--- In [email protected], "penulis1710" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Saya setuju mbak Lina bahwa islam menganggap poligami sebagai > PEMBATAS bukan sebagai ANJURAN. > tapi apakah poin itu juga disadari bung Nizami ? > tulisan bung Nizami menyiratkan begitu jelas semangat untuk > menganjurkan poligami. > bahkan terjebak dalam logika "berpoligamilah daripada berzina atau > berselingkuh" (celakanya, logika ini juga dipakai aa' gym) > mohon maaf kalo saya tidak menemukan kalimat lain dalam menyimpulkan > tulisan bung nizami ini selain "membanggakan poligami sebagai > warisan islam" > Bung Nizami bukan pro poligami tapi penganjur poligami. Sehingga > relevan untuk mengetahui apakah dia pelaku poligami atau tidak > (yaaa...meskipun bertanya dengan semangat bercanda kok mbak). > Mbak Lina, ajakan untuk melihat poligami secara kontekstual itu > harusnya ditujukan pada para penganjur poligami seperti Nizami > dan ... tentu saja Puspowardoyo (yang begitu menggebu-gebunya > menganjurkan poligami hingga terlihat seperti muslim yang tolol) > > salam >
Yang mematikan dalam logika ala Nizami dan jutaan pria macam dia, adalah 1) Polygami lebih baik daripada ke pelacur 2) laki laki adalah tukang cari pelacur Jadi, bahwa jutaan manusia laki laki hanya menggunakan alat pentungannya untuk memuaskan istri yang satu, sampai mati, tak terbayangkan baginya. namanya juga menikah, kan janji setia sehidup semati sepingsan... Menurut bung Nizami, laki laki adalah lazim bersyahwat ria (macam anjing laki yang selalu cari pohon untuk dikencingi) ha ha ha Salam Danardono

