Menggapai Cinta Istri

Hari ini, saya dibawain bekal dari istri. Asyik ya? Pernahkah anda berpikir,
bagaimana ya caranya kita bisa berterimakasih pada istri kita? Seharian dia
dirumah, penuh mengawasi pertumbuhan anak-anak kita, jiwa-raga. Me-manage
ketat segala kebutuhan spiritual dan material anak-anak kita. Beberapa jam
saja fungsi itu dicoba beralih ke kita (kaum Bapak), kita sudah dibuat
kalang kabut nggak karuan.

Padahal, sebegitu beratnya tugas seorang istri terhadap anak, di sisi lain,
di agama dan budaya masyarakat sekitar kita, namanya taat sama suami itu
menjadi bagian yang utama juga. Bayangkan, dalam sebuah hadits, tidak
menjawab hasrat suami saja pada suatu malam, digambarkan didoain celaka
hingga shubuh oleh para malaikat. Nggak adil memang kelihatannya ya?
Udah begitu, berkali-kali, atau paling nggak lebih banyak "cerita sukses" di
syurga lagi-lagi dipersembahkan untuk para suami. Paling-paling istri
kebagian, syurga terletak di bawah telapak kaki Ibu. Terus sama, "hembusan
angin syurga" beberapa orang yang mungkin merasa prihatin, sengaja menghibur
kaum ibu-ibu yang mengatakan, "kedudukan para wanita itu tinggi lho",
nyatanya Nabi saja menyebut tiga kali baru setelah itu bapak. Hi..hi..hi..

Yang di benak saya sekarang, bagaimana bisa berterimakasih pada istri?
Rasanya sulit juga. Mungkin meminjam istilah lain, kasih istri memang juga
tak terbalaskan. Karena itu terbayang nggak? Sudah berterimakasih saja
susah, masih saja tega menelan sesuatu yang mestinya kita tahu itu nggak
bakalan disetujui istri. Contohnya polygami. Bagaimana mungkin
berterimakasih sama istri itu terpikirkan, untuk menahan diri untuk tidak
"mendua" cinta saja tidak bisa?

Yang menjadi keanehan, yang berkembang sekarang, justru ramai membicarakan
soal boleh dan tidaknya dalam agama. Ramai orang di sana, menghimpun opini
legalitas agama untuk polygami.

Padahal, justru Al Qur'an sendiri mengecam orang-orang yang bermain agama di
pinggiran. Kala ingin menjalan sesuatu, dia hanya modalnya mubah dan wajib.
Sedangkan untuk yang terlarang, modalnya adalah haram. Yang anjuran, yang
syubhat, yang sunnah, tidak terlirik sama sekali. Jangankan melirik dari
sisi fikihnya, menimbang esensinya saja ogah.

Polygami, jika mau dilihat bobot hukumnya, disebutkan hanya satu ayat. Di
Qur'an kalau itu anjuran, bisa diulang-ulang.. Sebenarnya juga cukup mubah.
Mubah saja dengan syarat. Syaratnya juga sesuatu yang absurd. Adil. Mana
bisa?? Kalau mau lihat esensinya, ayat polygami hadir ketika kedudukan
wanita itu masih jauh dari ideal zaman itu. Bayangkan, hingga zaman Nabi SAW
wanita bisa jadi pampasan perang. Laki-laki bisa kawin hingga 20 orang
bahkan mungkin lebih. Wanita masih susah untuk mendapatkan hak bicara dalam
keluarga. Jadi, jangan-jangan ayat itu untuk membatasi sebenarnya, bukannya
sebuah kelonggaran sebagaimana perspektif orang sekarang.
Bukti, ketika Fatimah sudah mencapai kedudukan ideal (mungkin sesuai dengan
tujuan Islam),'Ali terlarang untuk mengambil istri yang lain.

Sesuatu yang mubah itu banyak, tetapi dengan kasus yang lain bisa jadi
haram. Contoh yang serupa dengan polygami misalnya adalah perbudakan. Setahu
saya tidak ada kata larangan di perbudakan. Padahal semua orang Islam tahu,
esensinya Islam itu anti perbudakan. Buktinya, kafarat, pahala, banyak yang
dikaitkan dengan tujuan membebaskan perbudakan. Bisa dibayangkan dampak
sosial yang terjadi jika saat itu Al Qur'an langsung "to the point"
mengatakan Islam anti perbudakan.? Sama juga jika mungkin saja Islam akan
bilang "blak-blakan" istri cukup satu? Dampak sosial saat itu pasti sangat
besar.

Allah sendiri berfirman, jika kita hanya melengkapi hidup kita dengan wajib,
Allah hanya katakan "tidak akan marah". Tetapi jika seorang hamba menghiasi
hidupnya dengan sunnah, Allah bukan hanya tidak marah, tetapi "mencintai".
 Nah, untuk menggapai "ilmu cinta" tentu tidak cukup hanya dengan bermain di
pinggiran. Mengatakan mencintai dan berterimakasih kepada seorang istri,
masa' dengan polygami? []


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke