Yang sebel sama KKG, mungkin bisa kasih sanggahan.. :-)

Wassalam,

Irwan.K

---------- Forwarded message ----------
From: Holy Uncle <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Jan 29, 2007 12:35 PM
Subject: KKG : Pembubaran CGI & kemandiria

Pembubaran CGI & kemandirian

Pemerintah telah membubarkan forum Consultative Group for Indonesia (CGI).
Opini yang diciptakan dari pembubaran forum itu adalah pemerintah telah
mengambil kemandirian dalam merumuskan kebijakan ekonomi.

Pembubaran CGI yang dibarengi dengan pembentukan opini publik itu boleh
dikatakan berhasil. Ini karena banyak pihak yang percaya dan memuji tindakan

pemerintah tersebut.

Tetapi bagi saya-yang pernah berhadapan dan berinteraksi dengan CGI, Bank
Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan Dana Moneter Internasional
(IMF)-kesan tersebut tidak benar.

Dengan dibubarkannya CGI, Indonesia masih saja tetap tidak akan mandiri
dalam merumuskan kebijakan ekonominya selama orang-orang dalam pemerintahan,

termasuk presiden sendiri, masih yang itu-itu juga.

Dikatakan bahwa CGI dibubarkan karena dari sekian banyak pemberi utang (yang

masih saja disebut 'donor'), yang memberikan 95% dari total utang kepada
Indonesia adalah Bank Dunia, ADB, dan Jepang.

Bank Dunia, ADB, dan IMF tidak dapat dipisahkan sama sekali dari pemerintah
Amerika Serikat dalam kebijakannya. Jadi, selama masih mengandalkan keuangan

pada pemberi utang itu, Indonesia tidak mungkin mandiri.

Bank Dunia mempunyai kantor dengan jumlah personel sangat besar di
Indonesia. Sejak awal, setiap tahun Bank Dunia menerbitkan buku yang disebut

Country Strategy Report bagi Indonesia.

Demikian juga dengan ADB. Isi buku tersebut tiada lain adalah berbagai
kebijakan yang harus dilaksanakan pemerintah Indonesia. Sejak 1967 sampai
sekarang, pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh presiden siapa pun tidak
pernah tidak menjalankan kebijakan tersebut.

Adapun IMF, intervensinya paling hebat dan sudah merusak sistem keuangan dan

perbankan nasional melalui apa yang dikenal dengan Letter of Intent (LoI)
selama lembaga internasional itu memberikan 'bantuan' sampai akhir 2003.
Setelah itu, melalui Post Program Monitoring, karena Indonesia masih punya
saldo utang.

Intervensi IMF tersebut tidak mungkin saya uraikan di sini, karena kolom ini

terbatas. Silakan baca dan simak sendiri.

Tidak benar

Dikatakan bahwa negara yang tergabung dalam CGI, yang 95% itu, memberi utang

kepada Indonesia dalam jumlah sangat kecil, tetapi rewel, cerewet, dan
banyak persyaratannya. Kesan yang ditimbulkan adalah negara-negara
tersebutlah yang mendikte kebijakan ekonomi Indonesia.

Kesan itu tidak benar. Negara-negara itu tidak pernah rewel. Banyak dari
negara-negara tersebut bahkan mendukung ketika saya berpidato sangat keras
dan tajam di forum CGI.

Yang mendikte dan arogan justru Bank Dunia dan ADB. Tetapi ADB agak mending
dibandingkan dengan Bank Dunia.

Dalam sidang CGI, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memiliki

peran penting, karena fungsinya yang membidangi anggaran pembangunan. Maka
ketika tahun pertama menjabat sebagai Kepala Bappenas, saya diminta untuk
berpidato yang isinya sudah dibuatkan oleh Bank Dunia.

Ketika saya minta staf saya melakukan beberapa perubahan dalam pidato
tersebut, ditolak Bank Dunia dengan alasan sebelumnya tidak pernah begitu.
Maka saya iyakan saja.

Tetapi dalam sidang, saya bacakan pidato yang saya buat sendiri. Karena itu,

tahun berikutnya saya hanya diperbolehkan berpidato dalam forum Pre-CGI.

Bank Dunia dan atau IMF juga yang memaksakan agar Bank Indonesia dibuat
independen. Tim ahli pembuatan BI yang independen itu terdiri dari empat
orang, dua di antaranya orang Indonesia, yaitu Boediono (sekarang Menko
Perekonomian) dan Sutan Remy Syahdeni.

Selain itu, draft UU tentang Keuangan Negara dibuat dalam bahasa Inggris.
Dalam rancangan UU itu, ada pasal-pasal yang mengkerdilkan Bappenas,
sehingga staf Badan ini berhasil membuat sendiri RUU tentang Bappenas yang
kemudian menjadi UU.

Ketika menjabat sebagai Menko Ekuin, saya harus dibayang-bayangi oleh Dewan
Ekonomi Nasional (DEN), yang diketuai oleh Prof. Emil Salim dengan
sekretaris Sri Mulyani Indrawati (sekarang Menteri Keuangan). Masih dirasa
tidak cukup, dibentuk lagi Tim Asistensi pada Menko Ekuin dengan ketua Prof.

Widjojo Nitisastro dan sekretaris Sri Mulyani Indrawati.

Arogan & tidak fair

Tim Ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu yang sekarang, kabarnya, juga sejak
awal dikehendaki oleh Bank Dunia dan pemerintah AS, walaupun rancangan
susunan kabinet yang berlainan sudah rampung.

Bank Dunia tidak hanya arogan, tetapi juga tidak fair dan pengecut. Sikap
ini diperlihatkan sebagai berikut.

Pemerintah Belanda memberikan hibah yang dikelola oleh Bank Dunia. Hibah
tersebut dikorupsi, dan yang menemukan bukti-bukti korupsi tersebut adalah
wartawan investigatif muda Alexander Wessink.

Saat Wessink memberitahukan kepada Bank Dunia soal adanya korupsi tersebut,
jawabannya adalah: "Anda kan tidak naif bahwa korupsi di Indonesia
merajalela?"

Tetapi ketika Uni Eropa memberikan hibah yang dikelola Bank Dunia dan
Bappenas adalah Executing Agency-nya, Bank Dunia merasa menemukan sebagian
kecil dikorupsi. Temuan tersebut dituangkan secara sangat rinci dalam buku
tebal. Tetapi buku tersebut distempel dengan huruf tebal "Confidential."

Saya kemudian mengatakan kepada Andrew Steer bahwa saya sangat berkeinginan
membagikan temuan tersebut kepada para wartawan dan siapa saja yang ingin
memperolehnya. Steer mati-matian melarang karena confidential. Jadi, apa
maunya kalau tidak memojokkan saya yang tidak bisa didikte?

Setelah itu Bank Dunia kantor Jakarta melayangkan surat yang ditandatangani
oleh Bert Hoffman, menuntut agar seluruh hibah, termasuk yang tidak
dikorupsi dikembalikan. Saya kemudian menulis surat kepada Presiden Bank
Dunia, James Wolfensohn, minta agar yang dibayar kembali hanya jumlah yang
dinyatakan dikorupsi.

Tetapi tidak boleh, mereka bersitegang. Keseluruhan peristiwa ini saya
laporkan kepada Presiden Uni Eropa ketika itu, Romano Prodi, sambil minta
agar jangan sekali-kali memberi hibah seberapa pun kecilnya kalau
pengelolanya harus Bank Dunia.

Urusan tersebut belum selesai, pemerintahan sudah berganti. Hibah tersebut
akhirnya, konon, dibayar oleh Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Masih sangat
banyak hal-hal yang tidak masuk akal.

Lantas, Bank Dunia juga sudah biasa malang-melintang langsung berhadapan
dengan pers Indonesia memberikan berbagai pandangan dan pendapatnya tentang
kondisi dan kebijakan ekonomi pemerintah. Ini apa-apaan? Sudah begitu,
isinya pun tidak bermutu!

Saya pernah menanggapinya dalam artikel di surat kabar yang berjudul "Andrew

Steer, dat weet mijn grote teen ook!", yang berarti: "Andrew Steer, jempol
kakiku juga tau."

Bank Dunia bisanya hanya mengemukakan what to achieve yang bagus-bagus saja.

Lembaga ini tidak pernah memberikan bagaimana caranya atau how to achieve.

Jadi, selama masih akan berutang kepada Bank Dunia dan ADB, Indonesia akan
tetap dikendalikan, apalagi dengan para menteri yang membabi buta mengikuti
Washington Concensus, dan direstui oleh Presidennya.

Mau mandiri

Kalau mau mandiri, langkah-langkah kita harus sebagai berikut. Tutup kantor
perwakilan Bank Dunia dan ADB di Jakarta. Minta mereka jangan menulis lagi
Country Strategy Report buat Indonesia.

Kemudian, sisa utang kita dibayar dengan uang pinjaman dari sumber lain,
seperti penerbitan obligasi dalam mata uang dolar AS. Mau mandiri kok dengan

cara menendang 95% anggota CGI yang baik hati, sambil menegaskan masih akan
berutang kepada Bank Dunia, ADB yang kolonialis, dan Jepang.

Sekarang tentang instrumen-instrumen penggantinya. Dikatakan akan dilakukan
penjualan BUMN dan menerbitkan SUN dalam mata uang rupiah maupun valuta
asing.

Boleh-boleh saja, tetapi bagaimana pengelolaan utangnya sendiri? Pemerintah
harus membeberkan keseluruhan perencanaan keuangan negara, terutama
kebijakan utang, dengan cara menyajikan proyeksi angka-angka untuk waktu
mendatang.

Utang dalam bentuk kredit ekspor sudah mahal, bukankah obligasi RI dikenakan

bunga bagaikan junk bond? Tak apalah bayar mahal, asalkan kemandiriannya
tidak palsu atau akal-akalan.

Yang sekarang dikemukakan oleh Tim Ekonomi sebagai sesuatu yang salah,
mendapat dukungan mereka selama 36 tahun. Mengapa sekonyong-konyong semuanya

berubah setelah Managing Director IMF Rodrigo de Rato bertemu Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono?

Saya mendapat halusinasi, jangan-jangan CGI dibubarkan setelah Presiden
Yudhoyono menerima de Rato yang berujar: "Tuan Presiden, bubarkan saja CGI,
karena 95% anggotanya hanya memberikan 5% kredit, dan mereka itu cerewet dan

rewel. Sekarang berhubungan saja dengan kami dan Bank Pembangunan Asia,
supaya mendikte pemerintah Indonesia tanpa banyak reseh."

Kalau ada yang meragukan tulisan ini, saya bersedia berdebat dengan mereka,
termasuk lembaga-lembaga internasional, di media massa mana saja. Sudah
waktunya rakyat Indonesia tidak disesat-sesatkan lagi.

Oleh Kwik Kian Gie
Mantan Menneg PPN/Kepala Bappenas

http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&vnw_lang_id=2&ptopik=A01&cdate=29-JAN-2007&inw_id=502637


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke