salam,
   
  tentang "islam yang beraneka" (ada islam moderat, dan moderat dibagi lagi 
kedalam beberapa bagian) ini, saya jadi teringat dengan pesan-pesan yang 
disampikan oleh Ust. Hussain Yee, yang mengatakan bahwa sebenarnya islam itu 
satu. dan adapun perbedaan yang ada dalam islam itu sebenarnya sangat tipis 
sekali. perbedaan-perbedaan yang ada itu adalah hasil ciptaan manusia belaka 
dan akhirnya.... setelah islam itu dikotak-kotak sedemikian rupa, manusia itu 
bingung sendiri dibuat oleh ulahnya.
   
  secara pribadi saya memandang bang pradana adalah orang yang cerdas, kiranya 
bang pradana bisa turut membantu "mencerahkan" sebagian teman-teman Muslim yang 
baru "merangkak" mengenal islam. kata Hussain Yee, bila anda ragu-ragu mengenai 
Islam, kembalikan saja pada Al-Quran dan Sunnah Rasul, dan buang semua perkara 
yang meragukan serta berpeganglah kepada kepada hal-hal yang tidak meragukan 
itu. 
   
  saat ini banyak orang yang berpendapat bahwa "islam yang ini moderat" dan 
yang "itu fundamentalis," padahal yang menjudge moderate dan fundamentalis itu 
semua kan adalah manusia juga, mengapa tidak kita kembalikan saja kepada islam 
yang hakiki, yang sebenarnya, dan itu tentu saja bila kita mau kembali merujuk 
kepada al-Quran dan Sunnah Rasul. bukankan kitab suci islam moderat dan 
fundamentalis atau islam-islam yang lain masih tetap sama?
   
  saya berfikir sederhana saja, saya tak akan turut terpengaruh oleh 
wacana-wacana keislaman yang dikembangkan oleh siapa-siapa, yang baik saya 
turuti dan yang nggak cocok saya tinggalkan. tentu saja, memilah mana yang baik 
dan mana yang buruk ini sesuai dengan kadar kemampuan ilmu yang sama miliki. 
jadi, bang pradana tak usah bingung lagi....
   
  demikian sekedar nyambung aja, seperti yang disebut mbak aris solikhah....
   
   
  Aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
   
  Nyumbang pendapat saja ya mas,
Saya sependapat dengan Anda mengenai awal mula
munculnya istilah Islam moderat. Sepahaman saya, tak
ada pengkotakan demikian yakni Islam moderat dan Islam
Radikal dll. Menurut saya, pengkotakan ini memang
disengaja, tentu saja sebagai cara yang tepat untuk
memecah atau membuat jembatan yang lebar antara
orang-orang yang oleh AS disebut Islam radikal dan
moderat. Divide et empera.

http://www.whitehouse.gov/news/releases/2005/10/20051006-3.html

Pernah suatu ketika Presiden AS, George W Bush dan
Perdana Menteri Ausi memberikan pujian muslim
Indonesia sebagai Islam yang moderat. saya lupa
literaturenya dulu pernah di posting di milis
jurnalisme

Btw tulisan mitos dan analisa ini lumayan buat
tambahan informasi.

http://www.atimes.com/atimes/Southeast_Asia/HK18Ae01.html

saya jadi penasaran..apa saja kategori yang dimaksud
dengan Islam radikal itu sebenarnya menurut mereka? 

Akhir-akhir ini banyak orang mulai menyadari kejahatan
dan keburukan pemerintahan AS khususnya saat dipegang
George W Bush, uniknya seiring dengan itu pula, 
ketakutan politisi teras AS terhadap apa yang disebut
Islam radikal itu makin menguat? 

Lalu apa yang membuat mereka takut dengan Islam
radikal? Selain negara-negara berideologi sosialis
(Cina, Korut, Pemerintah Hugo chaves), Apa islam
radikal itu bisa berpotensi menandingi adikuasanya AS?

Ketiga, kenapa sih Abu Bakar Ba'asyir setua itu dan
selemah itu dan hanya vokal berbicara tentang syariat
Islam dikatakan juga teroris oleh pemerintah AS dan
Australia, yang akhirnya pemerintah Indo
mengklarifikasi tuduhan tersebut? Toh ABB tinggal di
Indonesia gitu lho jauh dari benua Amerika.

salam,
aris

--- ". Pradana Boy Ztf" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Teman-teman sekalian,
> 
> Beberapa hari ini saya membaca sejumlah naskah
> tentang Islam moderat.
> Awalnya hanya penasaran ingin tahu lebih jauh apa
> dan bagaimana sebenarnya
> konsep Islam moderat itu dikembangkan dalam dunia
> akademik internasional.
> Tapi setelah membaca sejumlah makalah tentang soal
> ini, dalam pikiran saya
> jadi timbul sejumlah pertanyaan, karena sejumlah
> penjelasan tentang Islam
> moderat menjadi agak jauh jaraknya ketika dicarikan
> relevansinya dengan
> konteks Indonesia.
> 
> Pertama, sejumlah gagasan menyebut bahwa moderatisme
> Islam adalah produk
> ekstremisme Amerika. Dengan kata lain, istilah ini
> memang diciptakan untuk
> menyebut kelompok atau individu umat Islam yang
> sejalan dengan gagasan dan
> sikap Amerika, utamanya dalam sikap politik.
> Karenanya, konteks Islam
> moderat dengan arti yang pertama ini tidak lain
> adalah --meminjam istilah
> Ali Mazru'i-- political moderation. Moderasi politik
> ini memang bisa
> dimaklumi, karena musuh terbesar yang ditakuti oleh
> Amerika adalah Islam
> radikal, sehingga semakin banyak kaum muslimin yang
> termoderasi secara
> politik, maka semakin aman pula agenda Amerika
> dijalankan. Dalam hal ini
> pula, maka menjadi bisa difahami ketika Joseph S Nye
> Jr menyarankan agar
> Bush tidak hanya menggunakan soft power dan hard
> power, tetapi juga
> menggabungkan kedua unsur itu menjadi smart power.
> Oleh Daniel Pipes,
> ilmuwan Amerika yang dikenal sangat tidak suka
> Islam, smart power ini
> didefinisikan sebagai pemberian, jabatan, dan
> kehormatan (posisi atau
> kedudukan).
> 
> Mungkin karena hakikat Islam moderat dalam arti
> moderasi politik seperti
> ini yang kemudian mendorong Abid Ullah Jan, seorang
> penentang gagasan
> Islam moderat, untuk membagi Islam moderat menjadi
> empat golongan:
> academic neo-mods, political neo-mods, journalists
> neo-mods dan
> under-the-belt neo-mods. Bagi Jan, muslim moderat
> adalah mereka-mereka
> yang telah terbeli oleh Amerika melalui sejumlah
> media. Dan tidak sulit
> menemukan model-model orang seperti ini. Menurut
> Jan, Akbar S Ahmed dan
> Muqtedar Khan adalah bagian dari academic neo-mods,
> sementara orang
> seperti Irshad Manji, penulis buku The Trouble with
> Islam adalah
> representasi dari under-the-belt neo-mods.
> 
> Kedua, Islam moderat juga diartikan sebagai
> doctrinal liberalization.
> Kembali kepada Ali Mazru'i, dia memberikan contoh
> Mahmud Thoha di Sudan.
> Menurutnya, meskipun Thoha terlibat dalam persoalan
> politik dengan rezim
> Ja'far Numeri, apa yang dilakukan dengan Islam
> moderatnya adalah
> liberalisasi doktrin dan bukan moderasi politik.
> Nah, jika demikian
> halnya, sepertinya ada kecenderungan untuk
> menyamakan begitu saja istilah
> Islam moderat ini dengan predikat lain seperti
> progresif dan liberal. Pada
> titik inilah saya menemukan kebingungan.
> 
> Lalu, jika ditarik dalam konteks Indonesia, menurut
> saya, baik dalam arti
> moderasi politik maupun liberalisasi doktrin, maka
> istilah Islam moderat
> tidak bisa digunakan dalam konteks Indonesia. Jika
> yang dimaksud dengan
> Islam moderat dalam konteks Indonesia adalah Islam
> mainstream, yang itu
> umumnya dirujuk kepada NU dan Muhammadiyah, maka
> bagi saya, kedua arti
> Islam moderat di atas tidak tepat. Karena NU dan
> Muhammadiyah tidak
> terlibat dalam aksi moderasi politik dalam artian
> yang diinginkan oleh
> Amerika, maupun mengalami atau menjalankan
> liberalisasi doktrin Islam.
> 
> Tolong saya diberi pencerahan di tengah kebingungan
> ini. Thanks.
> 
> Salam,
> 
> Pradana Boy
> 
> 

Dan cinta (mahabbah) yang kita maksud adalah keinginan untuk memberi dan tidak 
memiliki pamrih untuk memperoleh imbalan. Cinta bukan komoditas, tetapi sebuah 
kepedulian yang sangat kuat terhadap moral dan kemanusiaan (Toto 
Tasmara)pustaka tani
nuraulia

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke