Pada umumnya semakin senja umur seseorang, semakin dekatlah ia pada 
agama. Tapi tidak demikian halnya dengan Richard Dawkins. Justru di usia 
ke-65 ia gempur tandas agama, yang dianggapnya biang-kerok kekerasan 
yang sepantasnya dicampakkan dari peradaban manusia. Serangan sengit itu 
telah dibukukan dan diberi judul /The God Delusion/.


Berikut ini terjemahan resensi buku itu di majalah /The Economist/ edisi 
23 September 2006 halaman 85 - 86 yang berjudul "Misbegotten sons". 
Salah satu buku Richard Dawkins yang sudah diterjemahkan ke bahasa 
Indonesia adalah /Sungai dari Firdaus/ (River Out of Eden).

__________________________________

Richard Dawkins sejak lama mengumandangkan sains yang rasional. 
Sekarang, pada usia 65 tahun, akhirnya ia memaradekan argumen untuk 
melawan keyakinan terhadap Tuhan di senjakala hidupnya.

Buku The God Delusion termasuk buku yang tanpa tedeng aling-aling. 
Penulisnya, Richard Dawkins, menyalahkan Yesus atas “rusaknya 
nilai-nilai keluarga”. Dan jangan anggap ia Tuhan sebagaimana dirujuk 
Perjanjian Lama karena ia, “a misogynistic, homophobic, racist, 
infanticidal, genocidal, filicidal, pestilential, megalomaniacal, 
sado-masochistic, capriciously malevolent bully”.

Dawkins seorang atheis, biolog evolusioner, dan penutur sains yang 
fasih, tiga hal yang memungkinkannya merangkai kasus-kasus tertentu 
secara jernih untuk melawan agama. Semua orang mesti membacanya. Atheis 
bakal menyukai logika Dawkins yang jernih dan menusuk, sementara theis 
akan menemukan beberapa ujian yang lebih bagus tentang ketangguhan 
keyakinan mereka. Agnostik (non-theis) sekalipun, yang mendaku tak 
peduli Tuhan, bakal celik mata bahwa posisinya pun sebenarnya rapuh tak 
berdasar.

Sebagaimana beberapa tulisan anti-agama beberapa tahun yang silam (“The 
End of Faith”, “Breaking the Spell”), buku Dawkins ini sebagian 
merupakan reaksi terhadap serangan 11 September. Kejadian itu telah 
dilukiskan sebagai aksi yang berurat-berakar pada agama. Apapun dorongan 
politis atau sosial para pembajak, keyakinan agama-lah yang benar-benar 
mengubah mereka menjadi mesin-mesin pembunuh. Mereka percaya tindakan 
itu merupakan karya Tuhan dan akan diganjar pahala setelah mati.

Memang sih mudah mencela keyakinan-keyakinan seperti itu, tapi apa 
hubungannya dengan orang-orang beragama yang “santun”? Persoalannya, 
menurut Dawkins, adalah orang beragama yang moderat membuat dunia aman 
bagi golongan fundamentalis dengan cara mempromosikan keyakinan sebagai 
suatu kebajikan dan terlalu menyakralkan agama. (Inilah jawaban mengapa 
mudah bagi seorang Quaker mengelak wajib-militer sebagai sosok 
pembangkang yang militan ketimbang orang yang sekadar menolak 
kekerasan). Lebih daripada itu, lanjutan argumen itu, semua kebaikan 
agama dapat ditukar dengan kebajikan non-agamis yang setara.

Sebagai pengantar klaim gagasan pesaing itu, Dawkins mengupas pertanyaan 
menarik tentang mengapa agama bisa sebegitu menyebar luas. Memuji sosok 
luhung bisa dipandang tidak-masuk-akal dan kebiasaan yang mubazir, namun 
hal ini dapat ditemui di semua budaya. Mengapa seleksi alam tidak 
membabat kecenderungan beragama jika ujung-jungnya agama jelas-jelas 
buruk bagi manusia?

Hal itu tidaklah mengagetkan. Dawkins mendukung ide bahwa agama 
merupakan hasil-sampingan kemampuan-kemampuan mental yang berkembang 
untuk kebutuhan lain. Salah satu rumusan teori ini adalah bahwa 
anak-anak “terprogram” untuk mempercayai informasi apapun yang 
disampaikan oleh orangtua mereka, yang jelas masuk-akal dalam konteks 
berbagi informasi yang berguna dari orangtua ke anak. Tapi sistem ini 
rentan terhadap informasi tersembunyi yang tak berguna dan disampaikan 
bukan untuk alasan apapun selain kebiasaan semata.

