Kematian

Daya tarik pembicaraan tentang mati sebenarnya bukan pada kematian 
itu sendiri, tetapi pada konsep mati itu apa.  Di kalangan binatang 
saya kira tidak pernah ada diskusi dan seminar hidup itu apa dan mati 
itu apa. Bagi mereka hidup tak ubahnya mengikuti arus air, mereka 
sepenuhnya tunduk kepada alam, tidak ada rekayasa pemeliharaan 
lingkungan alam dan tidak ada pula usaha perusakan alam oleh mereka. 
Sedangkan di kalangan manusia, pembicaraan tentang mati senafas 
dengan pembicaraan tentang konsep hidup.  Bagaimana makna mati 
tergantung pada apa yang menjadi pandangan hidupnya.

Pembicaraan tentang makna mati sebenarnya berpangkal dari tiga 
pertanyaan abadi yang berlangsung sepanjang sejarah manusia, yaitu 
Dari mana, mau kemana dan untuk apa hidup manusia di muka bumi ini, 
min aina, ila aina wa limadza ?

Pertanyaan pertama dan kedua hanya ada dua jawaban, yaitu orang 
beragama menjawab bahwa manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali 
kepada Tuhan, sedang orang atheis menjawab bahwa manusia itu berasal 
dari proses alamiah dan akan hilang secara alamiah. Meski demikian 
rincian dari jawaban itu, terutama untuk pertanyaan ke tiga, sangat 
beragam dan rumit, serumit dan se ragam manusia itu sendiri.

Konsep Islam tentang hidup dan mati saya kira cukup jelas, bahwa inna 
lillahi wa inna ilahi raji'un, sesungguhnya kita ini milik Allah dan 
akan kembali kepada Nya, dan bahwa manusia berada di muka bumi ini 
bukan untuk iseng-iseng (Q/23:115) tetapi dimuati dengan amanah 
(Q/33:72) sebagai khalifah. Menurut Al Qur'an dan juga kenyataan, 
setiap jiwa pasti akan mati, kullu nafsin zaiqatul maut.  , dan 
sesudah mati justeru ada kehidupan akhirat, yang menurut al Qur'an 
justeru merupakan kehidupan yang sebenanrnya (wa  innal akhirota 
lahiyal hayawan)Akan tetapi agama Islam itu apa, bisa difahami dengan 
tingkat-tingkat pemahaman;, (1) sebagai konsep yang sempurna, tetapi 
masih di langit (2) sebagai konsep yang didemontrasikan di muka bumi, 
(3) sebagai konsep yang sudah membumi, (4) sebagai interprestasi, dan 
(5) sebagai tradisi. Lima tingkat ini bisa berdiri sebagai suatu 
struktur bangunan, tetapi bisa juga tidak. Tingkatan-tingkatan 
pemahaman ini membawa konsekwnsi pada keragaman dan juga kerumitan 
tentang konsep hidup dan mati  yang diberi label "menurut Islam".

Dalam struktur ini tasauf berada pada tingkatan ke empat, setingkat 
dengan fiqh. Meskipun demikian, atau untungnya, tingkat otentisitas 
al Qur'an sebagai sumber utama dan konsep dasar ajaran Islam (dan 
diperkuat oleh tadwin assunnah) sangat membantu dalam mengembalikan 
seluruh tingkat pemahaman kepada sumber utama itu.


Jika ulama fiqh berusaha memahami agama ini dengan semangat ijtihad 
(sistem berfikir), maka para sufi melakukan hal yang sama dengan 
semangat taqarrub, yakni dengan latihan-latihan spirituil yang lebih 
dekat dengan sistem perasaan. Ijtihad melahirkan produk-produk berupa 
hukum-hukum dan fatwa-fatwa, sementara bertasauf melahirkan 
pengalaman spiritual. Hasil-hasil ijtihad bisa diuji dengan logika,, 
sementara pengalaman spirituil , meskipun secara filosofis bisa 
difahami, tetapi pembuktiannya hanya mungkin dilakukan melalui 
suluk.  Oleh karena itu jika berbicara tentang tasauf maka paradigma 
yang digunakan juga harus paradigma tasauf. Istilah-istilah dalam 
tasauf juga hanya bisa difahami   dengan cara berfikir dan cara 
merasa para sufi.

Wassalam,
agussyafii
http://mubarok-institute.blogspot.com


Kirim email ke