Wah, si oom telat. terpaksa kudu kirim lagi nih :p
dari oom nadirsyah hosen <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > 2. Hadits yang berasal dari Husain bin Harits Al Jadali, yang > menyampaikan : > > "Bahwasanya Amir Makkah (Wali Makkah, yakni Al Harits bin Hathib) > berkhutbah dan menyatakan : `Rasulullah SAW berpesan pada kami (para > wali Makkah) agar memulai manasik (haji) berdasarkan ru`yat. Apabila > kami tidak melihat (ru`yat)nya, sementara ada dua orang yang adil > menyaksikan (munculnya hilal) maka kami harus memulai manasik dengan > kesaksian dua orang tersebut." > (HR. Abu Daud). > Nadir: Hadis di atas layak dibahas lebih lanjut. Sunan Abi Dawud meriwayatkan hadis tsb dalam bab "puasa", dan dalam sub- bab "kesaksian dua lelaki dalam me-ru'yat hilal syawal". Ini saja sudah menimbulkan kerancuan. Kalau hadis di atas dipahami dalam konteks ibadah haji, mengapa Imam Abu Dawud tidak meletakkan hadis tsb dalam bab Haji? Kontroversi muncul akibat kata n-s-k yang dua kali disebut dalam matan hadis tsb (an nansuka dan nasakna). Pengarang 'Aunul Ma'bud memahami kata tsb sebagai manasik haji, sedangkan ulama lain (misalnya pengarang Nailul Awthar) memahaminya sebagai ibadah, yaitu puasa Ramadhan. Penjelasan 'Aunul Ma'bud memang membingungkan. Selain menganggap hadis ini bicara manasik haji, kata ru'yat dalam matan ini --yang dipahami oleh Imam Abu Dawud sebagai ru'yat hilal syawal-- digeser artinya sebagai ru'yat hilal zil hijjah. Penjelasan spt ini ditolak oleh ulama lainnya. Jadi, menurut sebagian ulama, hadis di atas tidak bisa digunakan sebagai argumen untuk menaati keputusan Amir Mekkah dalam hal Idul Adha. Hadis ttg bulan Ramadhan kok mau dijadikan justifikasi untuk Idul Adha? Begitu kira-kira jalan pikiran kelompok ini. Di Indonesia, meskipun NU dan Muhammadiyah berbeda dalam hisab-ru'yah namun mereka sepakat bahwa Idul idha itu bersifat lokal. Untuk menentukan tgl 10 zulhijjah, maka harus tahu tanggal 1-nya. Dan tanggal 1 Zulhijjah itu bersifat lokal alias bisa berbeda-beda tergantung posisi bulan di masing-masing negara (sesuai dengan hisab atau ru'yahnya). Kalau terjadi perbedaan dalam menentukan tgl 1 maka tgl 10-nya juga berbeda. Walhasil, Idul Adha, seperti Idul Fitri, berbeda-beda waktunya di berbagai negara. Mereka berpendapat tidak ada hubungan antara wukuf tgl 9 dengan Idul Adha tgl 10 di Saudi. Wukuf memang berkaitan dengan hari arafah (dan tempatnya di Saudi Arabia) sedangkan Idul Adha dilaksanakan tanggal 10 di seluruh dunia [tidak terikat pada pelaksanaan Idul Adha di Saudi]. Berbeda dengan wukuf, Idul Adha itu ibadah yang tidak terikat dengan tempat tertentu. Idul Adha tidak termasuk dalam rangkaian ibadah haji. Dengan kata lain, idul adha itu TIDAK termasuk bagian dari rukun dan wajib haji. Ada kelompok lain (Dewan Dakwah Islamiyah, Partai Keadilan Sejahtera, Hizbut Tahrir dan yang lainnya) memandang bahwa Idul Adha itu bersifat global alias mengikuti ketentuan Pemerintah Saudi. Menurut mereka, untuk tahu tgl 10, maka harus tahu tgl 9 Zulhijah. Nah, karena 9 Zulhijah itu hari Arafah, maka mereka mengikuti keputusan pemerintah Saudi akan kapan hari arafah itu. Patokannya sederhana, satu hari setelah wukuf di Arafah adalah Idul Adha. Konsekuensinya, meskipun tgl 1 Zulhijah di Australia, di Jerman dan di belahan lain berbeda dengan tgl 1 Zulhijjah di Saudi (karena perbedaan posisi bulan di masing-masing negara itu), namun tanggal 10 Zulhijahnya "tiba-tiba" jadi sama. Untuk lebaran haji ini mereka tidak pakai hisab dan ru'yah, pokoknya ikut saja apa keputusan Saudi. Akhirnya kalender mereka jadi membingungkan: utk 11 bulan lainnya mereka ikut peredaran bulan di lokasi masing-masing, tapi khusus bulan Zulhijjah mereka ikut kalender Saudi. Boleh jadi di sebuah negara bulan zulqaidah baru tgl 28, tapi karena memaksa diri ikut Saudi, keesokan harinya lansgung lompat ke 1 Zulhijjah [padahal jumlah hari dlm 1 bulan harus minimum 29). Atau sebaliknya, boleh jadi ada negara yg menurut hisab atau ru'yah lokal sudah masuk tgl 1 Zulhijah, tapi terpaksa mundur menjadi tgl 28 atau 29 Zulqaidah; atau mereka sudah masuk tgl 9 Zulhijah tapi "terpaksa" mundur sehari jadi 8 Zulhijah. Ini semua dilakukan agar 10 Zulhijah bisa sama dengan kalender Saudi. Tentu saja ini semua bertentangan dengan kaidah ilmu pengetahuan! Kalau dibikin simulasi virtual jadi "seru"....peredaran atau posisi bulan di wilayah Indonesia, misalnya, tiba-tiba "lompat" karena harus sesuai dg kalendar Saudi. BTW, pernah terlintas nggak dibenak kita bahwa siapa tahu Saudi yang keliru menetapkan hari wukuf? Di saat posisi bulan secara astronomis tidak mungkin kelihatan, namun ada yang mengaku bisa melihat bulan. Boleh jadi bulan yang dilihat adalah bulan yang berwarna merah jambu seperti lagu Kla Project:-) Kalau pemerintah Saudi tidak kenal dengan Kla Project, mungkin mereka kenal dengan Imam al-Subki yang mengatakan: andaikata semua ahli hisab telah sepakat bhw bulan tidak mungkin dilihat, dan kemudian ada yg mengaku melihat bulan, maka kesaksiannya harus ditolak. Itulah yang sering terjadi di Saudi Arabia. Perhitungan astronomis menunjukkan bhw bulan masib berada di bawah ufuk, namun di Saudi ada yg mengaku melhat bulan. Ini jelas tidak masuk akal. Anehnya, kesaksian yang tidak masuk akal begini malah diterima oleh pemerintah Saudi --dan cilakanya diikuti begitu saja oleh sebagian ummat Islam. Mungkin ada yang mau klik http://www.ummah.net/moonsighting/fatawah.htm dimana akan ditemukan sejumlah fatwa yang mendukung lebaran lokal termasuk dari ulama Saudi sendiri yang meminta negara lain tidak ikut Saudi. Mungkin untuk pendukung lebaran lokal motto mereka adalah "think globally, act locally" :-) Menurut saya, keputusan NU, MUI, Muhammdiyah dan Depag untuk berlebaran haji menurut hitungan dan ru'yah lokal sudah tepat. Sementara kalau ada yang mau kalendernya "tiba-tiba" di-adjust dg kalender Saudi khusus utk 10 Zulhijah ini, ya silahkan saja :-) kesimpulan saya: pendukung kalendar Saudi ini punya dasar syar'i (meski debatable), tapi tidak didukung oleh kajian ilmiah [yang ini nggak bisa dibantah:-)]. Jadi, memilih idul adha secara lokal (bukan global) didukung oleh syar'i dan kajian ilmiah sekaligus. Ini artinya, saya pribadi memilih pendapat yang didukung oleh syara' dan pada saat yang sama diback-up oleh kajian ilmiah. Wa Allahu a'lam bi al-shawab salam hangat, =nadir= On 12/26/06, Iwan Wibawa <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > kalo dalilnya atau hadistnya bahwa idul adha haruslah setelah wukuf > mestinya kita harus mengikuti apa yang terjadi di arafah. > anehnya di kita koq pake hilal dan hisab lagi...keblingernya depag dan > ustad-ustad kita kalo begitu...keblinger bener-bener ... > pantesan dikasih bencana terus ...abis keblinger... > > salam > iwan > > > aris solikhah <[EMAIL PROTECTED] <fm_solihah%40yahoo.com>> wrote: > Apakah informasi ini benar? Wukufnya berarti wukufnya > hari Jumat. Jika informasi ini benar, adalah > seharusnya umat Islam seluruh dunia sama juga idul > adha-nya hari Sabtu juga. > > Idul Fitri kita bisa berbeda pendapat tergantung > dalil terkuat masing-masing. Sedangkan untuk idul > Adha, penetapan hari raya setelah pelaksanaan > wukuf-nya. Kemungkinan kecil untuk saling beda > pendapat. wallahualam bishawab > > --- riyan mangkura <[EMAIL PROTECTED] <riyan_mangkura%40yahoo.com>> > wrote: > > > Sabtu, 23-12-2006 > > Saudi Idul Adha Sabtu, RI Minggu > > > > * Wukuf di Arafah Jumat, Tahun Ini Haji Akbar * > > Sebagian Besar Negara Muslim Ikut Saudi * Malaysia > > Tetapkan 31 Desember * NU Ikut Kalender, > > Muhammadiyah Tunggu Keputusan PP > > > > Riyadh, Tribun -- Pemerintah Kerajaan Arab Saudi > > memutuskan pelaksanaan Wukuf di Arafah, Medinah, > > sebagai puncak ritual ibadah haji tahun ini jatuh > > pada hari Jumat, 29 Desember 2006 mendatang. > > > > http://www.tribun-timur.com/index.php > > > > __________________________________________________ > > Do You Yahoo!? > > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam > > protection around > > http://mail.yahoo.com > > > > [Non-text portions of this message have been > > removed] > > > > > > Bila lidah kelu, tulisan menjadi perlu > Pena lebih tajam dari pedang > Tinta seorang berilmu lebih mulia dari darah seorang syahid > > pustaka tani > nuraulia > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]

