Jurnal Awam Seorang Apsasian*:

"LE JOUR COMME LES AUTRES"



Dengan menjinjing belanja menghadapi libur dua hari  Tahun Baru, aku sengaja 
menghampiri tokobuku Buch Laden , tokobuku bahasa Jerman, di rue de Burg, 
terletak hanya beberapa ratus meter dari apartemenku di Montmartre, Paris 
XVIII.  Oleh seringnya aku masuk ke tokobuku ini, membuat kami jadi berkenalan 
dan bersahabat. Ia tahu benar buku yang kucari dan kugemari. Jika ada buku-buku 
demikian, ia selalu menyisihkannya untukku. Pembantunya adalah seorang 
perempuan setengah baya yang pernah bekerja di Kedutaan Besar Jerman di 
Jakarta. Ia mengenal baik Habibie dan kisah-kisahnya. Sedangkan pemilik 
tokobuku ini, meninggalkan Jerman pergi ke Perancis bersama orangtuanya ketika 
Jerman dikuasai oleh Nazi Hitler. Ia juga seorang penterjemah karya-karya 
sastra: Jerman-Perancis, Perancis-Jerman. Kemudian Perancis pun diduduki 
Hitler. Dalam situasi ini, berdasarkan buku-buku yang ia terjemahkan, kuduga ia 
bergabung dengan kaum "Resistance" [pejuang anti Nazi] Perancis. Montmartre 
dengan segala cabaret, komplek lampu-merah, tempat-tempat hiburan dan 
café-cafénya,  merupakan salah satu sarang mata-mata dan perlawanan.  Dari 
tokoh perempuan ini aku melihat arti nasion dan hubungannya dengan kemanusiaan. 
Baginya, nasion berada di bawah nilai kemanusiaan dan tidak bisa dipisahkan 
dari nilai kemanusiaan. Nasionalisme tanpa kemanusiaan akan menjadi sejenis 
nazi-isme.


Merasa sudah mengenal  dekat perempuan ini, maka petang 31 Desember itu aku 
menyempatkan diri mampir ke tokobukunya sekedar menyampaikan ucapan harapan 
agar Tahun Baru 2007 bisa memberikannya ujud kongkret dari segala  keinginan 
serta mimpinya.  Ia tahu bahwa aku sengaja menghampirinya dan ia pun 
menyambutku hangat sebagaimana biasa saban aku datang.


"Apakah kau akan berlibur di hari Tahun Baru?" tanyaku


Dari atas tangga, sambil menata buku-buku, ia menjawabku:


"Kau tahu, aku tidak akan libur. Kerja. Apa bedanya hari Tahun Baru dengan 
hari-hari lain? Hari Tahun Baru tak beda dengan hari-hari lain. "Le jour comme 
les autres". 


Pandangannya ini sudah lama kukenal. Dan kami saling bertukar tawa.  


Sambil berjalan menuju apartemen kecilku, melewati beberapa galeri senirupa,  
aku berpikir tentang ucapan  perempuan setengah baya itu: "les jour comme les 
autres".


Aku tidak ingin memutlakkan pendapatku. Juga tidak ingin menerima mentah-mentah 
pandangannya yang kuhormati. Ia membuatku berpikir. Aku berpikir keras dan 
terus merenungi kata-katanya sebagaimana sering aku merenungi ucapan-ucapan 
orang di pasar,  penjual ikan, keju, sayur-mayur, bahkan para gelandangan di 
bangku-bangku taman yang menyebut diri mereka sebagai "les braves de Paris" [ 
para pemberani kota Paris] kebanggaan kota. Dan memang, dalam buku-buku 
pelajaran mula bahasa Perancis, tokoh gelandangan [clochard] kota turut 
diperkenalkan. Dari orang-orang lapisan bawah ini, sering kudapatkan 
pandangan-pandangan yang tak ubah bagaikan tetes-tetes butir mutiara, seperti 
yang dikatakan oleh Victor Hugo ketika berbicara tentang seorang pelacur.  
"Jangan pandang ia dengan sebelah mata karena ia menjual tubuhnya". Orang-orang 
ini kutemukan sebagai penarung gigih tanpa menyerah di hadapan kegarangan 
hidup. Dan dari kancah perlagaan ini mereka menemukan butir-butir mutiara 
kearifan, lalu diungkapkan dalam kata-kata spontan sederhana. Ini yang kusebut 
kearifan massa. Puisi pun lahir tanpa menyebutkannya bahwa itu adalah puisi.


"Le jour comme les autres". Benarkah hari mengakhiri tahun lama dan memasuki 
tahun baru adalah "le jour comme les autres"? 


Aku melihat toko-toko bahkan café tidak sedikit yang tutup, apalagi di masa 
Perancis berada dalam krisis ekonomi. Hiasan Natal dan Tahun Baru di 
jalan-jalan kota, sekarang pun tidak sesemarak tahun-tahun sebelumnya. Krisis 
ekonomi negeri ini kulihat benar melalu para pelanggan Koperasi Restoran 
Indonesia. Tidak jarang sepasang pelanggan, hanya memesan satu porsi sate [lima 
tusuk] dan gado-gado sepiring. Atau bahkan hanya soto ayam dan nasi. Keadaan 
yang tidak pernah terjadi semasa Perancis menggunakan Franc Perancis dan belum 
menggunakan Euro seperti sekarang. Tapi  makan di restoran sudah membudaya di 
negeri ini. 


Akhir tahun adalah masa melakukan neraca kegiatan. Apakah arti pembuatan neraca 
ini? Apakah arti almanak [kalender] dalam budaya manusia, jika hari tahun baru 
memang "le jour comme les autres"? Kalender, barangkali adalah usaha manusia 
untuk mensistematikkan kehidupannya, menyimpulkan pengalaman, dan barangkali 
juga keinginan memelihara harapan serta menetapkan rancangan nalar menggapai 
harapan-harapan itu. Kalender [dalam berbagai bentuk] membuat kita mengenal 
tahun lama, tahun baru, hari ini dan hari itu. Atas dasar sistematisasi itu, 
kita lalu membuat ancang-ancang ke depan berdasarkan segala apa yang sudah 
dicapai. Ancang-ancang adalah suatu harapan. Ancang-ancang memperlihatkan 
betapa pentingnya harapan dan mimpi.


Tahun Baru dan Lama yang dilahirkan oleh kalender adalah bagian dari 
sistematisasi waktu yang dibuat oleh manusia untuk memanusiawikan diri 
terus-menerus.  Dari adanya kalender, Tahun Baru dan Lama, aku juga melihat apa 
yang dikatakan oleh grup sejarawan Annales [Annales, adalah nama sebuah majalah 
ilmiah, terbit di Paris], Paris, bahwa masa silam, hari ini dan esok serta esok 
lagi adalah suatu kesinambungan. Hari ini dipengaruhi oleh masa silam, dan hari 
ini menentukan esok. Grup Annales melihat, bahwa antara ketiga kurun waktu itu 
ada hubungan dialektis. Pemutihan sejarah, jadinya sama dengan pemenggalan 
hubungan dialektis ini dan menyangkal kenyataan. Penyangkalan ini bisa 
berdampak besar, bahkan berdarah serta mengingkari pemanusiawian manusia, 
kehidupan dan masyarakat. Menyeret kita ke belakang yang jauh sebagaimana 
tindakan para sektaris dan mutlakisme.  


Di jalan pulang ke apartemenku, merenungi apa yang dikatakan oleh pemilik 
tokobuku Buch Laden, tetanggaku itu,   bahwa tahun baru  adalah "le jour comme 
les autres", kukira tidak sepenuhnya bisa kusepakati. Apalagi kulihat ia sibuk 
menata ulang tokobukunya agar beda dari tahun silam.  Barangkali ucapannya 
bahwa tahun baru adalah "le jour comme les autres" merupakan ungkapan dari 
beratnya kehidupan di Paris hari ini dan penduduk diniscayakan berlaga tanpa 
jeda. Ucapan ini seakan suatu pertanyaan skeptis: Tahun Baru menjanjikan apa 
yang lebih baik? Perempuan pemilik tokobuku itu menjawabnya dengan kerja keras 
seperti "le jour comme les autres". Meyakini: akulah yang memetakan jalan hidup 
dan kehidupanku!  Lonceng gereja bukit Montmartre  yang sepi menjelajahi 
sendiri jalan-jalan beku dan dingin sampai di depan kaca tokobukunya.  Waktu 
dan Tahun Baru jadinya nampak seperti tanah hutan perawan yang patut diolah 
menjadi ladang, dibantu secara psikhologis oleh tangkupan tangan. Indonesia: 
Apakah yang kau janjikan padaku di tahun ini di tengah sektarisme, dendam, 
aprorisme, pemonopolian, keterbelakangan yang tak kunjung surut dan kadang 
dibanggakan sebagai prinsip?  Kutanyakan hal ini karena aku mencintaimu, tapi 
tinggalan masa silam  serta hari ini masih saja  mencibiri cintaku.  Tercium 
amis darah di cibirannya. Kuendus bau darah dan tulang saudaraku di mulutnya, 
jika menggunakan baris-baris Fédérico Garcia Lorca, penyair Spanyol yang 
dibunuh oleh fasis Franco pada masa perang sipil tahun 36an.


Di Tahun Baru ini, yang ingin kutanyakan, tanpa menangkup tangan, apalagi 
menyembah membuang hak dasar: Kapankah republik menjadi republik, Indonesia 
menjadi Indonesia, presiden menjadi presiden Republik Indonesia!? ***



Paris, Januari 2007. 
--------------------------
JJ. Kusni


Catatan:
* Apsasian, anggota Apsas, Apresiasi Sastra.  Sebuah milis yang mengkhususkan 
diri dalam soal sastra. Terutama dalam belajar sastra secara bersama-sama.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke