esai dari asahan aidit patut dibaca oleh mereka yang masih percaya pada gerakan
anti penindasan.
salam, heri latief
amsterdam, 26/12/2006
BISAI <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: "BISAI" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: KEMBANG KEMBANG GENJER...
Date: Tue, 26 Dec 2006 00:17:45 +0100
ASAHAN AIDIT:
KEMBANG KEMBANG GENJER...*
yang bertumbuhan di atas tanah
pekuburan massal
ciptaan ORBA
Yang paling baik dalam mengungkap sejarah kelam suatu bangsa adalah bangsa
itu sendiri. Kesedaran untuk jadi bangsa beradab tidak terlepas dari kesedaran
mengetahui sejarah bangsanysa sendiri di semua seginya yang kelam maupun yang
jaya.
Di tangan saya, sebuah buku yang baru terbit buah tangan Fransisca Ria
Susanti: "KEMBANG KEMBANG GENJER". Sebuah buku menarik yang saya baca dalam
satu tarikan nafas tapi yang menimbulkan kesan mendalam tentang pendertaan,
rasa sakit, tragedi bangsa dan keluarga, kekejaman dan kebuasan manusia atas
sesama manusia, penyiksaan, kebrutalan terhadap kaum lemah: PEREMPUAN dan
gadis-gadis remaja oleh satu rezim balas dendam politik dan agama yang tak
terperikan dahsyat dan kejinya.
Pengalaman 13 perempuan yang dituturkan dalam buku ini adalah pengalaman
penyiksaan, pelecehan yang dirasakan oleh mahluk-mahluk yang tanpa dosa, tidak
mengetahui apa kesalahan mereka dan bahkan ada yang hanya karena salah tangkap
dalam peristiwa politik dan perebutan kekuasaan G30S-65 di Indonesia. Belasan
tahun meringkuk dalam penjara yang sebagaian terbesar tanpa pernah dihadapkan
ke meja pengadilan dengan penyiksaan luar biasa sedangkan anak-anak dan
keluarga mereka yang di luar penjara harus menanggung beban yang tak
terperikan beratnya dalam mengasuh, memelihara anak-anak yang ibu bapanya
ditangkap dan dipenjarakan selama belasaan tahun
Organisasi Perempuna GERWANI yang dicap onderbouw-nya PKI dan ditambah satu
lagi sebagai organisasi para pelacur yang sadis dan kejam, menyilet dan
memotong kemaluan para Jendaral yang ditangkap dan dibawa ke LUBANG BUAYA, yang
dalam kenyatanannya adalah cuma "Maling teriak maling" tapi yang sesungguhnya
sudah "Biadab teriak biadab" yang itu telah dibuktikan di semua ruang
interogasi dan para interogator.
Fitnah dan bohong adalah ideologi semua penyiksa dan rezim diktator waktu
itu. Para ideolognya dipersenjatai dengan sen -jata sungguhan, spier,
kebrangasan, tanpa ampun dan tanpa moral: sering memperkosa perempuan-perempuan
yang diperiksanya disamping sebagai pendukung setia PANCA SILA (Kesaktian
Panca Sila). Metode fitnah dan bohong mereka sangat sederhana: berani
menjejalkan yang paling tidak masuk akal sekalipun atau bohong tingkat paling
rendah sekalipun asal dengan kegigihan dengan pertolongan koran-koran dan
media lainnya, bahkan dengan film untuk memaksa massa agar percaya, secara
terus menerus dengan mutlak suara tunggal, mutlak tabu sanggahan, mutlak harus
diakui sebagai kebenaran yang jika tidak celakalah seluruh hidupmu, keluargamu,
teman-temanmu dan bahkan seluruh sisa-sisa generasimu.Sebuah goresan sejarah
kelam bangsa yang ditulis dengan darah di dinding-dinding semua penjara dan
ruang penyiksaan: Kekuasan, senjata dan rezim politik adalah penyangga semua
kebohongan dan fitnah dan akan dijadikan ideologi seluruh massa rakyat. Dan
lalu buta tuli terhadap kutukan Internasional, opini Internasional dan bahkan
Amnesti Internasional.
Tapi sebuah panggung politik yang betapapun kejam dan merosot moralnya ,
betapapun pernah kuat dan jaya, betapapun luas gurun kuburan massal yang
ditinggalkannya, ia tidak akan ujud selama-lamanya dan ia pasti tumbang suatu
waktu dan pada waktunya ia akan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya,
tidak ia yang langsung berhadapan, anak cucunya yang akan berhadapan. Ini tidak
semata logika sejarah tapi juga dinamika kehidupan, tak satu rezimpun yang bisa
lolos, mau atau tidak mau.
Ketika saya membaca buku ini (Kembang Kembang Genjer) saya lalu teringat apa
yang pernah saya dengar dari pengalaman-pengalaman revolusi Vietnam dalam
melawan kaum Kolonialis Perancis lalu Fasisme Jepang dan terahir Agresi Amerika
Serikat. Rakyat dan kaum revolusioner adalah sasaran kekejaman musuh, sasaran
pembunuhan dan penangkapan musuh, sasaran penghancuran dan pelikwidasian musuh.
Puluhan tahun saya mendengar sejarah kekejian, kekejaman, darah dan penjara dan
sebagian juga saya baca dalam buku-buku, dokumen dan juga karya-karya sastra.
Semuanya adalah catatan sejarah yang telah diabadikan oleh rakyat Vietnam
dengan kemenangan gemilang meskipun dengan pengorbanan yang luar biasa besar
dan pahitnya.
Rakyat Indonesia baru memulai membongkar dan menguak sejarah yang dikelamkan,
digelapkan, dipalsukan oleh penguasa mereka selama puluhan tahun. Rakyat
Indonesia belum mencapai kemenangan dalam melawan penindasan, pemerkosaan,
ketidak adilan yang telah dideritanya entah berapa abad yang lalu oleh para
penguasa yang saling berganti, asing maupun bangsa sendiri.
Tampa sejarah yang benar, suatu bangsa tidak mungkin melanjutkan hari
depannya dengan gemilang, tidak mungkin menempuh jalan kemenangan dalam
perjuangannya merebut kebebasannya sendiri. Dengan sejarah gelap dan kelam
tidak ada satu perjuanganpun yang akan berhasil dan menang, sama halnya dengan
para penggelap dan pemalsu sejarah bangsanya, mereka tidak akan pernah bisa
ujud lama dan akan selalu terjungkal. Karna sejarah adalah pedoman, kompas
sesuatu bangsa dalam perjalanannya ke kehiduapan yang lebih sempurna dan ideal.
Buku Fransisca Ria Susanti ini adalah juga sejenis buku penguak, penerang,
dan juga pembongkar sejarah gelap yang masih terus digelapkan oleh penguasa
ORBA dan para pendukungnya. Kita masih terlalu banyak memerlukan tulisan
seperti ini,masih terlalu, terlalu banyak kita perlukan. Dan sekarang sudah
seperti berlomba dengan waktu. Terlambat berarti kehilangan data-data sejaraah
yang tak ternilai harganya. Manusia menua dan mati. Sedangkan manusia adalah
sumber hidup dari sejarah itu sendiri. Karenanya sebelum mati dan sirna dari
kehiduapan ini, sejarah harus tercatat lebih dahulu dengan berbagai cara,
dengan berbagai alat dan dengan berbagai kesempatan. Motto kita adalah: Mereka
menggelapkan kita menerangi. Mereka memalsukan, kita memurnikan. Tidak ada
jalan lain dan di sini pula terletak antara kalah dan menang dalam pertarungan
yang menentukan ini.
Fransisca adalah seorang Jurnalis di bidang profesinya. Sebagai Jurnalis,
terasa tulisannya sangat professional. Tapi yang saya tangkap dari gaya
tulisannya, iapun punya gaya seorang sastrawan, tulisannya terkadang seperti
kita membaca sebuah cerpen dan di sini saya lihat keunggulan Fransisca dalam
menulis penuturan dalam bukunya. Bahasanya baik, tidak terkesan memaksa-maksa
diri menulis dengan bahasa ingin lain dari yang lain. Saya punya kesan buku ini
enak dibaca dengan penuturan yang lancar yang membuat pembaca otomatis ingin
meneruskan bacaannya hingga selesai. Dan ini sebuah keberhasilan dan sukses.
Saya kira buku ini sangat patut dimiliki bukan hanya bagi orang-orang yang
punya minat terhadap peristiwa korban 65, tapi bagi semua orang yang ingin
mengetahui apa itu kekejaman, apa itu penderitaan, apa itu manusia tanpa peri
kemanusiaan dan yang terpenting lagi apa itu politik keji dan kotor. Semua itu
ada dalam buku Fransisca ini.
Saya hanya ingin mengucapkan selamat membaca buku yang bagus ini.
* Fransisca Ria Susanti : "KEMBANG KEMBANG GENJER"
Penerbit: SASTRA PEMBEBASAN
Kata Pengantar: Prof.Dr. E. Wieringa
Dr. Asvi Warman Adam
Terbitan Pertama September 2006, 169 halaman.
asahan
Hoofddorp,
25122006
http://www.geocities.com/herilatief/
[EMAIL PROTECTED]
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
Informasi tentang KUDETA 65/Coup d'etat '65
Klik: http://www.progind.net/
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]