Artikel dari Sebelah :-)

 

Jimmy Okberto

Direct (62-21) 8823 068

It is never too late to be

what you might have been.

~by George Eliot 

http://okberto.multiply.com/ <http://okberto.multiply.com/> 

www.friendster.com/okberto <http://www.friendster.com/okberto> 

  _____  

From: Iwan H.Suriadikusumah
Sent: Sunday, January 21, 2007 6:52 PM



 

Dear sobat-sobat dan sodara sesama miliser,

 

Mau ngajak tukar fikiran soal yang sangat sederhana serta sangat
sehari-hari: KARTU NAMA.

 

Dalam perjalanan pergaulan sosial, pekerjaan maupun business, kita
sering memberi dan menerima alias tukar-tukaran kartu nama.

 

Ada kebiasaan yang aneh saya perhatikan soal kebiasaan berkartu nama ini
di Indonesia. 

 

Ciri-cirinya yang khas:

 

1.      Kalau Pejabat Pemerintah, Sipil maupun Militer:

        a.      Makin tinggi dan penting jabatannya, kemungkinan besar
akan bilang: "Wah, saya kehabisan kartu nama, nih." Atau "Wah,
ketinggalan di mobil." Atau segala macam dalih untuk tidak
gampang-gampang memberi kartu nama. Apalagi kalau anda tidak dianggap
penting dan/ atau selevel dengan dia.
        b.      Kalau anda 'beruntung' mendapat kartu nama beliau,
kemungkinan besar isinya tidak betul-betul memberikan informasi yang
PALING anda perlukan. Di jaman komunikasi sudah demikian canggihnya, di
mana email dan SMS sudah menjadi gaya hidup sehari-hari, kemungkinan
kartu nama Sang Orang Penting ini isinya:

                                                               i.
Hanya nama lengkap (biasanya 'full' credentials alias gelar).

                                                             ii.
Kalau dia menganggap dirinya 'penting sekali', jabatannya juga nggak
ditulis. Kita disuruh menebak-nebak, atau tanya orang lain.

                                                            iii.
Nomor telpon dan fax 'standar', artinya kalau suatu waktu anda
betul-betul nyoba menelpon, kemungkinan yang menjawab ialah mesin atau
operator telpon. Nanti disambung ke Sekretaris, yang kemungkinan akan
bilang: "Bapak sedang sibuk/tidak di tempat/ apa sudah buat janji (mau
nelpon!)."

                                                            iv.
Kalau beliau 'agak' terbuka, kemungkinan ditulis email address.
Ajaibnya, dikirimi email juga nggak pernah balas, karena yang buka
mungkin sekretarisnya yang tadi itu, bukan 'beliau' sendiri.

2.      Kalau swasta murni, pengusaha:

        a.      Kalau ybs. banyaknya berurusan dengan 'orang-orang
pemerintah', ya akan mirip dengan butir 1. di atas.
        b.      Kalau lebih banyak berurusan dengan swasta lagi,
baaaruuuuuu...... kita akan mendapat 'Business Card' betulan:

                                                               i.
Informasi yang kita perlu tentang ybs semua ada di situ:

a.       Nama lengkap.

b.       Jarang menulis credentials, apalagi kalau ybs. adalah
saudara-saudara kita kaum 'keturunan' (Cina).

c.       Tidak 'malu-malu' atau 'sok penting' merahasiakan posisinya di
perusahaannya.

d.       Nomor HP ditulis dengan jelas, kadang-kadang sampai tiga buah
ditulis semua. (Iya, lah. Business itu 'kan cari rejeki. Masak malah
berusaha supaya susah dihubungi!).

 

Bagaimana pendapat sobat-sobat dan sodara se milis?

 

Faham saya sih, seperti orang-orang Jepang, Korea dan Cina, kita harus
membiasakan mencetak dan membagi kartu nama/ business card dengan benar.
Informasi harus diberikan lengkap. Nomor HP HARUS ditulis, apalagi kalau
anda jarang berada di belakang meja, lebih sering business lunch atau
bikin business deals di lapangan golf, misalnya.

 

Ada pendapat lain?

 

Salam,

 

IWAN

  



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke