Subhanallah, Apakah pemerintah Indonesia mempunyai
teknologi pendeteksi gelombang ultrasonik lumba-lumba?
Pada kondisi tertentu, lumba-lumba mengeluarkan sonar
dengan frekuensi tinggi dan intens. CMIIW

Atau setidaknya di perairan Indonesia menyediakan
radar penangkap gelombang ini.

 Tidakkah dicoba dengan adanya ikan lumba-lumba yang
mengeluarkan gelombang ultrasonik disuatu tempat,
kemungkinan juga disanalah korban atau tempat karamnya
Senopati atau adam air berada? Namanya usaha kan. atau
saya ketinggalan info nih :-( 

Wallahualambishawab.

salam,
aris
nb: alam memiliki caranya sendiri untuk mengkabarkan
peristiwa abnormal

http://www.suaramerdeka.com/

Korban KM Senopati Nusantara
Sebelum Terdampar, Ditolong Lumba-lumba

SM/Hasan Hamid BERBAGI KISAH:Salah seorang korban
tenggelamnya KM Senopati Nusantara, Muzayin (kanan),
berbagi kisah kepada para tetangga di rumahnya.(30)             

Beribu kisah pilu dan haru terekam dalam tragedi
tenggelamnya KM Senopati Nusantara. Kisah-kisah itu
pun menjadi pembicaraan hangat di masyarakat, apalagi
masing-masing memiliki gambaran tersendiri. Seperti
adanya bantuan ikan lumba-lumba yang ikut
menyelamatkan mereka. Berikut kisahnya.

DI dalam rumah berukuran 8 meter x 14 meter di Dukuh
Mlaten, Desa Mlaten, Mijen, Demak masih terlihat warga
yang bertamu. Rumah Muzayin (42), salah satu korban KM
Senopati yang selamat, seakan tidak pernah sepi. 

Sebagian yang datang langsung memeluknya sebagai
pertanda haru bercampur gembira melihat tetangganya
selamat dari tragedi maut. 

Selain menyampaikan rasa haru, mereka dengan seksama
mendengarkan kisah perjuangan korban selama lima hari
terapung di laut bersama 14 korban lainnya. "Kalau
diminta bercerita detail, mungkin tidak selesai dalam
waktu sehari, karena saya terapung selama lima hari
hingga terdampar di Madura," kata Muzayin mengawali
pembicaraan. 

Pria berusia 42 tahun ini didampingi istrinya, Sri
(35) dan anaknya. Berulang-ulang ia mengucapkan
syukur, karena selamat dari bencana bertaruh nyawa
yang dialami bersama ratusan penumpang kapal tersebut.


Kaki kanannya terluka bekas benturan dan tampak hitam
gosong. Kendati masih terasa sakit, dia mengaku harus
mengacuhkan. Saat berjalan, tetap mencoba tegar. "Ini
belum seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan di
tengah laut," ujarnya.

Dia menuturkan, sore hari sebelum kapal berpenumpang
600 jiwa lebih itu tenggelam, banyak yang berebut
pelampung. Maklum, jumlah pelampung tidak sebanyak
penumpang. 

Pada tengah malam, banyak penumpang yang tertidur.
Mereka seakan tidak merasakan goyangan kapal yang
terjadi akibat terhantam ombak besar.

Namun, tidak sedikit pula penumpang yang panik dan
bersiap-siap menyelamatkan diri jika sewaktu-waktu
kapal tenggelam. Ternyata benar. Dalam hitungan detik,
setelah kapal besar itu miring, KM Senopati Nusantara
tenggelam. 

Teriakan histeris bagai menyayat malam. Mereka yang
berada di luar ruang induk secara beruntun terjun ke
laut. Karena banyaknya orang yang terjun, beberapa di
antara mereka saling berbenturan. "Kepala saya juga
terkena tubuh korban yang terjun secara beruntun,"
ujarnya.

Malam yang masih gelap semakin membuat suasana tegang.
Apalagi, ombak besar terus mengombang-ambingkan mereka
di tengah laut. Pria yang sudah lima tahun bekerja di
Kalimantan Tengah (Kalteng) ini tergolong beruntung.
Ia bersama 14 teman lainnya mendapatkan sekoci karet.

Tak berapa lama sekoci telah menjauh dari lokasi
tenggelamnya kapal. Muzayin mengaku tidak tahu nasib
teman lainnya. Yang ia tahu hanya mereka yang berada
di sekoci.

Pagi harinya, sekoci sudah berada di tengah laut dan
pandangan mata tidak melihat korban lainnya. Di perahu
karet itu ia mengenali seorang korban lain yang masih
tetangga desanya, yakni Basyir, warga Desa Bremi,
Kecamatan Mijen. 

Saat sedang berpikir mencari jalan ke pantai,
tiba-tiba berdatangan puluhan ikan lumba-lumba yang
mendorong sekoci. 

"Dari bawah kami merasakan sundulan mereka yang
mendorong sekoci. Mungkin disundul ke arah daratan,
akan tetapi saat itu kami semua tidak menyadari,"
tuturnya.

Beberapa waktu kemudian sebagian ikan tersebut berada
di air depan sekoci dan seakan memberi tahu bahwa
sudah dekat dengan mercusuar. Mereka melompat-lompat
di perairan dengan mengeluarkan suara yang khas.
"Tetapi, sekali lagi kami tidak memahami maksud
ikan-ikan itu dan tetap cuek," katanya.

Para korban lantas menyepakati menyobek atap sekoci
untuk dijadikan layar agar dapat mengikuti arah angin
hingga ke darat. Perahu darurat itu pun langsung
bergerak cepat terdorong angin. Ikan lumba-lumba masih
terus mengejar. Setiap malam ikan itu mendorong perahu
mendekat ke pantai. Ketika pagi hari pandangan melihat
kepulauan, mereka langsung mengayuh dengan tangan
secara bersama-sama. Akan tetapi, saat mau mendekat
pantai, gelombang besar datang mendorong hingga
kembali ke tengah laut. 

Ikan lumba-lumba masih berusaha menolong sampai hari
ketiga. Pada hari keempat, diperkirakan masuk perairan
Surabaya, ikan penolong itu tak lagi terlihat. 

Tentang Burung

Yang ada burung tetenger yang bentuknya mirip
lumba-lumba. Anehnya, burung itu selalu terbang pendek
di atas sekoci. Bahkan, sempat beberapa kali mendarat
di sekoci.

"Saya juga sempat memegang burung itu. Sama sekali
tidak liar. Semula ada yang mengusulkan untuk dimakan,
tetapi lebih banyak yang keberatan dengan alasan
burung itu sebagai penolong."

Burung unik yang baru mereka lihat itu kemudian pergi
ketika sekoci terbalik oleh ombak besar. Semua
penumpang terjatuh. Saat itu mereka baru menyadari
sudah sampai daratan setelah kaki mereka menyentuh
batu karang. 

"Jarak sampai ke tepi pantai memang masih jauh. Kami
berjalan kaki dengan alas batu karang sekitar 30
menit."

Sesampai di tepi pantai Pulau Kangian, Madura, mereka
bersama-sama mencari kelapa dengan memanjat pohon,
namun belum berhasil. Ada perahu nelayan yang
mendekat. Setelah diberitahu, mereka langsung diajak
ke perkampungan.

Hampir semua korban menangis, karena sambutan warga
luar biasa, layaknya menyambut pahlawan usai
bertempur. 

Warga yang memberikan uang, dalam waktu seketika
terkumpul Rp 3,5 juta. Uang itu digunakan untuk
membeli sabun, pasta gigi, dan lainnya. 

"Baju pantas pakai terkumpul sampai satu mobil pikap
dan makanan tidak kekurangan," cerita Muzayin yang tak
menyadari air matanya membasahi pipi.

Sebelum ke Surabaya, masing-masing korban diberi uang
jalan Rp 100.000 oleh pengurus NU. Di Surabaya mereka
dirawat di RSU setempat. 

Ketika beranjak pulang, mereka diberi uang transpor
oleh Bupati Pangkalan Bun sebesar Rp 500.000/orang.

Ia kagum dengan respons Pemkab Pangkalan Bun yang
memberi perhatian seperti itu. Bahkan, warganya yang
jadi korban langsung dijemput dan dipulangkan dengan
fasilitas tiket pesawat terbang. Ia menyayangkan
kelambanan tim SAR hingga mereka sampai terdampar ke
Pulau Madura. 

"Saya pulang sendiri bersama Basyir, warga Bremi yang
dijemput keluarganya." (Hasan Hamid-37) 
Berita Utama | Ekonomi | Interna

Dan cinta (mahabbah) yang kita maksud adalah keinginan untuk memberi dan tidak 
memiliki pamrih untuk memperoleh imbalan. Cinta bukan komoditas, tetapi sebuah 
kepedulian yang sangat kuat terhadap moral dan kemanusiaan (Toto Tasmara)
pustaka tani
  nuraulia



 
____________________________________________________________________________________
Cheap talk?
Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.
http://voice.yahoo.com

Kirim email ke