Mas Ikhsan,

Bukannya (banyak yang bilang) 'pasar' berkuasa atau biarkan mekanisme pasar
bekerja?
Yang jelas sih bukan pasar induk atau pasar minggu.. :-p
Lagipula apa yang baik di luar (mis: sehatnya ekonomi) sulit untuk
diterapkan di Indonesia..

Mengapa? Karena kondisi (kesehatannya) beda.. lihat saja Thailand dan Korsel
cepat
sembuh dari krismon.. Kita? Sudah memberikan hasil pilpres yang sesuai
dengan kemauan
asing, masih saja belum sembuh".. Gimana kalau hasilnya seperti Iran? :-P

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

On 12/20/06, Mohamad Ikhsan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Mas Arcon itu bukan karena deposito tanpa bunganya, tapi karena
> kebijakan kontrol devisa yang diterapkan. Akibat adanya pelemahan mata
> uang yang pada gilirannya disebabkan semakin rendahnya kepercayaan
> investor terhadap ekonomi dan junta militer yang berkuasa.
>
> Jadi tidak ada hubungannya whatsoever dengan ekonomi yang Islami.
>
> Saya pesimis langkah yang tergolong kontroversial ini bisa jadi terapi
> di sana. Tapi kita wait and see saja.
>
> Saya pikir semua pengambil kebijakan dan pengamat ekonomi Indonesia
> juga sedang menatap tajam-tajam apa yang terjadi disana. Ini satu
> preseden yang bisa jadi pelajaran, atau bila tidak diwaspadai juga
> bisa jadi musibah.
>
> Salam,
>
> --- In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>, "Ari Condro"
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Hebat Thailand bikin kebijakan deposito tanpa bunga
> >
> > pasar modal langsung ambruk
> > dan pasar modal di indonesia ikut ambruk ...
> > padahal thailand kan bersikap islami :D
> >
> > gimana nih, aturan Islami diterapkan,
> > kok ekonomi malah gunjang ganjing.
> > Ya Allah, tunjukkanlah kuasa-Mu ....
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke