KEMBANG KEMBANG GENJER...*
   
  yang bertumbuhan di atas tanah 
pekuburan massal 
ciptaan ORBA
   
  Yang paling baik dalam mengungkap sejarah kelam suatu bangsa adalah bangsa 
itu sendiri. Kesedaran untuk jadi bangsa beradab tidak terlepas dari kesedaran 
mengetahui sejarah bangsanysa sendiri di semua seginya yang kelam maupun yang 
jaya.
   
  Di tangan saya, sebuah buku yang baru terbit hasil karya Fransisca Ria 
Susanti: "KEMBANG KEMBANG GENJER". Sebuah buku menarik yang saya baca dalam 
satu tarikan nafas tapi yang menimbulkan kesan mendalam tentang penderitaan, 
rasa sakit, tragedi bangsa dan keluarga, kekejaman dan kebuasan manusia atas 
sesama manusia, penyiksaan, kebrutalan terhadap kaum lemah: PEREMPUAN dan 
gadis-gadis remaja, oleh satu rezim balas dendam politik dan agama yang tak 
terperikan dahsyat dan kejinya.
   
  Pengalaman 13 perempuan yang dituturkan dalam buku ini adalah pengalaman 
penyiksaan, pelecehan yang dirasakan oleh mahluk-mahluk yang tanpa dosa, tidak 
mengetahui apa kesalahan mereka dan bahkan ada yang hanya karena salah tangkap 
dalam peristiwa politik dan perebutan kekuasaan G30S-65 di Indonesia. Belasan 
tahun meringkuk dalam penjara yang sebagaian terbesar tanpa pernah dihadapkan 
ke meja pengadilan dengan penyiksaan luar biasa, sedangkan anak-anak dan 
keluarga mereka yang di luar penjara harus menanggung beban yang tak terperikan 
beratnya dalam mengasuh, memelihara anak-anak yang ibu bapaknya ditangkap dan 
dipenjarakan selama belasaan tahun.
   
  Organisasi Perempuan GERWANI yang dicap onderbouw-nya PKI dan ditambah satu 
lagi sebagai organisasi para pelacur yang sadis dan kejam, menyilet dan 
memotong kemaluan para Jendaral yang ditangkap dan dibawa ke LUBANG BUAYA, yang 
dalam kenyatanannya adalah cuma "Maling teriak maling" tapi yang sesungguhnya 
sudah "Biadab teriak biadab" yang itu telah dibuktikan di semua ruang 
interogasi oleh para interogator.
   
  Fitnah dan bohong adalah ideologi semua penyiksa dari rezim diktator waktu 
itu. Para ideolognya dipersenjatai dengan senjata sungguhan, otot, kebrangasan, 
tanpa ampun dan tanpa moral: sering memperkosa perempuan-perempuan yang 
diperiksanya, dan menepuk dada sebagai pendukung setia PANCASILA (Kesaktian 
Pancasila). Metode fitnah dan bohong mereka sangat sederhana: berani 
menjejalkan yang paling tidak masuk akal sekalipun atau bohong tingkat paling 
rendah sekalipun asal dengan kegigihan memakai pertolongan koran-koran dan 
media lainnya, bahkan dengan film untuk memaksa massa agar percaya, secara 
terus menerus dengan mutlak suara tunggal, mutlak tabu sanggahan, mutlak harus 
diakui sebagai kebenaran yang jika tidak celakalah seluruh hidupmu, keluargamu, 
teman-temanmu dan bahkan seluruh sisa-sisa generasimu. Sebuah goresan sejarah 
kelam bangsa yang ditulis dengan darah di dinding-dinding semua penjara dan 
ruang penyiksaan: kekuasan, senjata dan rezim politik sadis adalah
 penyangga semua kebohongan dan fitnah dan akan dijadikan ideologi seluruh 
massa rakyat. Dan lalu buta tuli terhadap kutukan Internasional, opini 
Internasional dan bahkan Amnesti Internasional.
   
  Tapi sebuah panggung politik yang betapapun kejam dan merosot moralnya, 
betapapun pernah kuat dan jaya, betapapun luas gurun kuburan massal yang 
ditinggalkannya, ia tidak akan ujud selama-lamanya dan ia pasti tumbang suatu 
waktu dan pada waktunya ia akan
  mempertanggung jawabkan semua perbuatannya, tidak ia yang langsung 
berhadapan, anak cucunya yang akan berhadapan. Ini tidak semata logika sejarah 
tapi juga dinamika kehidupan, tak satu rezimpun yang bisa lolos, mau atau tidak 
mau.
   
  Ketika saya membaca buku ini (Kembang Kembang Genjer) saya lalu teringat apa 
yang pernah saya dengar dari pengalaman-pengalaman revolusi Vietnam dalam 
melawan kaum Kolonialis Perancis lalu Fasisme Jepang dan terahir Agresi Amerika 
Serikat. Rakyat dan kaum revolusioner adalah sasaran kekejaman musuh, sasaran 
pembunuhan dan penangkapan musuh, sasaran penghancuran dan pelikwidasian musuh. 
Puluhan tahun saya mendengar sejarah kekejian, kekejaman, darah dan penjara dan 
sebagian juga saya baca dalam buku-buku, dokumen dan juga karya-karya sastra. 
Semuanya adalah catatan sejarah yang telah diabadikan oleh rakyat Vietnam 
dengan kemenangan gemilang meskipun dengan pengorbanan yang luar biasa besar 
dan pahitnya.
   
  Rakyat Indonesia baru memulai membongkar dan menguak sejarah yang dikelamkan, 
digelapkan, dipalsukan oleh penguasa mereka selama puluhan tahun. Rakyat 
Indonesia belum mencapai kemenangan dalam melawan penindasan, pemerkosaan, 
ketidak adilan yang telah dideritanya entah berapa abad yang lalu oleh para 
penguasa yang saling berganti, asing maupun bangsa sendiri. Tanpa sejarah yang 
benar, suatu bangsa tidak mungkin melanjutkan hari depannya dengan gemilang, 
tidak mungkin menempuh jalan kemenangan dalam perjuangannya merebut 
kebebasannya sendiri. Dengan sejarah gelap dan kelam tidak ada satu 
perjuanganpun yang akan berhasil dan menang, sama halnya dengan para penggelap 
dan pemalsu sejarah bangsanya, mereka tidak akan pernah bisa ujud lama dan akan 
selalu terjungkal. Karna sejarah adalah pedoman, kompas sesuatu bangsa dalam 
perjalanannya ke kehiduapan yang lebih sempurna dan ideal.
   
  Buku Fransisca Ria Susanti ini adalah juga sejenis buku penguak, penerang, 
dan juga pembongkar sejarah gelap yang masih terus digelapkan oleh penguasa 
ORBA dan para pendukungnya. Kita masih terlalu banyak memerlukan tulisan 
seperti ini, terlalu banyak data yang kita perlukan untuk menyuarakan suara 
rakyat yang ditindas. Dan sekarang sudah seperti berlomba dengan waktu. 
Terlambat berarti kehilangan data-data sejarah yang tak ternilai harganya. 
Manusia menua dan mati. Sedangkan manusia adalah sumber hidup dari sejarah itu 
sendiri. Karenanya sebelum mati dan sirna dari kehidupan ini, sejarah harus 
tercatat lebih dahulu dengan berbagai cara, dengan berbagai alat dan dengan 
berbagai kesempatan. Motto kita adalah: Mereka menggelapkan kita menerangi. 
Mereka memalsukan, kita memurnikan. Tidak ada jalan lain dan di sini pula 
terletak antara kalah dan menang dalam pertarungan yang menentukan ini.
   
  Fransisca Ria Susanti adalah seorang jurnalis di bidang profesinya. Sebagai 
jurnalis, terasa tulisannya sangat professional. Tapi yang saya tangkap dari 
gaya tulisannya, ia pun punya gaya seorang sastrawan, tulisannya terkadang 
seperti kita membaca sebuah cerpen dan di sini saya lihat keunggulan Fransisca 
dalam menulis penuturan dalam bukunya. Bahasanya baik, tidak terkesan 
memaksa-maksa diri menulis dengan bahasa ingin lain dari yang lain. Saya punya 
kesan buku ini enak dibaca dengan penuturan yang lancar yang membuat pembaca 
otomatis ingin meneruskan bacaannya hingga selesai. Dan ini sebuah keberhasilan 
dan sukses.
   
  Saya kira buku ini sangat patut dimiliki bukan hanya bagi orang-orang yang 
punya minat terhadap peristiwa korban 65, tapi bagi semua orang yang ingin 
mengetahui apa itu kekejaman, apa itu penderitaan, apa itu manusia tanpa peri 
kemanusiaan dan yang terpenting lagi apa itu politik keji dan kotor. Semua itu 
ada dalam buku Fransisca ini.
  Saya ingin mengucapkan selamat membaca buku yang patut dibaca oleh para 
pemerhati sejarah Indonesia.
   
  * Fransisca Ria Susanti : "KEMBANG KEMBANG GENJER"
Penerbit: LEMBAGA SASTRA PEMBEBASAN
Kata Pengantar: Prof.Dr. E. Wieringa & Dr. Asvi Warman Adam
Terbitan Pertama September 2006, 169 halaman.
   
  Asahan Aidit
Hoofddorp,
25122006


      
http://www.geocities.com/herilatief/
  [EMAIL PROTECTED]
  http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 
  Informasi tentang KUDETA 65/Coup d'etat '65 
Klik: http://www.progind.net/   

   




 
---------------------------------
Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke