60 Tahun UNICEF
   
  Oleh: Peter Phillipp dari Berlin
   
  UNICEF menolong anak-anak di banyak negara miskin dan menjadi organisasi 
pembela hak anak paling terkenal di dunia.
     
  Usai Perang Dunia ke-2, Perserikatan Bangsa-bangsa mengadakan sidang umum 
pertamanya pada 11 Desember 1946. Saat itu, PBB sepakat membentuk organisasi 
untuk menolong anak-anak korban perang di Eropa. Kini, United Nations 
International Children’s Emergency Fund atau UNICEF telah memperluas program 
bantuannya dengan menitik-beratkan pada bantuan bagi anak-anak di negara 
berkembang.
   
  Lebih dari 8000 pekerja UNICEF tersebar di lebih dari 160 negara berusaha 
agar anak-anak dapat bersekolah, supaya anak-anak mendapatkan bantuan 
kesehatan, pangan atau air bersih. 
   
  Jaringan Logistik yang Fleksibel
   
  Di mana pun berada, di medan perang, wilayah konflik bersenjata atau di 
daerah yang terkena bencana alam, organisasi bantuan anak UNICEF selalu tiba 
paling awal di sana. Organisasi bantuan ini tidak hanya membantu anak-anak di 
dalam situasi krisis, namun juga membantu menyediakan air bersih, obat-obatan 
atau tenda darurat. 
   
  UNICEF dapat mengirim bahan bantuan dalam waktu 48 jam atau juga 
menyelenggarakan program bantuan jangka panjang, seperti penyediaan cairan 
vaksinasi atau kelambu anti nyamuk. Tentu saja diperlukan jaringan logistik 
yang amat besar. Mari kita menuju Kopenhagen. Ibukota Denmark ini ternyata juga 
menjadi pusat logistik UNICEF dan dari sanalah semua bahan bantuan dikirimkan 
ke seluruh dunia. 
   
  250 tenaga dari 60 kebangsaan bekerja di kawasan milik UNICEF di pelabuhan 
Kopenhagen. Bangunan gedung sumbangan dari pemerintah Denmark ini mengingatkan 
orang pada bangunan khas bangsa Viking, dengan langit-langit yang rendah. 
Kantor administrasi bangunan ini menghubungkan gudang raksasa seluas tiga kali 
lapangan sepakbola. Di sinilah paket-paket bantuan UNICEF dikemas.
   
  Jika di belahan lain dunia terjadi bencana alam, para pekerja gudang logistik 
UNICEF mengambil lembur kerja, karena dalam waktu 48 jam paket-paket itu sudah 
sampai di tujuan. Sandie Blanchet, juru bicara divisi logistik UNICEF yang 
ditemui di Kopenhagen menyebutkan apa saja yang dilakukan di gudang tersebut:
   
  Sandie Blanchet: "Yang kami kerjakan di sini, kami sering mengemas suplai 
bantuan bencana. Kami juga mengirimkan paket barang-barang seperti 10 ribu alat 
tulis, selain itu kami juga mengurus paket pengiriman sesuai kebutuhan. Seperti 
misalnya kotak paket alat kebutuhan sekolah dan bahan pengajaran untuk 80 anak 
dan seorang guru. Guru itu dapat mengajar 40 anak di pagi hari dan 40 anak di 
sore hari. Kami membeli barang-barang isi paket itu dari berbagai negara 
seperti Bulgaria, China, India, atau Jerman dan Meksiko. Jika sudah selesai 
dikemas, paket-paket itu dikirim ke seluruh dunia.“
   
  Anak-anak korban perang atau bencana alam tak jarang mengalami trauma psikis. 
Mereka juga kehilangan tempat bermain, sekolah atau bahkan teman-temannya. Jika 
di suatu daerah terjadi bencana alam atau peperangan, gudang logistik 
Kopenhagen juga dengan cepat mengirimkan paket-paket ke tempat-tempat 
pengungsian, misalnya paket mainan. Paket mainan yang dikemas di Kopenhagen ini 
memiliki efek pendidikan. Paket lain yang dikemas di pusat logistik Kopenhagen 
adalah campuran gula-garam alias oralit. UNICEF memiliki hak paten atas oralit. 
Di dunia, diare merupakan penyakit utama penyebab kematian bayi dan balita. 
Sandie Blanchet mengatakan:
   
  Sandie Blanchet: “Di negara berkembang, oralit merupakan masalah hidup dan 
mati. Sayangnya masih banyak anak yang meninggal gara-gara diare, penyakit 
sepele di Negara maju yang menyebabkan kematian ratusan ribu anak di 
Negara-negara miskin.”
   
  Kantung kecil seberat 28 gram tersebut sejak tahun 1970-an menjadi program 
standar UNICEF. Saat ini setiap tahunnya 40 juta kantung oralit dikirimkan ke 
seluruh dunia.
  Tiap-tiap paket dikemas sesuai kebutuhan. Dapat berupa obat-obatan, kelambu 
untuk kawasan epidemi malaria atau pangan khusus untuk bayi dan balita kurang 
gizi. Para pekerja UNICEF yang berada di tujuan pemberian bantuanlah yang 
menentukan barang diperlukan dan memesan barang tersebut di Kopenhagen. 
Blanchet mengemukakan:
   
  Sandie Blanchet: “Kami berusaha memaksimalkan dan mempermudahkan penggunaan 
produk. Produk tersebut terjangkau dan mudah didapatkan. Tidak perlu memakai 
buku petunjuk. Seperti misalnya menggunakan sabun. Namun hal itu dapat membuat 
perbedaan besar dalam hidup anak-anak. Mudah, murah, dan efisien. Itulah syarat 
utama pasokan bantuan untuk anak-anak.”
   
  Rak-rak tersusun rapi dan menjulang hampir setinggi bangunan dua tingkat di 
dalam gudang UNICEF Kopenhagen. Truk-truk pengangkut hilir mudik menjemput 
barang bahan bantuan untuk kemudian dikemas di ruangan pengepakan. Setelah 
dikemas, paket-paket bantuan itu dikirimkan dengan kapal laut. Sebanyak mungkin 
paket bantuan yang dikapalkan dan ditumpuk di pelabuhan transit. Begitu ada 
kebutuhan mendadak, paket-paket tersebut dikirimkan ke tempat tujuan. Kargo 
udara tidak digunakan UNICEF karena harganya yang mahal. 
   
  Dedikasi Pekerja UNICEF
   
  Bencana tsunami di Asia Tenggara atau gempa bumi di Pakistan membuat para 
pekerja di gudang Kopenhagen lembur 24 jam. Bagi karyawan tetap, bekerja di 
akhir pekan atau dalam tiga giliran merupakan kesadaran diri jika terjadi 
bencana di suatu tempat. Seperti yang diutarakan Mark, pekerja yang aktif di 
gudang UNICEF Kopenhagen selama 5 tahun:
   
  "Orang bekerja di UNICEF tidak untuk uang, namun juga untuk idealisme. Kami 
sudah tahu tugas kami untuk menolong orang yang memerlukan bantuan. Saya sangat 
senang dapat bekerja di sini.“
   
  Sebuah pekerjaan yang tak mungkin ditemukan di tempat lain. Bagus, yang baru 
saja mengepak bahan bantuan untuk Burundi tak mau menukar pekerjaannya dengan 
orang lain:
   
  "Jika tugas saya rampung, saya sangat bangga. Saya tahu, dengan ini saya 
dapat menolong orang lain. Saya senang dapat bekerja di sini. Tidak seperti 
pekerjaan lain yang dilakukan sama setiap harinya dan tidak dipikirkan setelah 
selesai. Di sini saya tahu apa yang kami bungkus, apa yang dikirimkan, dan ke 
negara mana dikirimkan di mana masalah berada.”
   
  Beberapa hari kemudian paket-paket yang dikemas Mark dan Bagus tiba di 
tujuan. Para pekerja gudang tersebut langsung melihat hasil karyanya di 
televisi. Sandie Blanchet bercerita:
   
  “Kami sering melihat langsung apa yang kami kerjakan. Setelah tsunami atau 
gempa bumi di Pakistan, kami melihat bagaimana paket-paket tersebut dikirimkan. 
Beberapa hari kemudian kami melihat di televisi paket-paket itu dibagikan 
kepada anak-anak dan para ibu. Saya rasa di sini sebagian besar kami merasa 
kerja kami sangat berarti bagi anak-anak. Kami bangga dapat memberikan bantuan 
nyata bagi perempuan dan anak-anak.“


 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke