Penambangan Batubara Bisa Memicu Gempa?
Gempa bumi tektonik terjadi secara alami, namun hal tersebut juga dapat dipicu aktivitas manusia. Hasil penelitian menunjukkan salah satunya adalah kegiatan penambangan batubara. Dampak buruk penambangan batubara dialami Australia tujuh tahun lalu tepatnya pada 28 Desember 1989. Gempa bumi berkekuatan 5,6 Mw (momen magnitude) melanda wilayah Newcastle di New South Wales sehingga menewaskan 14 orang, luka-luka 160 orang, dan kerugian material sebesar 3,5 miliar dollar AS. Ini disebabkan gedung-gedung di sana pun tidak didesain untuk tahan getaran berkekuatan besar. Sebab, secara teori aktivitas seismik (kegempaan) di Australia tidak aktif. Penelitian yang dilakukan Christian D. Klose dari Observatorium Bumi Lamont-Doherty Universitas Columbia, AS menyimpulkan bahwa gempa tersebut dipicu perubahan kekuatan lempeng tektonik karena penambangan batubara di bawah tanah yang telah berlangsung selama 200 tahun. Klose menyampaikan temuannya ini dalam pertemuan Himpunan Geofisika Amerika di San Fransisco, California bulan Desember 2006. "Pengambilan jutaan ton batubara dari area tersebut menyebabkan tekanan besar yang memicu gempa Newcastle," ujarnya. Namun, ia menambahkan bahwa faktor yang lebih menentukan sebenarnya pengambilan air untuk mengalirkan bongkahan-bongkahan batubara. Ia mengatakan, untuk menghasilkan satu ton batubara diperlukan 4,3 ton air untuk mengekstraknya. Bahkan ada fasilitas pertambangan yang menyedot hingga 150 ton air untuk menghasilkan satu ton batubara saja. Bukan hanya penambangan batubara yang bisa memicu gempa bumi. Klose juga mengidentifikasi sekitar 200 aktivitas manusia yang bisa memicu getaran khususnya dalam 60 tahun terakhir. Kebanyakan memang dari aktivitas penambangan, namun sepertiganya dari pembangunan konstruksi bendungan. Penambangan minyak dan gas juga bisa memicu gempa bumi. Gempa bumi terbesar yang dipicu aktivitas manusia adalah tiga gempa berturut-turut yang terjadi di ladang gas alam di Gazli Uzbekistan sepanjang tahun 1976 hingga 1984. Ketiga gempa di atas 6,8 Mw dan yang terbesar 7,3 Mw. Menurutnya, pada dasarnya setiap aktivitas yang menyebabkan tekanan di kerak Bumi bisa memicu gempa. Misalnya, rencana injeksi karbon dioksida dan gas-gas rumah kaca ke dasar Bumi agar tidak terlepas ke atmosfer. Karena itu pembangunan fasilitas sebaiknya mempertimbangkan lokasi agar tidak dekat kawasan pemukiman. Gempa bumi yang dipicu aktivitas manusia secara umum berbahaya jika terjadi di wilayah yang aktivitas kegempaannya tidak aktif. "Sebab, tidak hanya orang tidak mempersiapkan untuk itu, tapi juga wilayah yang secara alami lama tidak aktif sangat mudah bergetar sebab tekanannya telah terbentuk dalam waktu lama," imbuhnya. Sumber: National Geographic Penulis: Wah http://www.kompas.com/ver1/Iptek/0701/05/155200.htm __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]

