau di Bandung ada kemungkinan itu, betapa pun 
sederhana skalanya? Apa gerangan salahnya berdiskusi? Negeri dan undang-undang 
apakah namanya, jika diskusi saja dilarang ?  
   
   Berikut adalah kesaksian singkatnya tentang Peristiwa Ultimus itu yang ia 
kirimkan ke alamat saya  petang kemarin. 
  
JJ. Kusni
   
   
  
nadir attar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Date: Fri, 15 Dec 2006 08:15:07 -0800 (PST)
From: nadir attar <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Ultimus: Sebuah Kesaksian Premanisme
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]

  ULTIMUS: SEBUAH KESAKSIAN PREMANISME
  NadirAttar
   
  Malam itu pukul 19 kurang, saya bersama seorang kawan tertegun ketika akan 
mengikuti Diskusi Filsafat Marxis di Ultimus yang rencananya akan menghadirkan 
seorang kebangsaan Kanada. Sebuah mobil kijang bak terbuka bertuliskan PEMUDA 
PANCAMARGA telah memblokir gerbang depan Toko Buku Ultimus lengkap dengan 
aparat dan atributnya yang berbau-bau militeristik itu. 
              Kami berdua menahan diri untuk masuk. Karena ini bukan kebiasaan 
yang umum. Diskusi apapun termasuk yang berbau kiri sering secara terbuka 
dilakukan di toko buku Ultimus. Semua bisa saling berdialog, baik dari 
komunitas buku maupun yang datang karena tujuan perseorangan. Tujuan saya, 
jelas adalah untuk mengetahui apa sih filsafat marxis itu, berkenaan dengan 
ilmu filsafat yang sedang saya ikuti di fakultas filsafat di sebuah universitas 
di Bandung. Kami mampir dulu ke sebuah warteg nasi goreng dan kawan saya 
sajalah yang makan.
              Suasana terakhir, sudah lumayan ramai, tapi tidak memacetkan Jln. 
Lengkong Besar. Hampir di setiap 1 meter, saya lihat orang-orang berjaket hitam 
dengan perawakan yang tinggi dan besar. Berbagai macam kendaraan, Kijang 
pribadi, motor bernomor umum, sebuah sedan. Saya amati orang-orang itu berada 
hampir di tiga lapis area. Di depan toko buku Ultimus, jembatan dan di dekat 
Sekolah Dasar. 
              Saya lihat aktivitas mereka saling memicingkan mata, dan 
mengamati sekeliling. Beberapa menyembunyikan handy talky di balik jaket hitam. 
Dan bergegas menuju toko buku Ultimus. Praktis semakin lama, orang-orang itu 
semakin memadati toko buku Ultimus. 
              Kami menuju toko buku Ultimus, setelah selesai makan. Dan keadaan 
memang semakin ramai, jalan macet. Kondisinya, sudah terang-terangan. Mobil 
sedan polisi berjejer di sepanjang Jln. Lengkong Besar. Dari arah utara, satu 
truk polisi datang (dalmas?) dengan sirine yang sengaja dibunyikan. Sontak 
masyarakat keluar hanya demi menyaksikan lebih dekat. Saya tanya beberapa 
orang, yang berada di kerumunan itu, dan semuanya hampir menjawab: tidak tahu!
              Setelah itu, beberapa orang di dalam Toko Buku Ultimus 
ditangkapi! Entah berapa orang, tertutup kerumunan orang-orang itu dan 
masyarakat sekitar yang ingin tahu. Beberapa kamera menyemburkan cahaya kilat, 
beberapa media massa menenteng kamera video. Mereka digiring ke arah 
selatan-tepatnya mendekati jembatan. Tak tahu persis naik apa dan mau kemana.
              Telepon beberapa kawan yang di dalam direject dan dimatikan. 
Barulah kemudian kawan-kawan yang sering nongkrong di Toko Buku Ultimus memberi 
kesaksian:
              “Sebelum acara dimulai, pembicara dari Kanada sudah datang. Para 
pemrotes acara itu tidak senang acara dilaksanakan dan lantas terjadi saling 
lobby dengan pihak yang berada di dalam toko Buku Ultimus. Beberapa saat 
setelah acara dimulai gabungan dari ormas (GASIBU, PANCA MARGA ) menerobos 
masuk dengan maksud untuk membubarkan acara tersebut, beberapa saat kemudian 
terjadilah chaos. Ada yang  dipukul dan dikejar menuju kampus di seberang  
Ultimus. Buku-buku marxis disweeping. Dan perlengkapan di sana sebagian disita. 
Termasuk papan bertuliskan Republik Semut Hitam, sebuah kelompok teater yang 
sedang dibentuk...”
              Cerita itu terputus-putus karena kawan-kawan di sana cukup shock 
dan tegang. Seorang polisi berteriak: Bubar! Bubar!!!
              Rolling Door toko ditutup, warnet ditutup dan gerbang pintu tepat 
ketika tadi saya akan masuk digembok, dipasangi garis polisi. Entah sampai 
kapan...
              Salah satu yang dibawa polisi adalah kawan saya sendiri yang tadi 
makan nasi goreng. Sampai kesaksian ini diguratkan, ia dan beberapa kawan yang 
lain (ia menyebutkan 7 orang) masih sedang diinterogasi dan membuat BAP. 
   
              Ideologi, agama, saling berperang, lalu untuk apa?lalu apa yang 
bisa kita lakukan???
   
  Taman Sari, 15 Desember 2006, dini hari.

 Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke