Assalamualaikum wr wb
Salam sejahtera bagi anda semua. Semoga Tuhan Yang Maha Baik memberkati kita semua. Mudah-mudahan kita terpilih menjadi hamba ciptaan Nya yang senantiasa bersyukur dalam setiap nikmat yang Tuhan berikan sekalipun tidak pernah sedikitpun kita meminta, berdoa, mengharap Tuhan berikan itu semua di dalam setiap waktu dimana dan kapan saja dan Tuhan sendiripun tidak pernah meminta bayaran dari kita. Kita berpijak dibumi, bumi ciptaan Nya. Kita menghirup udara, udara kepunyaan Nya. Kita meminum air, air milik Nya. Kita tercipta dari setetes air mani yang hina, air mani yang hina juga ciptaan Nya. Dan apa saja yang berada di muka bumi dan seluruhnya itu yang tidak sedikitpun sesiapa yang (harus) mengaku menguasai dan memilikinya terlebih lagi rasa hebat melibihi rasa hebat dari Tuhan yang menciptakan alam seisinya dimana apa yang kita lakukan itu kalau bukan atas kehendak dan keizinan Nya tentu tiada arti apa-apa. Semoga kita menjadi manusia yang selalu merasa bersyukur dan malu dengan Nya dan semakin kerdil dihadapan Nya. Saudara-saudaraku yang semoga selalu dalam rahmat dan keberkatan Nya, Mohon maaf sebelumnya jika dalam pengiriman email-email saya itu cukup mengganggu kesibukan dan menyita waktu anda. Terimakasih diatas merespon email-email saya dan saya bersyukur kepada Tuhan. Itu memberikan makna yang cukup dalam bahwa apa saja yang akan kita buat baik dalam bentuk perbuatan, perkataan (walau) dengan niat untuk di sharingkan dengan orang lain belum tentu orang lain menerima dalam arti belum tentu sama dalam penerimaan persepsinya. Itu baik dan tidaklah mengapa, disini saya merasakan kebesaran Tuhan. Abuya, guru mursyid saya yang selalu saya promosikan kemana-mana dan kepada siapapun yang saya kenal itu bagi saya dia manusia istimewa, ajaib dari sekian manusia ciptaan Tuhan dimuka bumi di zaman ini. Perlu saya jelaskan disini tentang pribadi Abuya itu, kalau kita perhatikan mulai dari ibadah, akhlaq, moral, ilmunya, hikmah, lisanul halnya (merealisasikan kebenaran yang diperkatakannya dalam bentuk nyata) memang tiada tandingannya. Sanggup menyatukan dari berbagai kalangan manusia yang berbeda suku bangsa, kaum, strata, agama, negara. Buktinya adanya rangkaian organisasinya yang dipimpinnya ada di 18 negara (Asia, Eropa dan Australia) dan ada 700 cabang dengan bermacam-macam aktifitas (ada klinik bersalin, klinik umum, apotik, pasaraya, minimarket, studio rekaman, kraf tangan, bengkel mobil dan las, outlet-outlet yang berada dimana-mana mall di kota-kota besar, hotel, penerbitan dan percetakan, pertanian, perkebunan, rehabilitasi anak kecanduan narkoba, restaurant dan cafe, pabrik chili sauce, kecap, boutique dan konveksi jahitan, sekolah mulai dari nursery bayi, play group tadika hingga universitas, pusat-pusat motivasi dll). Tiada seorangpun ulama zaman sekarang yang dapat membuat terobosan yang secanggih ini, dapat menggabungkan aktifitas ukhrawi/akhirat (kesufian) dan dunia (tekhnologi). Keluarganya mulai dari adik beradik, istri, anak, menantu, cucu, tidak seorangpun yang tidak ikut bersamanya. Bahkan membantu dan mendukungnya Dengan berbekal dan bermodalkan Tuhan sajalah usaha-usaha yang dibangunkan itu membesar dalam jangka waktu tak lebih dari 7 tahun. Tidak pernah meminjam dengan bank, hasil pinjaman/berhutang, donatur tapi benar-benar Tuhan sendiri yang membekali dan memberinya. Kan janji Tuhan sendiri bahwa bagi siapa yang bertaqwa maka Tuhan akan membantunya, membelanya, memberi ilmu, dikeluarkan dari segala masalah. Oleh itu Abuya mengajar kami jika berbuat sesuatu itu hendaklah karena Allah, ikhlas yang artinya tidak sedikitpun mengharapkan balasan dari manusia baik berupa pujian, sanjungan, gelaran terlebih lebih lagi untuk mendapatkan hadiah nobel (justru saya takut pemberi nobel kehabisan nobelnya, bahkan gelaran Prof, Phd dan DR malah makin memanjangkan deretan gelaran pada nama Abuya). Begitu pula senantiasa tidak kecil hati, bersedih hati jika ada orang yang mencaci maki, mhina dan mengkejinya yang hakekatnya pujian dan kejian itu datangnya dari Tuhan. Yang layak di puji hanya Tuhan saja dan memang pantas manusia itu mendapatkan kejian supaya semakin terasa bahwa manusia perlukan Tuhan. Apalagi untuk membalas kejahatan dengan kejahatan, tidakpun terlintas bahkan kalau mampu balasilah kejahatan orang lain itu dengan kebaikan, ini ajaran agama islam. Islam itu makna yang sebenarnya adalah agama yang selamat menyelamatkan (aman, damai, kondusif, berkasih sayang, tolong bantu, bertolak ansur, pemaaf dan memberi maaf, pemurah, sabar, rasa bersama dan bekerjasama dll). Jadi disini baru kita paham bahwa jika seseorang itu mengaku beragama islam tapi tidak mampu memberikan keselamatan pada diri, keluarga terlebih lagi kepada orang lain maka perlu dipertanyakan eksistensi beragamanya (islam). Jika sebut saja islam apabila manusia ini kenal dan cinta dengan Tuhannya maka mereka akan berkasih sayang sesama manusia, jika manusia itu kenal dan takut dengan Tuhannya maka mereka ini akan berbuat baik sesama manusia. Inilah yang dikatakan manusia itu bertaqwa. Dengan ketaqwaanya itu maka Tuhan akan beri kemakmuran baik dari langit dan bumi. Dari langit seperti yang dicontohkan diatas sementara kemakmuran bumi suburnya alam ini sehingga alampun bersahabat dengan kita. Sejarah islam cukup banyak memberikan pengajaran dan memberitahu kepada ummatnya betapa faktor taqwa itu penting. Termasuklah dalam penyelesaikan maslah-masalah yang sedang terjadi dimuka bumi ini, sebagai salah satu contoh bencana yang terjadi di negara kita seperti lumpur lapindo, meletusnya gunung di minahasa, longsor di kota solok, banjir, kasus maria eva, kematian alda, korupsi, peperangan, demonstrasi di mana-mana, dll lagilah . Tidak cukupkah ini semua Tuhan datangkan untuk menjadi pengajaran bagi kita. Masih mau mendabik dada lagikah bahwa Tuhan tidak mampu untuk menyelesaikan masalah-masalah itu semua yang mana pada hakekatnya atas keizinan Tuhan itu terjadi dengan mengklaim diri bahwa masalah-masalah ini hanya bisa diselesaikan oleh saintis dari amerika, rusia, eropah sedangkan mereka Tuhan yang menciptakan. Atau dengan kata-kata lain bahwa Tuhan itu tidak mempunyai urusan-urusan dengan dunia, kalaulah begitu cara kita berpikir maka betapa lemahlah Tuhan itu seperti ciptaan Nya, kalau lemah mengapa kita harus sujud dan menyembah kepada yang ada kelemahan seperti kita juga. Maha Suci Tuhan dari kelemahan. Pernah berlaku dalam pemerintahan khalifah Saidin Umar ibnu Azis (mujaddid kurun pertama) sebab ketaqwaanya bukan saja masyarakatnya aman, damai, makmur dan harmonis juga buminya sangat subur dan yang lebih aneh, ajaib adalah akrabnya kambing dengan serigala hingga bisa saling bercengkerama. Contoh yang lain pernah terjadi ketika kekhalifahan Saidina Umar al Khatab, ketika beliau menjadi amirul mukminin, di madinah ketika itu bumi sedang bergoncang, lantas beliau berkata sambil tangannya di letakkan ke tanah, "wahai bumi, engkau adalah hamba Allah, tentulah engkau taat dan takut dengan Allah, sedangkan akupun hamba Allah dan akulah amirul mukmnin, maka engkau taatlah kepada aku, berhentilah dari bergoncang", seketika itu pula berhentilah bumi dari bergoncang. Satu contoh lagi, masih di zaman kekhalifahan Saidina Umar al Khatab, di mesir sungai nil sejak zaman ke zaman sebelum kedatngan Rasulullah selalu menimbulkan bencana baik meluap ataupun mengering airnya sehingga cukup menyengsarakan rakyat mesir ketika itu. Maka sudah menjadi tradisi jika sungai nil membuat resah dan menyusahkan rakyat mesir, maka rakyat akan membagi tumbal seorang gadis dari kalangan mereka untuk dimasukkan ke dalam sungai nil agar menghentikan keresahan rakyat masa itu. Berita ini sampai kepada amirul mukminin, maka diantarlah seorang yang mewakili beliau yang bertaraf gubernur dan tinggal di sana yang bernama Amru bin Ash, apabila gubernur itu menyaksikan sendiri kejadian itu, maka diberitakan kepada amirul mukminin maka Saidina Umar mengirimkan sepucuk surat yang ditujukan kepada sungai nil dan dicampakkan surat itu ke dalamnya, isi surat tersebut berbunyi, "wahai sungai nil, engkau kan hamba Allah, tentulah engkau akan taat dan takut dengan Allah, sedangkan akupun hamba Allah dan akulah amirul mukminin, maka engkau taatlah kepada aku, berhentilah dari menyengsarakan rakyat mesir", seketika itu pula air sungai nil normal kembali sehinggalah ke hari ini. Memang, secara jujur kita memerlukan keajaiban di zaman ini dalam menyelesaikan berbagai masalah, akal kita sudah tidak mampu lagi. Marilah kita mengakui saja yang kita ini tidak ada apa-apanya, yang kita sebut-sebut dan kita agung-agungkan mereka yang ada kecanggihan hanya dari ilmu dunia saja yang itupun Tuhan juga memberikan kepadanya toh juga tidak bisa menyelamatkan kita baik di dunia maupun di akhirat (ampun maaf kadang kita mengagungkan orang yg memiliki kelebihan itu bukan pula yang mampu menyelamatkan orang lain bahkan dirinyapun di akhirat blm tahu nasibnya sebab disana hanya ada dua jalan saja). Sekarang ini, ketika Tuhan semakin menjauh dari diri kita, semakin kita mau untuk menggapainya semakin tenggelam, ketika tujuan hidup manusia sekarang ini semakin kabur, terasalah manusia memasuki alam kematian sebelum datangnya kematian. Kalau begitu apalah arti hidup tanpa pemimpin, guru mursyid, orang yang bertaqwa maka tidak adanya cahaya dalam kehidupan kita, tiada panduan, tiada panutan. Kalau seandainya tidak ada cinta dan kasih sayang kepada Tuhan segala yang kita miliki tentu tiada berharga lagi. Mustahil kita akan menggapai dan menuju Tuhan tanpa ada pimpinan, oleh sebab itu manusia hari ini harus mencari cara untuk dapat menuju jalan kebenaran, sampai mendapat pemimpin pembawa kebenaran, kalau perlu kita arungi 7 lautan dan samudera asalkan pemimpin pembawa kebenaran itu kita jumpai, ke barat dan ketimur juga kemana saja bahkan sanggup untuk merangkak diatas saljupun tidak mengapa asalkan mendapat pemimpin yang ajaib ini. "Oh, Tuhan, datangkanlah pemimpin yang telah Engkau janjikan, yang menjadi bayangan Rasulullah diakhir zaman, kami perlu keajaiban, kami yakin memang tidak mungkin dengan cara biasa. Juga tidak cukup dengan logika. Tuhan, kutagih janji Mu, walaupun dengan harus bersusah payah untuk menunggunya yaitu pemimpin ajaib yang datangnya hanya seratus tahun sekali Engkau datangkan, tetap kami menunggunya". Memanglah seperti yang Tuhan sebutkan bahwa kebenaran itu tidak ada dua, tiga, sepuluh dan seterusnya tapi kebenaran itu hanya satu semata-mata yakni yang datangnya dari Tuhan. Jadi, diatas keyakinan saya sekarang bahwa rupanya Tuhan telah memberikan jawaban Nya yakni dengan dihadirkannya Abuya itu, artinya saya mempromosikannya siap dengan konsekwensinya dengan terus akan di genggamnya keyakinan ini sekuat tenaga dan tidak akan dilepas walau badai topan datang menghalang dan menerjang, juga seribu satu ujian yang akan merintanginya, saya akan tetap setia bersama manusia ajaib ini, perlu diingat bahwa beliau bukan milik satu kalangan, kelompok terlebih-lebih lagi bukan milik saya sendirian tapi milik ummat akhir zaman, beliau adalah Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad Attamimi atau dalam istilah hadistnya disebut dengan gelaran Fata Attamimi (Putera Bani Tamimi). Semoga apa yang saya sampaikan ini ada manfaatnya (kalaupun ada). Yang penting saya telah melepaskan sesuatu yang saya ketahui untuk di sharing bersama, sebagai sebagian tanggung jawab saya yang Tuhan akan tanya nanti di akhirat. Seperti kata Rasulullah,"sampaikanlah dari ku walau satu ayat". Mhn maaf sekali lagi, semoga suatu saat nanti kita dapat bersama walaupun hanya sekedar persepsinya (wacana-wacanaan) saja. Itulah doa dan harapan saya tapi bagaimanapun juga Tuhan lah yang menentuka segala-galanya. Wassalam, _________________________________________________________________ Try Live.com: where your online world comes together - with news, sports, weather, and much more. http://www.live.com/getstarted [Non-text portions of this message have been removed]