Bagaimanapun juga, hal ini bukan penjelasan tentang daya-pikat 
gagasan-gagasan agama sebagai tandingan ide-ide lain yang tidak biasa. 
Ide-ide agama harusnya pas betul dengan psikologi manusia. “Pada suatu 
masa agama pernah mengisi empat sendi kehidupan manusia: penjelasan, 
penguatan, penenang, dan inspirasi,” tulis Dawkins, memaparkan empat 
sasaran serangan logikanya.

Ia perlihatkan bahwa agama tidak memberi penjelasan memuaskan mengenai 
apapun. Di sinilah penampilan argumen-argumennya yang benar-benar 
terlatih dan terasah tajam selama beberapa dasawarsa untuk melawan 
fundamentalis Amerika. Bagian ini akan memikat siapa saja yang pernah 
bertanya, seandainya Tuhan menciptakan Alam-Semesta, siapakah pencipta 
Tuhan?

Dalam hal penguat, ia berpendapat bahwa dalam praktik, agama bukan 
sumber moralitas yang sah. Seandainya benar demikian, orang-orang Yahudi 
kiranya masih membunuh siapa saja yang bekerja pada hari Sabath. Asali 
sumber moralitas sebenarnya tidak begitu jelas. Dawkins menyarankan 
bahwa sumber moralitas adalah kombinasi naluri genetik, yang berkembang 
lantaran moral memungkinkan manusia memetik keuntungan lebih efisien 
dari kerjasama dan Zeitgeist (Semangat Zaman) dalam budaya.

Bagi sebagian orang, penenang dan inspirasi benar-benar keuntungan murni 
agama, bahkan Dawkins sendiri menerimanya. Namun fungsi-fungsi ini dapat 
dan semestinya diisi dengan pengertian lain. Inilah bagian yang paling 
pelik dalam pendapatnya. Bagi Dawkins, memahami bagaimana alam bekerja 
adalah pengisi dua hal itu; bab penutupnya merupakan lantunan prosa yang 
bersemangat terhadap perubahan cara-pandang dalam fisika modern. Namun 
hanya segelintir yang bakal menemukan penenang dari fisika kuantum 
sebagaimana kemungkinan menyatukannya dengan ide berangkat ke surga yang 
mereka sayangi.

Sekalipun sudah jelas bahwa agama semestinya dicampakkan, bagaimana 
saran Dawkins agar hal itu bisa terwujud? Membeli bukunya sebagai hadiah 
Natal untuk teman yang beragama? Terang saja, tidak bakal banyak orang 
tertarik; persis begitulah tabiat keyakinan. Rencana konkretnya ada dua 
lapis.

Pertama, Dawkins ingin menghapus pola peralihan informasi antara 
orangtua dan anak. Ia sebut-sebut agama merupakan sebentuk indoktrinasi 
dan menyamakannya dengan pelecehan anak-anak. Ia ingin mendorong suatu 
perubahan dalam Zeitgeist, sehingga ketika orang-orang mendengar kata 
“seorang anak Katolik”, atau “seorang anak Muslim”, mereka akan 
memandang jijik, dan bertanya bagaimana caranya seorang anak bisa punya 
pendapat pribadi mengenai perubahan roti menjadi daging atau jihad.

Rencana keduanya terkait dengan rencana untuk memperkuat posisi atheis, 
yang ia samakan dengan kaum homoseksual 50 tahun yang lalu : dicap-buruk 
dan tak-bakal terpilih di kantor negeri (setidaknya di Amerika). Impian 
Dawkins adalah suatu hari atheis terorganisir baik dan berpengaruh 
sebagaimana terbentuknya kalangan Kristen konservatif. Jika tidak maksud 
lain, bukunya semestinya bisa mendorong atheis ke luar dari tempat 
persembunyian.

________ komentar tentang buku ini ________

"Ini adalah buku yang berani dan penting."

- Desmond Morris, pengarang buku /The Naked Ape/ and /The Human Animal/

"Lengkingan terompet demi kebenaran.... Rasanya segar."

- Matt Ridley, penulis buku /Genome/ and /Francis Crick/

"Akhirnya, salah seorang penulis non-fiksi terbaik yang hidup sekarang 
ini telah merangkum gagasan-gagasannya tentang agama ke dalam buku yang 
bergaya elegan.

/The God Delusion/ memaparkan kebohongan sampai ketololan dan 
omongkosong yang seolah-olah benar dan memabukkan tapi disambut oleh 
masyarakat untuk kabur dari tanggungjawab untuk berpikir sungguh-sungguh 
tentang keyakinan agama. Jika kamu anggap bahwa sains cuma sekadar agama 
lain, agama yang dimaksud itu tentang nilai-nilai kita yang lebih 
tinggi, atau bahwa para ilmuwan cuma sekadar dogmatis sebagaimana para 
penganut keyakinan, maka bacalah buku ini, dan ayo lihat apakah kamu 
mampu menangkis argumen-argumen Dawkins—yang dinyatakan dengan keras, 
dan tampil sastrawi, tapi berurat-berakar pada nalar dan bukti."

- Steven Pinker, Johnstone Professor, Harvard University, penulis buku 
/The Language Instinct/, /How the Mind Works/, dan /The Blank Slate/

"Agama-agama yang keras dan tidak-masuk-akal terlalu sering membawa 
masalah-masalah serius pada usaha manusia menjadi lebih baik. Untuk 
melawan hal itu secara efektif, dunia perlu pemikir rasional yang setara 
kerasnya yang tidak takut untuk menantang keyakinan-keyakinan yang sudah 
lama. Karena itulah Richard Dawkins melawan lewat /The God Delusion/ 
yang tajam cerdas."

- James D. Watson, penerima penghargaan Nobel, penemu molekul DNA 
bersama Francis Crick

"Saya membaca buku ini dengan nikmat dan puas. Dawkins ialah rasionalis 
hebat, sekaligus orang yang baik. Sejarah telah menyaksikan sejumlah 
rasionalis-rasionalis tangguh yang tidak baik pada akhirnya. Ia 
[Dawkins] bawa simpati dan emosi manusia pada nilai-nilai yang pantas, 
yang salah satunya menghantarnya untuk mengkritik agama sedemikian 
sengit, lantaran banyak pemimpin-pemimpin agama di dunia sekarang 
ini–terutama yang paling vokal–ialah orang-orang yang, pandai bicara 
pada semua orang tapi menjerumuskan para pengikutnya, menyuruh melakukan 
kekerasan demi kepercayaan mereka. Dawkins membabat habis habis mereka, 
dengan segenap kekuatan yang bisa dikerahkan oleh nalar, menghancurkan 
usaha-usaha sinting mereka membuktikan kehadiran Tuhan, kesombongan 
mereka bahwa agama adalah satu-satunya landasan moralitas, atau bahwa 
kitab-sucinya mutlak benar teksnya.

/The God Delusion/ ditulis dengan segenap kejernihan dan keanggunan yang 
dikuasai tuntas oleh Dawkins. Faktanya, buku ini ditulis sedemikian 
bagus, sampai-sampai anak-anak ingin membacanya sebagaimana orang-orang 
dewasa. Buku ini semestinya dapat tempat di semua perpustakaan 
sekolah—terutama di semua sekolah yang berlandaskan agama. Tapi biasanya 
sih gak bakal deh. “

Philip Pullman, penulis trilogy anak-anak /His Dark Materials/.

"Perhatian Dawkin terutama pada agama-agama monotheis dengan 
kutipan-kutipan dari Kitab Suci dan Al-Quran yang memerintahkan untuk 
melancarkan genosida, pemerkosaan, dan membunuh orang-orang kafir.... 
Orang yang fanatik tanpa ragu terhadap Kitab Suci akan menyatakan bahwa 
mereka telah menemukan perwujudan Setan."

- /Kirkus Reviews/

"Bagi pembaca yang capek dinasehati bahwa mereka harus membungkuk hormat 
dihadapan semua tahyul sinting atau aneh yang mereka temui, dan yang 
takut pada dampak suasana toleransi yang gampang naik-darah terhadap 
masyarakat kita, karya Dawkins yang lugas dan menusuk ini akan terasa 
sebagai sehirup udara segar."

- /San Francisco Chronicle/



[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke