Gumam Kembara 104. SEHELAI DAUN JATUH DI JENDELA sehelai daun membentur jendela keretaku berlari meninggalkan selatan dari air hujan membasah kaca kutahu di luar sedang ada topan daun dan tetes itu pun hilang sendiri di dalam gemuruh deru kulihat lalu kesemenaan kekuatan melibas yang tak berdaya nurani yang tumpul menetapkan adat baru aku hanya bisa menggumamkan lirik-lirik spontan bergumam sepanjang kembara di mana aku bagai daun dan tetes hujan di jendela negeri tak obah lambang ketidakacuhan kereta kemelut kutumpangi sehelai daun membentur jendela keretaku berlari meninggalkan selatan langit kelabu semata. kabut di sawah. kabut di atas hutan dan kaca jendela di mana kutulis gumam kembaraku mencatat peristiwa demi peristiwa deras bagai hujan sambil mencari cahaya bulan di baliknya tersimpan Paris, Desember 2006. 105. KISAH SEORANG LELAKI YANG DIBUNUH GARDA NEGERI semalam di sini terjadi pertempuran dahsyat mayat bergelimpangan memancing serigala turun dari rimba seorang lelaki baru turun dari kereta memakamkan mereka "dudu sanak dudu kadang nyen mati aku sing kelangan" di nisan sederhana mereka lelaki itu menuliskan epitaf: "anak negeri" anyir tangannya oleh garda negeri dijadikan bukti dia seorang pembunuh kemudian lelaki itu ditembak mati di tempat serupa di bawah purnama malam dan bulan yang tahu terperangah akan peradaban berkembang di sini pada hitam malam pada cahaya bulan kulihat tetesan luka lelaki itu juga pada siang dan mataharinya memuncak pada senja di epitaf salib nisan kubaca: "anak negeri" Paris, Desember 2006 ----------------------------- JJ. Kusni
Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]

